Mencintai Bodyguard Saleha

Mencintai Bodyguard Saleha
Clab Malam


__ADS_3

Waktu menunjukan pukul 00.30 ketika Yuna dan Vivi tiba di depan sebuah clab malam yang berada di pinggir jalan. Tempatnya sengaja di samarkan, dari depan clab malam itu nampak seperti cafe. Beberapa pasangan yang keluar masuk membuat Yuna yakin ini lah tempat yang mereka cari selama dua jam lamanya.


"Kau lihat pakaian wanita yang keluar masuk itu? Kita tidak akan bisa masuk dengan pakaian seperti ini." Celoteh Vivi di tengah keputus asaannya.


"Untuk apa kita kemari jika hanya menunggu di dalam mobil? Arnela yang malang! Apa yang di lakukan anak itu sekarang?" Ucap Vivi lagi dengan wajah yang di tekuk. Ia mengetuk-ngeketuk kepalanya di sandaran kursi mobil yang ia duduki.


"Apa kau bisa diam? Mendengar mu mengeluh membuat ku semakin gugup." Balas Yuna tanpa menghiraukan wajah datar Vivi yang terus memandanginya menuntut ide brilian apa yang harus mereka mainkan.


"Apa kau membawa barang yang ku minta?"


"Ia. Itu di belakang." Tunjuk Vivi asal.


"Bagus."


"Apa kau benar-benar akan melakukan itu? Jika keluargamu tahu maka tamatlah riwayatmu!" Vivi memperingatkan Yuna sebelum gadis manja nan ceria itu nekat masuk kedalam clab dan membuat masalahnya semakin runyam.


"Masalahku tidak akan membebaniku selama Arnela baik-baik saja. Tidak tahu buaya darat mana yang saat ini menakutinya." Bantah Yuna sambil mengganti piyama tidur yang ia gunakan dari rumah dengan pakaian sexy selutut yang Vivi bawa dari rumahnya.


"Ingat, kau harus tetap berada di mobil. Jika aku dan Nela keluar kita bisa langsung pergi dari tempat ini." Ucap Yuna memperingatkan. Yuna melihat pantulan wajahnya di cermin, wajah cantik itu terlihat aneh dengan make up tebal. Yuna sengaja menggunakan make up tebal agar tidak di kenali. Setelah yakin dengan penampilannya, ia keluar dari dalam mobil hanya menggunakan rok setutut dan pakaian atas yang hampir memperlihatkan perut ratanya.


"Apa kau yakin? Kau terlihat tidak nyaman dengan pakaian itu."


"Walau tidak nyaman aku harus melakukannya." Balas Yuna sambil membuang nafas kasar dari bibirnya.


Sejujurnya Yuna sangat takut, dadanya berdebar kencang. Rasanya ia akan pingsan. Seumur hidup ia tidak pernah berpikir akan menginjakkan kaki di dunia malam. Walau bagaimanapun ia harus memaksakan dirinya tanpa harus berpikir panjang.


Dua penjaga dengan kepala pelontos berdiri tegap memandangi penampilan Yuna. Mereka terlihat seperti preman. Tidak ada senyuman di wajah datar dua pria menakutkan itu, dan hal itu berhasil membuat Yuna semakin takut, tubuhnya mulai bergetar namun dengan cepat Yuna mencoba bersikap normal.

__ADS_1


"Pakaian sialan ini benar-bebar menyebalkan. Rasanya aku ingin memberikan pukulan keras pada penjaga ini, berani sekali mereka memandangku dengan tatapan mesumnya, bahkan mereka tidak berkedip." Gerutu Yuna dalam hatinya sambil memaksakan diri untuk tersenyum agar tidak terlihat mencurigakan.


"Neng siapa? Ini pertama kalinya kami melihat anda." Tanya salah satu penjaga berkumis tipis sambil melirik kaki Yuna yang menggunakan sandal jepit.


Yuna menggigit bibir bawahnya, ia tidak sadar kalau ia belum mengganti sandal yang ia gunakan dari rumahnya dengan sepatu yang dibawa Vivi.


"Habislah aku! Bagaimana kalau mereka tidak membiarkanku masuk?" Batin Yuna sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Saya dapat panggilan dari ruang VIV. Ini memang pertama kali saya datang kemari, bahkan saya sampai lupa mengganti sandal karena bersemangat." Ucap Yuna membuat alasan agar kedua penjaga seseram horor di depannya tidak curiga. Lagi-lagi Yuna melempar senyuman, wajah cantiknya terlihat menggemaskan walau di balut make up tebal.


"Ooo... Ruang VIV! Ternyata seleranya gadis muda dengan tubuh menggoda." Ucap penjaga bertubuh tinggi itu lagi sambil memandangi tubuh molek Yuna yang terbalut kain seadanya. Ingin rasanya Yuna menampar kedua penjaga yang berani memandanginya dengan tatapan mesum itu, namun ia mengurungkan niatnya hanya demi Arnela seorang.


Sayang, wanita itu seperti magnet. Magnet yang bisa menarik seseorang untuk menghormatinya atau melecehkannya. Jika kau ingin di hormati, maka jaga dirimu dan ucapanmu di depan umum. Bagaimana orang lain bisa menghormatimu jika kamu tidak bisa menghormati dirimu sendiri. Bagaimana kau bisa mencegah lelaki hidung belang menguliti setiap inci tubuhmu jika kau sendiri yang memperlihatkannya pada mereka.


Ingin rasanya Yuna menangis mengingat nasihat mamanya, sekarang ia baru mengerti makna nasihat kecil itu. Ingin rasanya ia pulang dan memeluk mamanya, sayangnya kakinya masih tertahan sampai ia bisa menarik Arnela keluar dari pusaran neraka nafsu tak bertepi.


"Apa saya bisa masuk?"


"Tentu saja neng." Ucap kedua penjaga itu bersamaan. Mereka memberi jalan sambil tersenyum lebar.


"Rasanya aku ingin muntah melihat kalian tersenyum. Jangan tunjukan senyum itu lagi di hadapanku. Tunggu sampai aku bisa keluar dengar Arnela, akan ku berikan kalian pelajaran." Batin Yuna sambil mengepalkan tangannya.


"Tunggu."


Seketika langkah kaki Yuna terhenti, wajahnya memamerkan ketegangan tingkat tinggi, jika kedua penjaga itu tahu motif kedatangannya maka habislah ia sebelum bisa menyelamatkan Arnela, boro-boro selamat kedua penjaga ini pasti akan mengulitinya dengan kasar.


"Mama. Tolong aku." Batin Yuna sambil berbalik pelan menghadapkan tubuhnya lagi pada penjaga itu.

__ADS_1


"Apa neng tahu ruang VIV itu dimana?"


"T-I-D-A-K!" Balas Yuna dengan sedikit gugup, membuat kedua penjaga itu mengerutkan dahinya curiga.


"Ah... Ma-Maksud saya 'Ia' saya sudah di beritahukan melalui telpon." Balas Yuna cepat agar kedua penjaga itu tidak terlalu curiga padanya.


Setelahnya, Yuna masuk sambil menarik rok selututnya. Benar-benar konyol. Bagaimana mungkin rok pendeknya bisa berubah menjadi panjang walau ia menariknya dengan sekuat tenaga, ia bahkan tidak punya ibu peri seperti cinderela.


Sementara di luar Clab, Vivi yang melihat Yuna masuk dengan santai terlihat mulai tenang. Vivi tahu cara Yuna bertingkah dan berpakaian sungguh di luar kebiasaannya. Karena itulah persahaban mereka bertiga yang terjalin semenjak bangku Kuliah semakin kuat dan akrab, mereka bertiga tidak ragu untuk saling berkorban demi persahabatan manis mereka. Tanpa sadar Vivi mulai meneteskan air mata, ia bangga dengan persahabatannya.


Dalam pesona persahabatan, orang yang biasanya tidak menonjolkan diri bisa menjadi berani, yang pemalu menjadi percaya diri, yang pemalas menjadi giat, yang tidak sabar dan banyak gerak menjadi hati-hati dan tenang. Dan di sekitar kita ada kawan yang selalu hadir sebagai pahlawan.


Yuna masuk sambil mengunci telinganya dengan kedua telunjuknya. Suara keras yang bersumber dari musik DJ benar-benar membuat dadanya berdebar. Pelan Yuna membuka satu per satu ruangan yang tertulis VIV di depannya, sayangnya di antara ruangan yang ia buka tidak ada satupun yang memperlihatkan wajah Arnela. Tersisa dua lagi di pojok paling belakang.


Yuna memperhatikan orang-orang di sekitarnya, beberapa orang memandang aneh padanya namun ia tidak memperdulikan itu. Yang terpenting untuknya menemukan Arnela kemudian lari dengan kecepatan penuh.


"Nel, kamu dimana sih?" Gumam Yuna sambil berjalan menuju dua ruang VIV terakhir.


Pelan Yuna membuka gagang pintu. Betapa terkejutnya Yuna, ia hampir tersungkur. Sepasang sejoli saling bermesraan dengan rakusnya, bahkan pakaian wanita itu sudah terkoyak sepenuhnya. Seorang pria menindih wanita ramping dengan buas, bibirnya tak lepas dari bibir wanita itu. Melihat adegan tak senonoh di depannya sontak membuat perut Yuna seperti di kocok kasar, rasanya ia ingin muntah. Dan yang membuat ia semakin jijik, pria itu menatapnya dengan kesal karena sudah berhasil menghentikan aksi nakalnya. Pria itu bangun dari tubuh wanita yang ia tindih dengan perasaan kesal yang membuncah. Sementara Yuna, ia masih berdiri mematung mencerna kejadian menjijikkan yang menodai mata sucinya.


Sebelum pria itu bangun dari posisi duduknya Yuna langsung berlari keruang sebelahnya. Kali ini ia beruntung, ia mendapati Arnela sedang menangis sambil menutupi tubuhnya dari mata pria jahat yang sedari tandi mengiming-iminginya dengan uang.


"Kamu itu hanya barang. Barang yang di jual, berani sekali kamu bersikap mahal. Jika aku marah aku pasti akan menghukum mu lebih berat. Ayo kemari sayang..." Goda pria separuh baya itu dengan senyum menjijikkan.


"Dasar bandot tua." Ucap Yuna kasar sambil menutup pintu kasar. Ia berjalan kearah Arnela kemudian memeluk sahabatnya itu, mata Arnela terlihat bengkak. Bisa di pastikan ia tidak menangis hanya dalam hitungan menit saja. Di wajah lelaki itu tampak seperti bekas cakaran, sepertinya Arnela bertindak kasar pada lelaki separuh baya di depannya karena itu lelaki itu ingin membalasnya.


"Dia tidak sendiri, karena aku bersamanya." Ucap Yuna sambil melempar senyum sinisnya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2