
Setelah melaksanakan shalat Subuh Raina memilih pulang kekediaman Sawn Praja Dinata, ia keluar dari hotel pukul 5.30.
Raina sengaja menggunakan Taxi agar ia bisa menikmati paginya tanpa keluhan. Lagi pula Gaun yang ia kenakan benar-benar membuatnya kurang nyaman.
"Untuk apa dia memintaku menemuinya di tempat aneh itu jika dia memilih untuk meninggalkan ku sendirian." Keluh Raina dalam hatinya. Walau berkali-kali berkata tidak apa-apa nyatanya ia merasa kecewa.
"Aku benar-benar bodoh. Untuk apa aku mengikuti saran bi Sumi pergi kehotel itu, aku bukan obat nyamuk. Untuk apa aku mengganggu kebahagiaan orang lain? Aku tidak sejahat itu." Raina menutup matanya sambil membayangkan wajah bahagia Sawn Praja Dinata bertemu kekasih hatinya.
"Aku bukan siapa-siapa jika di bandingkan dengan nona Angel Sasmita! Lalu apa yang aku harapkan? Jika saja aku tidak pernah bertemu dengan pak Sawn, mungkin aku tidak akan segundah ini."
Hhhmmm! Raina menghela nafas, sejak berada di dalam Taxi ia terus saja mendesah, sampai memancing sopir Taxi yang ia naiki memberanikan diri untuk memulai sapaannya.
"Nona muda kenapa? Apa ada masalah?"
"Saya tidak apa-apa. Hanya sedikit lelah saja." Balas Raina sambil tersenyum.
"Kelihatannya nona muda sudah Lamaran? Bapak turut bahagia." Ucap sopir Taxi itu lagi.
Lamaran? mendengar kata itu dada Raina berdebar kencang. Ia tersenyum tanpa alasan, tentu saja sopir Taxi itu berani mengambil kesimpulan seperti itu hanya dengan melihat Gaun yang Raina kenakan, Raina tidak bisa menjawab pertanyaan sopir separuh baya itu, ia hanya bisa melempar senyuman.
...***...
Sementara itu di kediaman Restha, Sawn baru saja bangun. Ia menyiapkan sarapan untuk Angel Sasmita yang masih terbaring di atas tempat tidurnya.
Setelah Sawn tiba di kediaman Restha, entah kemana wanita itu menghilang. Seperti asap, ia menghilang tanpa meninggalkan jejak.
Sawn ingin sekali bertanya pada Angel, selama ini dia ada dimana? Kenapa tidak pernah memberikan kabar? Dan bagaimana ia bisa berakhir mengenaskan seperi ini?
Menyedihkan? Dimata Sawn kondisi Angel saat ini sangat menyedihkan. Mata yang selalu bersinar terlihat sangat perustasi, bahkan wajah cantiknya di penuhi memar. Entah setan apa yang berani menyakiti wajah cantik itu. Dan tubuh yang dulunya terbalut Gaun mewah harus pasrah dengan baju rumah sakit yang terlalu kendor di tubuh kurusnya.
"Sayang...!" Panggil Angel dengan suara lirihnya. Sawn datang sambil mengurai senyuman.
"Aku lapar!" Ucap Angel lagi sambil memegang perut ratanya.
Roti bakar berlapis selai kacang kesukaan Angel, dan segelas susu coklat hangat tetap menjadi andalan Sawn sejak dulu untuk Angel Sasmita. Gadis itu pun tidak menolak, ia hanya ingin menghabiskan waktu dengan orang yang sangat di rindukannya.
__ADS_1
"Sayang, kemarilah! Ada banyak hal yang ingin kukatakan padamu." Ucap Angel sambil menepuk tempat tidurnya mengisyaratkan Sawn untuk duduk bersamanya.
Sawn melangkah pelan dan mulai duduk di tempat yang Angel sarankan. Gadis itu menyandarkan kepalanya di dada bidang Sawn Praja Dinata. Seketika Sawn teringat pada Raina, gadis itu bahkan tidak ingin meraih tangan Sawn ketika ia menawarkan bantuan. Sementara Angel? Ia bahkan menguatkan rangkulannya. Terdapat perbedaan besar pada dua gadis yang mengisi ruang kosong di hati Sawn Praja Dinata.
"Bagaimana kabar Raina? Ia pasti sangat membenciku, aku yang seharusnya menyematkan cincin di jarinya malah terjebak di tempat ini." Lirih Sawn dalam hatinya.
"Aku tidak akan mengeluh jika Raina memakiku, Gadis itu pantas melakukannya." Liris Sawn lagi.
"Ada apa sayang, apa kamu merasa bosan bersamaku disini? Tapi aku masih sangat-sangat merindukanmu." Ucap Angel, lagi-lagi gadis itu menguatkan rangkulannya.
Angel mendekatkan kepalanya pada wajah Sawn, semakin dekat dan terus semakin dekat sampai bibir mereka hampir bertemu, Refleks Sawn memundurkan kepalanya sampai kepalanya membentur sisi ranjang. Entah kenapa ia merasa bersalah pada Raina, gadis itu bahkan tidak tahu tentang perasaannya yang sebenarnya.
"Aku harus pulang. Hari ini ada pekerjaan penting, aku akan menghubungimu nanti." ucap Sawn sambil bersiap pergi meninggalkan Angel sendiri.
Berdua dengan Angel jauh lebih berbahanya dari pada terciduk pihak berwajib. Lirih Sawn lagi sambil meninggalkan kediaman Restha Pramuja.
...***...
Raina baru saja sampai rumah ketika Sawn pulang, matanya menerawang kesegala arah mencari sosok Raina, sayangnya ia tidak menemukannya. Ada perasaan khawatir dan juga bersalah jika mengingat apa yang ia lakukan tadi malam. Tidak seharusnya ia meninggalkan Raina sendirian, yang lebih buruk dari itu ia bahkan tidak memberi kabar.
"Tuan sudah pulang, apa anda ingin minum kopi?" Sapa bi Sumi begitu melihat Sawn di dapur.
"Non Raina?" Bi Sumi menyeringai curiga.
"Tuan tidak pulang bersama non Raina? Non Raina baru saja masuk kekamarnya." Ucap bi Sumi lagi, menghilangkan kekhawatiran Sawn.
"Baiklah aku akan kekamar dulu." Ucap Sawn sambil meninggalkan bi Sumi dengan segala sikap keingin tahuannya.
Setelah Sawn meninggalkan bi Sumi, Raina keluar dari kamarnya sambil merapikan Pasmina ungu yang di kenakannya. Ia terlihat Anggun dengan penampilan sederhananya.
"Non Raina mau berangkat?" Tanya bi Sumi sambil meletakkan sarapan di ataa meja.
"Ia, bu. Saya akan berangkat sekarang."
"Non Raina nggak sarapan?"
__ADS_1
"Nanti saja, bu. Saya belum lapar." Ucap Raina sambil meninggalkan kediaman Sawn dengan terburu-buru.
Bi Sumi menatap heran sambil memandangi Raina yang terus berjalan terburu-buru.
"Apa ada hal yang mengganggunya?" Tanya bi Sumi pada dirinya sendiri.
Lima menit kemudian.
"Bi, Raina dimana?"
"Tuan, non Raina baru saja berangkat."
"Apa dia mengatakan sesuatu?" Ucap Sawn penasaran. Bi Sumi menggelengkan kepala sambil berkata tidak.
Sawn nampak kecewa, namun ia tidak menampakkannya di depan Asisten Rumah Tangga separuh bayanya. Terkadang ada beberapa hal yang tidak bisa di jelaskan dengan nalar manusia, dan kali ini itu terjadi pada Sawn Praja Dinata.
Rencana melamar Raina yang ia susun dengan matang hancur berantakan karna peristiwa yang tidak bisa di mengerti nalarnya.
Angel masih hidup? Hingga saat ini masih terasa bagai mimpi, dan Sawn sulit untuk mempercayainya.
"Baiklah. Aku akan menjelaskan segalanya pada Raina." Lirih Sawn pelan sambil mengendarai mobilnya keluar dari Garasi.
...***...
"Bu Romlah sudah menjelaskan segalanya, tentang kontrak satu tahunmu tinggal di rumah pak Sawn." Ucap Agil memecah keheningan Raina.
"Seharusnya non Raina nolak aja! Wanita itu ada disini, kalo dia salah sangka pada non Raina itu akan menjadi masalah besar." Ucap pak Bobby sambil duduk di kursi samping Raina.
"Wanita itu? Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi, bahkan nona Angel sudah sampai di sini." Lirih Raina sambil menyembunyikan wajah sedihnya.
Dunia itu ibarat bayangan. Kalau kau berusaha menangkapnya, ia akan lari. Tapi kalau kau membelakanginya, ia tidak punya pilihan selain mengikutimu. Pesan yang terangkai indah Dari Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah berhasil membuat Raina meras tenang.
"Sudah waktunya aku bangun dari mimpi indahku. Aku tidak ingin mengisi ruang kosong dihati ku dengan nama siapapun." Lirih Raina pelan.
Agil dan Bobby saling memandang heran. Sementara Raina, ia mencoba mangatur deru nafasnya.
__ADS_1
"Aku tidak punya pilihan lain selain menghindarimu." Lirih Raina lagi. Tanpa sengaja matanya menangkap bayangan Sawn yang terus melangkah melewati Pantry tempatnya berada. Ia merunduk sengaja menghindar agar Sawn tidak menemukan jejaknya. Jika hari ini Raina berhasil menghindari Sawn Praja Dinata, lalu bagaimana dengan besok, lusa dan seterusnya? Biar waktu yang menjawab semuanya, Maha Suci Allah dengan segala karuniannya.
...***...