
Rembulan malam ini bersinar sangat terang, tidak ada yang bisa bersembunyi dari cahayanya. Dan tanpa kita sadari waktu mengantarkan kita menuju batas usia, sesejuk hembusan angin malam ini, dan sepekat kegelapan malam ini, ketakutan masih memenuhi rongga dada Prof. Zain De Lucca.
Matanya masih meneteskan air mata, kesedihannya sungguh menyesakkan dada. Dengan sekuat tenaga ia berusaha untuk bagkit dari kondisi buruknya. Sekuat-kuatnya ia berduel, tetap saja ia kalah di hadapan lima belas pria yang mengepungnya bagai ular yang mematikan.
Prof. Zain merasakan nyeri luar biasa di bagian pahanya, peluru preman itu masih bersarang di dalamnya. Pahanya masih mengeluarkan darah namun ia tidak perduli dengan rasa sakitnya, ia terus saja berpikir cara apa yang harus ia tempuh untuk menyelamatkan belahan jiwanya, Yuna Dinata.
Prof. Zain berusaha berjalan dengan cara menyeret kakinya, ia berpengangan pada setiap sisi yang bisa ia gunakan untuk menahan tubuh jangkungnya agar tidak terjatuh. Saat ini Prof. Zain memaksakan diri berjalan menuju kedalam rumah. Sebelumnya ia sudah meminta bantuan dari pihak berwajib, menanti sampai mereka datang tidak akan berguna.
Waktu terus berjalan, setiap detiknya pun terasa sangat berharga. Karena itulah Prof. Zain berusaha sekuat tenaga untuk melakukan hal yang ia bisa. Masuk kedalam Rumah seorang diri tanpa rencana tidak akan berguna, sama saja dengan bunuh diri apalagi saat ini kakinya sedang terluka.
"Yuna, kau harus bertahan. Aku akan datang." Ucap Prof. Zain dengan suara lirih. Ia berjalan sambil mengendap-endap. Netranya menerawang kesegala arah, bukannya melihat Yuna, ia malah melihat Raina yang tergeletak tak berdaya di lantai dengan kepala berdarah. Betapa terkejutnya Prof. Zain. Kali ini bukan hanya tubuhnya yang sakit, hatinya pun terasa sangat sakit, dua wanita anggun tergeletak di depannya tidak berdaya, bagaimana ia bisa tenang melihat kekejian yang ada di depan matanya.
"Kau bertingkah seperti singa! Lihat, apa yang bisa kami lakukan padamu?" Ucap Pria yang duduk di depan Raina, dengan kegeraman yang masih memenuhi rongga dadanya, pria itu melayangkan tendangan cukup keras di bagian paha Raina. Seandainya Raina tersadar, mungkin saat ini ia akan memberikan balasan pada preman kurang ajar yang berani mengacaukan kedamaian rumahnya.
"Bos menunggu kita, bawa kedua kelinci ini." Ucap ketua preman itu setelah ia tersadar. Hantaman yang Raina berikan di bagian vitalnya membuat pria itu merasakan sakit luar biasa, meskipun demikian ia mencoba tetap bertahan dan berusaha menahan sakit yang terasa mengiris setiap inci tubuhnya.
Baru saja kelima preman itu hendak mengangkat tubuh Raina dan Yuna, bunyi sirene Polisi yang bersumber dari depan pintu membuat mereka tersentak, kaget.
"Ada Polisi, cepat tinggalkan tempat ini!" Kelima preman itu kocar-kacir berusaha menyelamatkan diri. Sementara itu di depan pintu, Prof. Zain memainkan sirene Polisi dari ponselnya, ia masuk kedalam rumah setelah yakin sisa preman yang masih bertahan tidak ada lagi di dalam rumah.
Dalam hatinya Prof. Zain sangat bersyukur, kebodohan preman yang mengira Polisi sudah tiba membuat Prof. Zain leluasa memasuki rumah. Tetap saja hal itu tidak mudah bagi Prof. Zain. Tubuhnya yang terkena tembakan sejam yang lalu mulai tidak bersahabat, ia tersungkur di dekat sofa. Bahkan ia tidak sanggup lagi untuk menggerakkan kakinya, sekuat-kuatnya Raina, Yuna, dan Prof. Zain, akhirnya mereka kalah di hadapan lima belas pria yang mengepung mereka bagai kawanan lebah, meskipun begitu mereka tidak mudah untuk menyerah.
Dengan sisa-sisa tenaga yang ia punya, Raina mencoba mendekati tubuh Yuna dengan cara merangkak, preman kurang ajar itu berani mengoyak gaun yang Yuna pakai, dan hal itu membuat Raina merasakan kemarahan luar bisa dalam ketidak berdayaannya.
"Ka-kak!" Ucap Yuna dengan suara yang nyaris tak terdengar. Tidak ada sahutan dari Raina, karena ia tidak memiliki kekuatan untuk itu. Raina membuka Pasmina yang ia gunakan kemudian menutupi tubuh Yuna dengan Pasmina itu. Bagi raina, jilbabnya bukan hanya sekedar kain penutup kepala, jilbabnya adalah jati dirinya, jati diri seorang muslimah.
Allah... Aku tidak tahu takdir apa yang sudah menantiku, aku hanya bisa berdoa, tolong lindungilah kami. Pinta Raina dalam hatinya, sedetik kemudian hanya ada kegelapan yang meliputi pandangannya. Raina pasrah dengan takdir yang Allah gariskan untuknya. Tidak ada keluhan ataupun kesedihan, selama Allah menyertai, semuanya akan baik-baik saja.
__ADS_1
Sementara itu di tempat berbeda, Sawn Praja Dinata di penuhi perasaan khawatir luar biasa. Raina yang tak kunjung tiba membuatnya sangat ketakutan, ia merasa tercekik. Setelah meminta izin pada Mama dan Papanya, Sawn segera meninggalkan kediaman Dinata. Kali ini ia tidak pulang sendiri, tiga Bodyguard-nya yakni Yanto, Agil dan Bobby turut serta bersamanya. Ada juga Bi Sumi, Melati, dan Ega.
Butuh waktu dua jam agar bisa sampai di kediaman Sawn, dadanya berdegup cukup kencang. Yang membuat Sawn semakin khawatir, mobil yang Raina kendarai memiliki goresan parah di bagian pintunya, lampu depannya hancur. Setelah memarkir mobilnya di garasi, Sawn segera mempercepat langkah kakinya menuju kedalam Rumah.
"Bu... Apa ibu tidak mengunci pintu sebelum berangkat kerumah tuan besar? Kenapa pintu rumah kita terbuka?" Melati bertanya pada bi Sumi yang ada di belakangnya.
"Ngawur, kamu! Tentu saja pintunya di kunci! Memangnya kamu, ratu lupa!" Goda Ega sambil terkekeh, melihat Melati menyebikkan bibirnya membuat Ega tertawa sembari menutup mulutnya, ia khawatir jika tertawa lepas akan mengganggu tuan juteknya. Tuan jutek yang sudah tidak jutek lagi semenjak menikah dengan Raina.
Baru saja melangkah masuk, tubuh Ega bagai terkena sengatan listrik dengan kekuatan tinggi. Ia berdiri tegap, tubuhnya tidak bisa ia gerakkan. Melati yang berdiri di belakangnya terlihat shock melihat kondisi Ega yang seperti mayat hidup.
Aaaaaaaaaaaa......
Melati berteriak dengan teriakan cukup keras. Sawn yang mendengar dari luar langsung berlari dengan sekuat tenaga. Di ikuti oleh Pak Yanto, Bobby dan Agil.
Bagai disambar petir di siang bolong, Sawn sangat terkejut melihat kondisi rumahnya tampak seperti kapal pecah, bukan itu yang membuatnya sangat terkejut. Ia tidak bisa menebak sosok pria yang tergeletak dengan bersimbah darah.
"Segera hubungi Rumah Sakit!" Sawn berteriak dengan suara lantang. Dadanya berdebar sangat kencang, berkali-kali Sawn menarik nafas kemudian membuangnya kasar dari bibir.
"Ka-kak...!" Yuna memanggil dengan suara lirih.
"Kakak!" Kali ini Yuna memanggil dengan suara cukup keras.
Sawn tersentak mendengar suara adik tersayangnya, ia segera berjalan menuju sumber suara. Matanya terbelalak melihat tubuh Yuna di tutupi Pasmina yang di gunakan Raina sebelum mereka berpisah di depan kediaman Dinata. Sawn lemas melihat dua wanita yang sangat disayanginya itu dalam kondisi memprihatinkan. Rambut Panjang Raina yang selalu tersembunyi di balik kerudung panjangnya kini menutupi wajah gadis salihah itu. Yang membuat Sawn tak bisa menahan tangisnya, demi menutupi tubuh adik tercintanya Raina rela melepas jilbab penutup kepala yang selalu ia gunakan sepanjang hidupnya.
Hhhhuuuuuuaaaaa!
Sawn berteriak dengan suara lantang, siapa pun yang mendengar teriakannya akan merasakan kepiluan yang sama. Ia memeluk tubuh istrinya dengan derai air mata. Seumur hidupnya Yuna tidak pernah melihat kakaknya serapuh itu.
__ADS_1
...***...
Dua jam berlalu dan oprasi yang dilakukan untuk menyelamatkan nyawa Prof. Zain baru saja selesai. Pria tampan dengan iris biru itu masih tak sadarkan diri.
Berbeda dengan Yuna, tidak ada yang serius dengan gadis anggun itu. Ia terlihat membaik setelah Dokter memberikan perawatan. Tatapan mata Yuna terlihat kosong, sementara matanya tak berhenti meneteskan air mata. Pesta masih berlangsung di kediaman Dinata ketika bi Sumi memberikan kabar buruknya.
Nafas bu Hanum masih tersengal. Melihat kondisi kedua putrinya dalam keadaan memprihatinkan membuat Bu Hanum tidak bisa berhenti menangis.
"Sayang, sabar!" Bu Hanum mencoba menenangkan Sawn, ia tahu ucapannya tidak akan berguna. Bagaimana putranya bisa sabar jika ia sendiri sebagai seorang ibu terlihat sangat tertekan.
"Bagaimana aku bisa sabar ma? Penjahat itu melukai Rainaku! Rainaku sedang mengandung!" Ucap Sawn dengan suara bergetar.
"Malam ini kami berencana memberitahukan kabar bahagia ini pada Mama, Papa dan semua orang. Penjahat itu menghancurkan segalanya." Sawn menyandarkan tubuh lemahnya di dinding kamar Yuna. Ia belum bisa menemui Raina karena dokter Nova masih memberikan perawatan.
"Bagaimana kondisi Rainaku?" Sawn bertanya begitu melihat Dokter Nova, wajah cantik itu hanya bisa menghela nafas kasar mendengar pertanyaan yang di lontarkan padanya.
"Katakan padaku bagaimana kondisi Raina dan anak kami?" Sawn berteriak sambil menatap dokter Nova dengan tatapan tajam.
"Aku tidak bisa menatap wajah istrimu! Aku menyerahkan istrimu pada dokter James."
Mendengar ucapan singkat dokter Nova, Sawn berjalan cepat menuju Ruang rawat Raina, di ikuti Bu Hanum dan Dokter Nova di belakangnya. Betapa terkejutnya ketiga orang itu begitu mereka membuka pintu, di dapatinya dokter James sedang bersujut di lantai dengan isakan tangis pilunya.
Saat ini hanya senyuman Raina yang nampak di benak Sawn Praja Dinata, melihat tubuh Raina terbaring tak berdaya membuat tubuhnya terasa mati rasa. Melihat dokter James menangis membuat Sawn semakin Shock, bayangan buruk seolah menari-nari di otaknya,
Tuhan... Jangan uji kami melebihi batas kesanggupan kami! Gumam sawn dalam hatinya sembari melangkah mendekati Raina yang masih tak sadarkan diri.
...***...
__ADS_1