
"Terima kasih, karena mencintai ku sedalam itu. Jika aku tidak memberi mu jawaban seperti yang kau inginkan, apa yang akan kau lakukan?" Raina bertanya karena ia penasaran.
"Aku akan melakukan seperti yang kau inginkan. Jika kau ingin aku tidak terlihat, maka aku berjanji padamu aku tidak akan datang padamu sampai kau sendiri yang akan datang padaku!" Balas Sawn dengan wajah serius.
"Jika aku tetap tidak datang padamu, apa yang akan kau lakukan?" Raina mendesak Sawn untuk mengetahui seberapa besar kesungguhannya.
"Aku akan tetap menunggumu, di jalan yang akan kau lalui. Jika Tuhan mengabulkan doa ku, maka aku berharap ia akan mengabulkan doa ketika aku memintamu sebagai pendamping hidup ku."
"Terkadang hidup tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan, meskipun demikian aku berharap bapak selalu bahagia." Ucap Raina tulus.
"Apa kau tidak akan bertanya?" Sawn melirik Raina.
"Aku sudah menanyakan semua yang ku inginkan." Balas Raina cepat, sambil menuangkan teh kedalam cangkir.
"Mungkin tentang gadis itu?" Tanya Sawn lagi mencoba memancing Raina.
"Aku sudah mendapatkan jawabannya."
Sawn terhenti pada satu titik, ia tidak ingin waktu terhenti secepat ini. Rasanya jantungnya akan meledak, ia sangat bahagia sampai ia sendiri tidak bisa melukiskannya dengan kata-kata.
Tuhan, apa tidak apa-apa aku terlalu bahagia? Kebahagiaan ini aku ingin merengkuhnya seumur hidupku. Apa aku terlalu berlebihan? Jika demikian tolong maafkan aku. Lirih Sawn dalam hatinya.
"Teh nya sudah dingin, apa mau ku ambilkan yang baru?"
"Tidak. Terima kasih!"Jawab Sawn cepat. Ia meraih cangkir dengan jemarinya, meneguknya perlahan sambil membayangkan masa depan yang ia impikan.
"Semua hal sudah ku katakan tentang diriku! Bagaimana dengan keputusan mu?"
"Keputusan ku..." Ucapan Raina tertahan di tenggorokannya, karena namanya di panggil berulang-ulang dari anak tangga.
"Ibu memanggil, sudah waktunya makan malam."
"Kakak akan turun, sebentar lagi." Balas Raina sambil bangun dari posisi duduknya.
__ADS_1
Sawn dan Raina, mereka sama-sama beranjak meninggalkan teras yang seukuran setengah dari ruang tamu kediaman Sawn, meskipun demikian Sawn merasakan ada kedamaian yang mengalir di setiap pori-pori tubuhnya.
Sesaat Sawn teringat kebodohan yang pernah ia lakukan.
Setiap malam, aku selalu menghabiskan malamku di clab malam, rasa cintaku pada Angel selalu memaksaku untuk datang ketempat itu agar hatiku tenang ketika mengingatnya. Lihat apa yang di lakukan wanita itu padaku? Ia pura-pura tiada, lalu kembali seperti tidak terjadi apa-apa. Entah kebaikan apa yang sudah ku lakukan di masa lalu sampai Allah mengirimkan wanita sebaik Raina? Lirih Sawn sembari menuruni anak tangga, tanpa ia sadari air mata mulai menetes dari sudut matanya. Sementara Raina, ia berjalan di belakang Sawn sambil membawa nampan teh.
Semua orang sudah duduk di meja makan, biasanya semua penghuni panti akan makan setelah Shalat isya, namun untuk menghormati tamu yang datang kerumahnya bu Rahayu memanggil semua anak-anaknya untuk makan bersama. Hal itu di lakukan bu Rahayu agar calon yang melamar Raina tidak terkejut jika suatu waktu anggota keluarganya membutuhkan Raina.
"Kita akan mengambil keputusan setelah makan malam, maaf kan kami karena menyajikan makanan sederhana." Ucap bu Rahayu.
"Tidak apa-apa, ini lebih dari cukup." Balas pak Andi, sambil mempersilahkan Sawn untuk duduk di sebelahnya.
"Kak Sawn, kakak ada di rumah kami?" Andre bertanya karena ia penasaran.
"Kami? Apa maksut mu? Jadi kalian saling mengenal?" Bu Romlah menatap Nanang dengan tatapan tajam.
"Bude, sebenarnya..."
Semua orang sibuk menikmati makanannya, yang terdengar hanya suara sendok dan garpu yang saling bersahutan.
Pak Andi dan bu Hanum menghabiskan makanannya bersamaan. Sementara bu Alya, ia benar-benar tidak bisa menelan makanannya, ingin rasanya ia menangis sembari memeluk putranya yang duduk tepat di hadapannya. Sayangnya ia tidak bisa melakukan itu.
Entah kutukan apa yang ku miliki sampai aku tidak bisa mendengar puraku memanggil ku mama. Bu Alya merintih di dalam hatinya, ia ingin berteriak agar semua orang merasakan dukanya, sayangnya ia tidak bisa melakukan itu. Bayangan putranya membencinya seolah meruntuhkan kepercayaan dirinya.
Raina menyadari kesedihan bu Alya namun ia tidak bisa mengatakan apa pun untuk menghibur wanita yang seusia dengan bude Romlahnya itu.
"Kalian sudah selesai makan! Segera ambil wudhu, sebentar lagi kakak kalian akan menyusul." Ucap bu Rahayu pada adik-adik Raina yang berada dalam usia yang berbeda.
"Adik-adik, kalian harus pamitan pada tamu kita." Raina sengaja menyuruh semua adik-adiknya berpamitan agar bu Alya bisa menyentuh Andre tanpa mendapat rasa curiga dari bu Rahayu.
"Siapa namamu nak?" Bu Alya menggenggam jemari Andre, ini untuk pertama kalinya.
"Andre, tante." Jawab Andre singkat.
__ADS_1
"Apa kau suka mengaji?" Bu Alya bertanya lagi, melihat wajah Andre mngingatkan bu Alya pada mendiang suaminya.
Andre memiliki kulit putih, rambut kecoklatan, hidung mancung dan matanya sipit. Andre memiliki paras yang tampan, melihat wajah Andre membuat bu Alya seperti memandang wajah mendiang suaminya yang sangat ia rindukan.
Sedetik kemudian, bu Alya tumbang. Suasana yang tadinya di warnai dengan kebahagiaan berubah riuh melihat bu Alya tak sadarkan diri.
Sawn menggendong tantenya sambil berlari menuju mobil, sementara bu Hanum mengikuti langkah terburu-buru Sawn.
"Kami minta maaf, karena ke kacauan ini pembicaraan kita harus terhenti. Insya Allah kita akan segera bertemu kembali." Jawab pak Andi sembari menangkupkan kedua tangan di depan dada.
"Tidak apa-apa pak, semoga nyonya Alya lekas sembuh, sepertinya ia sangat terkejut." Balas bu Rahayu yang juga terkejut melihat kejadian di depannya.
Setelah berpamitan pak Andi meninggalkan panti, sementara itu di luar panti Sawn mencari kunci mobil di sakunya sayangnya ia tidak menemukannya.
"Apa anda mencari ini?" Raina menghampiri Sawn yang masih berdiri mematung di depan gerbang, ia di temani dua adik laki-lakinya.
"Ooo... Syukurlah, aku pikir aku lupa menaruhnya di suatu tempat." Balas Sawn cepat.
"Maafkan aku! Karena drama keluargaku semuanya jadi berantakan." Ucap Sawn lagi, kali ini wajahnya merunduk penuh penyesalan.
"Tidak apa-apa! Sepertinya nyonya Alya sangat merindukan putranya, aku akan bicara pada ibu, secepatnya."
"Terima kasih." Balas Sawn sambil melempar senyuman tipis.
"Maafkan aku karena tidak bisa memberikan jawaban yang kau ingin kan malam ini, Insya Allah kita akan segera bertemu kembali. Saat aku menemuimu, jawaban apa pun yang ku berikan kau harus terima dengan lapang dada." Tutup Raina sambil melambaikan tangan pada Sawn yang sudah bersiap akan meninggalkan panti.
Raina melangkah masuk bersama kedua adiknya.
Sementara Sawn, ia masih terpaku dengan pesona yang ada di depannya. Gelisah memenuhi rongga dadanya. Ada rasa kecewa yang tersemat di hatinya, kecewa karena telinganya tak bisa mendengar ucapan yang ingin di dengarnya.
Di dalam hati terdalam aku sangat merindukanmu. Aku tidak ingin harapan ku hancur, yang ku nantikan hanya jawaban "Ia" Lirih Sawn pelan kemudian pelan ia melajukan mobilnya menyusul keluarganya yang sudah tak terlihat oleh netranya.
...***...
__ADS_1