Mencintai Bodyguard Saleha

Mencintai Bodyguard Saleha
Permintaan Yuna


__ADS_3

"Hay... Nyonya Profesor. Tunggu kami!"


Yuna terus saja berjalan sambil melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, ia bahkan semakin mempercepat langkah kakinya.


"Oohhh tidak, aku terlambat! Bukan satu atau dua menit, tapi sepuluh menit!" Gerutu Yuna tanpa menoleh kebelakang. Ia tidak menoleh karena ia masih kesal pada dua sahabatnya itu. Dua jam menunggu, Vivi dan Arnela tidak juga datang, dan kali ini Yuna melampiaskan kekesalannya dengan berpura-pura tidak mendengar panggilan dua sahabatnya itu.


"Hay... Nyonya Profesor, tunggu kami." Suara panggilan itu kembali menggema, namun sayangnya tetap saja tidak ada tanggapan dari seorang Yuna Dinata. Beberapa pasang mata menatap Yuna dengan tatapan tajamnya, tetap saja ia tidak memperdulikan mereka seolah dunia hanya berputar tanpa ada siapa pun disisinya.


Sedetik kemudian Yuna menghentikan langkah kakinya, membalikkan tubuhnya kemudian menatap dua wanita anggun yang dari tadi mengejarnya dengan tatapan tajam.


"Ap-pa kau se-dang menghukum kam-mi? Ke-nap-pa caramu jalan sep-perti orang yang ak-kan menagih hut-tang? Hhhhhhh!" Ucap Arnela sambil mengusap dada. Deru nafasnya dan Vivi saling bersahutan. Tidak ada jawaban dari Yuna, yang ada hanya helaan nafas kasar saja.


"Apa kau sangat merindukan Prof. Zain sampai kau melupakan kami? Aku tahu kau sangat mencintainya, walaupun begitu kau tidak boleh melupakan kami." Gerutu Vivi setelah nafasnya terdengar beraturan.


Mendengar dua sahabatnya terus saja menggerutu Yuna hanya bisa diam sambil melipat kedua lengannya di depan dada.


"Apa kalian sudah selesai? Apa arloji yang kalian gunakan hanya sebagai hiasan? Lihat sekarang pukul berapa?" Yuna bicara sambil menunjuk pergelangan tangan Arnela dan Vivi bersamaan.


"Se-sekarang pukul 9.15, itu artinya kita terlambat! Habislah kita." Balas Vivi lemas.


Sementara itu di dalam kelas, Prof. Zain menjelaskan mata kuliah dengan nada tinggi. Ia terlalu kesal. Lima mahasiswanya datang terlambat. Tak berselang lama, tiga mahasiswinya juga ikut-ikutan datang terlambat, hal itu memancing emosinya sampai ia memutuskan tidak membiarkan mereka masuk kelas.


Terlambat?


Satu kata yang sangat di benci oleh Prof. Zain.


Bagi Prof. Zain yang selalu hidup teratur, waktunya lebih berharga dari kekayaan yang ia punya. Tidak ada ruang bagi siapapun yang mencoba memasuki hidupnya jika orang itu tidak perduli dan membuang-buang waktunya.


Tok.Tok.Tok.


"Se-selamat pag-gi pak! Ma-maafff kami terlambat!" Yuna membuka suara diantara senyapnya udara. Ia merasa gugup luar biasa. Dadanya berdebar sangat cepat, ia merasa jantungnya akan lompat keluar. Dua hari tidak bertemu setelah acara pertunangan membuat Yuna merindukan pria rupawan itu. Jarak sepuluh langkah yang memisahkan mereka kini terasa sangat jauh.


Rasanya Yuna ingin berhambur kedalam pelukan pria itu karena ia sangat merindukannya, sayangnya keinginan hatinya terbentur oleh dua kata yang nyaris membuatnya merasa salah tingkah 'Belum Halal'


Belum Halal adalah pembatas antara laki-laki dan perempuan, secinta apapun Yuna pada Prof. Zain ia tidak akan menghinakan dirinya dengan melakukan perbuatan yang dilarang Tuhan.


Yuna, Arnela dan Vivi masih menatap pada satu titik yakni wajah tampan milik Prof. Zain De Lucca. Sayangnya tidak ada tanggapan apa pun dari pria tampan itu.


"Pagi? Omong kosong!" Gerutu Prof. Zain tanpa menatap wajah lawan bicaranya, ia bahkan tidak tahu dengan siapa ia bicara.


"Apa aku harus menyambut kalian dengan tepuk tangan karena terlambat di kelasku? Aku benci pemalas seperti kalian!" Ucap Prof. Zain dengan nada tinggi. Ia masih fokus pada layar laptopnya sampai bicara pun tak memandang lawan bicaranya.


Yuna yang malang. Untuk pertama kalinya ia mendapat bentakan di depan semua orang, dan hal itu membuatnya merasakan sedih luar biasa. Air matanya hampir menetes namun sekuat tenaga ia berusaha untuk menahannya.


"Apa kau yakin dia mencintaimu? Dia marah-marah tanpa menatap kita.


Kau yakin bisa menahan amarahnya jika suatu saat dia memarahimu karena melakukan kesalahan kecil? Aku sangat mengenalmu, kau akan melampiaskan kekesalanmu dikamar dengan menangis seharian." Ucap Arnela pelan, netranya menatap Prof. Zain dengan tatapan tajam.


"Aku tidak ingin kalian berada dikelasku. Aku tidak mau memberikan kalian kesempatan apapun. Keluarrrrr!" Ucapan singkat Prof. Zain berhasil membuat Yuna merinding, sekujur tubuhnya terasa lemas.

__ADS_1


Dia berteriak padaku! Dia tidak menatap wajahku! Dia marah padaku! Dia mengusirku! Gumam Yuna di tengah kepanikannya.


"Hai kalian bertiga! Prof. Zain mengusir kalian. Lebih baik kalian pergi saja. Ohhh... Tidak! Sepertinya, Nyonya muda kita akan menangis." Celetuk Raisya sambil menyebikkan bibirnya.


"Vivi... Ini pasti ulahmu, ia kan? Jika bukan karenamu Yuna tidak akan terlambat. Dasar payah!" Gerutu Adam sambil menatap Vivi dengan tatapan tajam.


"Yu-yuna!" Pena yang ada di tangan Prof. Zain langsung terlepas. Seketika netra birunya langsung memburu pemilik nama seindah purnama itu.


Kebiasaan lama Prof. Zain, jika sudah terlanjur fokus pada pekerjaannya, ia tidak akan bisa teralihkan oleh apa pun. Kali ini ia benar-benar merasa bersalah, suara gugup Yuna dan kefokusannya membuatnya dalam masalah. Seandainya ia tahu ia sedang bicara dengan Bidadari di hatinya maka ia akan merendahkan suaranya.


"Ka-kau?" Prof. Zain terlihat gugup, ia bangun dari posisi duduknya sambil menatap Yuna dengan tatapan penuh penyesalan.


Yuna, Arnela dan Vivi membungkukkan badan memberi hormat, sedetik kemudian mereka pergi dari depan pintu kelas dengan membawa perasaan malu dan sedih.


...***...


Kantin 10:30.


"Kau yakin Prof. Zain dan Yuna sudah bertungan?"


"Tentu saja yakin! Mata-mataku mengatakan keluarga Prof. Zain keluar dari kediaman Dinata pada pukul sembilan malam.


Menurutmu mereka sedang apa? Tidak mungkin mereka melakukan senam aerobik pada pukul sembilan malam!" Timpal seorang mahasiswi bertubuh ramping, wajahnya memamerkan kekecewaan.


"Aku heran, kenapa Prof. Zain lebih memilih Yuna padahal aku jauh lebih cantik darinya! Tapi, syukurlah sekarang aku bisa tenang."


"Tenang? Apa itu berguna? Bukankah Yuna dan Prof. Zain sudah tunangan? Lalu apa untungnya untukmu? Dasar payah!"


"Sahabatmu itu memang payah! Selain payah dia juga bodoh! Kata orang wanita itu di lahirkan tiga kali. Sedangkan dirimu? Walau kau lahir ribuan kali Prof. Zain tidak akan melirikmu.


Jangan bermimpi ketinggian, akan sakit jika kau terjatuh." Timpal Arnela yang geram karena mendengar percakapan tidak berguna teman sekelasnya yang juga di usir oleh Prof. Zain.


"Setidaknya kami tahu bukan hanya kami yang si usir karena terlambat." Sambung Vivi sambil menatap wajah kesal Anggi.


"Apa kau sudah selesai makan? Jika sudah, kau bisa pergi dari sini! Melihat wajahmu membuat selera makanku jadi hilang!" Yuna menggerutu sambil menatap Anggi dengan tatapan tajam. Sedetik kemudian ia menyebikkan bibirnya kemudian mengambil posisi duduk di depan Anggi.


"Sepertinya sikap jahilnya mulai muncul! Kali ini dia tidak akan melepaskan Anggi begitu saja." Bisik Arnela sambil memegang lengan Vivi yang dari tadi berniat menarik Yuna untuk tidak terlibat dengan si centil Anggi.


"Biarkan saja. Selama ini si centil itu selalu mengganggunya, sekali-sekali biarkan Yuna yang mengganggunya. Kita akan lihat seberapa menarik pemandangan ini sampai Bakso kesukaan kita datang." Sambung Arnela lagi.


Bakso? Yaaa... Yuna sudah memesannya. Hanya saja, mendengar ucapan Anggi membuatnya merasakan kesal luar biasa.


"Kau lebih cantik dariku? Omong kosong!" Ucap Yuna, ia menatap Anggi dengan tatapan santai.


"Dia lebih memilihku, itu artinya aku lebih cantik darimu." Sambung Yuna lagi, kali ini ia tersenyum.


"Kau lihat senyum itu? Dia sangat senang menggoda si centil Anggi walau sebenarnya ia kesal pada dirinya sendiri karena membuat orang lain kesal.


Kita benar-benar di berkati, memiliki sahabat sebaik Yuna adalah hal terbaik yang kita punya. Demi apa pun aku rela menukar hidupku demi dirinya." Ucap Arnela lagi, Yuna rela mengorbankan keselamatannya demi menolongnya beberapa waktu lalu, dan hal itu membuat Yuna memiliki nilai lebih dalam hati Arnela.

__ADS_1


Ibarat sebuah pohon, kebaikan itu akan selalu tumbuh dan subur dalam setiap ruang dan waktu, percaya atau tidak hanya orang yang mendedikasikan hidupnya untuk kebaikan yang akan mendapati namanya tetap harum melebihi harusnya mawar di sepanjang masa.


Maafkan aku...


Ayo kita bertemu!


Aku menunggumu di kantorku!


Jika Yunaku tidak datang, maka malam ini aku pasti akan berada dalam kesedihan.


Aku menantikanmu!


Yuna tersenyum sambil membaca pesan singkat di ponselnya, kini ia tidak menghiraukan Anggi lagi, pelan ia beranjak bangun dari tempat duduknya. Kemudian berpamitan pada Vivi dan Arnela yang masih berdiri mematung di dekat ibu kantin yang dari tadi mendengar perdebatan kecil mereka.


Sementara itu di tempat berbeda Prof. Zain sedang merangkai kata-kata indahnya, ia akan melakukan apa saja demi meredakan amarah gadis impiannya. Prof. Zain bahkan bersiap menerima semua amarah Yuna.


Mmmmmm! Yuna berdeham begitu ia memasuki kantor Prof. Zain.


Seperti biasa, Prof. Zain akan membiarkan pintu kantornya terbuka lebar untuk menghindari Fitnah, hanya laki-laki baik yang akan memperlakukan wanitanya dengan baik.


"Ada apa? Kenapa Bapak memanggilku? Jika tidak ada yang penting, aku akan pergi!" Yuna bersiap keluar, wajah cantiknya menyembunyikan kegugupannya. Dadanya berdebar sangat cepat.


"Duduklah! Tidak perlu bicara jika kau tidak ingin bicara. Jangan melihatku jika kau tidak ingin melihatku. Aku tidak akan mengambil banyak waktumu, cukup dengarkan apa yang akan ku katakan. Tidak akan lama. Sepuluh menit?


Tidak!


Lima menit saja!" Ucap Prof. Zain dengan penuh penyesalan dan pengharapan.


"Aku minta maaf karena tadi aku membentakmu dengan kata-mata kasar!


Aku tidak suka orang yang terlambat, setiap hal yang kurencanakan selalu ku lakukan tepat waktu. Aku marah padamu! Aku bahkan tidak melihat wajah orang yang ku bentak. Aku sangat kesal, kesal pada diriku sendiri karena kau melihat sisi burukku." Prof. Zain menghela nafas kasar, wajah tampannya merunduk sempurna.


Mendengar ucapan singkat Prof. Zain, Yuna tersenyum dalam diamnya, ia masih berdiri dan menantikan ucapan apa yang akan di lontarkan Profesor tampan itu selanjutnya.


"Maafkan aku yang tidak sempurna ini. Aku hanya..." Ucapan Prof. Zain tertahan di tenggorokannya, Yuna membalas ucapannya bahkan sebelum ia menyelesaikan penjelasan singkatnya.


"Anda memarahiku, kemudian anda menyesali itu. Setelah itu apa? Aku tidak menyangka anda terlihat buruk saat sedang marah. Aku tidak suka itu.


Aku tidak suka pria yang lemah. Sebaliknya, aku sangat suka pria yang lemah lembut dan tegas. Jika salah maka katakan salah. Dan hari ini..." Ucapan Yuna menggantung, membuat dada Prof. Zain berdebar.


"Aku pasti akan marah jika Bapak tidak memarahiku! Dengan memarahiku itu artinya anda tidak berat sebelah. Bapak mengusirku sama seperti Bapak mengusir Anggi, itu artinya bapak bersikap adil." Ucap Yuna dengan nada tegas, ia duduk di sofa depan Prof. Zain.


"Tetaplah seperti itu! Dan satu lagi, bahkan jika kita kelaparan setelah menikah, jangan pernah mengambil hak orang lain untuk memuaskan diriku. Aku ingin, aku dan anak-anakku tidak memakan makanan haram dari hasil merampas hak orang lain. Bapak mengertikan maksudku?" Yuna menatap Prof. Zain dengan tatapan penuh pengharapan.


Bapak?


Prof. Zain tersenyum mendengar panggilan Yuna untuknya. Meskipun begitu ia sangat menghormati wanita yang duduk di depannya, tidak ada panggilan sayang, pelukan atau ciuman sebelum pernikahan. Berkali-kali menjalin cinta, baru kali ini Prof. Zain mendapatkan wanita sesuci embun di pagi hari, dan hadirnya terasa bagai mentari, mentari yang selalu menghangatkan.


Pertemuan terakhir? Ini pertemuan terakhir kami sebelum pernikahan. Apa yang harus ku lakukan jika aku merindukannya? Tanpa di minta pun, aku pasti akan melakukan setiap permintaanmu. Aku tidak akan pernah membiarkanmu mengeluh. Prof. Zain bergumam sendiri sambil tersenyum. Ia masih merunduk, ia benar-benar tidak berani menatap netra teduh milik gadis pujaan hatinya, Yuna Dinata.

__ADS_1


...***...


Salut sama sosok Yuna yang berani meminta agar tidak di beri makanan dari hasil uang haram. Mencuri, Menipu, Korupsi! Semuanya sama saja, sama-sama mengambil hak orang lain! Tetap tegas yaaa para kaum hawa....!🙏❤


__ADS_2