Mencintai Bodyguard Saleha

Mencintai Bodyguard Saleha
Ikatan Suci


__ADS_3

Dua hari sebelumnya, Raina sudah melakukan fitting baju akad dan resepsi yang akan digelar jam 8 malam nanti.


Raina menggunakan baju putih dengan panjang menjuntai kelantai dengan jilbab berwarna senada. Raina dirias dengan make up tipis sederhana karena kecantikannya yang sudah memukau setiap mata yang memandangnya.


Satu jam setelah rangkaian persiapan pengantin, akad nikah pun berlangsung di panti. Hanya keluarga inti yang di undang untuk menyaksikan akad. Sawn mengucapkan akadnya dengan mantap, mengukuhkan janji sucinya di hadapan Allah dan para saksi untuk menjaga dan membimbing Raina sampai ke surga.


Malamnya pesta resepsi pernikahan berlangsung di ballroom hotel tempat pertama kali Sawn mengungkapkan perasaan cintanya pada Raina. Sekitar 2.000 tamu undangan hadir menyaksikan pesta pernikahan mereka.


Sawn menggunakan pakaian kuning keemasan. Sementara Raina, dia juga menggunakan baju dengan warna senada dengan milik Sawn Praja Dinata, sebuah mahkota kecil menempel di atas kepalanya.


Sawn memasuki tempat resepsi pernikahan dengan senyum malu-malu yang menghiasi wajah tampannya. Raina berjalan anggun penuh percaya diri di samping sawn.


Dua anak manusia yang di penuhi kebahagiaan duduk di kursi hijau berlapis emas sambil menanti para tamu untuk memberikan ucapan selamat.


"Allah Akbar... Cantiknya istriku. Masya Allah..." Goda Sawn yang kini menatap Raina saksama. Sawn menatap setiap inci keindahan paras istri yang baru dinikahinya tak lebih dari lima jam.


Sementara Raina, ia tersenyum malu-malu mendengar bisikan singkat Sawn di telinganya, pelan Raina mengarahkan jari lentiknya dan mencubit pinggang Sawn pelan.


"Aku tidak tahu kalau istriku sangat nakal." Bisik Sawn lagi sambil menggenggam tangan Raina. Tamu undangan yang melihat tinggah dua anak manusia yang di penuhi kebahagiaan masih malu-malu mengungkapkan cintanya, tersenyum dari kursi tempat duduk mereka.


Dari jarak yang tidak terlalu jauh dari tempat duduknya, Raina bisa melihat wajah sedih ibunya. Kesedihan itu di balut dengan kebahagiaan yang tidak bisa di ukur dengan apa pun yang ada.


Bu... Sekarang Raina sudah menikah! Bu... Sekarang ibu tidak perlu mengkhawatirkan ku lagi! Bu... Suamiku sangat mencintaiku dan aku pun sangat mencintainya! Bu... Do'akan Raina agar selalu bahagia! Bu... Aku mungkin akan sedih jauh dari kalian semua. Meskipun begitu aku janji akan selalu berusaha untuk tetap bahagia. Ucap Raina dalam hatinya sembari menatap bu Rahayu yang terus meneteskan air mata, dan berkali-kali pula menghapus dengan punggung tangannya.


...***...


Sawn dan Raina menghempaskan tubuh mereka di kasur, rasa letih yang mendera tubuh mereka membuat Raina tidak bisa berkata apa-apa. Mereka sedang berada di kamar pengantin, kamar yang sangat luas berukuran 80 m². Raina masih menggunakan baju pengantin yang ia pakai sewaktu resepsi. Mahkota kecil nya sudah ia lepas dan letakkan di atas bantal.


Raina berbaring sambil menggenggam erat tangan suaminya.


Suami?


Raina tersenyum tanpa memperlihatkan gigi putihnya. Dengan mata yang terpejam, ia mulai membayangkan setiap hal yang ia lewati sampai menuju halal, semuanya terasa bagai drama indah. Drama yang kadang di warnai dengan kesedihan, perasaan rindu, dan cinta yang membuncah namun tak bisa ia salurkan.


"Raina..." Panggil Sawn pelan begitu ia melihat wajah ayu itu tersenyum di sisinya.

__ADS_1


"Hmm...."


"Kok gitu jawabannya?" Ucap Sawn lirih sambil mengeratkan genggaman tangannya di jemari lentik Raina.


"Ada apa suamiku?"


"Suami! Kok suami?" Sawn duduk di samping Raina yang masih berbaring di sampingnya.


"Kalo bukan suami lalu apa? Apa kamu mau aku manggil orang lain dengan panggilan suami juga?" Goda Raina sambil berusaha untuk tidak tersenyum.


"Gak gitu juga kali."


"Lalu kamu maunya apa?" Raina bangun dari posisi terlentangnya dan duduk tepat di hadapan Sawn. Membuat dada Sawn berdetak lebih cepat dari biasanya.


Glekkk!


Sawn menelan salivanya.


Kenapa dada ku selalu berdebar jika berada di dekatnya? Apa aku sangat mencintainya sampai aku merasa akan tiada tanpa kehadirannya? Rasanya aku ingin mencium keningnya! Ahh... Tidak... Tidak. Dia pasti akan marah, aku tidak bisa melakukan sesuatu tanpa izinnya. Ucap Sawn dalam hatinya. Ia masih memandang takjub pada wanita yang sekarang sudah menjadi istrinya.


"Kau berpikir untuk mencium ku kan?" Raina menatap Sawn sembari menyipitkan mata besarnya.


Tidak ada sepatah kata pun yang terucap dari bibir Sawn, ia hanya bisa menggelengkan kepala. Ia cukup terkejut dengan ciuman tipis yang mendarat di pipi kanannya.


"Aku mau ganti baju. Sekarang, kau harus kekamar mandi." Perintah Raina sambil bangun kemudian berdiri dilantai.


"Apa kau sedang mempermainkan ku? Kau baru saja mendaratkan ciuman di wajahku, sekarang kau memintaku ke kamar mandi karena kau ingin mengganti baju? Setidaknya perlihatkan dulu rambutmu padaku?" Pinta Sawn dengan wajah yang sengaja ia buat-buat agar terlihat jutek.


"Nggak ah, aku malu."


"Malu, malu sama siapa?" Sawn bertanya karena ia benar-benar penasaran.


"Malu sama jin yang ada di kamar ini." Balas Raina sambil tersenyum. Ia ingin menggoda suaminya di titik suaminya itu akan merasa bosan karena ulahnya.


"Ayo bangun! Kau harus kekamar mandi, aku akan berganti pakaian!" Ucap Raina lagi, kali ini mata besarnya melotot. Membuat Sawn terpaksa menarik kakinya dan berjalan menuju kamar madi yang berjarak lima meter dari tempat tidur yang ia duduki.

__ADS_1


Raina menatap tubuh Sawn yang terus berjalan, sampai pria itu masuk kedalam kamar mandi dan pintunya menutup sempurna.


"Kau harus mandi, sayang! Aku tidak mau memeluk tubuh yang bau." Ucap Raina sambil tersenyum. Ia benar-benar puas karena bisa menggoda Sawn di malam pertama mereka.


Sementara Sawn, ia tersenyum bahagia di balik daun pintu yang masih tertutup rapat, pelan ia mulai mengelus pipi kanannya, ia masih bisa merasakan kehangatan ketika Raina mendaratkan ciuman kecilnya secara tiba-tiba


...***...


Lima menit berlalu sejak Sawn berada di kamar mandi, sekarang pria rupawan itu keluar sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk. Raina terpesona oleh ketampanan suaminya, ia menelanjangi setiap inci wajah rupawan itu, hidung bangir, bibir tipis dengan warna merah muda alami. Wajah tampan bak pangeran dalam dongeng, kulit mulus seperti bayi, tubuh tinggi seperti model. Semua terlihat sempurna dalam pandangan Raina.


Fa bi' ayyi ala'i rabbikuma tukazziban


Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan. (Ar-Rahman:13)


Tanpa Raina sadari ia mulai meneteskan air mata, terkadang manusia lupa dengan nikmat yang diberikan Tuhan padanya. Begitu diuji keimanannya, iman yang rapuh itu seolah menyalahkan Tuhan atas kejadian buruk yang terjadi dalam kehidupan singkatnya, mereka tidak sadar dalam setiap kebahagian itu ada juga kesedihan di dalamnya. Dan sekarang Raina merasa seolah tertampar olah firman Tuhan yang sudah di hafal di luar kepalanya.


"Apa kau menyesal menikah dengan ku?" Sawn bertanya sambil melempar handuk yang ia gunakan mengeringkan rambutnya ke kasur kemudian berjalan mendekati Raina yang berdiri di samping lemari.


"Tidak." Balas Raina singkat sambil berusaha untuk tersenyum.


"Lalu kenapa istri cantik ku ini menangis?" Tanya Sawn sambil menangkupkan kedua tangannya di wajah ayu Raina Salsadila.


"Aku bahagia! Sangat bahagia sampai air mata ini tidak bisa di ajak kompromi untuk tidak menetes."


"Apa semua wanita akan menangis ketika mereka bahagia?" Sawn membawa Raina kedalam pelukannya, ia menepuk pelan pundak istri yang sangat dicintainya itu.


"Mungkin." Balas Raina sambil melepaskan pelukan Sawn dari tubuhnya.


"Apa kau tidak akan memperlihatkan rambutmu padaku? Aku ingin melihatnya?"


"Tidak."


"Tidak? Kenapa tidak? Aku juga penasaran, aku ingin melihat rambut istriku, apa rambutnya panjang atau pendek. Atau justru keriting!"


"Aku mau mandi." Balas Raina tanpa menghiraukan ucapan Sawn, ia berjalan menuju kamar madi dengan senyum yang masih mengembang di wajah ayunya. Sementara Sawn, ia kembali berbaring di kasur sembari memainkan ponsel dengan jari lentiknya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2