Mencintai Bodyguard Saleha

Mencintai Bodyguard Saleha
Meminta Restu (Part2)


__ADS_3

Ketegangan masih di rasakan oleh Prof. Zain De Lucca. Sungguh, pertanyaan yang di lontarkan Pak Andi jauh lebih sulit ketimbang meraih gelar Profesor di usia mudanya.


Ucapan pak Andi memang tidak ada yang salah, setiap orang tua pasti menginginkan menantu yang sempurna untuk putri cantik mereka, hanya saja Prof. Zain sedikit was-was menjawab pertanyaan dari Pak Andi.


Takut salah dan takut mendapat penolakan membuatnya sedikit menciut. Cukup lama Prof. Zain terdiam, ia masih menimbang ucapan apa yang akan di lontarkannya sebagai ucapan pembuka. Menjadi bijak tidak cukup hanya dengan menjadi orang yang cerdas, di butuhkan ketenangan dan kesabaran dalam setiap sikap, sikap yang di tunjukan dalam keseharian.


"Pa, Papa menakutinya! Lihat wajahnya, wajah itu menunjukan kalau Papa terlalu menekannya." Ucap Sawn sambil duduk di samping Pak Andi, ia meletakkan bantal kecil di atas pahanya. Tak jauh berbeda dari Prof. Zain, Sawn pun terlihat sedikit tegang. Melihat Prof. Zain mengingatkan dirinya betapa sulitnya ia mendapatkan hati Raina Salsadila.


"Prof. Zain, anda tidak perlu setegang itu. Papa orang yang baik dan bijaksana, jika kau benar-benar mencintai gadis nakal itu maka kau harus menunjukan keseriusanmu!" Sambung Sawn lagi.


Apa? Gadis nakal? Dasar kak Sawn payah, berani sekali dia mengatakan itu tentangku. Yuna bergumam sendiri sambil menatap kakak lelakinya dengan tatapan tajam.


"Tuan Dinata, saya tahu saya tidak ada apa-apanya jika di bandingkan dengan lelaki lain yang pernah melamar Yuna.


Saya sendiri tidak tahu dari mana datangnya rasa cinta itu. Saya merasa senang ketika Yuna senang, dan saya merasakan sedih yang teramat dalam jika melihat Yuna sedih.


Tuan Dinata boleh mengatakan apa pun padaku, dan Tuan pun bisa mengujiku sekuat yang anda bisa, sampai kapanpun aku tidak akan pernah menyerah untuk Yuna!" Ucap Prof. Zain De Lucca begitu ia membuka mulutnya.


Entah apa yang di pikirkan pak Andi sampai bibirnya mengukir senyuman. Bu Hanum sendiri tidak tahu makna senyuman yang di tunjukan suaminya, selama ini Pak Andi jarang sekali marah. Bisa di bilang, dia bahkan tidak pernah marah.


"Jujur, awalnya saya hanya berpura-pura mendekati putri Tuan. Saya benar-benar bodoh, saya tidak tahu kepura-puraan akan membawa hati saya pada cinta tiada batas.


Saya merasa gusar bila tidak melihat Yuna. Saya juga sangat menderita bila melihatnya terluka. Rasanya jantung ini berhenti berdetak kala melihatnya mengeluarkan air mata. Di depan pesonanya saya bagai butiran debu tak berarti. Rasanya saya akan tiada jika jauh darinya.


Jika Tuan menolak saya sebagai pendamping putri berharga anda Yuna Dinata, mungkin saya akan tiada dalam perasaan cinta. Dan bila saya selamat, mungkin saya akan berada di titik dimana saya bisa bernafas namun saya tidak akan bisa melanjutkan hidup tanpa kehadiran Yuna disisi saya!" Ucap Prof. Zain menjelaskan. Ia menatap Pak Andi sambil menangkupkan kedua tangannya di depan dada. Entah kenapa air matanya juga ikut menetes, ia mengekspresikan rasa putus asanya bila pak Andi benar-benar menolaknya.


"Apa nak Zain pernah mendengar untaian hikmah yang mengatakan 'Cintailah kekasihmu sewajarnya saja karena bisa saja suatu saat nanti ia akan menjadi orang yang kamu benci!


Jujur, Bapak menyukaimu. Sangat menyukaimu! Namun, untuk menjadi pendamping putriku, aku masih harus meyakinkan diriku apa kau pantas untuk putriku atau tidak? Atau justru putriku yang tidak pantas untukmu?


Bapak bukan orang tua yang kolot. Bapak pun pernah berada dalam usiamu, saat dimana cinta dalam diriku membara namun aku tidak bisa berbuat apa-apa.

__ADS_1


Melihatmu saat ini dan mendengar setiap ucapan tegasmu, bapak bisa pastikan kau masih belum yakin dengan putriku! Jika kau saja tidak yakin padanya, lalu bagaimana bisa aku menyerahkan putri cantikku padamu!


Bapak hanya tahu kau seorang Profesor. Selebihnya, Bapak tidak tahu apa pun tentang dirimu. Jika kau beranggapan karena kau seorang Profesor muda yang tampan, cerdas mandiri dan kaya lalu Bapak tidak akan menolakmu, maka kau salah besar! Di luar sana bayak orang cerdas tapi kepribadian mereka tidak mencerminkan peri kemanusiaan, terkadang yang kuat menindas yang lemah, Bapak benci orang yang seperti itu!" Ucap Pak Andi tanpa melepas pandangannya dari Prof. Zain De Lucca.


"Saya tahu saya memiliki banyak kekurangan. Jika saya jadi Tuan Andi, saya pun akan menolak pria manapun yang berani mendekati putri sesempurna Yuna.


Saya hanya ingin menegaskan pada Tuan Andi, bahwa saya Zain De Lucca adalah pria dengan komitmen tinggi. Saya tidak akan menghancurkan kepercayaan anda sebagaimana saya tidak pernah melukai perasaan ibu saya. Mungkin saya terlihat arogan dan kasar, tapi sebenarnya saya tidak seburuk itu.


Anda bertanya apa rencana masa depan saya?


Jujur, saya juga merasa bingung dengan tujuan hidup saya. Tapi, setiap kali saya menatap wajah putri anda yang selalu ceria tanpa dosa, saya merasa bahagia dan saya pun berusaha untuk menjadi pribadi yang jauh lebih baik dari sebelumnya, sehingga Yuna tidak akan malu berada disisi saya yang akan menjadi pendamping masa depannya." Ucap Prof. Zain dengan nada meyakinkan. Netra birunya memancarkan ketenangan, ada perasaan bahagia sekaligus sedih yang memenuhi rongga dadanya.


Ia akan bahagia jika keluarga gadis yang sangat di cintainya menerima dirinya dengan tangan terbuka. Sebaliknya, ia akan sedih jika keluarga gadis yang di cintainya menolak dirinya dengan alasan yang sulit ia pahami.


"Tuan Andi bertanya apa rencana masa depan saya? Untuk saat ini saya tidak memiliki rencana besar apa pun. Selama beberapa bulan terakhir saya sedang belajar cara menjadi Muslim yang baik.


Saya tahu saya tidak akan bisa menjadi menantu dan sosok sebaik kakak ipar Raina. Namun, satu hal yang bisa saya janjikan, saya akan menikahi putri Tuan, jika menurut Tuan saya benar-benar layak berdiri di sampingnya sebagai imam yang baik dan bukan berpura-pura baik." Tutup Prof. Zain sembari menatap Pak Andi dengan tatapan penuh pengharapan. Ia berharap pria karismatik yang saat ini duduk di depannya akan memberikan restunya tanpa keragu-raguan.


Entah Bapak menerimamu atau menolakmu, Bapak akan mengatakannya saat pertemuan kita selanjutnya. Jadi jangan lupa, kau harus datang kerumah kami besok malam." Ucap Pak Andi sembari bangun dari posisi duduknya.


"Kenapa Papa membuatnya penasaran? Mama juga penasaran dengan jawaban Papa!" Bu Hanum membuka suara setelah yakin pembicaraan serius suami tercintanya telah berakhir dengan banyak tanda tanya dari dalam dirinya.


Tanpa menghiraukan ucapan istrinya pak Andi terus saja berjalan meninggalkan kamar inap Raina. Kamar inap menantu kesayangannya.


"Tante juga menyukaimu! Entah kau jadi bagian keluarga kami atau tidak, yang pasti tali kendalinya ada di tangan suami Tante." Ucap Bu Hanum sembari tersenyum. Ia mengacungkan dua jempolnya kearah Prof. Zain, menandakan pria pemilik iris biru itu sempurna untuk putri cantiknya.


"Kakak ipar? Sejak kapan aku menjadi kakak iparmu? Aku benar-benar kecewa!" Ujar Raina setelah pak Andi dan Bu Hanum tak nampak lagi di netra teduhnya. Mendengar ucapan ketus Raina membuat Prof. Zain terlihat putus asa.


"Aku kecewa kenapa kau lambat sekali menemui Mama dan Papa? Seandainya kau menemuinya dari dulu maka aku orang pertama yang akan merasakan bahagia tanpa tara! Dan aku orang pertama yang akan mendukung kalian berdua!" Goda Raina pada Prof. Zain yang saat ini masih terlihat gugup.


"Kau lihat wajahnya? Pemilik wajah itu bersemu memerah karena dia sangat mencintaimu!" Ucap Raina lagi sambil menunjuk kearah Yuna yang saat ini duduk di samping Sawn Praja Dinata.

__ADS_1


"Apa yang membuat kalian bahagia tanpa melibatkan ku?"


Semua fokus tertuju pada sosok yang baru saja sampai, ia membuka pintu tanpa mengetuknya terlebih dahulu. Tatapan tajam Sawn seolah ingin menguliti sosok naif yang langsung duduk di sampingnya.


"Kenapa kalian menatapku seperti itu? Seolah aku ini seorang kriminal yang kabur dari tahanan!"


"Bukan begitu! Hanya saja, bang Robin datang di saat yang tidak tepat!" Ujar Yuna sambil menatap wajah pria yang sudah ia anggap sebagai kakak lelaki keduanya.


"Apa yang terjadi? Apa kau mencuri sesuatu sampai kau takut ketahuan oleh ku?" Lagi-lagi Robin menunjukan wajah penasarannya.


Pletakkkk!


Sawn melempar wajah penasaran Robin dengan bantal kecil yang ada di tangannya, melihat tingkah nakal suaminya membuat Raina tertawa sambil memegang perutnya.


"Kenapa pria berkulit pucat itu ada disini?" Robin bertanya sambil berbisik di telinga Sawn.


"Dia menemui Mama dan Papa untuk melamar Yuna!" Balas Sawn tanpa menatap lawan bicaranya.


"Apa? Dia?" Robin terlihat terkejut.


"Dia tampan dan cerdas, aku menyukainya!" Ujar Raina penuh semangat.


Prof. Zain yang mendengar pembelaan dari calon kakak iparnya hanya bisa tersenyum sambil menahan bibirnya. Sungguh, ia merasa sangat bahagia, mendapat dukungan langsung dari anggota keluarga inti membuatnya seolah melayang ke angkasa.


"Kau tersenyum? Wahhhh... Aku tidak percaya ini!" Gerutu Robin. Berbeda lagi dengan Sawn, ia malah menyipitkan kedua matanya seolah sedang mencari pembenaran dari pria yang coba-coba mendekati adik perempuannya.


"Aku belum menerimamu! Jika kau berani menyakiti adik perempuanku, maka kau akan tamat!" Ucap Sawn sembari menepuk pundak kekar Prof. Zain De Lucca.


Meskipun Sawn belum sepenuhnya menerima Prof. Zain, setidaknya ia masih bisa tersenyum ramah padanya. Suasana yang tadinya terasa menegangkan kini mencair seperti salju, tidak ada ucapan kasar ataupun teriakan dari kelima penghuni kamar inap Raina, yang ada hanya senyuman saja.


Aku memandangimu tanpa perlu menatap, aku mendengarmu tanpa perlu alat, aku menemuimu tanpa perlu hadir, aku mencintaimu tanpa perlu apa-apa karena kini ku miliki segalanya. Gumam Prof. Zain sambil menatap wajah cantik Yuna. Sepersekian detik kemudian ia merunduk sambil tersenyum menawan. Senyuman yang sontak membuat Robin menggelengkan kepala karena keheranan.

__ADS_1


...***...


__ADS_2