
Siang ini Sawn menikmati Lunch di balkon lantai dua sambil puas memandang keindahan taman rumahnya.
Malam Jumat atau malam minggu sama saja baginya, ia tidak seperti pemuda lain yang akan menghabiskan waktunya di clab malam atau sekedar bergandengan tangan dengan gadis impiannya untuk kencan.
Siang ini Sawn meminta bi Sumi membuatkannya roti isi, daging giling yang di campur dengan sedikit sayuran. Segelas jus Alpukat dingin dan segelas air mineral. Makan siang yang sederhana.
Waktu terus berjalan, namun Sawn masih larut dalam lamunan panjang.
Andai saja, aku bertemu denganmu lebih dulu. Andai saja aku tidak pernah menyakiti mu. Andai saja kita seperti pasangan lain, bergandengan tangan mesra kemudian saling berbagi rasa.
Andai saja kamu jatuh cinta padaku sama seperti aku jatuh cinta padamu.
Andai saja aku bisa merengkuhmu dalam bahagia.
Masih banyak hal yang ingin Sawn katakan, namun ia mulai muak dengan kata 'Andai Saja' seolah ucapan itu menjadi musuh dalam diamnya.
Tok.Tok.Tok.
"Masuk." Jawab Sawn di tengah lamunannya.
Wajah separuh baya bi Sumi nampak kecewa melihat nampan makan siang Sawn, makanan itu masih utuh, karena Sawn hanya menggigit kecil.
"Apa tuan tidak suka rasanya? Apa bibi harus membuatkan menu lain untuk makan siang tuan?" Bi Sumi berjalan mendekati balkon sembari memandang wajah segar Sawn.
"Tidak perlu. Aku sudah kenyang. Jangan lupa letakkan air di atas nakas. Aku tidak suka jika aku harus kedapur hanya untuk mengambil air." Ucap Sawn tanpa memandang wajah lawan bicaranya.
Sepertinya tuan sedang marah, apa yang membuatnya sekesal itu? Lirih bi Sumi sembari mengangkat nampan berisi makanan yang berada di depan Sawn Praja Dinata.
"Bik, apa Raina ada di rumah?"
"Ia tuan."
__ADS_1
"Apa yang di lakukannya?"
"Non Raina baru saja pulang dari rumah orang tuanya, sekarang dia sedang istirahat. Non Raina bilang, malam ini dia akan makan malam di luar, jadi non Raina meminta bibi untuk tidak memasak terlalu banyak. Permisi tuan..."
Aku yakin mereka pasti berjanji untuk bertemu. Gumam Sawn sembari memikirkan rencananya malam ini.
Karir. Cinta. Bisnis. Nothing is impossible (Tidak ada yang tidak mungkin). Semuanya mungkin selama kamu punya tekat yang kuat untuk merealisasikannya. Dan saat ini tujuan Sawn sangat sederhana yakni mendapatkan hati Raina.
Pelan Sawn beranjak dari tempat duduknya, meraih ponsel di atas nakas kemudian menghubungi beberapa nomer yang menurutnya penting, ia sendiri sudah memiliki rencana untuk mengungkapkan perasaannya pada Raina.
Memikirkan tentang Raina membuat Sawn teringat pada Angel. Sekuat perasaan Sawn untuk Raina, maka sekuat itulah kekesalannya pada Angel.
Aku akan mengurusmu nanti. Gumamnya sembari memandangi amplop coklat yang di berikan tiga Bodyguard laki-lakinya.
...***...
Restaurant 19:30
Tapi kali ini, seolah Tuhan sedang berbisik di telinganya dengan bisikan lembut 'Aku ada walaupun aku tidak terlihat, lakukan apapun semaumu maka akupun akan menunjukan kebesaranku' Raina tidak menyadari kalau peria periang di hadapannya sedang bahagia sampai-sampai meneteskan air mata.
Air mata memang aneh. Ia keluar ketika kamu sedang sedih, dan dia pun keluar saat kamu sedang bahagia. Seolah aku memiliki pabrik air mata. Lirih Ruan dalam hatinya.
"Do you Want more steak?" (Apakah kau ingin tambah steak lagi?) Ruan bertanya sembari menyodorkan tissu untuk Raina, ada sedikit noda di dekat bibirnya.
"No. Thanks." Balas Raina. Mereka saling membalas senyuman ketika Sawn, Rita, Robin, dan ketiga bodyguard nya tiba.
Sungguh aneh Sawn membawa kelima orang itu bersamanya. Namun ia harus melakukannya, karena ia tahu wanita yang mencuri setiap malamnya tidak akan suka jika mereka hanya bertiga saja, termasuk si muka pucat Ruan.
"Kak Raina... Kakak ada disini? Oh my god. Kakak datang bersamanya?" Rita melempar senyuman pada makhluk indah bernama Ruan, ia benar-benar terpesona, kulit putih, hidung mancung, mata sipit, dan bibir merah muda alaminya benar-benar menarik Rita kedalam bayangan erotis.
Tuhan... Aku tertawan pada pesona makhluk indah yang kau ciptakan ini! Apa yang harus ku lakukan? Aku sangat gugup sampai-sampai jantungku berdegup lebih cepat. Gumam Rita sembari melangkah pelan kearah meja Raina dan Ruan.
__ADS_1
"Hay Mr.Sawn..." Ruan menyambut segerombolan orang yang berjalan menuju mejanya dengan senyuman.
"Apa yang bapak lakukan disini?" Raina bertanya setelah ia menelan irisan steak terakhirnya. Sawn, Robin, dan Rita duduk di meja yang sama bersama Ruan dan Raina tanpa meminta izin dari mereka. Sementara tiga bodyguard lainnya duduk di meja yang sama dengan bodyguard Ruan, yakni selang satu meja.
"Raina... Why don't you have some more ice cream?" (Raina, bagaimana kalau kau menambah es krim?).
"No. Thanks." Balas Raina sambil menggelengkan kepalanya.
"Aku datang kemari untuk makan malam bersama tim ku." Balas Sawn telat karena di dahului pertanyaan konyol dari Ruan.
Ice cream? Dasar payah. Kenapa dia terus menawarkan ice cream padahal mereka sudah memakannya. Apa kau penggila ice cream? Lirih Sawn dalam hatinya. Tatapan tajam Sawn seolah mengisyaratkan kalau ia tidak suka dengan pria misterius didepannya.
Sebenarnya Sawn sangat penasaran, bagaimana bisa Raina mengenal peria hebat seperti Ruan, namun ia lebih memilih menelan pertayaan itu untuk dirinya sendiri.
"Nona sendirian, apa aku boleh bertanya padamu?" Robin membuka suara sambil menatap Ruan dan Raina bergantian.
"Silahkan. Jika aku bisa aku pasti akan menjawabnya." Balas Raina cepat.
"Bagaimana kau bisa mengenalnya?" Robin menunjuk kearah Ruan.
"Diaa mantan tunangann sespupu kuu, Chen!" Balas Ruan dengan nada yang terdengar aneh.
"Sespupu? Maksutnya nona sendirian pernah bertunangan dengan sepupunya?" Robin bertanya lagi karena masih penasaran. Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibir Raina, ia hanya mengangguk pelan sembari membayangkan masa lalunya.
"Ooh ya ampun, aku masih bertanya-tanya bagaimana mungkin nona sendirian mengenal sespupunya. Maaf... Maksutku sepupunya!" Ucap Robin lagi.
Kali ini Sawn memilih untuk tetap diam, sebenarnya ia sendiri sangat penasaran, untungnya Robin menanyakan hal yang sama dengan yang ingin dia tanyakan.
"Kalian pesan makanan dulu, kita akan bicara nanti." Ucap Raina sembari mengangkat tangannya memanggil seorang pelayan.
Sepersekian detik kemudian, tidak ada sepatah katapun yang terucap di meja makan, hanya suara sendok dan garpu yang saling bersahutan. Raina dan Ruan, mereka saling pandang kemudian berakhir dengan saling membalas senyuman. Sawn hanya bisa melihat pemandangan meyebalkan itu tanpa berucap sepatah kata pun, makan malam ini jika di lihat dari luar akan nampak seperti pemandangan yang menakjubkan, tapi dari pandangan peribadi Sawn ini sangat menyebalkan, ingin rasanya ia membalik meja makan agar semua orang tahu ia sangat kesal. Namun pelan ia mengusap dadanya tanpa ada yang memperhatikan sembari berucap. Sabar... Sabar...!
__ADS_1
...***...