
"Kakak ipar...!" Satu panggilan dari Yuna membuat Sawn terkejut luar biasa.
"Maaf! Apa aku mengganggu kalian?" Tanya Yuna tanpa dosa. Sedetik kemudian ia tersenyum karena tidak ada jawaban dari dua orang yang sangat ia sayangi itu.
"Mama meminta kak Raina turun!" Ucap Yuna lagi kemudian ia menutup pintu dan beranjak menuju lantai bawah.
"Mama mamanggil. Aku harus pergi." Raina memperbaiki posisi duduknya, ia memandang wajah tampan suaminya tanpa berkedip.
"Tapi, sebelum itu ada yang ingin ku sampaikan padamu." Ucap Raina lagi, kali ini ia terlihat serius. Senyum yang tadi mengembang di wajah ayunya sirna bersama helaan nafas panjangnya. Wajah cantik itu merunduk, entah apa yang ia pikirkan sampai membuat Sawn terlihat khawatir dengan tingkah aneh istrinya.
"Apa yang akan kau lakukan jika aku mendua?" Raina bertanya masih dengan kepala tertunduk. Sejujurnya ia ingin menatap wajah Sawn, namun ia menahan keinginan untuk itu.
"Aku akan gila!" Balas Sawn dengan nada meyakinkan. Pelan Sawn mengangkat dagu Raina hingga mata mereka kembali bertemu.
"Mungkin Cintaku tidak sebesar cinta Zulaikha pada Yusuf, dan Cintaku pun tidak seagung cinta Muhammad pada Khadijah. Tapi cintaku tulus untukmu bidadari Surgaku, aku mencintaimu sepenuh jiwa dan ragaku. Aku akan hampa tanpa kehadiranmu disisiku. Aku akan gila jika ada yang berani mengambilmu dariku. Aku tidak perduli Dunia mengutukku, mengatakan aku laki-laki bodoh karena mencintai seorang wanita sebesar itu!" Ucap Sawn pelan sambil menempelkan keningnya pada kening milik Raina. Ia memejamkan matanya sambil merasakan cinta yang ia sendiri tidak bisa mengukur kedalamannya.
"Aku belum melakukan itu. Tapi, aku akan melakukannya. Kau tidak boleh cemburu karena aku akan tetap menduakanmu." Guyon Raina sambil menggenggam jemari Sawn yang masih menempel di wajah ayunya.
"Kau akan jadi ayah." Ucap Raina lagi dalam satu tarikan nafas.
Glekkkk!
Sawn menelan salivanya, ungkapan singkat Raina yang begitu tiba-tiba membuat kembang-kempis dadanya mengucap satu nama.
Allah Akbar...
Allah Akbar...
Tanpa terasa air mata mulai menetes dari sudut matanya dan mendarat di punggung tangan Raina.
"A-aku akan jadi ibu? Maksudku kau akan jadi ayah! Ahhh... Maaff! Ada apa denganku? Kenapa aku jadi gugup begini!" Ujar Sawn sambil menatap wajah berseri-seri milik Raina Salsadila.
Raina melipat kedua lengannya di depan dada, wajah tersenyum Sawn seperti inilah yang Raina nantikan sejak dua puluh empat jam terakhir. Bisa memberitahukan kabar bahagianya, seolah beban di pundaknya menguap keangkasa bersama hembusan nafas leganya.
"Kau akan menjadi seorang ayah. Dan aku akan menjadi seorang ibu! Kita akan mendidik buah hati kita dengan kasih sayang dan cinta." Ucap Raina sambil berbisik di telinga Sawn.
__ADS_1
"Aku membayangkan senyum bahagia Mama, Papa, Ibu dan semua anggota keluarga kita mendengar kabar bahagia ini." Sambung Raina lagi. Ia kembali memeluk tubuh Sawn, seolah dekapan suaminya akan menambah kebahagiaan yang akan datang bersama buah hati mereka.
"Terima kasih karena memberikan kebahagiaan sebesar ini! Kau tahu? Rasanya dunia ada dalam genggamanku, tidak ada bahagia yang lebih baik dan lebih besar dari ini." Ucap Sawn sambil bangun dari posisi duduknya. Ia di penuhi semangat.
"Rasanya aku ingin berteriak, mengabarkan pada dunia. Kalau aku sangat bahagia!" Ucap Sawn lagi, ia berjalan sambil membentangkan kedua lengannya. Menutup mata sambil membayangkan wajah malaikat kecilnya yang akan datang kedunia.
...***...
"Yuna, apa kau sudah memanggil kakak mu?" Pak Andi bertanya setelah menyelesaikan tantangan yang di berikan bu Hanum padanya.
"Sudah, pa."
"Jika sudah, kenapa kakak mu belum juga turun?" Sambung bu Hanum, ia duduk di samping pak Andi dan meletakkan nampan teh.
Family time!
Habiskan uang mu untuk hal yang bisa kamu beli, dan habiskan waktumu untuk hal yang uang tidak bisa beli. Setidaknya, itu prinsip dasar dari keluarga Dinata. Kebersaam tidak bisa di tukar dengan apa pun walau hanya sekedar untuk meminuh segelas teh hangat di ruang tengah.
"Yuna... Panggil kakak mu, kau harus memintanya untuk segera turun, setelah itu kita akan makan siang!" Ucap bu Hanum menegaskan.
Baru saja Yuna akan beranjak dari tempat duduknya, dua mahakarya indah sang pencipta itu berjalan pelan menuruni anak tangga saling memegang tangan, seolah mereka tidak akan pernah terpisahkan.
"Mulai hari ini kau harus berhati-hati. Kau tidak boleh mengangkat yang berat-berat. Kau juga tidak boleh bertengkar denganku, apa lagi sampai menggunakan ototmu!" Ucap Sawn begitu mereka duduk di sofa yang bersebelahan dengan Yuna.
"Kau juga tidak boleh menyetir sendiri! Kau tidak boleh kemanapun tanpa seseorang disisimu. Aku tidak perduli, walaupun aku harus bangkrut demi untuk melindungimu!" Sambung Sawn lagi, pak Andi dan bu Hanum hanya bisa tersenyum tanpa bisa mengucapkan sepatah kata pun mendengar ucapan putra nakalnya.
"Kakak! Kakak itu musuh atau suami? Kenapa kak Raina tidak boleh melakukan apa pun!" Protes Yuna sambil melempar batal kecil kearah Sawn.
Pletakkk.
Sawn balas melempar Yuna dengan bantal yang sama, dan mendarat tepat di puncak kepala adiknya. Sawn tersenyum mengejek. Sedetik kemudian ia kembali fokus pada Raina yang saat ini menyaksikan tingkah konyolnya dengan Yuna.
"Mama lihatkan tingkah kakak? Tolong marahi dia." Yuna sok bersikap manja pada mamanya yang sedari tadi tersenyum melihat tingkah konyol anak-anaknya. Yuna mendekat dan duduk di samping Bu Hanum.
"Sawn, sayang! Kau tidak boleh mengganggu anak kecil ini." Ucap bu Hanum sembari menepuk pundak putri manjanya yang terus saja memeluknya.
__ADS_1
Huekkkk!
Ledek Yuna kearah Sawn, ia menjulurkan lidahnya mengisyaratkan kalau mamanya sangat menyayanginya.
"Sawn, sayang! Apa kau sudah mengirim undangan untuk ibu mertuamu? Jangan sampai kau melupakan itu, jika itu sampai terjadi mama pasti akan marah besar padamu!" Ucap Bu Hanum memulai percakapan seriusnya.
"Akhir-akhir ini Sawn sedikit sibuk. Sawn dan Raina belum bisa berkunjung kepanti. Sawn meminta Agil mengirim undangan itu langsung pada ibu mertua!" Balas Sawn tanpa melepas pandangan dari wajah mamanya.
"Baiklah, itu sudah cukup untuk mama!" Jawab bu Hanum sambil meraih cangkir Teh yang ada di depannya.
"Mam, Yuna permisi kekamar sebentar. Yuna harus bicara dengan Nela." Pinta Yuna sambil berdiri. Tidak ada penolakan apa pun dari bu Hanum, ia memberikan isyarat melalui matanya.
Huh... Yuna membuang nafas kasar, ia berbaring di atas ranjang empuknya sembari memainkan ponsel barunya.
"Nela..." Ucap Yuna sambil mencari nama Arnela di kontaknya.
Baru saja bersiap menekan nomer Arnela, sebuah pesan masuk dari nomer asing, Yuna mengerutkan dahinya, mencoba berpikir. Percuma saja berpikir, tetap saja ia tidak akan menemukan jawaban dari pertanyaannya.
"Baiklah, mari kita lihat. Siapa orang aneh yang berani mengirim pesan padaku." Gumam Yuna pelan.
Entah apa yang terjadi tiba-tiba semua langsung terasa hambar, yang dulunya aku melihat pelangi penuh warna, sekarang tersisa, gelap, dan pekat.
Yuna menghela nafas kasar membaca pesan yang ia terima.
Agak aneh bukan?
Menyukaimu yang baru saja aku kenal, mendoakanmu yang belum tentu mendoakanku, mengharapkanmu yang mungkin mengharapkan orang lain.
"Siapa orang aneh ini? Apa dia sangat menyukaiku sampai pesannya pun terdengar sangat putus asa." Gumam Yuna lagi sambil bangun dari ranjangnya, ia berdiri di balkon.
Entahlah, aku masih saja mengharapkanmu dalam diam, mendoakanmu di tengah keheningan malam dan meminta kepada Tuhan agar kita dapat dibersamakan.
Aneh bukan?
Namun begitulah adanya.
__ADS_1
Yuna membaca pesan terakhir yang ia terima, ia benar-benar tidak bisa menebak pengirim pesan tanpa nama. Ia tidak bisa berkomentar apa pun, karena ia sendiri tidak pernah merasakan cinta sebesar itu, cinta yang bisa membuatnya merasakan putus asa bila tidak bisa melihat wajah belahan jiwanya.
...***...