
Suasana Kafe love & Trust sore ini terlihat sangat ramai. Tempat yang luas dan nyaman, di tambah dengan dekorasi sentuhan ala Eropa membuat Kafe yang di kepalai Robin selalu di padati pengunjung penggila selfi. Kesibukan di kantor tidak membuatnya mengabaikan usahanya sendiri. Baginya, menyibukkan diri dengan pekerjaan akan membuatnya melupakan kenangan pilu yang masih bercokol di lubuk hati terdalamnya.
Cekrekkkk!
Robin menghentikan langkah kakinya begitu melihat gadis cantik yang sedang Selfi di meja nomer tiga. Gadis muda itu sengaja memamerkan senyum terbaiknya. Senyum indah itu akan melelehkan hati siapa saja yang melihatnya, namun itu tidak akan berpengaruh bagi sosok Robin yang berhati dingin kala berhadapan dengan dunia asing yang disebut dengan cinta.
Robin masih berdiri mematung sambil menatap wajah seindah purnama di depannya. Untuk sesaat wanita yang tak kalah cantiknya dengan aktris Ibu kota itu memamerkan senyuman mautnya, kulit putih, hidung mancung, alis rapi bak semut yang sedang berjalan beriringan, gigi seputih salju dan di tambah lagi dengan bentuk tubuh bak gitar Spayol. Sungguh indah maha karya Tuhan di depannya. Sayangnya, tetap saja ia bersikap jutek. Sedikitpun ia tak merasa tergoda oleh kesempurnaan wanita di depannya itu. Sikap kocak yang selalu ia tampakkan seolah menghilang begitu saja.
"Alisya, kapan kau kembali dari Amerika? Aku pikir kau akan menikah disana? Sebuah kejutan kau kembali hanya untuk mengejarnya." Sapa Sawn begitu ia berdiri didepan gadis cantik itu, sesekali ia menunjuk kearah Robin yang masih berdiri mematung
"Tinggalkan saja dia! Aku yakin dia akan menangis begitu tahu kau sangat berharga baginya." Sambung Sawn lagi, kali ini ia menepuk dada bidang Robin sambil memamerkan senyuman tipisnya, melihat wajah bosan yang di tunjukan Robin membuat Sawn ingin tertawa lepas.
"Benarkah? Aku menantikan itu! Sayangnya dia terlalu membosankan untuk di jadikan pacar." Timpal Alisya sambil menyebikkan bibir tipisnya.
"Bukankah aku sudah memintamu untuk menikah? Kau terlalu ngeyel, dan aku tidak bisa menyebut mu sebagai gadis waras." Timpal Robin dengan nada jutek, sedetik kemudian ia memeluk wanita anggun itu dengan perasaan rindu luar biasa, kerinduan sahabat untuk sahabatnya.
"Siapa dia? Kenapa kau tidak pernah cerita kalau kau punya teman setampan dirinya. Jika kau menolakku, aku bisa bergantung padanya" Ucap Alisya begitu ia melepas pelukannya dari sosok yang sangat dirindukannya, Robin Atmajaya.
Pletakkkk!
Sikap usil Robin akhirnya kembali, ia menyentil jidat Alisya sama seperti saat gadis cantik itu masih duduk di bangku SMA. Suasana canggung antara Robin dan Alisya akhirnya mencair juga. Maklum saja, sikap ramah Robin tidak bisa hilang begitu saja walau ia berusaha keras untuk mengabaikan wanita yang sempat dijodohkan dengannya.
"Kau tidak boleh asal bicara! Walau kau ingin mendekatinya, peluang itu tidak akan pernah ada. Dia tunangan Yuna, mereka akan menikah bulan depan.
Prof. Zain kenalkan, dia Alisya Kanaya, dokter bedah terbaik yang penah ada." Ucap Robin memperkenalkan dua Makhluk indah yang berdiri di depannya.
"Apa kita akan terus berdiri disini? Jika ada yang ingin kau sampaikan, kau bisa sampaikan nanti saja. Rainaku pasti sedang menunggu dirumah. Sementara kau..." Sawn menatap Robin dengan tatapan tajam, berharap sahabatnya itu akan membiarkannya pulang tanpa berucap sepatah katapun.
"Baiklah. Kali ini aku membiarkan mu pulang, sebagai gantinya besok kau harus membiarkanku makan dirumah mu! Aku merindukan masakan Nona sendirian." Balas Robin sambil menatap Sawn yang saat ini mulai terlihat kesal.
"Sebagai gantinya, kau harus cuci piring." Ucap sawn sambil memamerkan senyuman menawan. Tidak ada bantahan dari Robin selain anggukan kepala karena terpaksa.
Semenit kemudian Robin, Prof. Zain dan Alisya duduk manis di meja nomer tiga sambil menanti pesanan makan malam mereka.
Prof. Zain memilih untuk tidak banyak bicara. Ia bahkan sampai berpikir berada di tempat yang salah, melihat Alisya yang terlihat malu-malu mengungkapkan perasaannya pada Robin membuatnya merasa bersalah.
...***...
"Aku berhutang budi padamu! Karenamu, aku tidak perlu berpura-pura tersenyum di depan Alisya." Ucap Robin pada Prof. Zain begitu mereka sampai dirumah milik Robin.
"Apa benar kau tinggal sendiri di rumah sebesar ini? Wah... Jika itu aku, aku tidak akan bisa bernafas dengan tenang. Tinggal dirumah sebesar ini tanpa ada siapa pun terasa bagai di penjara." Ujar Prof. Zain setelah memasuki rumah megah berlantai dua itu.
"Aku tinggal sendiri karena aku tidak suka rumah yang terlalu ramai." Balas Robin pelan sambil berbaring di sofa empuk ruang tengah.
__ADS_1
"Kau harus tinggal bersama orang lain, setidaknya satu atau dua orang. Jika kau sakit ada yang akan mengurusmu!" Timpal Prof. Zain, ia merasa perihatin pada sosok rupawan yang sudah ia anggap seperti saudara sendiri.
"Itu tidak perlu! Lagi pula aku lebih suka sendiri, aku membiarkanmu menginap di rumah ku bukan karena aku menyukaimu."
"Sepertinya Nona Alisya sangat menyukaimu! Kenapa kau tidak melamarnya?" Prof. Zain bertanya sembari menghadirkan wajah nyaris sempurna milik Yuna Dinata di memori otaknya.
Pletakkkkk!
Robin melempar bantal kecil yang mengganjal kepalanya kearah wajah Prof. Zain yang terlihat bahagia
"Tutup mulutmu sebelum aku mengusirmu!" Guyon Robin tanpa memperlihatkan senyum tipisnya.
"Alisya memang cantik! Laki-laki manapun yang menatapnya akan mudah meleleh dalam buaian cinta. Dan sayangnya lelaki itu bukan aku." Celetuk Robin lagi tanpa beralih dari Sofa.
"Kau harus setia pada Yuna. Jika kau tidak setia padanya aku pasti akan melenyapkanmu sebelum Sawn melakukannya." Kali ini Robin mengingatkan dengan tatapan tajam.
Pletakkkk!
Bukannya mengindahkan peringatan Robin, Prof. Zain malah melempar kepala Robin dengan bantal kecil yang ada di tangannya. Yang membuat Prof. Zain gemas, ekspresi terkejut Robin terlihat seperti orang yang tersengat listrik dengan tegangan tinggi, hal itu memancing gelak tawa Prof. Zain.
Ssssssss! Aaahhhhh!
Robin mengusap kepalanya, efek terkejut kepalanya sampai terjedot meja kecil yang ada di depannya.
"Hahaha... Maafffff! Aku hanya menggodamu! Seharusnya kau tidak perlu memintaku setia pada Yuna, karena tanpa diminta pun aku pasti akan setia padanya." Balas Prof. Zain sambil menahan tawa.
Sementara itu di tempat berbeda Sawn dan Raina baru saja menyelesaikan Shalat Isya. Wajah mereka berdua nampak berseri-seri. Cahaya ketenangan memancar dengan indah, mungkinkah ini yang di sebut rumahku adalah Surgaku? Ketenangan, kedamaian, kebahagiaan, kasih sayang, cinta, kelembutan, dan entah apalagi namanya, semua itu ada dalam rumah tangga Raina Salsadila dan Sawn Praja Dinata.
Bahagia dalam mengarungi mahligai rumah tangga tidak akan sulit mencarinya selama niat awal pernikahan di landasi karena Allah semata, dan sebaik-baik pilihan adalah yang baik agamanya.
"Apa Prof. Zain jadi menginap di rumah Mas Robin?"
"Ia. Jadi!" Balas Sawn singkat sambil bekerja dari Laptopnya.
"Abi nggak capek seharian kerja dikantor, dan sekarang harus kerja lagi setelah Shalat Isya?"
"Mmmm. Capek! Hanya saja, rasa lelah Abi serasa menguap keangkasa melihat senyum indah milik Ummi." Sawn tersenyum setelah memainkan jurus gombalannya.
Sebenarnya Raina ingin tertawa, hanya saja ia lebih suka menahannya agar tidak tertawa terbahak-bahak.
"Gombal." Balas Raina sambil melipat mukena yang ia gunakan dan menggantinya dengan Kerudung kuning hadiah dari adik-adiknya.
"Emang salah gombalin istri sendiri? Asal Ummi tahu, Abi paling suka menggoda Ummi setelah Ummi selesai shalat, melihat Ummi senyum-senyum sendiri rasanya Abi habis menangin tender dengan nilai Miliyaran." Ucap Sawn jujur.
__ADS_1
"Baiklah. Alasan Abi, Ummi terima."
Sedetik kemudian kamar yang di tempati Sawn dan Raina terasa sunyi, tidak ada percakapan apa pun diantara mereka berdua selain suara hembusan nafas saja.
"Ummi..." Sawn memanggil dengan nada pelan, namun panggilan itu terdengar sangat merdu di telinga Raina, lebih merdu dari lantunan musik manapun. Begitulah cinta! Ketika cinta membelai lembut hatimu semua yang datang dari kekasih hatimu akan terasa indah dan sempurna.
"Ada apa? Apa Abi butuh sesuatu? Katakan saja!"
"Tidak ada! Abi hanya ingin mendengar suara Ummi!" Jawab Sawn santai. Tidak ada balasan dari Raina selain senyuman dalam diamnya.
"Awalnya Ummi pikir Abi orang yang pendiam. Ummi benar-benar tidak menyangka ternyata Abi pandai menggombal. Apa Abi selalu melakukan itu pada setiap gadis?" Selidik Raina sambil menatap Sawn dengan tatapan tajamnya.
"Tentu saja." Jawab Sawn singkat. Ia langsung terdiam setelah melihat tatapan tajam istri tercintanya.
"Tentu saja, tidak!" Sambung Sawn lagi. Kali ini ia tersenyum sambil berjalan mendekati Raina yang masih duduk di atas sajadahnya.
"Apa itu berat?" Sawn bertanya setelah ia duduk di sisi kanan Raina. Tangan kanannya langsung mengusap perut buncit istrinya, tanpa terasa air matanya menetes dan mendarat tepat di punggung tangan Raina.
"Sama sekali tidak berat, karena Ummi menjalaninya ikhlas karena Allah.
Terkadang Ummi merasakan lemah yang bertambah-tambah. Percaya atau tidak, dalam setiap sakit, lelah dan lemah itu Allah berikan kebaikan besar untuk kami para wanita. Derajat kami tiga tingkat di banding ayah, Surga ada di telapak kaki kami para wanita. IBU, satu kata yang terdengar sangat merdu ditelingaku." Ucap Raina sambil menangkup wajah tampan Sawn dengan kedua tangannya.
Tanpa aba-aba Sawn langsung menggendong tubuh Raina kemudian membaringkannya di tempat tidur.
"Ummi bisa sendiri, Abi tidak perlu menggendong Ummi. Jika ada yang melihat Abi seperti ini, mereka akan berpikir Ummi istri yang manja dan tidak tahu diri." Ucap Raina lagi sambil menatap Sawn dengan tatapan cinta.
Sssss! Aaahhhhh!
Raina meringis menahan nyeri di bagian punggungnya.
"Maafff!" Ucap sawn spontan, ia berpikir gara-gara dirinya Raina kesakitan.
"Kenapa Abi minta maaf? Akhir-akhir ini Ummi memang mudah sekali lelah." Raina menjelaskan sambil memperbaiki posisi bantal yang menjadi sandarannya.
"Bagaimana pendapat Abi jika Mas Robin dan Rita kita jodohkan?" Tidak ada balasan dari Sawn, ia malah menampakkan wajah bingungnya.
"Rita cantik dan Mas Robin tampan. Bukankah itu perpaduan yang sempurna?"
"Itu tidak akan berhasil! Di dalam hati Robin sudah ada wanita lain. Sekuat apa pun Abi mencoba membuatnya dekat dengan wanita manapun, sekuat itu juga dia akan mengelak.
Dan lebih parahnya lagi, hari ini Robin bertemu dengan wanita yang selalu mengincarnya sejak zaman sekolah menengah." Sambung Sawn tanpa menghiraukan Raina yang terlihat bingung dengan ucapan singkatnya.
Cinta itu tidak bisa di paksakan karena Cinta itu urusan hati, hati itu urusan Allah, maka jagalah hatimu untuk Allah, agar Allah hadirkan cinta yang terjaga. Teruntuk yang pernah singgah, ucapkan terima kasih padanya, karena dia telah memberi warna walau hanya sementara.
__ADS_1
...***...