
"Aku belum sempat bertanya, kenapa bapak ada disini? Bukankah bapak harus menemani Andre di dalam?" Raina bertanya karena penasaran.
"Seharusnya bapak tidak meninggalkan Andre, anak itu selalu menangis jika ada hal yang mengganggunya. Aku khawatir dia tidak bisa menerima kejadian di dalam." Ucap Raina lagi sembari memamerkan wajah sedihnya.
"Kau tidak perlu khawatir! Bukankah kau bilang dia anak yang bijak?"
"Aku tahu itu! Hanya saja, sebijak-bijaknya anak itu, dia masih terlalu muda untuk bisa memahami empat orang asing yang berdiri di hadapannya kemudian mengaku sebagai keluarga." Balas Raina.
"Tante Alya tidak akan menyakiti Andre, percaya padaku!" Sawn mencoba menyakinkan Raina, sayangnya itu tidak berhasil.
"Apa aku boleh bertanya?"
"Tanyakan apapun yang bapak ingin tanyakan, Insya Allah, jika bisa akan ku jawab!" Balas Raina sambil menatap netra teduh Sawn.
Aku tidak bisa tidak melihatnya, menatap netranya membuatku tenang. Tapi, ini tidak benar. Lirih Raina sembari mengalihkan pandangannya.
"Jika kita sudah menikah, apa yang akan kau lakukan jika aku menghianati mu dengan perempuan lain?"
Menghianati?
Raina terkejut dengan satu kata yang ia yakini akan membuatnya menangis dalam keheningan malam.
"Apa kau tidak menyukai pertanyaan ku? Kenapa kau diam, katakan sesuatu agar hatiku tenang?" Sawn menuntut jawaban. Sementara Raina, ia hanya bisa menghela nafas saja.
"Maafkan aku, aku tidak bisa memberi jawaban seperti yang bapak inginkan. Jika bapak menghianati ku, aku akan pergi!" Ucap Raina, menegaskan. Ia menghentikan kalimatnya sembari memandang wajah terkejut Sawn.
"Aku akan pergi jika bapak menghianati ku. Aku juga akan pergi jika bapak tidak percaya padaku. Aku akan pergi jauh sampai bapak tidak akan bisa menemukan jejak ku!" Ucap Raina lagi sembari membayangkan pertanyaan Sawn terjadi dalam kehidupan tenangnya.
"Aku hanya ingin tahu jawabanmu. Insya Allah, aku akan selalu setia padamu sampai akhir hayatku. Sama seperti baginda Nabi yang setia pada bunda Khadijah." Balas Sawn sambil memperbaiki posisi duduknya.
"Bapak juga tahu kisah Rasulullah dan bunda Khadijah?" Raina bertanya sambil tersenyum, membuat jantung Sawn berdetak semakin cepat.
__ADS_1
Dag.Dig.Dug.
Sawn benar-benar tidak bisa mengontrol perasaan cintanya. Semakin ia dekat dengan gadis impiannya semakin ia frustasi di buatnya. Kecantikan alaminya, keteduhannya, kesopanannya, sikap keibuannya, dan kelembutan tutur bahasanya membuat Sawn semakin jatuh cinta.
"Aku membacanya, pagi tadi." Balas Sawn singkat.
"Wow... Itu menakjubkan! Aku pikir bapak tidak akan suka membaca buku sejarah atau pun buku Agama. Jika kita berjodoh, aku berharap bapak bisa menjadi imam yang baik untuk keluarga kecil kita."
Kita? Aku berharap kau dan aku akan segera menjadi Kita! Gumam Sawn pelan sambil menyembunyikan senyuman tipis di balik wajah merunduknya.
"Bapak duduk saja, aku akan memeriksa adik-adik ku!" Ucap Raina lagi sambil bangun dari posisi duduknya.
Hari semakin sore namun belum ada tanda-tanda bu Alya akan membawa Andre keluar dari Restaurant, sebenarnya Raina khawatir dan ingin meminta Sawn memeriksa kondisi Andre, sayangnya ia terlalu malu hanya untuk sekedar meminta pertolongan.
Apa yang akan ibu pikirkan tentangku? Ini sangat telat, aku akan mendengar kemarahan ibu sebagai sambutan kepulangan ku. Gumam Raina dalam hatinya. Sekarang ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Melihat tingkah Raina, Sawn tertawa dalam diamnya.
Tujuh adik Raina yang terdiri dari lelaki dan perempuan sudah berkumpul dan akan bersiap pulang.
"Anak-anak, kemarilah!"
"Apa kalian lapar?" Sawn bertanya yang kemudian di jawab oleh Aldy dengan anggukan kepala.
"Apa kita akan makan?"
"Adik-adik, kita akan pulang dan makkk..." Ucapan Raina tertahan di tenggorokannya karena melihat Andre menangis sambil berlari kearahnya.
"Kakak..." Andre larut dalam tangis pilunya, matanya terlihat bengkak. Sudah di pastikan ia tidak menangis dalam hitungan detik saja.
"Ada apa dek? Kenapa kau menangis? Apa ada yang mengganggumu?" Raina bertanya karena ia sangat khawatir.
Andre masih menangis dalam pelukan Raina ketika bu Alya tiba dan berdiri di samping Sawn Praja Dinata.
__ADS_1
"Tante, kenapa Andre menangis? Apa kalian menakutinya?" Sawn bertanya sambil marah-marah.
Bu Alya terlihat gugup.
Melihat raut wajah bu Alya, Sawn yakin pasti ada yang salah.
"Kakak, mereka akan membawaku pergi bersama mereka! Aku tidak mau pergi. Aku mau disini bersama kakak dan ibu. Hiks.Hiks....!" Andre terlihat ketakutan, sekujur tubuhnya bergetar.
"Bu Alya, saya tidak percaya anda melakukan ini? Apa anda tahu, dengan anda melakukan ini Andre tidak akan pernah memilih anda." Ucap Raina sambil menghapus air mata dari wajah Andre. Raina benar-benar kesal sampai ia tidak sadar kalau ia bicara dengan nada keras.
"Aku juga kecewa pada pak Sawn! Bukankah aku sudah meminta bapak menemani Andre? Ayo kita pulang." Ucap Raina kesal sambil menarik lengan Andre, yang kemudian di ikuti oleh adik-adiknya yang lain.
Sawn masih berdiri mematung sampai Raina tak terlihat lagi oleh netranya. Ia ingin marah, namun sekuat tenaga ia berusaha menahan amarahnya.
"Tante menambah masalah ku! Sekarang bagaimana caraku membujuk Singa Betina itu? Jika dia marah dia tidak akan bicara padaku! Aarrgg!" Sawn mendengus kesal, ia meninggalkan bu Alya yang masih menangis hanya untuk mengejar Raina.
...***...
"Kalian sudah pulang? Ibu pikir kalian lupa jalan pulang sampai kalian tiba di rumah selarut ini!" Ucap Bu Rahayu sambil memandang semua anak-anaknya dengan tatapan tajam.
Sejak sore ia menunggu kedatangan anak-anaknya dan bu Rahayu masih duduk di kursi rodanya. Raina meminta adik-adiknya masuk terlebih dahulu karena ia tidak ingin adik-adiknya mendengar omelan ibunya.
"Mbak yu, biarkan mereka sholat dulu. Setelah itu mbak yu berhak memarahinya." Ucap bu Romlah yang berdiri di belakang bu Rahayu.
Bu Rahayu memberi isyarat dengan kepalanya, memerintahkan Raina masuk kedalam rumah. Untuk sesaat Raina bisa bernafas lega, jika bu Rahayu bertanya dia dari mana? Dan apa yang di lakukannya? Habislah ia, ia benar-benar tidak bisa berbohong.
"Apa kau tidak waras? Disini bude seperti cacing kepasan, sedetik pun kau tidak memberi kabar!" Ucap bu Romlah kesal sambil mencengram lengan Raina.
"Apa kau tahu ibumu? Dia benar-benar membuat bude gila. Setiap detik dia bertanya, kau kemana? Apa yang kau lakukan? Dan kau tahu, yang paling membuat bude kesal, kau tidak mau mengangkat ponselmu!" Bu Romlah benar-benar mengungkapkan segala kekesalan yang di pendamnya selama lima jam terakhir.
Sementara itu dikediamannya, Sawn menghempaskan tubuhnya di tempat tidur empuknya. Pikiran tentang ucapan Raina sebelum mereka berpisah membuatnya semakin kesal pada bu Alya.
__ADS_1
Dia kecewa padaku? Ini masalah besar! Ucap Sawn lirih, pelan ia meraih ponsel dari sakunya kemudian mengirim pesan untuk orang yang sangat dirindukannya.
...***...