Mencintai Bodyguard Saleha

Mencintai Bodyguard Saleha
Berbuah Manis


__ADS_3

"Alya, apa kau baik-baik saja?" Bu Hanum bertanya karena ia benar-benar khawatir.


"Kakak. Hiks...Hiks...." Bu Alya larut dalam tangis di dalam pelukan hangat bu Hanum.


Sawn dan pak Andi hanya bisa berdiri mematung melihat dua wanita yang mereka sayangi menangis. Pak Andi duduk di ujung tempat tidur, sementara Sawn ia masih berdiri dekat meja rias Yuna.


"Tadinya kami akan membawamu kerumah sakit, untungnya kau cepat sadar. Malam ini kau akan menginap disini." Ucap bu Hanum lagi sembari melepas pelukannya dari tubuh bu Alya yang nampak bergetar.


"Kakak, apa kau lihat wajah putra ku?" Mendengar pertanyaan bu Alya, Bu Hanum mengangguk pelan.


"Wajah putraku sangat mirip dengan mendiang suamiku. Melihat putraku di hadapanku, namun aku tidak bisa mendengarnya memanggilku mama membuat dada ku terasa sesak. Rasanya aku ingin berteriak, aku ingin protes. Aku ingin marah pada masa lalu ku, jika aku melakukan itu sama saja dengan aku menyalahkan Loise tentang hari-hari bahagia yang pernah kami lewati. Aku harus apa kakak? Aku harus berbuat apa? Hiks...Hiks...!" Tangis bu Alya semakin pecah, siapa pun yang mendengarnya akan merasakan penderitaan yang sama.


Bahkan pak andi yang jarang bicara sekalipun ikut larut dalam tangisan pilu adik satu-satunya.


"Tante tidak perlu khawatir! Raina sudah berjanji, dia akan bicara pada ibunya. Mungkin ini akan membutuhkan waktu, yang bisa kita lakukan saat ini, kita harus bersabar. Akan butuh waktu supaya Andre menerima tante sebagai mamanya." Sawn membuka suara di tengah tangisan pilu bu Alya.


"Maafkan tante Sawn. Acara lamaran mu jadi berantakan gara-gara tante!" Ucap bu Alya penuh penyesalan.


"Tidak apa-apa, tante. Aku bisa mengerti keadaannya." Balas Sawn sembari beranjak keluar dari kamar Yuna.


Sementara itu di lantai bawah, mbok Dami sedang menutup jendela. Ia menghentikan aktivitasnya begitu melihat Sawn berjalan kedapur sembari membuka kulkas.


"Apa tuan muda butuh sesuatu?"


"Tidak, mbok. Saya hanya mau minum saja." Balas Sawn setelah mengambil air dingin.


"Yuna dimana mbok?"


"Non Yuna belum pulang. Tadi pagi pas pamitan pada nyonya katanya dia akan sedikit terlambat." Ucap Mbok Dami menjelaskan.


"Sedikit terlambat apanya? Ini sangat telat. Sekarang anak itu sering pulang telat, aku pasti akan memberinya pelajaran yang tidak akan dia lupakan jika dia sampai melakukan hal-hal aneh di luar sana." Ucap Sawn kesal.


"Non Yuna tidak mungkin seperti itu tuan, tuan tidak perlu khawatir." Ucap mbok Dami menenangkan.

__ADS_1


"Aku akan sangat bersyukur jika apa yang mbok katakan itu benar! Tapi jika apa yang mbok katakan itu tidak benar, maka saat itu Yuna pasti akan mendapat kemarahan ku." Ucap Sawn lagi.


Jadilah Wanita dalam berkas kaca yang sungkan di sentuh, hanya orang-orang yang mampu saja yang bisa memilikinya.


...***...


Sawn duduk sambil menyandarkan kepalanya di sandaran kursi, ia tampak lelah. Namun ia berusaha mengabaikan rasa lelah itu, ia menyadari Dunia tempat usaha dan kerja keras. Ia akan selalu bekerja keras sampai rasa leleh itu akan lelah mengikutinya.


"Pak, tadi pak Ruan mengirim E-mail beliau bilang bisnis yang di China mengalami kemajuan pesat." Ucap Rita sembari memperlihatkan laporan yang sudah di Prinnya dua menit yang lalu.


Sawn masih diam sambil memejamkan mata, ia hanya menjentikkan jari mengisyaratkan pada Rita untuk meletakkan semua pekerjaan yang tertunda di atas meja.


Huhhh! Sawn menghela nafas, bahkan suara helaan nafasnya terdengar dengan jelas oleh Robin yang masih berdiri di pintu masuk.


"Apa yang kau pikirkan? Kau terlihat seperti orang yang akan tiada besok." Guyon Robin sembari mengetuk meja kerja Sawn cukup keras sampai membuat tubuh Sawn terperanjak.


"Tutup mulutmu, atau keluar saja." Ucap Sawn malas.


Drettt. Drett.


Tujuh pesan baru.


Assalamu'alaikum... Sesuai janjiku, aku akan menemuimu.


Kita akan bertemu di tempat terakhir kali kita bertemu!


Apa kau melihat pesan ku?


Apa kau sedang sibuk?


Jika kau sibuk kita akan bertemu di lain waktu!


Aahhh! Sawn berteriak sambil tersenyum bahagia. Robin yang mendengarnya terperanjak karena terkejut.

__ADS_1


"Oohhh tidak! Pesan ini di kirim setengah jam yang lalu." Gumam Sawn sembari menarik jas yang ia sampirkan di sandaran kursi. Ia berlari keluar seperti orang kesurupan, Robin yang melihatnya hanya bisa menelan salivanya tanpa bisa bertanya ada apa sampai sahabatnya itu bertingkah seperti orang hilang akal.


...***...


Raina baru saja bersiap akan pergi dari Ballroom Hotel tempat terakhir kali ia bertemu dengan Sawn. Sebuah pesan singkat masuk di ponselnya, dengan cepat Raina meraih ponsel di dalam tasnya. Ia tersenyum sambil bersiap untuk duduk kembali.


Wa'alaikumsalam. Apa kau akan meninggalkan ku? Tunggu aku, aku akan segera datang. Jika kau tidak menungguku, maka aku berjanji akan muncul di mimpimu malam ini...🌹


"Dasar aneh! Aku memintanya bertemu setengah jam yang lalu, dia malah memintaku untuk menunggunya. Apa yang akan ku lakukan sekarang?" Gumam Raina pelan.


"Lakukan apa pun yang kau inginkan!" Ucap Sawn mengejutkan Raina.


"Masya Allah, pak. Anda mengejutkan ku! Bukankah anda mengirim pesan semenit yang lalu? Apa anda lari untuk bisa sampai disini?" Raina bertanya karena ia melihat Sawn terlihat kelelahan, nafasnya terengah-engah.


"Ia. Aaahh, tidak." Balas Sawn cepat.


Dua anak manusia yang saling mengagumi duduk diam saling mengatur nafas, dada mereka sama-sama berdebar.


Ucapan Raina masih terkatup di bibirnya. Ia masih berusaha memikirkan ucapan apa yang akan ia ucapkan untuk menenangkan jiwanya.


"Maafkan aku karena meminta bapak menemuiku di tempat ini, ada hal yang ingin ku katakan. Entah ini penting atau tidak, aku hanya ingin mengatakannya untuk menenangkan jiwaku." Ucap Raina pelan, Sawn masih diam sembari mencerna setiap kata yang di lontarkan Raina.


"Semenjak keluarga bapak datang kerumahku, semalaman aku terus saja berpikir. Hingga jam satu, kenapa kau? Pada jam dua, kenapa tidak? pada jam tiga pagi... Apa aku terburu-buru dalam hal ini? Pada jam empat, kalau bukan sekarang, lalu kapan? Hingga pada jam lima aku telah memutuskan." Raina menghentikan ucapannya sembari menatap wajah serius Sawn yang duduk di depannya.


Dada Sawn berdebar menanti keputusan terakhir, kata 'Ia' dan kata 'Tidak' benar-benar mengganggunya. Jika jawaban Raina 'Tidak' bagaimana ia akan menghadapi hari-harinya? Dan jika jawaban Raina 'Ia' pasti ia orang yang paling bahagia di dunia ini. Sawn menghela nafas, ia merunduk sembari menggenggam jemarinya.


"Bismillaahir Rahmaanir Rahiim. Ia, aku menerimaa lamarannnn mu!" Ucap Raina dengan nada suara bergetar.


Sawn mengangkat kepalanya sembari tersenyum, ingin rasanya ia berteriak untuk menunjukan betapa bahagianya dia saat ini, namun ia mengurungkan niatnya karena ia takut Raina tidak akan menyukainya.


Dua anak manusia yang saling mengungkapkan rasa kini hanya bisa diam seribu bahasa, mereka saling membalas senyuman, sementara di dalam hatinya rasa Syukur dan Tasbih memenuhi seluruh rongga dadanya.


Sawn beranjak dari tempat duduknya sambil membelakangi Raina yang sedang duduk, tanpa ia sadari air mata mulai menetes dari sudut matanya. Penantian jawaban ini sungguh berbuah manis.

__ADS_1


...***...


__ADS_2