Mencintai Bodyguard Saleha

Mencintai Bodyguard Saleha
Pelampiasan


__ADS_3

Hidup itu perjalanan yang indah. Jalani hidupmu tanpa mengeluh walau seberat apa pun masalah yang memberatkan pundakmu, hadapi semuanya dengan berlapang dada. Percayalah, apa pun yang di gariskan Tuhan adalah yang terbaik untukmu saat ini.


"Yuna? Apa yang dia lakukan disini?" Raina menatap Yuna yang berjalan santai dari balkon kamarnya. Wajah cantik itu terlihat sedih, dan hal itu membuat Raina khawatir.


Raina keluar dari kamarnya kemudian menuruni anak tangga.


Sawn yang menatap istrinya dari meja makan merasa heran karena melihat Raina berjalan kearah pintu dengan tergesa-gesa.


"Kau mau kemana? Hati-hati, tidak perlu berjalan secepat itu!" Pinta Sawn pada Raina.


"Di depan ada Yuna!"


"Yuna? Ini sudah malam, tidak mungkin anak itu ada disini!"


Raina membuka pintu tepat sebelum Yuna menekan bel.


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam." Jawab Raina sambil tersenyum menyambut kunjungan pertama Yuna setelah pernikahannya.


"Kakak tahu aku akan datang?"


"Tidak! Aku melihatmu dari balkon, karena itu aku langsung menghampirimu."


"Malam ini aku akan menginap, banyak hal yang ingin ku bagi dengan kakak!" Ujar Yuna masih dengan wajah sedihnya.


"Benarkah? Itu pasti akan menyenangkan!" Balas Raina sambil meraih lengan Yuna dan mengajaknya menuju meja makan.


"Kata siapa kau boleh menginap disini?" Sawn yang mendengar pembicaraan dua wanita yang sangat disayanginya itu melotot kearah Yuna yang kemudian duduk di samping kirinya.


"Tentu saja aku mendapat izin dari kak Raina." Ucap Yuna dengan suara manja.


"Apa kau sudah meminta izin pada mama dan papa?" Sawn kembali bertanya pada Yuna setelah menyelesaikan makan malamnya.


"Sudah, kak. Kakak tidak perlu cemas!"


"Kata siapa kakak cemas? Kakak hanya tidak ingin mendengar omelan mama." Sambung Sawn pura-pura acuh, ia bangun dari kursinya setelah melempar senyuman tipis pada Raina.


Sawn kembali keruang kerjanya setelah menyelesaikan makan malamnya. Yuna sendiri sengaja mengikuti kakaknya, mereka berdua terlihat menggemaskan. Untuk pertama kalinya Raina melihat sisi hangat suaminya pada adik perempuannya. Terkadang Sawn bersikap acuh, sebenarnya itu bentuk rasa cintanya. Memang berbeda, tapi begitulah adanya.

__ADS_1


"Sekarang, ibu bisa makan malam bersama dengan yang lainnya. Aku dan Yuna akan berada di kamar ku yang dulu." Raina menatap bi Sumi sambil menyodorkan uang belanja bulanan.


"Baik, non."


Semakin bertambah rasa hormat wanita separuh baya itu pada istri tuannya. Bi Sumi tahu, segala kemewahan telah di tawarkan tuannya untuk istri tercintanya. Semua itu tidak membutakan Raina, justru ia lebih memilih hidup sederhana.


"Maaf non, tadi bibi tidak sengaja mendengar percakapan non Raina dan tuan Sawn. Kenapa non Raina menolak uang yang tuan tawarkan? Bukankah non Raina juga butuh pakaian mahal, atau sekedar untuk membeli perhiasan yang di sukai setiap wanita?" Bi Sumi melirik tangan Raina yang hanya di hiasi cincin yang menjadi mahar pernikahannya. Pembantu separuh baya itu memberanikan diri bertanya pada Raina setelah meyakinkah hatinya kalau Raina tidak akan marah dengan pertanyaan pribadinya.


"Ia, aku menolaknya." Jawab Raina tegas.


"Hidup itu terlalu singkat untuk di sia-sia kan. Ibu tahu? Di luar sana banyak orang menjalani hidup dengan serba kekurangan, alangkah luar biasanya jika kita bisa memberikan pertolongan pada orang yang membutuhkan.


Menghambur-hamburkan uang untuk hal yang tidak ku perlukan, itu bukan gayaku." Tutup Raina sambil menuang air mineral kedalam gelas yang ada di depannya.


Setelah memberikan jawaban singkatnya, Raina beranjak menuju kamarnya yang ada di lantai dua. Meninggalkan bi Sumi yang masih berdiri mematung, entah apa yang dipikirkan asisten rumah tangga separuh baya itu, yang jelas Raina berharap semoga tidak ada masalah besar yang mengganggu pikirannya.


...***...


Jangan pernah berbangga diri dengan perasaan yang kita miliki. Perasaan cinta, perasaan benci, perasaan apa pun dalam diri kita. Kita tidak pernah tahu hati manusia, sesekali ia senang namun terkadang berubah tidak senang.


Rasa cinta dan ketertarikan pada lawan jenis adalah fitrah setiap manusia. Cinta bisa membawa pada hal baik atau sebaliknya, tergantung pada pribadi masing-masing bagaimana memaknai cinta.


Setengah jam yang lalu, sebuah vidio singkat berhasil membuat dirinya tersulut amarah luar biasa. Prof. Zain bahkan sampai membuang semua barang pemberian gadis anggun yang pernah mengisi lubuk hati terdalamnya. Setiap tarikan dan hembusan nafasnya kini hanya mengisyaratkan kebencian saja.


Dari Abu Hurairah. "Cintailah orang yang kau cintai dengan sewajarnya, boleh jadi suatu hari dia menjadi orang yang kau benci. Dan bencilah kepada orang yang kau benci sewajarnya, boleh jadi suatu hari dia yang kau benci menjadi orang yang kau cintai." (Hr.Tirmidzi).


"Aku mencintainya dengan sepenuh hatiku. Dan kali ini aku membencinya tanpa batas." Gumam Prof. Zain sambil melirik kanan dan kirinya. Mencoba menemukan rumah mewah yang menjadi tujuan terakhir pemeran utama vidio yang ia tonton sore ini.


Prof. Zain melirik arloji di pergelangan tangan kirinya. Waktu menunjukkan pukul 20.19 ketika Prof. Zain keluar dari dalam mobil dan berdiri tepat di depan gerbang rumah megah itu.


"Permisi, apa benar ini rumah pak Sawn Praja Dinata?" Prof. Zain bertanya pada penjaga yang duduk di pos dekat gerbang.


"Ia benar. Apa tuan ingin menemui seseorang?"


"Ia. Saya temannya Yuna, ada hal penting yang ingin saya bicarakan. Apa saya bisa bertemu dengannya? Hanya sebentar saja." Urai Prof. Zain dengan nada suara menyakinkan, berharap penjaga separuh baya itu mengizinkannya masuk tanpa perlu bertanya apa pun lagi.


"Silahkan Masuk. Non Yuna ada di taman belakang. Saya akan meminta seseorang membawakan minuman untuk anda."


"Tidak perlu, pak. Saya hanya sebentar."

__ADS_1


"Baiklah." Ucap mang Cecep pelan, sudut bibirnya sedikit terangkat, memamerkan senyum. Berusaha bersikap ramah pada tamu yang tidak ia kenal.


Setelah membicarakan banyak hal dengan Sawn, Yuna memilih duduk di kursi taman belakang sambil menikmati minuman hangatnya, membayangkan kejadian menyebalkan dua jam yang lalu membuatnya masih menahan kesal.


Gara-gara Prof. Zain, si rubah licik itu menampar wajahku? Lihat saja nanti, jika aku sampai bertemu dengan sumber masalah bernama Prof. Zain itu, akan ku beri dia pelajaran. Aku benar-benar kesal. Gerutu Yuna dengan kedua tangan terkepal.


"Yuna Dinata."


Yuna di kejutkan oleh suara panggilan yang bersumber dari belakangnya. Suara yang tidak asing lagi di telinganya. Yuna menoleh kearah sumber suara.


Pria berparas rupawan dengan iris biru yang memabukkan itu tersenyum bahagia, melihat Yuna yang saat ini memandangnya dengan tatapan takjub luar biasa membuat dadanya berdetak lebih cepat.


Sedetik kemudian, wajah yang tadinya terlihat bersahabat berubah garang karena menahan kekesalan yang belum sempat tersalurkan.


Aku memikirkanya, dan sekarang dia berdiri tepat di depanku! Apa ini kebetulan? Gumam Yuna sembari menatap Prof. Zain dengan tatapan setajam belati.


Sepertinya, dia sangat marah! Prof. Zain menatap Yuna untuk sesaat, kemudian ia merunduk pasrah.


"Apa anda sedang memata-matai ku? Anda bahkan datang kerumahku tanpa pemberi tahuan! Aku yakin si rubah kasar itu sudah mengadukan segalanya!" Ucap Yuna sembari memamerkan wajah datarnya.


"Entah takdir buruk apa yang ku punya sampai aku juga terlibat dengannya. Dulu kak Sawn, dan sekarang aku!


Menjauhlah dari ku! Aku tidak ingin terlibat dengan kalian berdua." Nada suara Yuna mulai meninggi, Raina menghentikan langkah kakinya karena mendengar ucapan Yuna yang di penuhi emosi.


Tak jauh dari tempat Yuna berdiri, Raina bisa melihat dengan jelas tatapan setajam belati Milik Yuna Dinata. Gadis cantik itu tidak memberikan lawan bicaranya kesempatan untuk menjelaskan akar dari masalah sebenarnya.


"Wanita mu menunjukan kuasanya dengan menghina diriku! Tidak heran aku sangat membencimu."


Raina menghela nafas panjang mendengar ucapan Yuna dengan teriakan kasar.


Kemarahan sebesar itu. Angel? Apa wanita itu mengganggu Yuna? Bagaimana bisa? Gumam Raina sembari memandangi dua maha karya indah sang pencipta.


"Rubah itu meminta ku menjauhimu, lalu untuk apa kau datang kemari? Apa kau ingin memamerkan wajah bahagiamu karena wanitamu menampar wajahku?" Kali ini terdengar isakan yang menyayat hati.


Prof. Zain masih berdiri mematung mendengar setiap untaian kemarahan yang Yuna lontarkan padanya. Ada kesedihan mendalam yang Prof. Zain rasakan mendengar isakan Yuna. Gadis yang biasa ia kenal dingin melebihi es di Kutub Utara tiba-tiba meleleh bagai garam dalam air.


Setiap kata yang ia keluarkan di penuhi racun yang bernama amarah. Ia melampiaskan kemarahan yang mengusik jiwanya! Aku tidak marah karena dia mengutuk ku! Aku marah, kenapa aku terjebak antara Angel yang merupakan masa laluku. Apa salahku dalam hal ini? Prof.Zain bertanya pada dirinya sendiri, sayangnya tidak ada jawaban tepat yang bisa ia pikirkan untuk menjawab segala gundahnya .


Pelan Prof. Zain mendekati tubuh ramping Yuna dan memberikan pelukan hangatnya. Prof. Zain sendiri tidak sadar, entah Magnet apa yang ada dalam diri gadis anggun di depannya, magnet yang selalu menariknya pada Yuna Dinata.

__ADS_1


...***...


__ADS_2