
Yuna masuk rumah melalui pintu belakang, ia mengendap-endap seperti pencuri yang takut tertangkap sang empunya rumah. Sebelumnya ia sudah memprediksi, jika ia masuk dari pintu depan, maka habislah ia di cecar dengan segala tanya dari mamanya. Mamanya terlihat seperti kelinci manis dalam kesehariannya, namun akan berubah menjadi singa menakutkan jika anak-anaknya melakukan kesalahan patal. Yuna keluar rumah di tengah malam tanpa pemberitahuan. Jika mamanya tahu maka habislah riwatnya.
"Sssshhh! Jangan biarkan langkah kakimu membuat suara, jika kita tertangkap, kita akan binasa." Ucap Yuna memperingatkan Arnela sambil tetap memegang lengan kanan sahabatnya itu.
"Yuna? Apa yang kau lakukan? Kenapa kau berjalan seperti itu?"
Duaarrrrrr!
Yuna terkejut bak disambar petir, kakinya mulai bergetar karena ketakutan. Ia tidak menyangka akan tertangkap basah ketika memasuki rumah. Padahal sebelumnya ia sudah menyusun rencana dengan sangat matang agar tidak ketahuan, pelan Yuna membalikkan badannya kearah sumber suara, yang memudian di ikuti oleh Arnela.
"K-kak... kak ipar k-a-u?" Sapa Yuna dengan suara gugup.
"Darimana saja, kenapa kau pulang pagi buta begini?" Selidik Raina sambil berjalan mendekati Yuna dan Arnela yang saat ini saling melirik ketakutan.
"Jawab kakak, Yuna. Kau dari mana?" Selidik Raina penuh tanda tanya. Wajah ayunya mengguratkan kekecewaan.
"Kakak janji tidak akan marah. Kakak juga janji tidak akan memberi tahukan kejadian ini pada mama Hanum."
Mendengar ucapan menenangkan wanita yang sudah resmi menjadi kakak iparnya itu sontak membuat Yuna menghambur kedalam pelukan Raina, ia menangis dalam dekapan Raina, yang terdengar hanya isakan tangis saja.
Melihat tingkah aneh adik iparnya sontak membuat Raina ikut larut dalam tangis yang mengharukan, pelan Raina mengusap wajah lebam Yuna sambil berujar.
"Jangan sedih, Allah bersama kita."
"Kakak, telah terjadi hal buruk padaku malam ini. Jika seorang yang kubenci itu tidak membantuku, maka aku benar-benar akan berakhir." Ucap Yuna pelan sambil melepaskan pelukannya.
"Insya Allah, hal buruk tidak akan pernah terjadi pada orang yang baik. Kakak yakin, adik ku yang cantik ini pasti melakukan hal besar. Ia, kan?" Raina tersenyum sambil menggenggam jemari lentik Yuna.
Yuna menjawab pertanyaan Raina dengan anggukan kepala. Setelah itu ia mulai mengurai ceritanya. Dimulai dari Vivi yang menelponnya, sampai akhirnya ia memutuskan keluar rumah dengan cara mengendap-endap seperti pencuri.
Air mata Raina mulai tumpah ketika mendengar perjuangan Yuna menyelamatkan Arnela dari manusia rendah yang tidak bisa menghormati wanita. Cerita Yuna terus berlanjut sampai profesor mudanya menyelamatkannya.
"Kakak harus menemui profesor itu. Kakak harus berterima kasih padanya karena sudah membantu adik ku keluar dari masalah besar." Ucap Raina sambil menyatukan jemari Yuna dan Arnela.
"Kakak bangga pada persahabatan kalian. Jadilah sahabat yang bisa memberikan penerangan bagi kehidupan pertemanan kalian." Ucap Raina pelan kemudian memerintahkan dua gadis anggun yang berdiri di depannya beristirahat setelah menghabiskan malam yang menegangkan.
Pelan Raina berjalan menuju kamarnya yang berada di lantai dua. Di dapatinya suaminya itu sedang meringkuk menahan dingin. Raina hanya bisa tersenyum manja melihat wajah tampan bak Purnama itu tidur di sampingnya, Raina benar-benar tidak menyangka, pria tampan dengan segudang kelebihan itu kini menjadi suaminya. Semuanya masih terasa bagai mimpi bagi Raina Salsadila, bahkan Raina sampai mengusap lembut wajah tampan Sawn Praja Dinata untuk memastikan semuanya bukan hanya sekedar mimpi belaka.
__ADS_1
"Kau tidak perlu menatapku seperti itu! Kau tidak perlu mencuri kesempatan ketika aku sedang tertidur." Guyon Sawn dengan suara khas bangun tidur. Bahkan tangannya mulai menggenggam jemari lentik Raina.
Karena malu aksinya tertangkap, Raina langsung mencubit perut Sawn sedikit keras membuat netra Sawn terbuka sempurna.
"Apa aku tidak waras? Kenapa kau bisa berpikir aku akan mencuri kesempatan dalam kesempitan!" Balas Raina sambil berbisik tepat di telinga kanan Sawn. Baru saja Raina akan beranjak bangun dari dekat suaminya, dengan cepat Sawn menarik lengannya membuat Raina terjatuh tepat menimpa tubuh kekar Sawn.
"Aku milikmu! Dan kau milik ku! Apa pun yang kau lakukan aku akan tetap jatuh cinta padamu." Sawn balas berbisik di telinga Raina. Membuat Raina panas dingin karena mendengar pengakuan cinta dari suaminya untuk kesekian kalinya.
Sawn menempatkan kepala Raina di lengan panjangnya, ia memeluk erat tubuh istrinya. Sesekali melayangkan kecupan hangat di puncak kepala Raina. Raina hanya bisa tersenyum bahagia, sementara hatinya tak pernah luput dari Tasbih dan Tahmid, rasa syukurnya tak dapat ia lukiskan dengan sekedar kata-kata. Berharap rumah tangga mereka tak hanya di dunia tapi sampai kesurga.
...***...
Setelah sarapan semua orang berkumpul di ruang tengah, tidak biasanya bu Hanum meminta berkumpul. Entah apa yang ada dalam kepalanya, sejak menyelesaikan Sholat subuh ia terlihat khawatir. Bahkan ketika pak Andi bertanya ada apa dengannya, bu Hanum tak memberikan jawaban apa pun kecuali desahan nafas panjang yang mewakili kekhawatirannya.
"Ada apa ma, kenapa mama terlihat khawatir?" Tanya Sawn begitu ia duduk di sofa samping papanya. Sementara Yuna, ia lebih memilih berdiri di dekat Raina.
"Apa semua orang sudah ada disini?" Bu Hanum bertanya sambil memandang Yuna dengan tatapan tajam, tatapan itu seolah ingin menguliti Yuna yang mulai terlihat tegang.
"Sudah, ma." Balas pak Andi sambil melipat koran yang beliau baca.
"Kakak, apa kakak baik-baik saja?" Yuna bertanya sambil berbisik di telinga Raina, yang kemudian di balas anggukan kepala oleh Raina, memberikan isyarat kalo ia baik-baik saja.
"Yuna, mama selalu memberikan kebebasan padamu. Bukan berarti kamu bisa melanggar kepercayaan mama." Ucap bu Hanum mengurai cemasnya, wajahnya terlihat kesal.
"Kakak, sepertinya mama sudah tahu tentang kejadian semalam. Apa kakak memberitahukan semuanya pada mama?" Yuna kembali berbisik di telinga Raina, sementara tubuhnya mulai gemetar menahan takut.
"Tidak. Kakak tidak menemui mama pagi ini." Balas Raina sambil menggenggam jemari Yuna.
"Kalian berdua, cepat keluar." Bu Hanum meninggikan suaranya, pak Andi tercengang melihat kemarahan bu Hanum untuk pertama kalinya dalam tiga puluh tahun terakhir.
"Yuna, mama tidak menyangka kamu seceroboh ini! Apa mama pernah mengekangmu? Apa mama pernah memintamu melakukan hal yang bertentangan dengan keinginanmu? Kenapa kau membuat mama sekecewa ini? Mama benar-benar tidak ingin melihat wajahmu!" Bentak bu Hanum dengan suara kasar.
Yuna mulai menangis mendengar bentakan mamanya, sementara Vivi dan Arnela yang sebelumnya di panggil langsung menghadap dengan tetesan air mata.
"Apa papa tahu apa yang mereka lakukan? Tadi malam mereka bertiga pergi ke clab malam. Dan apa papa tahu apa yang di lakukan putri kesayangan papa? Dia bertengkar dengan preman." Lagi-lagi bu Hanum bicara dengan nada tinggi.
Beberapa asisten rumah tangga yang mendengar kegaduhan dari ruang tengah dan menyaksikan langsung kemarahan bu Hanum hanya bisa mengusap dada.
__ADS_1
"Yuna minta maaf, ma. Yuna tidak bermaksud menyakiti mama, Yuna hanya ingin menjadi sahabat yang baik untuk sahabat-sahabat Yuna." Ucap Yuna membela diri dengan suara yang nyaris tak terdengar.
"Ma, tolong maafkan Yuna." Sambung Raina dengan suara yang tak kalah sedihnya.
"Wah... Mama benar-benar kesal. Jadi kau juga sudah tahu kalau dia melakukan kekacauan ini? Raina, mama juga kecewa padamu! Kau menjadi menantu di rumah ini karena izin dari mama, begini cara mu menunjukan baktimu pada orang tua?" Kini bu Hanum menuangkan kemarahan dan kekesalannya pada Raina, tatapan tajam bu Hanum membuat nyali Raina menciut karena takut.
"Mama apaan sih, kenapa sekarang mama malah nyalahin istriku! Seharusnya mama bertanya pada Yuna, apa yang membuatnya datang ketempat itu?" Bela Sawn sambil menatap mamanya dengan tatapan kecewa.
"Kau juga membela adikmu? Apa kau marah pada mama karena memarahi istrimu? Wah... Mama benar-benar kesal! Kalian bahkan menikah baru kemarin, tapi kau sudah membantah mama karena wanita itu!" Ucap bu Hanum melampiaskan amarahnya.
Kemarahan bu Hanum mulai tak terkontrol, melihat istrinya bertingkah aneh membuat pak Andi pun mulai melebur dengan kekacauan pagi ini.
"Yuna, katakan pada papa, nak! Apa yang kau lakukan di clab malam tanpa izin? Jika kau memiliki alasan yang tepat, papa akan mendukungmu. Tapi, jika kau kesana hanya untuk berhura-hura, maka papa pun akan berpaling darimu." Ucap Pak Andi dengan lebut namun tetap tegas.
Pelan, Yuna mulai mengurai kisah semalam. Ia bahkan tidak bisa menahan derai air matanya, Suara Yuna tertahan oleh tangisnya, Raina lah yang melanjutkan kisahnya.
"Itulah alasan Yuna keluar tanpa izin, pa. Tolong maafkan Yuna. Jika aku berada dalam posisinya aku pun akan melakukan hal yang sama." Bela Raina sambil merunduk.
"Seharusnya mama bangga pada putri mama. Apa mama mau dia tumbuh menjadi anak yang tidak perduli pada siapa pun? Kali ini papa benar-benar kecewa pada mama. Sangat kecewa sampai papa tidak ingin melihat wajah mama." Ucap pak Andi seraya mengembalikan ucapan bu Hanum yang di lontarkan pada Yuna setengah jam yang lalu.
Bu Hanum bangun dari posisi duduknya, wajahnya memamerkan kekesalan luar biasa. Tidak ada yang bisa menebak apa yang di pikirkan bu Hanum. Setelah puas memandang wajah semua orang yang menentangnya, bu Hanum nampak tenang seperti tak terjadi apa-apa, semenit kemudian ia tersenyum lebar sambil membentangkan kedua lengannya.
"Yuna..." Panggil bu Hanum sambil tersenyum.
Melihat mamanya tidak marah lagi membuat Yuna berlari kearah mamanya, tangisnya semakin pecah dalam rangkulan hangat bu Hanum.
"Apa kau pikir mama sekejam itu? Mama juga akan melakukan hal yang sama jika berada dalam posisi mu. Undang Profesor itu kerumah kita, mama ingin berterima kasih secara langsung padanya karena sudah membela putri berharga mama."
Raina menghapus matanya dengan punggung tangannya, ia tidak menyangka mama mertuanya akan terlihat menyakinkan ketika ia hanya berpura-pura marah.
Raina tahu bu Hanum melakukan itu hanya untuk menguji seberapa tulus putrinya membantu orang lain dalam urusan mendesak sekalipun.
Keharmonisan yang di tampakkan bu Hanum membuat Raina tak bisa menahan derai air matanya, pelukan hangat bu Hanum mampu menenangkan hati anak-anaknya, termasuk Yuna dan kedua sahabatnya.
Melihat Raina menangis dalam diam membuat Sawn merasa tidak tenang, ia berjalan mendekati Raina, memegang jemari Raina dan memberikan pelukan hangatnya di hadapan seluruh keluarga.
...***...
__ADS_1