
Prof. Zain meletakkan minuman dingin di meja depan Yuna, wajah cantik itu masih merunduk mengatur nafasnya. Entah apa yang sedang ia pikirkan, lima menit berlalu namun belum ada percakapan apa pun diantara mereka berdua. Entah dari mana rasa canggung itu datang dan membatasi setiap gerakannya.
Mmmmm! Prof. Zain berdeham untuk mencairkan suasana, itu hanya persangkaannya saja, nyatanya kecanggungan masih saja ada.
Yuna mengalihkan pandangannya menuju balkon yang hanya di batasi pintu kaca sebagai pembatas. Untuk pertama kalinya ia tidak berani menatap pemilik iris biru itu. Semua gadis ingin duduk bersama pria tampan yang ada di depannya saat ini, sementara dirinya, tidak perlu bersusah payah untuk itu.
"Aku sangat bahagia karena kau mau menemuiku. Tadinya aku berpikir wanita secantik dan seanggun dirimu akan menolak untuk menemui pria seperti ku!" Ucap Prof. Zain merendah begitu ia duduk di depan Yuna.
Yuna masih terlihat gugup, ia berusaha mengatur nafas dengan kepala tertunduk.
"Aku tahu kau terkejut dengan apa yang kau lihat dan apa yang kau dengar! Namun begitulah adanya, aku Prof. Zain De Lucca menyukai Mahasiswi yang bernama Yuna Dinata." Prof Zain kembali membuka suara diantara senyapnya udara.
Yuna masih terdiam, ia bahkan tidak berani bergerak dari posisi duduknya. Ia ingin mendengar ucapan apa yang akan keluar dari bibir indah itu selanjutnya. Entah kemana perginya keberanian yang selama ini ia tunjukkan.
"Sebelum mengenalmu, aku hanya pria buta yang tidak bisa membedakan antara cinta dan kebohongan!" Terdengar nada berat dari setiap huruf yang di rangkai Prof. Zain menjadi kata-kata.
"Di Thailand, aku bekerja sebagai Direktur di perusahaan yang Daddy bangun dengan kerja kerasnya. Aku tidak suka pekerjaan itu, tapi Mommy selalu menyemangatiku untuk terus belajar dari Daddy, setahun berlalu aku masih tidak bisa menemukan kenyamanan di tempat ku bekerja, sampai akhirnya aku mulai mengenal dunia malam.
Musik, minum-minuman beralkohol, bahkan wanita yang bersamaku selalu berbeda setiap minggunya. Mommy mulai kesal dengan sikapku, dan aku pun mulai kesal dengan sikap Daddy yang selalu mengatur kehidupanku.
Suatu hari aku bertemu dengan gadis anggun yang sangat mempesona. Ia secantik Permata, dan senyumnya terasa sangat menyejukkan sampai membuatku tergila-gila padanya. Hariku berawal darinya dan berakhir pula padanya.
Aku sangat bodoh. Yaaa.... Ku akui aku sangat bodoh. Sekarangpun aku masih bertanya-tanya apa yang membuatku sebodoh itu sampai terjebak dalam cinta yang begitu rumit!" Ucap Prof. Zain menjelaskan.
Entah darimana perasaan kesal dan cemburu menguasai hati dan pikiran Yuna Dinata. Dalam hati ia bertanya-tanya, gadis beruntung mana yang mendapatkan cinta sebesar itu dari pria rupawan yang duduk di depannya, Yuna sendiri masih belum berani menatap wajah sempurna idola para mahasiswi itu.
__ADS_1
"Karena cinta, aku bahkan rela meninggalkan segalanya. Keluarga dan jabatan tidak berarti lagi di hadapan cinta. Beberapa janji terbuat untuk di tepati, namun janji yang kubuat dengan wanita itu ku ingkari seluruhnya karena seorang Yuna Dinata."
Yuna mulai mengangkat kepalanya dan mendapati Prof. Zain menatapnya dengan tatapan yang sulit ia artikan. Cahaya kejujuran terpancar dari pemilik netra biru itu. Yuna masih belum bisa berkomentar apapun bahkan setelah mendengar penuturan panjang Prof. Zain De Lucca.
"Mungkin kau berpikir aku pria gampangan. Terserah, kau bebas berpikir apa pun tentang diriku. Pertemuan kita di awali dari hal yang tidak biasa. Kau marah padaku dan aku pun dendam padamu!"
Glekkkkk!
Yuna menelan salivanya, baru kali ini ia mengetahui pria tampan di depannya pernah menyimpan dendam padanya! Apa salah ku padamu? Aku tidak mengenalmu? Bagaimana bisa kau marah padaku? Apa Mama melakukan kesalahan padamu? Apa Papa melakukan kesalahan padamu? Atau kak Sawn yang jutek itu membuatmu kesal? Beberapa pertanyaan mulai terlintas di benak Yuna, namun pertanyaan itu terkatup di bibirnya.
"Sebelumnya, aku tidak pernah berpikir untuk menginjakkan kaki di tempat asing ini, hingga suatu hari gadis pujaanku menghubungiku dengan tangisan pilunya. Rasanya jantungku berhenti berdetak mendengar tangisannya, bahkan ketika Mommy melarang datang ketempat ini, aku tetap bersikeras untuk datang." Tutur Prof. Zain sembari mengingat kembali kenangan beberapa bulan terakhir yang sudah ia lewati.
Sebelum melanjutkan pengakuan panjangnya Prof. Zain terlihat mengatur nafas. Dalam hatinya ia berdoa semoga gadis sempurna di depannya tidak akan membencinya setelah mendengar pengakuan panjangnya.
Prof. Zain kembali mengurai kisahnya.
Yuna terlihat heran, dan ia pun sangat kesal menatap wajah tampan yang mengukir senyuman di depannya. Ia ingin protes, namun ia lebih memilih untuk menahannya.
Prof. Zain menatap wajah heran Yuna dengan senyuman yang masih mengembang di wajah tampannya. Ia tahu gadis sempurna di depannya ingin meluapkan kekesalannya karena mengetahui dirinya di ikuti pria asing. Namun dengan cepat Prof. Zain melanjutkan pengakuannya untuk mencegah gadis anggunnya bicara dengan nada sinis.
"Dalam proses mengikutimu, sedikit demi sedikit aku mulai menyukaimu." Ucap Prof. Zain menutup kalimatnya.
Dalam hatinya Yuna tertawa bahagia. Ia menatap wajah pemilik iris biru itu, berusaha mencari jawaban dari sana. Sayangnya ia tidak bisa menemukan jawaban apa pun selain melihat senyuman indah milik Prof. Zain De Lucca.
Saat ini terselip keraguan di dalam hati Yuna tentang pengakuan cinta dari Prof. Zain, bagaimana ia bisa menjawab jika hatinya saja masih di penuhi tanda tanya dan keraguan. Menjalin sebuah ikatan suci bukan tentang seberapa besar cinta yang ada sebelum pernikahan, yang terpenting dari itu sikap menghormati pasangan, dari rasa hormat itu akan tumbuh cinta luar biasa tanpa syarat.
__ADS_1
"Nona Raina pernah mengatakan, ketika Muslimah jatuh cinta mereka tidak akan mengatakan ayo kita pacaran. Aku pun tidak akan mengatakan itu padamu. Dengarkan ucapanku, karena aku tidak akan mengulanginya!" Ucap Prof. Zain menegaskan, ia menatap Yuna sembari menarik nafas panjang. Sedetik kemudian ia menutup mata, mencoba menghindari kemarahan Yuna ketika ia mengungkapkan semua perasaannya. Entah gadis anggun di depannya menamparnya atau menyiramnya dengan air yang ada di atas meja seperti dalam Drama, Prof. Zain sudah pasrah.
"Aku sangat mencintaimu, maukah kau menikah denganku!" Ucap Prof. Zain dalam satu tarikan nafas. Ia tidak ingin bertele-tele karena itu bukan gayanya.
Seandainya Prof. Zain melihat senyum bahagia di wajah Yuna saat ia mengucapkan kata Cinta. Sayangnya, pria sempurna itu malah menutup mata untuk menghindari kemarahan Yuna.
"Buka mata mu! Aku bilang buka matamu!" Ucap Yuna menegaskan, sekarang ia berani bicara menggunakan Bahasa tidak Formal.
"Siapa nama wanita yang berhasil membuatmu melangkah sejauh ini dan terperangkap denganku?" Selidik Yuna sambil melotot kearah Prof. Zain.
"An-angellll Sasmitaaaa!" Jawab Prof. Zain dengan suara gugup.
Hal yang di takuti Prof. Zain akhirnya menjadi kenyataan, begitu mendengar nama Angel raut wajah Yuna terlihat kesal. Entah Takdir apa yang di miliki kakak beradik itu sampai terlibat dengan wanita yang sama.
Lagi-lagi rubah itu yang menjadi alasannya. Kakak menderita karenanya, dan sekarang dia pun memanfaatkan Prof. Zain untuk memata-mataiku. Jawaban apa yang harus kuberikan atas ungkapan perasaannya? Ucapan yang akan membuatku lega, dan membuatnya tidak sakit hati. Gumam Yuna sambil menggigit bibir bawahnya.
"Apa anda benar-benar mencintaiku?" Selidik Yuna sambil menatap Prof. Zain dengan tatapan tajam.
Prof. Zain mengangguk.
"Saya pernah mendengar Baginda Nabi Muhammad Saw pernah bersabda, 'Al 'ajalatu minasy syaithan. Tergesa-gesa itu datangnya dari setan. Saya tidak mau tergesa-gesa. Saya tidak mau mengecewakan siapapun. Termasuk diri saya sendiri. Maka perkenankan saya menjawabnya dalam waktu satu hari. Maafkan jika saya tidak bisa menjawab sekarang." Sambung Yuna penuh penyesalan.
Ada sedikit gurat kekecewaan di wajah Prof. Zain, namun ia tidak bisa bersikap apapun kecuali setuju. Sedetik kemudian, Prof. Zain mulai tersenyum tanda setuju.
Entah jawaban apa yang akan di dengar Prof. Zain dari Yuna esok harinya, kini ia menunggu hari esok agar segera tiba, hari esok yang ia yakini akan membawa kebahagiaan tanpa batas dalam kehidupan penuh warnanya.
__ADS_1
...***...