
"Ada apa dengan hari ini? Kenapa sangat susah untuk sampai rumah dengan cepat, aman dan nyaman." Raina menggerutu di tengah-tengah kemacetan panjang. Sesekali, ia bahkan mengetukkan kepalanya di sandaran kursi, jenuh dan bosan mulai memenuhi rongga dadanya.
Seandainya aku mengikuti saran Mama untuk tidak pulang dan menyerahkan kadonya besok saja, maka aku tidak akan berakhir dalam kemacetan ini! Gumam Raina bersama dengan helaan nafas kasarnya.
Sayang... Apa kau juga bosan? Maafkan Mama! Apa kau merindukan Papa mu? Mama juga sangat merindukannya! Ucap Raina sembari mengusap perutnya.
Tadinya, semuanya berjalan normal. Tidak ada kemacetan ataupun kekeliruan sampai sebuah mobil putih melintas dengan ugal-ugalan. Raina menggerutu karena orang itu menyebabkan mobil yang ia kendarai tersenggol dan menghantam pembatas jalan. Ia keluar dari jalur, untungnya Raina tidak mengalami hal serius. Malang tak bisa di hindari, mobil putih itu terpental dan menabrak pengendara lainnya, bukan hanya satu mobil, kali ini kecelakaan beruntun terjadi dan menyebabkan kemacetan di sepanjang jalan.
"Dasar pengendara edan. Sudah tahu nyawanya cuma satu. Masih saja nekat melakukan kecerobohan. Aku benci pengendara yang mabuk dan bermain ponsel saat menyetir." Gerutu Raina lagi.
Raina masih shock, nafasnya terasa sesak. Peristiwa yang ia alami membuatnya terkejut luar biasa. Ia bahkah tidak berhenti mengelus perutnya untuk memastikan kandungannya baik-baik saja. Raina tahu hanya dengan mengingat Allah hatinya akan kembali tenang, dan untuk meredakan amarah, lisannya tak berhenti beristigfar dan membaca Salawat untuk baginda Rasulullah.
Butuh waktu dua jam untuk Raina agar ia bisa keluar dari kekacauan yang disebabkan oleh pemabuk gila itu, setelah melakukan perjanjian ganti rugi Raina langsung meninggalkan pihak berwajib yang meminta alamat lengkapnya. Untuk sesaat Raina menatap wajah sang pembuat onar, rasanya ia ingin menampar orang itu. Raina hanya bisa berdoa, semoga korban kecelakaan lain baik-baik saja sama seperti dirinya.
Dua jam kemudian, Raina mempercepat langkah kakinya untuk memasuki rumah.
Ceklek...
Raina membuka gagang pintu, wajahnya tampak berseri-seri, membayangkan wajah bahagia ibu mertuanya ketika menerima hadiah pemberiannya, membuat kejenuhan Raina menghilang bersamaan dengan hembusan nafas kasarnya. Ia bahkan tidak bisa berhenti tersenyum.
Baru saja membuka pintu, Raina langsung di kejutkan oleh pemandangan yang ada di depannya. Sekelompok pria berpakaian hitam sedang tertawa lepas. Ada yang duduk sembari menaikkan kakinya di atas meja, ia terlihat tenang tapi mulutnya tidak berhenti mengunyah. Rumah yang Raina tinggalkan dalam keadaan bersih berubah menjadi tumpukan sampah yang berserakan di setiap sudutnya.
Raina mengepalkan kedua tanganya, rasanya ia ingin berhambur dan menghajar pria kurang ajar yang berani memasuki rumahnya tanpa izin. Baru saja ia melangkahkan kakinya, ia di kejutkan sosok angker yang bertepuk tangan bahagia menyaksikan pemandangan di depannya. Pelan, Raina mengarahkan pandangan matanya menuju lantai yang di tatap sekumpulan pria itu.
Bagai di sambar petir disiang bolong, tubuh Raina hampir saja terjatuh, untungnya ia berpegangan di pintu yang baru saja ia buka. Matanya meneteskan air mata menyaksikan pemandangan mengejutkan yang terjadi di depan matanya, darah Raina terasa mendidih.
"Apa yang kalian lakukan di rumahku?" Raina berteriak dengan suara lantang.
"Ka-kak...!"
Ya Allah... Apa yang di lakukan Iblis ini pada Yuna? Mereka semua tertawa? Gumam Raina dalam hatinya, giginya bergemeletuk.
Plakkkkk.
Satu tamparan keras mendarat tepat di wajah salah satu pria yang berani merobek gaun Yuna. Mereka melakukan kekejaman kemudian mereka tertawa lepas seolah sedang menonton drama komedi.
__ADS_1
Ssssss! Pria yang mendapat tamparan keras dari Raina meringis kesakitan, ia bahkan sampai tersungkur membentur dinding. Raina tidak hanya melayangkan tamparan, ia juga memberikan tendangan pada bagian vital laki-laki kurang ajar yang berani mengoyak gaun adik ipar kesayangannya.
"Kalian hanya sampah. Bahkan kalian tidak pantas untuk di daur ulang. Cara terbaik memberikan pelajaran pada Manusia hina seperti kalian hanya dengan menghilangkan kalian semua." Raina berucap dengan derai air mata. Amarah yang tadinya mereda terasa memuncak sampai ke ubun-ubunya.
Hahahaha....
Lagi-lagi sekelompok pria biadap itu tertawa lepas, tawa meledek.
"Tuhan benar-benar baik! Aku mencari seekor kelinci manis, dan aku telah mendapatkannya." Ucap pria dengan kepala pelontos sembari menunjuk kearah Yuna yang sudah tidak berdaya, tangan gadis anggun itu bahkan terikat.
"Bukan hanya seekor kelinci! Seekor singa juga datang tanpa di undang. Dari pada kau marah-marah, lebih baik kita habiskan malam panas ini dengan bahagia. Bagaimana?" Sambung pria itu lagi.
Rasanya Raina ingin muntah mendengar ucapan omong-kosong yang keluar dari mulut preman yang ada di depannya. Dengan kemarahan luar biasa, Raina melangkah maju dan melayangkan tinjunya kearah hidung salah satu rekan preman itu.
"Itu jawaban dariku! Jangan pernah meremehkan perempuan! Sekali kalian meremehkan perempuan, maka alam pun akan bersatu untuk membantu kami. Wanita yang melahirkan kalian benar-benar mendapat kutukan, lebih baik tiada daripada memiliki putra seperti kalian. Pergi dari sini!" Raina berteriak lagi, suaranya menggelegar. Baru kali ini ia merasakan amarah luar biasa, melihat kondisi Yuna tak berdaya dengan pakaian lusuh membuat amarahnya semakin tak terkendali.
Allah. Terimakasi kau kirim aku pulang! Jika tidak, aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada Yuna. Gumam Raina sembari menghapus air matanya.
"Ka-kak!" Ucap Yuna lagi dengan suara yang nyaris tak terdengar. Wajah cantiknya terlihat lebam.
"Aku bersikap lunak, tapi kau malah membicarakan ibu ku yang sudah tiada! Kali ini kau tidak akan bisa meredam kemarahanku. Serang diaaaaa! Jangan ampuni Iblis itu!" Tunjuk ketua preman kearah Raina, giginya bergemeletuk menahan amarah, sementara matanya memerah seperti orang kesurupan.
Sayang... Kau tahukan? Saat ini kita tidak bisa mundur! Tantemu dalam masalah besar. Mama mu adalah seorang wanita yang tangguh dan tegar, kali ini mama mengajak mu berjuang bersama, maka kau pun harus membantu mama untuk menang. Ucap Raina dalam hatinya sembari mengelus-elus perutnya.
Tiga pria kekar berjalan menuju kearah Raina, sementara empat lainnya berdiri sebagai penonton setia, mereka tertawa meremehkan lawannya. Raina terlihat bagai semut kecil dalam pandangan mereka. Mereka lebih berbahaya dari ular berbisa. Sedikitpun Raina tidak merasa gentar, karena Raina tahu Allah bersamanya, tidak akan terjadi hal buruk padanya tanpa seizin dari Rabbnya.
Gdebukkk!
Satu pukulan keras di bagian hidung kembali Raina arahkan di wajah lawannya, darah segar keluar dari hidung pria menyedihkan itu. Bukan hanya sekali, namun berkali-kali ia mencoba mengarahkan pukulan dan tendangan di bagian sensitif lawannya. Wajah sangar yang tadi ia tunjukan berubah seketika, bukan lagi senyuman melainkan suara desahan dan ringisan menahan sakit.
"Tidak berguna! Hanya lalat kecil saja membuat kalian kelabakan." Ucap pria yang menjadi ketuanya.
"Seekor nyamuk bisa mendatangkan kematian bagi Namruj yang kejam. Hari ini kalian berani memandang buruk pada wanita? Akan ku pastikan, aku pun akan menjadi hukuman bagi kalian! Kalian tidak akan berani menampakkan wajah kalian di depan wanita manapun, apa lagi sampai meremehkannya!" Ucap Raina geram.
Raina tampak kelelahan, ia pun mulai terengah-engah. Dalam hati Raina berdoa semoga ada keajaiban yang datang.
__ADS_1
"Kau sudah membuatku kesal!" Ucap ketua preman itu, matanya di penuhi kabut amarah.
Raina mulai kelabakan. Entah apa yang dipikirkan pria kurang ajar yang berduel dengan Raina, seandainya akal sehat mereka masih bekerja, mereka tidak akan tega mengepung satu wanita kecil seperti Raina.
Plakkk!
Aaahhh!
Satu tamparan mendarat tepat di pipi kiri Raina, ia mulai meringis kesakitan. Tenaganya mulai terkuras, melawan tujuh pria seorang diri membuatnya terengah-engah. Masih untung ia bisa bertahan di antara kekacauan yang menimpanya saat ini, setidaknya Yuna yang terbaring dengan pakaian terkoyak dalam keadaan baik-baik saja. Entah suntikan apa yang pria itu masukkan kedalam tubuh Yuna sampai tubuh yang biasanya aktip terlihat seperti mayat hidup, bisa bernafas namun tidak bisa si gerakkan.
Raina menghapus sudut bibirnya yang mulai mengeluarkan darah segar. Bukan hanya bibirnya yang terasa nyeri, sekujur tubuhnya pun terasa sangat sakit.
Suara tendangan, pukulan, ringisan dan teriakan memenuhi indra pendengaran Raina selama tiga puluh menit ini.
"Sudah cukup kau membuatku kesal."
Gdebukkk.
Satu pukulan keras kembali mendarat di wajah Raina.
Pria dengan kepala pelontos itu mengarahkan tinjunya, kali ini bukan bagian wajah atau kaki, ia mencoba memukul perut Raina dengan tinjunya, untungnya Raina bisa menghindar dengan cepat. Sebagai balasannya, Raina melayangkan tendangan mautnya di bagian wajah pria itu, kemudian menyusul pukulan keras di bagian dada. Pria itu tersungkur, ia terkapar di lantai dengan kepala berdarah karena membentur meja.
"Ka-kak a-w-a-s...!" Dengan sisa tenaga yang ia punya, Yuna mencoba mempringatkan Raina. Kali ini Raina tidak bisa menghindar.
Tiga pria tertawa penuh kemenangan melihat dua gadis buronan mereka selama dua pekan ini ada di depan matanya. Sementara itu, Yuna hanya bisa menangis melihat kakak ipar kebanggaannya tak berdaya, Singa yang tadinya mengaung dan bertarung dengan kekuatan penuh kini tumbang dengan luka di bagian kepalanya.
Hasbunallah wanikmal wakil nikmal maula wanikman nasir.
Cukuplan Allah sebagai penolong kami, dan Allah sebaik-baik pelindung.
...***...
Note:
Karena kesibukan selama idul Adha author bisa up date kisah Sawn dan Raina sekarang. Mohon maaf karena keterlambatannya....
__ADS_1
Tetap jaga kesehatan...
Jika ada hal baik dari kisah Sawn dan Raina ambil hikmahnya, buruknya di buang. Selamat membaca...🙏❤🙏