Mencintai Bodyguard Saleha

Mencintai Bodyguard Saleha
Impian Raina


__ADS_3

"Maaf kan aku. Aku bukan orang yang Romantis, aku juga bukan orang yang mudah mengucapkan kata maaf. Apalagi mengungkapkan kata 'Aku cinta padamu.' Percayalah, tidak ada yang lain di hatiku selain dirimu." Ucap Sawn pelan sembari mengelus puncak kepala Raina.


"Malam itu, aku benar-benar tidak tahu wanita yang ku buat menangis ternyata wanita yang paling kurindukan. Kamu mungkin tak tahu seberapa dalam rasa cintaku padamu. Meski telah berada di sampingmu. Aku masih merindukanmu. Apa aku sudah gila?" Sawn memamerkan senyum kecil di wajahnya, seandainya Raina tahu kelakuan Sawn ketika ia sedang tertidur pulas, sudah di pastikan Raina akan melayangkan tinju di wajah tampan milik Sawn Praja Dinata.


"Setelah membuatmu menangis, tidak ada yang lebih sedih selain diriku. Aku lebih suka melihatmu memarahi ku, aku tidak suka ketika kamu diam atau menghilang." Sawn masih memandangi wajah terlelap Raina, ingin rasanya ia mendaratkan kecupan hangat di puncak kepala Raina. Sekuat tenaga ia menahan geloranya, karna ia tahu wanita seperti Raina tidak akan menyukainya.


"Aku akan menemui Angel dan mengakhiri perasaanku padanya. Itu bukan karena mu, itu untuk diriku sendiri. Karna aku tahu aku tidak bisa hidup tanpamu, kamu adalah Oksigen ku." Lirih Sawn pelan kemudian ia pergi meninggalkan Raina yang masih terlelap.


Waktu menunjukan pukul 18.00 ketika Sawn memakan roti yang di olesi selai kacang buatan bi Sumi, perdebatannya dengan Raina pagi ini membuatnya tidak bisa fokus mengerjakan apapun. Pekerjaan yang masih menumpuk di meja kerjanya segaja ia bawa pulang agar ia bisa leluasa mengerjakannya di ruang kerjanya yang terletak di samping kamarnya. Dan untungnya ia sudah meluapkan segala emosinya ketika Raina masih terlelap di ruang istirahat.


"Dimana singa betina itu? Kenapa dia belum juga turun."Lirih Sawn pelan. Membayangkan wajah terlelap Raina membuatnya bahagia.


"Apa dia masih tidur? Itu tidak mungkin, dia akan bersikap seperti cacing kepanasan jika dia tahu dia melewati Shalat nya." Sawn memakai kaca mata hitamnya, ia keluar dari mobil dengan alasan akan membangunkan Raina.


Sawn dikejutkan oleh suara langkah kaki seseorang, gadis manisnya berlari tanpa memandang kearahnya. Mereka berpapasan namun Raina tidak melihatnya, dan hal itu berhasil membuat Sawn kecewa.


"Apa yang membuatmu setegang itu? Apa kamu benar-benar tidak melihatku, atau kamu hanya bersendiwara?" Sawn berusaha menepis kekecewaannya, ia kembali kemobilnya dan pelan meninggalkan perusahaan berlantai dua puluh lima yang di kepalainya.


...***...


Sementara itu di Taxi, Raina mengelus dada berusaha menenangkan diri. Kemarahannya hampir saja meledak, panggilan singkat dari bi Sumi berhasil membuat kesabarannya terkikis habis. Ia tidak pernah membayangkan hal buruk akan terjadi padanya, masalah apa lagi yang lebih buruk selain adik-adik yang ia banggakan mengabaikan pendidikannya.


Raina benar-benar murka.


"Pak tolong di percepat, saya harus segera sampai di rumah." Ucap Raina pada sopir yang mengenakan baju biru itu.


Lima belas menit kemudian, Raina tiba di Istana kebesaran Sawn Praja Dinata. Tak ada sepatah katapun yang terucap dari bibirnya, ia menghambur kekamarnya tanpa menghiraukan bi Sumi yang menyapanya.


"Apa yang kalian lakukan?" Raina berteriak, kasar. Tiga anak lelaki berseragam sekolah itu terkejut mendengar teriakan keras yang bersumber dari pintu.

__ADS_1


Tiga anak itu tidak menyangka, bukannya mendapat pelukan hangat, mereka malah di teriaki seperti pencuri yang akan di hukum gantung.


"Apa aku pernah mengajari kalian melakukan ini, hah? Apa kalian sudah bosan menjadi adikku? Jika kalian sudah bosan menjadi adikku, lakukan apa pun yang kalian inginkan!" Ucap Raina lagi. Ia berhenti sesaat.


"Ada masalah apa bi Sumi? Kenapa Raina berteriak?" Tanya Sawn begitu ia sampai rumah dan berdiri di samping bi Sumi.


"Neng Raina, tuan. Dia sedang memarahi adik-adiknya!"


"Adik-adiknya, maksut bi Sumi, Andre?" Tanya Sawn penasaran.


"Ia tuan. Tapi kali ini bukan hanya Andre, masih ada dua anak lagi!"


Mendengar penjelasan bi Sumi, Sawn hanya bisa menampakkan wajah datarnya. Ia melangkahkan kakinya menuju dapur. Hatinya terasa gundah, berharap dengan meminum air dingin akan mengubah suasana hatinya.


"Kalian benar-benar membuatku kecewa. Sangat kecewa! Kebanggaanku telah hancur, dan kalian telah menghancurkannya. Pergi dari sini, aku tidak ingin melihat wajah kalian lagi." Ucap Raina di penuhi dengan emosi.


Kemarahan sebesar itu? Apa dia melampiaskan amarahnya pada anak-anak malang itu? Lirih Sawn pelan sembari meneguk Air dinginnya.


Tapi kali ini kalian membuktikan, persaudaraan kita tidak ada gunanya karna kita bukan saudara kandung. Apa itu yang ingin kalian buktikan?" Mendengar ucapan keras dari Raina membuat tiga anak di depannya itu mulai menangis dan menghambur kearahnya.


Sementara itu di luar kamar Raina, Sawn hanya bisa menghela nafas. Ucapan Raina sedikit keterlaluan, dan Sawn berpikir karna berdebatan mereka pagi tadi membuat Raina hilang kendali dan melampiaskan amarahnya pada orang yang salah.


"Kalian harus memberikan tempat bagi rancangan hidup di alam ini, sehingga kalian menjadi nomor yang memiliki nominal, bukan kosong berdasarkan bilangan minus.


Sesungguhnya, Lebah yang mati akan di buang keluar dari sarangnya karna tidak berharga, dan pohon yang kering akan di singkirkan dari sebuah taman karna tidak ada manfaatnya.


Siswa yang meninggalkan studynya tanpa ada udzur dan duduk-duduk di rumah bersama ibunya tidak ada balasannya kecuali cambukan pedih hingga membuatnya lari ketakutan dan kembali ke sekolah." Ucap Raina sembari melepas pelukan adik-adiknya dari tubuhnya.


Anak-anak malang itu masih menangis sesegukan, namun Raina lebih memilih untuk mengabaikannya.

__ADS_1


"Kaa...kakkkk. Maaf kan kaamii." Ucap Andre lirih, di sela-sela tangisnya. Ia menangkupkan tangan di depan dada di ikuti oleh kedua adiknya.


"Kakak, kami tidak akan mengulanginya lagi! Kami janji. Kami akan rajin belajar. Kami tidak akan bolos lagi." Ucap ketiga anak itu bersamaan.


Kemarahan Raina mulai mereda, ia memeluk ketiga anak itu dengan perasaan haru.


"Kalian bertiga apa kabar? Maafkan kakak karena bicara kasar." Raina mengelus wajah ketiga adiknya penuh kasih sayang.


"Aku, Kak Andre dan Aldy baik-baik saja, kak. Kakak sendiri apa kabar?" Balas Nanang dengan cepat.


Sepertinya bi Sumi meladeni mereka dengan sangat baik selama Raina tidak ada di rumah. Dua gelas susu putih kesukaan Andre dan Aldy, dan segelas susu coklat seperti kesukaan Nanang, di tambah sepiring kue tersedia di nampan yang di letakkan di atas meja.


"Kakak baik-baik saja selama kalian baik." Balas Raina sembari menghapus air mata adik-adiknya.


"Sesungguhnya, manusia yang paling murah harganya adalah orang yang makan, minum dan tidur, yang kering muara kemanfaatannya, dan kerontang lembah kabaikannya. Orang seperti itu memang pantas baginya untuk direndahkan di hadapan orang-orang cerdas, karena dia menghapus namanya sendiri dari daftar kehidupan dan mencoret nomornya dari lembaran kontribusi dan pengorbanan.


Impian kakak hanya satu, kakak ingin melihat kalian sukses. Kakak tidak ingin kalian berhenti belajar seperti kakak yang hanya lulusan sekolah menengah atas. Kakak ingin kalian sukses!


Mungkin akan ada saat dimana kakak merasa lelah dan jenuh dalam bekerja, tapi kakak bisa pastikan kalian tidak akan kekurangan apa pun. Kakak tidak bahagia berpisah dari kalian, tapi kakak harus kuat demi kalian.


Sekarang, kita harus bersiap-siap untuk salat magrib, setelah itu kakak akan mengantar kalian pulang. Jangan katakan apa pun pada ibu, jika ibu tahu kalian bolos sekolah, kalian tahu apa yang akan ibu lakukan?" Raina bertanya pada ketiga adiknya dengan tatapan penasaran.


"Cambukan..." Ucap ketiga anak itu bersamaan, Raina larut dalam pelukan kasih sayang ketiga adik-adiknya. Hingga ia tidak menyadari Sawn menatap mereka dengan perasaan haru dari balik daun pintu.


Raina! Gadis bodoh itu, apa dia sungguh sebaik itu? Kenapa mimpinya sangat sederhana. Mimpinya hanya ingin melihat adik-adiknya sukses, tidak bisakah dia bermimpi lebih besar dari itu? Bahkan sekarang aku jauh lebih bodoh darinya, impianku sekarang hanya ingin menghabiskan waktu dengannya, menua bersamanya, dan bisa melihat wajahnya ketika aku membuka mata di pagi hari. Aku pikir itu akan menyenangkan. Lirih Sawn dalam hatinya.


Allah selalu memberikan sesuatu yang terbaik untuk hambanya, meskipun yang terbaik kadang bukan yang terindah seperti yang selalu terlintas di angan-anganmu.


Impian! Apa impian sungguh sesederhana itu? Entahlah, siapapun kamu, yang jelas kamu harus memiliki mimpi dan tujuan dalam kehidupan.

__ADS_1


...***...


__ADS_2