Mencintai Bodyguard Saleha

Mencintai Bodyguard Saleha
Calon Menantu


__ADS_3

Waktu baru saja menunjukan pukul 20.00 namun panti nampak sunyi bagai tak berpenghuni. Setelah peristiwa tamparan itu anak-anak hanya keluar untuk salat magrib. Setelah itu mereka kembali kekamarnya. Begitu juga dengan bu Romlah dan bu Rahayu, selama dua jam terakhir mereka bahkan tak saling bicara. Sepertinya kesedihan karena tamparan itu benar-benar melukai hati semua orang, dan tentunya yang paling terluka di antara semuanya adalah Raina Salsadila.


Tok.Tok.Tok.


Suara ketukan yang bersumber dari luar kamarnya membuat bu Rahayu menghela nafas kasar. Tidak ada hal yang bisa mengobati kesedihannya selain dari pelukan putri kesayangannya, Raina.


Nasi sudah berubah menjadi bubur. Kini bu Rahayu benar-benar menyesali ucapannya yang tidak ingin melihat wajah Raina. Amarahnya telah mengacaukan segalanya. Ia sadar Raina melakukan hal yang benar dengan menyatukan Andre dan ibunya, namun jiwa keibuannya dan rasa takutnya telah melumpuhkan akal sehatnya.


"Mbak yu... Romlah masuk mbak!" Ucap bu Romlah dengan nada suara yang nyaris tak terdengar. Kesedihan juga masih memenuhi rongga dadanya.


"Ya Allah... Mbak! Apa yang mbak yu lakukan?" Begitu bu Romlah membuka pintu kamar bu Rahayu, kejutan besar sudah menantinya. Darah segar berceceran di lantai kamar. Sementara tangis bu Rahayu tidak bisa lagi keluar, ia sedih. Sangat sedih sampai tidak bisa mengontrol perasaannya.


"Mbak yu, apa ini mbak? Apa mbak yu tidak memikirkan anak-anak mbak yu? Kenapa mbak yu melukai tangan mbak yu sendiri? Hik.Hiks." Derai tangis kembali memenuhi kamar bu Rahayu.


Bu Romlah memeluk kakaknya itu tanpa bisa menghentikan isak tangisnya. Bagi penghuni panti, hari ini hari yang sangat berat. Satu hari ini berjalan sangat lamban. Tangisan dan kesedihan seolah menjadi teman yang memilukan.


"Rom. Rasanya mbak mau mati saja. Membayangkan wajah putri kesayangan mbak pucat, di tambah mbak melukainya membuat mbak merasakan sesak luar biasa. Mbak sudah menghukum tangan yang sudah berani menampar wajah putri mbak! Hiks.Hiks!" Tangis bu Rahayu kembali tumpah.


"Kenapa mbak yu melukai tangan mbak yu sendiri? Raina tidak akan suka itu mbak! Tangan ini memang menampar wajah Raina, tapi tangan ini adalah tangan ibunya! Rasa sakit yang akan Raina rasakan karena melihat tangan ibunya terluka jauh lebih besar dari kesedihan karena tamparan itu." Ucap bu Romlah sembari menangkup wajah separuh baya kakaknya.


"Mbak yu tahu kan? Raina itu seperti rumput, walaupun di injak ia akan tetap tumbuh." Ucap bu Romlah lagi, kali ini dengan suara penuh semangat.


"Romlah tahu mbak yu masih trauma! Merawat Raina kecil yang waktu itu hampir tiada, membuat mbak yu takut adik-adiknya akan mengalami hal yang sama. Kali ini berbeda mbak yu! Sangat berbeda!


Mbak yu lihat sendiri kan? Selama ini Raina selalu berdiri di depan adik-adiknya. Ia bahkan rela menjadi baju anti peluru untuk adik-adiknya agar adik-adiknya tidak terluka.


Mbak yu juga tahu kan? Raina melakukan hal yang benar dengan menyatukan Andre dan bu alya. Karena mbak tidak akan pernah bisa melakukan apa yang di lakukan Raina untuk Andre.


Jika bu Alya berani menyakiti Andre sesakit yang di alami Raina kecil dulu, demi Allah saya katakan mbak, Raina rela tiada demi membela adik-adiknya. Mbak beruntung memiliki Raina sebagai putri, dan adik-adiknya pun beruntung memiliki Raina sebagai kakak.


Romlah tahu peristiwa di ruang tengah tadi tidak seharusnya terjadi. Mbak yu juga sudah menyadari mbak yu yang salah. Maka itu sudah cukup untuk kita semua. Besok, mbak yu mau kan minta maaf dan memeluk Raina?" Ucap bu Romlah sembari mengobati tangan bu Rahayu yang terluka.


Bu Rahayu hanya bisa mengangguk mendengar ucapan adiknya, wajahnya mengukir senyuman bahagia. Kerinduannya pada Raina kini memenuhi rongga dadanya, dalam hati ia berdoa semoga mentari segera tiba, agar ia bisa memeluk putri cantiknya. Ia ingin segera mengatakan dengan lantang bahwa ia bangga memiliki putri Saleha seperti Raina Salsadila.


...***...


Sementara itu di tempat berbeda, Sawn duduk di meja sendirian di temani segelas minuman bersoda. Malamnya terasa hampa tanpa kehadiran Raina.

__ADS_1


Pelan memori Sawn kembali berputar pada titik pertama kali ia mengungkapkan perasaan cintanya pada Raina. Tidak ada jawaban indah yang ia dengarkan selain penolakan dengan bahasa yang lembut namun menyakitkan.


Sedetik kemudian ia pun mulai tersenyum bahagia. Ballroom Hotel tempat Sawn berdiri saat ini menjadi saksi bisu perasaan cintanya, penolakan dan kebahagiaan yang ia rasakan, semua kisah itu terangkum di Ballroom hotel ini, Hotel bintang lima yang di kepalai oleh pak Andi Praja Dinata, papa Sawn dan Yuna.


"Tempat ini masih terlihat sama, hanya saja Raina ku tidak ada bersamaku." Gumam Sawn sembari memandangi Robin yang saat ini sedang memamerkan wajah sok tampannya.


Di sebelah barat dekat bangku yang Sawn duduki, berdiri sosok sempurna Prof. Zain yang sedang bicara dengan teman gadisnya.


Acara malam ini acara yang luar biasa, Pengusaha, Selebriti, dan beberapa nama besar yang turut andil dalam memajukan pendidikan di seluruh nusantara turut bergabung untuk meramaikan acara menakjubkan yang di kemas indah.


"Kakak!" Yuna menghampiri meja Sawn, di ikuti oleh ViVi dan Arnela di belakangnya.


"Dimana kakak ipar? Kenapa kakak hanya duduk sendiri? Kakak terlihat menyedihkan!" Ucap Yuna lagi.


"Kakak iparmu sakit! Aku ingin pulang, tapi Robin menahan kakak untuk satu jam saja." Balas Sawn dengan wajah yang menampakkan kebosanannya.


"Satu jam? Ya, aku bisa mengerti itu. Kakak pengusaha besar, bang Robin pasti merencanakan hal besar untuk kebaikan perusahaan kakak." Ucap Yuna sok tahu.


"Teman-temanmu terlihat bosan! Kau pergi saja, kakak akan menemui mama dan papa!" Ucap Sawn sambil tersenyum.


"Ya udah. Yuna pergi ya, kak!" Yuna memeluk Sawn kemudian ia berjalan bersama Vivi dan Arnela mencari hidangan lezat yang bisa menenangkan perut kosongnya.


"Tidak." Balas Arnela dan ViVi bersamaan.


"Ya sudah, nikmati waktu kalian! Aku lapar, aku akan mencari makanan, disana!" Ucap Yuna sambil menunjuk kearah dua Chef yang sedang meladeni para tamu.


Tanpa Yuna sadari, tangan kekar menarik lengannya keluar dari pesta. Yuna terkejut, namun ia tidak bisa berbuat apa-apa. Jika ia sampai berteriak maka mama dan papanya yang berdiri tak jauh darinya akan murka melihatnya berjalan berdua dengan pria asing di tengah keramaian.


"Anda lagi? Kali ini apa?" Yuna bertanya setelah ia berdiri di balkon hotel, berdiri bersama pria tertampan yang pernah ia lihat seumur hidupnya.


Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir pria sempurna itu. Ia tersenyum. Sesekali menggigit bibir bawahnya, menatap wanita sempurna yang berdiri di depannya membuat dadanya berdebar lebih cepat.


Ceklekkk!


Kamera ponsel yang di pengang pria di depan Yuna tanpa izin mengambil potret wajahnya.


"Prof. Zain, anda? Iiiihhhh!" Yuna sedikit geram, namun sikap manisnya justru membuat Prof. Zain semakin tertawa lepas.

__ADS_1


"Berikan ponselnya! Aku bilang berikan!"


Yuna berjalan mendekati Prof. Zain, ia berusaha merebut ponsel dari tangan pria tampan itu, sayangnya tinggi mereka tidak sebanding, Yuna sampai kewalahan dan ia pun menyerah.


"Yang baru saja anda lakukan, itu tidak benar!" Yuna melotot sambil meremas jemarinya.


Sedetik kemudian Prof. Zain melempar ponselnya kearah Yuna yang saat ini berdiri tak jauh darinya.


"Ooo... Ternyata aku baru tahu kau seorang yang andal." Puji Prof. Zain pada Yuna yang berhasil menangkap ponsel yang di lemparnya.


"Apa ini?"


"Itu? Itu ponselku! Bukankah kau mau ponselku! Aku memberikan ponselku padamu!" Balas Prof. Zain sambil tersenyum. Iris birunya terlihat bercahaya di bawah terangnya cahanya lampu.


"Bukan itu!" Celetuk Yuna kesal.


"Maksudku, kenapa anda mengirim fotoku pada nomer asing itu?" Tanya Yuna sambil melempar ponsel yang ada di tangannya pada pemiliknya.


Prof. Zain berjalan pelan kearah Yuna. Sementara Yuna, ia berjalan mundur mengikuti langkah Prof. Zain yang terus mendekatinya.


Auuu! Yuna meringis, tubuhnya membentur dinding.


"Mommy bilang, dia ingin melihat wajah calon menantunya. Karena itu aku mengirimkan potret saat wajah menantunya terlihat cantik sempurna." Bisik Prof. Zain di telinga Yuna. Setelah itu ia mundur secara suka rela.


"Ayo kita masuk! Jika orang lain melihat kita disini, mereka mungkin berpikir aku menculikmu! Aku tidak suka itu." Ucap Prof. Zain lagi tanpa memperdulikan wajah kesal Yuna Dinata.


"Hai... Berani sekali kau! Siapa bilang aku ingin jadi calon menantu Mommy mu?" Yuna bicara dengan nada keras, namun Prof. Zain sudah terlanjur tidak memperdulikan ucapanya.


Pemilik netra biru itu berjalan sambil melambaikan tangan, sementara bibirnya masih mengukir senyuman.


"Hai...!" Yuna kembali berteriak, sayang sekali pemilik wajah sempurna itu sudah menghilang di balik kokohnya dinding Hotel.


Yuna terdiam, ia masih bisa merasakan deru nafas Prof. Zain. Ia meletakkan tangan kanan di dadanya, ternyata dadanya berdetak sangat cepat.


Calon menantu! Itu sangat konyol. Lirih Yuna pelan, namun bibirnya tak lepas dari senyuman.


Entah takdir apa yang menunggu mereka di depan. Namun satu yang pasti, ucapan Prof. Zain terasa sangat menyejukkan di telinga Yuna Dinata.

__ADS_1


...***...


__ADS_2