Mencintai Bodyguard Saleha

Mencintai Bodyguard Saleha
Mencintai Bodyguard Saleha


__ADS_3

Waktu berjalan terasa begitu cepat, sebulan telah berlalu sejak selesai menghelat acara besar Prof. Zain dan Yuna, kini dua anak manusia yang di penuhi cinta itu sedang menahan kesedihan luar biasa. Bahkan sejak semalam Yuna tidak bisa tidur karena tidak ingin meninggalkan keluarganya.


Hiks.Hiks.Hiks.


Suara tangis Yuna memenuhi indra pendengaran Bu Hanum dan Pak Andi. Mau bagaimana lagi, setelah pernikahan wanita harus menjadi istri yang berbakti, bahkan jika suaminya tinggal di gurun sekali pun, wanita harus tetap mendampinginya dalam suka dan duka. Menikah bukan sekedar menghelat acara besar-besaran kemudian berakhir dengan kata perpisahan. Harus ada komitmen dalam setiap hubungan, tak perlu ada ego, dan tak perlu menunjukan kekuatan pada pasangan hanya untuk menindasnya dengan alasan kekuasaan.


"Sayang, kau tidak perlu sedih! Setelah kau ada disana, kau tidak akan merindukan kami lagi." Bu Hanum membuka suara untuk menenangkan Yuna.


"Apa yang dikatakan Mama mu itu memang benar, bisa saja kau akan melupakan kami setelah kau berada di sana.


Papa dengar, Thailand menjadi salah satu negara dengan tingkat wisatawan tinggi dalam beberapa waktu. Papa tidak yakin kau akan terus menangis setelah nak Zain membawamu mengelilingi setiap sudut negaranya." Sambung Pak Andi hanya untuk menghibur dirinya.


Soekarno-Hatta International Airport hari ini terlihat ramai. Hal itu tidak menghalangi Yuna untuk menghentikan tangisnya. Bahkan beberapa pasang mata menatapnya dengan tatapan heran.


"Kau adik ku, sejauh yang ku tahu, adikku tidak pernah cengeng. Lagi pula kau akan ikut suamimu ke-Negara asalnya. Kau hanya pindah tempat tinggal, dan bukannya meninggal. Kau tidak perlu menangis seperti itu. Yang harus kau lakukan, telpon kami jika si payah ini mengganggumu." Guyon Sawn sambil menatap Yuna dan Prof. Zain dengan tatapan bahagia.


"Kakak jahat. Suamiku bukan orang yang payah." Balas Yuna sambil tersenyum kemudian menghapus sudut mata dengan punggung tangannya.


"Dimana kakak ipar dan keponakan tampanku? Kenapa mereka tidak ikut dengan kakak?" Yuna bertanya karena dia tidak bisa menemukan Raina dan keponakan menggemaskannya.


"Kakak iparmu ada disini!" Ucap Sawn cepat sambil menyodorkan ponselnya pada Yuna.


"Hallo tante cantik... Hasan disini! Hasan minta maaf karena tidak bisa mengantar tante kebandara. Hasan janji akan jadi anak baik. Tante juga harus janji, tante harus bahagia di negara paman ganteng. Hasan akan menemui tante setelah hasan bisa jalan." Ucap Raina dalam vidio call-nya, senyum menawan Hasan memenuhi ponsel yang Yuna pegang.


"Yaaa... Tante juga janji, tante akan hidup bahagia. Hasan harus tetap sehat, dan Hasan harus mengunjungi tante." Ucap Yuna penuh semangat, ia kemudian mengakhiri panggilan vidionya.


Setelah memeluk satu persatu anggota keluarga Dinata, Yuna dan Prof. Zain masuk kedalam bandara di iringi tangis bu Hanum. Putri kecil kesayangannya kini akan berpindah ketempat yang jauh, dan hal itu membuat bu Hanum merasakan sedih luar biasa.


...***...


"Pakde, tendang." Nanang berteriak sambil mengoper bola.

__ADS_1


"Kak Sawn, jangan biarkan mereka menang." Balas Andre sambil berlari mendekati Nanang yang saat ini berlari kearah gawang.


Pakde? Panggilan baru untuk Agil setelah ia resmi menikahi bu Romlah seminggu yang lalu. Sejak resmi menyandang status suami istri, Agil memutuskan pindah kepanti dan tinggal bersama bu Romlah. Usianya terpaut tujuh tahun dengan bu Romlah, namun perasaan cinta dan rasa hormatnya pada wanita yang lebih dewasa darinya itu tidak berkurang sedikitpun. Kata orang, jika cinta sudah menunjukkan perannya maka usia dan status tidak lagi berguna. Mungkin itu ada benarnya, dan yang lebih besar dari itu adalah menemukan pasangan setia yang sanggup mengikrarkan dirinya untuk selalu setia dalam suka dan duka.


"Aaaahhhh... Kita kalah lagi!" Sawn berucap sambil menyebikkan bibirnya.


"Kakak, jika kita bertanding lagi. Aku tidak akan masuk kedalam tim kakak." Ucap Andre sambil memposisikan dirinya untuk duduk di samping Sawn Praja Dinata.


"Kak Andre, kakak sudah kalah. Itu artinya, selama sebulan kedepan kakak akan jadi pesuruh kami. Dan selama itu juga, kakak harus membimbing kami untuk belajar sampai hafal perkalian satu sampai sembilan. Dan bonus lainnya, kakak harus membantuku hafal Al-Qur'an juz dua puluh sembilan dan juz tiga puluh." Sambung Aldy tanpa menghiraukan wajah heran Sawn dan Agil.


"Apa, jadi kalian melibatkan kakak dalam taruhan ini? Kalian benar-benar menyebalkan, kemari..." Sawn pura-pura marah, ia mengejar Aldy, Nanang dan Andre bersamaan. Tiga bocah tampan itu lari kedalam rumah sambil tertawa lepas.


Melihat kekompakan penghuni panti, tak terasa air mata Agil menetes dengan deras. Untuk pertama kalinya ia merasakan kehangatan keluarga. Bahkan sekarang bos besarnya menjadi keponakannya, ia tak pernah menyangka kalau hari seperti ini akan tiba, hari dimana ia bisa bermain bola dengan bos besar yang selalu membuatnya takut saat melakukan kesalahan. Untungnya, hal itu tidak membuat perbedaan dalam hubungan mereka.


...***...


Mmmmmmm!


"Dimana Raina ku?" Sawn beranjak dari tempat tidurnya sambil mengucek mata dengan kedua tangannya.


Pelan ia membuka gagang pintu, namun ia menutupnya kembali dan mengurungkan niatnya untuk keluar begitu netranya menatap kearah balkon.


"Hidupku terasa hampa tanpa hadirmu! Jangan pergi kemanapun tanpa pemberitahuan." Ucap Sawn pelan sambil menyampirkan selimut tebal di tubuh ramping Raina.


"Abi sudah bangun? Kenapa?"


"Bidadariku tidak ada disisiku bagaimana aku bisa terlelap tanpanya." Balas Sawn lagi sambil berdiri di samping Raina.


Raina tersenyum sambil memeluk Sawn yang masih berdiri mematung disisi kanannya. Raina memeluk Sawn erat sambil memejamkan mata di tubuh kekar suaminya.


"Kemana lagi Ummi bisa pergi tanpa kehadiran Abi? Walau dalam mimpi sekalipun, Ummi tidak akan bisa meninggalkan Abi."

__ADS_1


Mendengar penuturan tulus istrinya membuat Sawn semakin berbunga-bunga.


Mmmmmm!


Sawn pura-pura berdeham untuk mencairkan suasana. Sementara Raina, ia semakin mengeratkan pelukannya. Cinta itu ibarat pohon, semakin disiram maka akan semakin tumbuh subur. Jika cinta itu tidak disiram dengan kasih sayang, maka hasilnya akan layu dan tak jarang berakhir hanya dengan ketukan palu.


Malam ini rembulan bersinar terang, langit di penuhi cahaya terang. Ketika cinta terlibat diantara dua anak manusia maka waktu akan di manfaatkan sebaik-baiknya untuk memadu asmara.


"Kita sudah punya Hasan. Tapi... Cinta Abi pada Ummi tidak pernah berkurang. Bahkan cinta ini semakin hari semakin bertambah." Kali ini Sawn berbisik di telinga Raina, ia menarik Raina kedalam pelukannya dan tenggenggam di dalam selimut yang sama.


"Terima kasih sudah datang dalam hidupku sebagai Bodyguard saleha, aku tidak pernah menyangka akan semudah itu jatuh cinta.


Mencintai Bodyguard saleha ku? Aku pikir, hanya itu kebaikan yang pernah kulakukan dalam hidup ini. Dan kebaikan itu mengalirkan banyak kebaikan. Kesalehahan wanita anggun itu membawaku kejalan berbunga penuh cinta." Ucap Sawn dengan nada suara pelan.


"Ummi juga tidak menyangka akan jatuh cinta pada pria sempurna seperti Sawn Praja Dinata. Dan cinta ini bukan untuk sehari saja.


Tetap cintai Ummi seperti saat ini. Hanya dengan cinta Abi-lah Ummi akan bertahan." Ucap Raina sambil menatap wajah tampan suaminya dibawah cahanya rembulan.


Angin malam ini terasa menyejukkan, membelai lembut wajah Sawn dan Raina di bawah sinar Rembulan. Bahkan rambut hitam lurus Raina tak bisa diam. Dengan sigap Sawn merapikan rambut Raina yang menutupi setengah wajahnya.


"Bidadariku terlihat sempurna tanpa ada yang menutupi wajahnya." Ucap Sawn lagi, tanpa meminta persetujuan ia langsung melayangkan kecupan hangatnya di puncak kepala Raina.


Jika cinta itu datang dan membelai lembut hatimu, terima keberadaannya dan yakinkan hatimu untuk bersyukur pada yang kuasa atas karunia luar biasanya. Jika yang datang sosok yang bisa membuatmu bahagia maka terima uluran tangannya tanpa perlu berpikir status dan drajat sebagai ukurannya.


Cinta tidak bisa memilih kemana ia akan melepaskan panahnya, tapi kau bisa memilih pada siapa kau akan mempercayakan hatimu untuk menjaganya. Tuhan tidak melihat seseorang dari kata seberapa cantik dirinya, dan seberapa banyak hartanya? Tuhan melihat hati, iman dan takwa sebagai ukuran cintanya, maka sebaik-baik cinta adalah cinta yang bisa membuatmu semakin takwa, seperti Sawn yang memilih Bodyguard salehanya sebagai pilihan terakhirnya.


Allah... Terima kasih atas karunia terindahmu! Kau satukan hatiku dengan hati Raina Salsadila, dia yang kesalehahannya mampu menarik langkahku menuju kearahmu.


Allah... Terima kasih kau ciptakan dia. Dia ada karena aku ada. Dan aku ada karena dia ada. Kami akan tumbuh dalam naungan cintamu. Bukan malam ini saja, aku akan tetap mengatakan kalau aku sangat mencintai Bodyguard salehaku. Bahkan jika dunia ini kehabisan cahayanya, aku akan tetap mencintainya dalam kegelapan. Sawn bergumam di dalam hatinya sambil melepaskan kecupan hangatnya dari kening mulus Raina Salsadila.


...***...

__ADS_1


...❤***TAMAT ***❤...


__ADS_2