
Plakkkkkk!
Keenam pria bertubuh kekar itu tidak menyangka akan mendapat tamparan dari bos besarnya, satupun diantara mereka tidak ada yang berani mengangkat kepala setelah mendapat makian cukup kasar.
Tidak ada penyesalan dari pria separuh baya itu setelah melakukan kekerasan. Bahkan salah satu diantara keenam pria kekar yang mendapat tamparan itu terluka di bagian pelipis kanannya. Besarnya gaji perbulan yang mereka peroleh dari menjaga Clab malam membuatnya tetap diam walau mendapat perlakuan kasar dari pemilik bisnis malam itu. Jika sudah seperti ini nurani tidak lagi berguna, seolah uang adalah segalanya dalam kehidupan yang Fana.
"Aku sudah bilang, jangan pernah membuatku kesal! Kalian terus saja berulah, kalian hanya anjing pemburu. Maka tugas kalian hanya berburu." Ucap Pria separuh baya dengan kekuasaan penuh itu.
"Aku hanya memerintahkan kalian untuk menangkap seekor Rubah saja kalian tidak sanggup, lalu untuk apa kalian semua ada disini? Kalian benar-benar tidak berguna!" Sambung pria separuh baya itu dengan nada tinggi, tatapan matanya setajam belati. Tidak ada yang keluar dari mulutnya selain ucapan sampah saja.
"Jika dalam dua puluh empat jam kalian masih saja tidak bisa menemukan Iblis itu maka kepala kalian yang akan menjadi taruhannya." Ucapnya lagi, matanya di penuhi kabut amarah, ia bahkan tidak perduli pada tangannya yang terluka karena menghancurkan cermin besar di depannya hanya dengan satu pukulan saja.
Seorang pria bertubuh jangkung dengan kepala pelontos mendekati pria separuh baya itu dengan senyum penuh kemenangan. Rasanya alam sedang berpihak padanya, informasi yang mereka cari selama sepekan terakhir mulai muncul di permukaan.
"Benarkah? Apa itu sudah di pastikan?" Tanya pria separuh baya itu sambil menatap pria dengan kepala pelontos yang berdiri disisi kanannya. Tidak ada jawaban selain anggukan kepala kecil.
"Siapa mereka?"
"Wanita yang melaporkan bos Natan dengan kasus tabrak lari di bawah pengaruh Alkohol adalah seorang gadis muda bernama Raina Salsadila." Ucap pria jangkung dengan kepala pelontos itu.
"Raina Salsadila! Aku ingin nyawanya. Gara-gara rubah itu kakakku tewas di penjara. Akan ku pastikan ia akan menemui kematiannya dengan cara yang sangat menyakitkan." Sambung pria separuh baya itu lagi.
Masih teringat dengan jelas di memori pria separuh baya itu, kakaknya tiada di sel tahanan setelah seorang gadis muda melaporkan kakaknya pada pihak berwajib.
"Satu lagi bos, wanita yang membuat kekacauan di Clab kita adalah adik dari wanita itu, namanya Yuna Dinata." Lapor pria jangkung itu menegaskan.
"Ternyata rubah itu bersaudara, ini benar-benar berita besar." Ia berucap sambil tersenyum, entah kenapa senyum itu terlihat menakutkan.
"Kalian berenam dengarkan aku baik-baik, awasi setiap gerakan dua wanita itu. Aku ingin mereka hidup atau mati. Jika kali ini kalian gagal lagi, bukan hanya kalian, keluarga kalian yang akan membayarnya." Ucap pria yang di panggil bos itu dengan kemarahan yang membuncah. Sorot matanya sangat menakutkan, bahkan Iblis pun akan merinding.
...***...
Sementara itu di tempat berbeda, setelah mendengar ungkapan perasaan yang sangat menyentuh dari Prof. Zain, Yuna langsung menghampiri Vivi dan Arnela di kantin kampus mereka. Tidak seperti dua sahabatnya yang sedang menikmati makan siangnya, Yuna justru larut dalam pikiran panjangnya. Bahagia, takut, dan juga deg-degan. Setidaknya perasaan itulah yang saat ini memenuhi rongga dadanya.
__ADS_1
Hari ini waktu terasa berjalan sangat lambat, bahkan setelah berada di dalam kamarnya Yuna masih saja merasakan dilema.
Terima? Tidak? Terima? Tidak? Yuna yang malang, ia bahkan sampai merusak sepuluh tangkai mawar yang ada di atas nakas untuk mencari jawaban. Dan anehnya, jawaban yang ia peroleh selalu berakhir pada kata 'Tidak'.
"Ahhhhhh... Ini sangat membingungkan!" Gerutu Yuna sembari menghempaskan tubuh rampingnya di atas ranjang empuk yang ada di kamarnya.
Tok.Tok.Tok.
"Mas...." Ucapanan Yuna tertahan di tenggorokannya, kepala Mbok Dami malah menyembul dari balik daun pintu, kini Art separuh baya itu sudah berdiri di dekat ranjang tempatnya berbaring.
"Untuk apa Mbok meminta izin masuk kekamar Yuna? Bahkan sebelum Yuna memberi izin, Mbok sudah masuk duluan!" Protes Yuna sembari bangun dari tempat tidurnya, sekarang ia menatap Mbok Dami dengan tatapan lesu.
"Maaf non. Mbok rasa Mbok sudah terbiasa. Mulai sekarang Mbok akan masuk kekamar non Yuna setelah mendapat izin dari non Yuna." Balas Mbok Dami sembari memaksakan diri untuk tersenyum, terlihat penyesalan di balik senyum yang coba Mbok Dami pamerkan.
"Ada apa?" Yuna bertanya sambil menatap wajah Art separuh bayanya.
"Nyonya Hanum meminta non Yuna menginap di rumah tuan Sawn. Tadi pagi Tuan dan Nyonya berangkat ke Bandung. Mereka akan kembali besok siang bersama Nyonya Alya." Tutur Mbok Dami.
Mendengar penuturan Art separuh bayanya Yuna langsung tersenyum lebar. Ia berpikir, akhirnya ia menemukan solusi dari gundah gulananya. Saat hati di penuhi tanda tanya, tidak ada solusi yang lebih baik selain memilih teman bicara yang bisa menutupi rahasianya.
Dua jam berlalu sejak Yuna meninggalkan rumah besar kediaman Dinata, sekarang ia sudah berada di kediaman kakak jutek dan baik hati, Sawn Praja Dinata.
Untungnya Kakak lelakinya itu tidak berada di rumah, Yuna langsung menghambur kedalam pelukan kakak iparnya, Raina Salsadila. Sikap manjanya mulai kumat. Pelan Raina menepuk bahu adik iparnya itu tanpa melepas senyuman dari bibir tipisnya.
"Kak, teh-nya." Ucap Melati begitu ia berdiri di dekat dua wanita anggun sekelas Raina dan Yuna.
"Terima kasih."Ucap Raina pelan. Setelah itu Melati langsung menuju dapur, menghampiri bi Sumi dan Ega yang sedang sibuk dengan pekerjaan mereka.
"Kau yakin mau menginap disini?"
"Tentu saja, kak. Lagi pula Mama dan Papa yang memerintahkan itu."
Raina hanya bisa mengangguk mendengar penuturan Yuna.
__ADS_1
"Katakan, apa yang membuatmu terlihat resah?" Raina memulai percakapan seriusnya setelah mereka duduk di sofa.
"Re-resah? Siapa yang berani mengatakan itu?" Yuna terlihat gugup, seolah ia sedang terciduk karena melakukan dosa besar.
"Tidak ada yang mengatakannya. Hanya saja, itu terlihat jelas dari sorot matamu." Raina tersenyum sembari memandangi wajah gugup Yuna. Tidak ada gunanya berpura-pura.
"Iya... Kakak benar, saat ini aku sedang resah. Seorang pemuda datang dalam kehidupan tenangku." Tutur Yuna menyerah, ucapan Raina membuatnya merasa nyaman untuk mulai membuka diri.
"Kau tahu, ada dua cara untuk menjalani hidup ini. Salah satunya adalah dengan berpikir seolah-olah tidak ada keajaiban. Satunya lagi berpikir seolah-olah segala sesuatunya adalah keajaiban.
Aku termasuk orang yang selalu memandang segala sesuatunya seolah-olah adalah keajaiban. Entah itu bahagia atau kesedihan aku akan selalu menjalaninya dengan rasa syukur tanpa batas."Ucap Raina sambil memandang Wajah cantik Yuna.
Sedetik kemudian Raina meraih cangkir teh yang di letakkan Melati di atas meja dua menit yang lalu. Raina menyeruput teh yang sudah tidak panas lagi. Yuna juga meraih tehnya, teh hijau di sore hari akan terasa nikmat apabila di nikmati bersama teman bicara.
"Kau tahu? Menemukan seseorang kemudian jatuh cinta, itu sangat mudah. Yang tidak mudah itu mempertahankan rasa cinta itu hingga bertahan sampai menua bersama.
Aku berharap kau menemukan seseorang yang benar-benar mencintaimu dan menghormatimu!" Tutup Raina sambil tersenyum manis menghadap Yuna.
"Hari ini Prof. Zain mengungkapkan perasaan cintanya padaku, aku tidak tahu harus menanggapinya seperti apa! Aku pun butuh seseorang yang mencintaiku dan juga menghormatiku. Dan aku? Aku sama tidak mengenalnya!" Curhat Yuna tentang apa yang terjadi dua jam yang lalu.
"Jantungku selalu berdetak saat berada didekatnya, tapi aku bukan anak remaja yang akan menunjukan itu hanya karena aku terpesona pada paras indahnya." Sambung Yuna pelan, berharap Raina akan memberikan masukan pada setiap resah dan gelisah yang memenuhi rongga dadanya.
"Kakak bertemu dengan Prof. Zain hanya sekali saja. Kakak yakin dia orang yang baik, dia tidak mengatakan apa pun tentang perasaannya. Meskipun begitu, Kakak yakin dia tulus dalam mencintaimu.
Kakak tidak akan memintamu untuk menerimanya. Kakak hanya memintamu untuk mempertimbangkan dirinya. Tentang masa lalunya, kalian bisa melupakan itu bersama-sama. Dan tentang masa depan yang kalian inginkan kalian bisa merencanakannya bersama-sama.
Kekayaan, ketampanan, kecantikan, dan popularitas, semua orang membutuhkan itu. Jika menyangkut tentang hubungan, itu tidak diperlukan.Yang di perlukan dalam hubungan adalah cinta, kasih sayang, kesetiaan, dan rasa hormat." Ucap Raina menegaskan.
Yuna terlihat menganggukkan kepala. Melihat adik iparnya mulai tenang, Raina yakin Yuna sudah mendapatkan jawaban dari keraguannya, keranguan antara jawaban 'Ia' dan 'Tidak'.
Dalam setiap ruang kehidupan yang kita lalui, akan ada saat dimana kita membutuhkan sahabat, sahabat yang bisa di jadikan teman bicara untuk membagi resah dan gelisah, dengan harapan mendapat cahaya dari solusi terbaiknya.
Dan saat ini Yuna pun sama, ia membagi resahnya pada Raina. Meski itu bukan solusi sempurna, namun Yuna yakin semuanya akan baik-baik saja.
__ADS_1
...***...