
Sawn memandangi kantornya yang berantakan oleh robekan kertas yang dilempar Raina. Ia menghempaskan tubuh jangkungnya di sofa, sambil senderan ia memikirkan setiap kalimat yang ia lontarkan kepada gadis manis penyejuk pandangannya.
Yang semakin membuat hati Sawn gelisah, ia melihat gadisnya pergi dengan tangisan yang masih belum mengering dari netranya.
Apa aku benar-benar keterlaluan...? Lirih Sawn pelan. Sawn terus menerus mendesah menahan lelah beban hatinya. Ia masih duduk di sofa sambil senderan ketika Robin menerobos masuk tanpa izin darinya.
"Dasar tidak punya perasaan. Apa yang kamu lakukan sampai membuat Raina menangg....." Ucapan Robin terhenti di tenggorokannya ketika melihat ruangan Sawn yang berantakan, yang membuat Robin semakin miris wajah Sawn terlihat benar-benar prustasi, sama sekali tidak mencerminkan seorang pengusaha sukses yang digandrungi setiap orang tua yang ingin menjadikannya menantu idaman.
"Ada apa dengan anak ini, apa dia kerasukan setan? Seumur-umur ini pertama kalinya aku melihatnya selabil ini." Ucap Robin pelan berharap Sawn tidak mendengar apa yang ia katakan.
Sawn menatap Robin dengan tatapan tajam sambil melempar bantal sembarang.
Pletakkk!
Sebuah bantal mendarat tepat di wajah datar Robin. Melihat tatapan kesal Sawn, Robin pura-pura tersenyum sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Ada apa denganmu? Aku kemari karena melihat Raina menangis. Apa sekarang kau juga bertengkar dengan wanita? Dan apa pula semua kertas yang berserakan ini?" Robin mencoba mencari jawaban dari mata Sawn, sayangnya tidak ada apa-apa disana selain rasa keputus asaan.
Hhhhmm! Sawn menghela nafas dalam sambil beranjak dari tempat duduknya, berharap Robin tidak bertanya apapun karena ia sendiri tidak tahu jawaban apa yang harus ia berikan.
"Apa aku boleh bertanya...?"
"T-I-D-A-K!" Jawab Sawn menegaskan sambil menggerakkan tangannya kearah pintu. Berharap Robin segera pergi dan tidak mengganggunya lagi dengan pertanyaan yang sama.
"Baiklah. Karna aku adalah teman yang baik, aku akan meningalkanmu sendiri. Jangan berbuat yang aneh-aneh." Ucap Robin sambil beranjak meninggalkan Sawn yang masih berdiri mematung di samping Rak buku yang tersusun rapi di dalam kantornya.
Sawn menghempaskan tubuh jangkungnya lagi di sofa, ia berusaha memejamkan mata berharap semua yag terjadi tadi hanya mimpi. Sayangnya, semakin keras ia mencoba melupan kejadian itu semakin kuat suara tangis Raina di telinganya.
Ya Allah... Lirih Sawn pelan.
Ia menyebut nama Tuhan yang ia lupakan dalam jangka waktu yang cukup lama. Itu menandakan betapa labilnya ia saat ini, berharap dengan menyebut nama yang kuasa akan menenangkan hatinya.
Allazina amanu wa tatma innu qulubuhum bizikrillah, ala bizikrillahi tatma innul-qulub
(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram. (Qs. Ar-Ra'd: 28).
...***...
__ADS_1
Senja baru saja muncul dari peraduannya ketika Raina beranjak dari tempat duduknya. Mencari masjit terdekat untuk melaksanakan Shalat magrib, banyak hal yang akan ia luapkan. Rasanya lahar-lahar panas di hatinya akan melumpuhkan akalnya.
Siapa yang tidak ingin melihat Sawn setiap saat? Ia tampan. Banyak wanita yang mengiginkannya. Segala kualitas yang di butuhkan seorang wanita untuk menjadi Ratu tersedia di tangannya.
Tapi dia Raina, seorang wanita sederhana yang selalu mejaga prinsip hidupnya.
Harga diri seorang wanita terletak bagaimana ia menjaga dirinya. Dan itu harga mati baginya.
Tinggal seatap dengan seorang pria tampa ikatan? Dan ancaman untuk orang-orang tersayangnya terasa bagai lumpur yang menenggelamkan dirinya semakin dalam. Untuk bernafas saja terasa menyakitkan, jika ia tidak mengeluarkan segala keluh-kesah di hatinya kepada Tuhannya, lalu kepada siapa ia akan kembali?
Lagi-lagi Raina meneteskan air mata, segera ia hapus dengan punggung tangannya berharap orang yang berlalu lalang di sekitarnya tidak menyadari kepedihan hati terdalamnya.
Tiit..tiit...tiit.
Ponselnya bergetar, dilihatnya kata 'Ibu tersayang' terpampang disana. Namun Raina memilih untuk mengabaikannya karena ia tidak mau ibunya mengetahui jeritan hatinya.
Hal yang paling menyakitkan bagi Raina saat ini, ia merindukan ibunya namun ia tidak bisa melihat dan mendengar suaranya.
Allahu akbar... Allahu akbar.
Ashadualla ilaha illallah.
Ashadu anna Muhammadar Rasulullah.
Suara Azan menggema dari aplikasi yang ada di ponsel Raina, tak ingin larut dalam skema prasaannya, ia segera beranjak meninggalkan taman yang didudukinya sejak lima jam terakhir.
Sepuluh menit kemudian Raina memasuki masjid yang berlokasi dekat jalan Raya. Jama'ah nya tidak terlalu banyak, hanya ada beberapa wanita yang menjadi makmum. Sementara jama'ah laki-laki hanya terdiri dari dua saff yang berdiri di belakang imam.
Allahu Akbar...
Semua jama'ah larut dalam merdunya latunan surah Al-Jumu'ah yang di bacakan imam sholat. Tak terasa air mata Raina kembali tumpah membasahi mukena yang ia gunakan.
...***...
"Ini sudah malam, kenapa anak itu belum pulang juga. Apa dia lupa jalan pulang...?" Lirih bu Rahayu sambil menghempas tubuhnya di sofa ruang tamu yang menghadap ke-gerbang.
"Mbak yu...mbak yu, Raina itu sudah besar, sebentar lagi juga Raina pulang." Balas Bu Romlah sambil tersenyum melihat tingkah kakaknya yang mulai tidak sabaran.
__ADS_1
"Bukannya mbak tidak percaya padanya!Hanya saja mbak sedikit khawatir, takutnya anak cengeng itu akan menangis disuatu tempat."
"Menagis? Eeee..Tidak mungkin." Ucap bu Romlah tidak percaya.
"Apa nya yang tidak mungkin Rom...? Mbak sangat takut melihat anak itu menangis. Melihatnya menangis membuat mbak merinding." Air mata mulai menetes dari sudut mata bu Rahayu. Bu Romlah mamahami kegelisahan kakaknya itu. Ia memeluk bu Rahayu sambil menepuk-nepuk pundaknya pelan.
"Apa ketakutan mbak yu karna Chen? Sekarang Chen sudah tenang. Mbak yu tidak perlu khawatir lagi."
Hhhhmm! Bu Rahayu menghela nafas sambil memandangi wajah Bu Romlah, mencoba mencari jawaban disana, apakah ia bisa mempercayai ucapan adik sok bijaksananya. Ntah kenapa ia ingin mempercayainya, namun ketakutan masih saja menghantuinya, seolah-olah ketakukan itu sudah menjadi teman sejatinya.
...***...
Raina duduk bersimpuh di atas sejadah sambil mengangkat kedua tangannya.
Ya Allah aku datang untuk mengetuk pintumu. Rahmatmu, berkahmu, dan ampunanmu. Bimbing langkah kakiku menuju kearahmu. Genggam erat tangan ku, dan jangan biarkan aku tersesat jalan.
Raina mulai menangis dalam do'a nya.
Ya Alah.
Hati wanita seperti kaca. Jika kaca itu rusak maka tidak akan bisa di perbaiki. Hatiku tidak seteguh Sayyidah Fatimah Azzahra, aku begitu lemah sampai tidak bisa bediri lagi.
Raina terisak dalam do'a nya. Untungnya tidak ada orang yang akan mendengar rintihan hatinya kecuali Rabb nya.
Ya Allah, tak seharusnya ku permainkan perasaanku. Jika aku tidak jatuh cinta mungkin aku tidak akan sesakit ini. Laki-laki itu, dengan ucapan kasarnya berani mengancam atas nama keluarga yang kukasihi. Apa yang harus ku lakukan Rabb ku? Berikan aku keteguhan dalam menentukan pilihan terbaik sesuai tuntunanmu.
Ya Allah. Aku berlindung kepadamu dari rasa gelisah dan sedih. Dan aku berlindung kepada-mu dari kelemahan dan kesewenang-wenangan orang.
Ya Allah, Engkau Tuhan-ku. Tiada Tuhan kecuali engkau. Engkau ciptakan aku dan aku adalah hambamu. Aku memegang teguh janji-mu semampuku. Aku berlindung kepadamu dari keburukan perbuatanku. Aku mengakui banyaknya nikmat (Yang egkau anugrahkan) kepadaku, dan aku mengakui dosa-dosaku, maka ampunilah aku. Karena sesungguhnya tiada yang sanggup mengampuni dosa-dosa melainkan engkau.
Raina mengakhiri keluh kesahnya dengan segala pengharapan melebihi luasnya samudra. Dilema yang tadinya ia rasakan seolah menguap ke-angkasa. Dengan segala kenyakinan dan kepasrahan jiwa seutuhnya kepada Rabb yang menggenggam kehidupannya, ia nyakin semuanya akan baik-baik saja. Diraihnya ponselnya di dalam tas kemudian menulis pesan singkat.
Ada yang ingin ku katakan. Dimana kita bisa bertemu?
Hhhuuuuhhh...! Raina membuang nafas lega. Sembari membaca pesan balasan yang ia terima.
Aku dikantor. Datanglah.
__ADS_1