Mencintai Bodyguard Saleha

Mencintai Bodyguard Saleha
Meeting Friend (Part2)


__ADS_3

"Ruan. Hay..." Raina menyapa dengan wajah sumringah. Bertahun-tahun tidak bertemu membuatnya sangat bahagia, mungkin ini yang di katakan takdir, pertemuan tanpa disengaja.


"Do you know her?" (Kau mengenalnya?) Robin bertanya karena ia benar-benar sangat penasaran. Bagaimana mungkin seorang Bodyguard seperti Raina bisa mengenal Mr.Ruan seorang pengusaha besar dari Sanghai, setidaknya itu yang di pikirkan Robin, Sawn juga memikirkan hal yang sama namun ia lebih memilih untuk diam.


"Of course. She is my first love." (Tentu saja, dia cinta pertamaku) Guyon Ruan bahagia, tawanya bahkan membuat Sawn kesal.


Sepertinya bekerja sama dengan laki-laki ini adalah keputusan yang salah. Bagaimana aku bisa menangani kondisi ini? Sawn mendengus kesal karena merasa tidak aman.


"Sob... Sepertinya lawan kali ini sedikit berat. Kita harus pastikan dia jauh dari nona sendirian." Bisik Robin di telinga Sawn.


Ingin rasanya Sawn berbisik kembali di telinga Robin dan mengatakan 'Apa kau sudah tidak waras, untuk apa aku mengikuti saranmu' namun ucapan itu tertahan di tenggorokannya karena melihat sepasang makhluk indah di depannya saling membalas senyuman.


"Apa aku sudah kalah sebelum Raina tahu perasaanku yang sebenarnya? Entahlah! Yang jelas aku bukan tipe orang yang mudah menyerah." Gumam Sawn sembari mengambil posisi duduk di sofa seperti semula.


"Kamu, tunggu di luar." Ucap Sawn pada Raina.


Dengan suka rela Raina beranjak pergi, sebelum pergi ia hanya memberikan isyarat pada laki-laki yang bernama Ruan kalau ia akan menunggu di luar. Dan yang membuat Sawn sangat kesal, peria asing ini tidak melepaskan pandangannya dari Raina sampai gadis itu menghilang dari balik daun pintu.


"Kita lanjutkan pekerjaan kita?" Tanya Sawn sembari pura-pura tersenyum.


Ternyata benar, pura-pura bahagia lebih mudah dari pada pura-pura sedih. Lihat saja diriku hari ini, aku pura-pura tertawa di depan si payah ini. Gumam Sawn dalam hatinya sembari menatap Ruan yang masih sibuk dengan dokumen di tangannya.


"Mr.Ruan... Kami sangat berterimakasi atas sambutan hangat anda untuk kerjasama yang menguntungkan ini." Ucap Sawn di sela-sela kesibukan mereka.


Mr.Ruan hanya membalasnya dengan senyuman. Sepersekian detik kemudian mereka kembali sibuk dengan pembahasan kontrak kerja selama dua tahun kedepan.


...***...

__ADS_1


Nak kapan kau pulang? Ibu sangat merindukanmu...โค๐ŸŒนโค


Pesan singkat yang di kirim bu Rahayu membuat Raina tersenyum, ia sangat bahagia memiliki ibu sebaik bu Rahayu. Lagi-lagi air mata mengambil andil dalam kebahagiaan Raina.


"Kak Raina, kakak kenapa? Apa pak Sawn membuat kakak kesal lagi? Aku benar-benar payah, seharusnya aku tidak membiarkan kakak masuk keruangan itu tanpa di temani siapa pun." Ucap Rita penuh penyesalan.


"Aku tidak apa-apa. Aku hanya teringat ibu di rumah." Balas Raina sembari menepuk pundak Rita.


"Kak, kehadiran rekan bisnis pak Sawn di tempat ini akan membawa keuntungan besar bagi perusahaan kita. Apa kakak tahu, dia sangat tampan..." Rita tersenyum sambil membayangkan wajah orang yang ia bicarakan.


"Kalau aku bisa melihat wajah itu seumur hidupku, aku sanggup puasa senin kamis bahkan puasa Daud seumur hidupku." Gumam Rita sambil tersipu malu.


"Hai nona manis... Apa kau yakin kau baik-baik saja?" Raina menepuk pelan pundak Rita, rona bahagia gadis itu terlihat luar biasa.


"Oo iya kak... Ketika pak Yanto keluar dari ruangan boss, beliau sempat bilang kalau tamu asing itu mengenal kakak. Apa itu benar?" Rita bertanya karena ia sangat penasaran.


Raina memandangi wajah gadis di depannya, gadis pendiam yang berubah menjadi ceria. Sama seperti gadis di depannya menganggapnya kakak, Raina pun menganggapnya seperti adik sendiri.


Samar-samar kenangan masa lalu mengusik ketenangan Raina, Ia menghapus butiran air mata yang jatuh di pipinya. Ada kesedihan yang terasa begitu sesak menggerogoti jiwanya.


...***...


Empat puluh lima menit berlalu dalam hitungan yang teramat cepat bagi Ruan. Ia menjentikkan jarinya yang kemudian di ikuti oleh Bodyguard nya untuk membereskan semua dokumen dan memasukkannya kedalam tas kerja.


"Thank you Mr.Sawn. See you later." Ruan menyodorkan tangannya yang kemudian di ikuti oleh Sawn. Mereka berjabat tangan sambil saling membalas senyuman.


Sawn masih berdiri mematung ketika Ruan beranjak dari ruangannya. Setelah Ruan menghilang dari balik daun pintu, Sawn baru ingat lelaki asing itu pasti akan menemui Raina, setidaknya itu yang ada di benaknya.

__ADS_1


"Hai... Kau mau kemana?" Robin membuka suara diantara senyapnya udara, Sawn tidak memperdulikan ucapan sahabat sekaligus sekertarisnya itu. Ia berjalan menuju pintu, dan pelan membukanya.


Glekkkk!


Begitu Sawn membuka pintu, ia langsung menelan salivanya. Di dapatinya Gadis impiannya sedang bertegur sapa bersama si Ruan rekan bisnisnya. Melihat keintiman mereka Sawn kesal sembari mengepalkan tangannya.


Oh my god! Sepertinya si payah ini akan jadi masalah. Lirih Sawn pelan sembari berjalan mendekati dua orang yang berdiri tak jauh darinya.


"I don't think so." Samar-samar Sawn mendengar ucapan Raina.


Entah apa yang di ucapkan si payah ini sampai membuat Raina ku tersenyum. Lirih Sawn pelan.


Raina ku! Sawn tertawa bahagia di dalam hatinya, bagaimana mungkin Raina bisa menjadi Rainanya sementara ia tidak pernah mengungkapkan isi hatinya.


Dan sekarang lihat lah... Ia sangat kesal melihat pemandangan dua anak manusia yang saling membalas senyuman.


"Okay Raina, i have to go now. Send my regards to your family." (Okay Raina, saya harus pergi sekarang. Sampaikan salam saya untuk keluargamu). Tutup Ruan sembari melambaikan tangannya. Raina mengangguk pelan, ia masih melambaikan tangannya ketika Sawn berdiri tepat di sampingnya.


"Dia sudah pergi. Apa kamu perlu melambaikan tangan seperti itu? Dasar payah." Cecar Sawn.


"Apa? Payah? Dengar pak Sawn Praja Dinata yang terhormat, sekarang saya tidak takut lagi pada anda, dan saat ini saya sedang bahagia jadi saya tidak mau berdebat. Permisi." Ucap Raina sembari meninggalkan Sawn yang masih berdiri mematung di depan Pantry.


Gadis aneh ini mulai berani menatap mata ku. Dan menurutku... Itu sangat manis. Ucap Sawn sambil tersenyum bahagia.


Bulan, Bintang, Matahari, Bunga-bunga dan sesuci tetesan embun di pagi hari. Semuanya menjadi saksi kegelisahanku, aku gelisah, sangat gelisah, masih ada jarak di antara kita, walaupun begitu aku yakin, sangat yakin, akan ada masa dimana kita akan melewati musim semi untuk bahagia. Lirih Sawn pelan setelah Raina menghilang dari netranya.


Dua sahabat lama ini sudah bertemu, apa yang harus ku lakukan untuk menjauhkannya! Tidak...Tidak. Aku tidak sejahat itu untuk menjauhkan sahabat yang sudah lama tidak bertemu. Tapi, bagaimana jika aku kehilangan Raina dalam pertemuan singkat mereka. Aku tidak bisa meremehkan si kulit pucat itu. Gumam Sawn sembari berjalan menuju kantor sunyinya.

__ADS_1


Terkadang dalam setiap perputaran waktu kau akan di pertemukan dengan orang yang kau kenal di masa lalu, sama seperti Ruan dan Raina.


...***...


__ADS_2