
Aku telah menemukan jejakmu. Kini Suka dan Dukamu akan menemani setiap langkah dalam kehidupanku. Kan ku genggam tanganmu sampai di ujung usiaku. Sawn Praja Dinata.
Pelan Sawn membuka Email yang di kirimkan Detektip yang ia sewa untuk mencari impormasi tentang masa lalu Raina. Perlahan ia mulai membaca kata demi kata.
Sawn tersenyum mengetahui bahwa wanita idamannya ternyata tidak selemah yang ia kira. Mata Sawn terbelalak ketika ia sampai pada bagian terakhir laporan detektip suruhannya.
Raina Salsadila tinggal di pantai Asuhan sejak berusia delapan tahun. Sejak Ayah dan Ibunya tiada, dia di adopsi oleh Pasangan suami istri yang berasal dari Kota malang, namun menetap di Jakarta sejak tahun 1990.
Pasangan Rakus dan kejam itu memaksa Raina Salsadila mengemis di jalanan. Setiap ada kesempatan dan kurangnya pendapatan ia akan gelap mata dan menyiksa Raina Salsadila tampa ampun.
Sanggupkah aku bertahan jika aku ada di posisimu? Lirih Sawn sedih.
Sawn membaca rekam medis milik Raina, disana di jelaskan Raina pernah mengalami patah tulang yang hampir merenggut nyawanya.
Sawn meneteskan air mata tanpa mengeluarkan suara. Seluruh tubuhnya bergetar merasakan sakit yang pernah di alami Raina. Beberapa Foto terselip dalam amplof, gambar anak kecil berpakaian lusuh yang di yakini Sawn sebagai Raina. Dan sepasang foto yang merupakan orang tua angkat Raina.
"Jadi kalian orangnya? Akan ku pastikan kalian bersujut di bawah kaki Raina ku!" Lirih Sawn sambil meremas Foto yang ada di tangannya, dan membuangnya kesembarang arah.
Sawn berjalan mendekati pintu, pelan membukanya. Disana masih ada Raina dan rekan-rekan Bodyguard nya, entah apa yang mereka bicarakan sampai tiga laki-laki di depannya tertawa lepas. Sementara Raina, ia hanya tersenyum tampa memperlihatkan gigi putihnya.
Sawn sangat menyukai itu, gadis yang dipilih hatinya menjaga sikap di depan pria yang tidak halal baginya.
...***...
Disebuah Sekolah bertarap Internasional duduk seorang remaja sambil melipat tangan di lututnya, kepalanya tertunduk, ia menangis tidak bisa menahan pedih dihatinya.
"Apa salahku sampai mereka menghinaku!" Ucap Anak itu dengan derai air mata. Kali ini ia mulai sesegukan. Untunglah tidak ada yang melihatnya.
"Aku tidak pernah mengganggu kalian. Kenapa kalian harus menggangguku. Hikk...Hikkk. Hikkk." Anak itu menangis seperti anak perempuan yang mehilangan, tidak perduli lagi suara gema tangisnya memenuhi Ruang Olahraga Basket kesukaannya.
"Tidak bisakah kalian meninggalkanku sendiri tampa harus menggangguku? Aku benci kalian semua." Ucap Anak itu lagi sambil mengepalkan tangan kanannya.
Diraihnya tas di samping kirinya, mencari sesuatu yang tampak berharga baginya. Sebuah kertas yang ia lipat di dalam buku Bahasa Inggri.
Pelan ia membaca alamat yang 'tertera, dan tanpa ragu lagi bocah itu langsung melangkah meninggalkan sekolah.
Ia menghapus sisa-sisa air matanya, tidak ingin satpam di depan gerbang menanyainya pertanyaan yang tidak ingin dijawabnya..
"Eehh, nak Andre mau pulang?" Andre tersenyum sambil menganggukan kepala.
"Nak Andre tidak di jemput?" Tanya security itu lagi. Kali ini Andre menggelengkan kepalanya.
Andre memang cukup terkenal di lingkungan Sekolah tempatnya menimba ilmu, maklum saja bocah itu sangat pandai disemua bidang mata pelajaran. Ia bahkan menjadi langganan juara satu di Lomba Olimpiade Matematika dan Fisika. Sungguh di luar dugaan.
"Ya sudah. Nak Andre hati-hati di jalan." Ucap Security separuh baya itu sambil memamerkan senyuman.
__ADS_1
Andre meninggalkan lingkungan sekolah yang menyesakkan dadanya. Bully yang di lakukan teman-teman sebayanya benar-benar mempengaruhi jiwanya. Semoga bocah malang itu tidak terlalu larut dalam kesedihannya.
...***...
Waktu menunjukan pukul 17.30 ketika Raina dan Sawn memasuki Garasi rumahnya. Sawn keluar dari mobil sambil melempar tas kerjanya di pangkuan Raina.
Ia berjalan memasuki rumah tampa menoleh kearah Raina. Ia tersenyum membayangkan wajah kesal Raina, karna sesungguhnya ia sangat senang mengganggu wanita pilihan hatinya.
"Dasar aneh. Kenapa juga aku harus perduli padanya. Sudah tabiatnya mengganggu orang." Ucap Raina kesal.
"Tuan muda sudah pulang, tuan mau minun apa...?" Sapa bi Sumi sambil mencuci tangannya.
"Tidak perlu. Saya akan langsung kekamar." Ucap Sawn sambil menuang air dingin di gelas kemudian meneguknya.
"Neng Raina mau makan...?" Tanya bi Sumi lagi begitu Raina muncul di depannya.
"Nanti saja, bu. Saya mau membersihkan diri sambil menunggu Magrib." Jawab Raina sopan kemudian beranjak kekamarnya.
"Neng Raina itu sangat baik, tadi pagi saja dia mengajar bibi membaca Al-Quran di kamarnya." Cerita bi Sumi pada Sawn sambil membayangkan aktivitas ngajinya.
Sawn terlihat heran. Tidak percaya.
"Benarkah?" Tanyanya Ragu.
"Ya sudah, saya akan kembali kekamar." Ucap Sawn sambil tersenyum. Wajahnya memancarkan aura kebahagiaan. Melihat itu bi Sumi turut bahagia. Dalam hatinya pembantu separuh baya itu mendoakan kebahagiaan tuannya.
...***...
Sementara itu di luar gerbang rumah Sawn Praja Dinata, duduk seorang anak laki-laki untuk mencari orang yang sangat di rindukannya. Sesekali ia menoleh kedalam rumah besar itu.
Ketika security melihatnya, ia buru-buru bersembunyi.
Berkali-kali anak lelaki itu melakukan hal yang sama, sampai membuat security merasa kesal di buatnya.
"Hai kamu! Apa yang kamu lakukan disana?"
Suara itu berhasil membuat anak lelaki itu ketakutan. Ia bahkan sampai tidak berani melihat wajah orang yang bicara padanya.
"Sasa...sasa." Anak itu gugup tanpa sebab. Ia bahkan tidak bisa bicara karna ketakutan.
"Tidak ada Sasa disini. Jika kamu tidak memiliki kepentingan, sebaiknya kamu segera pulang. Kasihan orang tuamu, mereka akan khawatir." Ucap Security itu sambil memegang pundak anak lelaki yang masih terlihat ketakutan.
"Sasa...Saya ingin bertemuuu Kakak. Kak R-A-I-N-A. Nama sayaaa A-N-D-R-E." Ucap anak itu gugup.
"Oh... Neng Raina. Kenapa kamu tidak mengatakannya sejak tadi. Ayo masuk." Ucap Security itu sambil membuka gerbang.
__ADS_1
Sementara itu dikamarnya, Raina sedang membaca Al-Quran sambil menunggu waktu Salat Magrib yang akan masuk kira-kira sepuluh menit lagi.
Tokk.Tokk.Tokk.
Suara ketukan pintu berhasil membuat Raina menghentikan bacaannya.
"Adik non Raina ada disini!" Ucap bi Sumi tanpa basa-basi.
Adik? Raina tercengang tidak percaya, bagaimana mungkin adiknya berada di rumah Sawn Praja Dinata. Hal yang mustahil, pikirnya.
Semenit kemudian seorang anak berjalan kearahnya sambil menangis, itu membuat Raina semakin terkejut.
"Andre, sayang." Ucap Raina sambil mengelus pundak adiknya yang menangis sambil sesegukan.
"Katakan, apa yang membuat adik ku yang tampan ini menangis seperti anak perempuan." Goda Raina setelah Andre terlihat tenang.
"Kakak, aku tidak ingin sekolah. Aku benci sekolah itu dan anak-anak yang ada dalam kelasku." Ucap Andre sambil merunduk. Ia memperlihatkan sikap keputusasaannya di depan Raina.
"Baiklah. Kakak mengizinkanmu untuk berhenti sekolah. Katakan, kapan kakak harus datang kesekolahmu itu?" Ucap Raina sambil memegang dagu Andre.
Sawn merasa haus dan terpaksa harus turun kelantai bawah dan tidak sengaja mendengar pembicaraan Raina. Ia sangat terkejut mendengar ucapan Raina.
Mendengar ucapan kakaknya Andre diam sambil memandangi wajah yang sangat dirindukannya itu.
"Kakak macam apa dia? Bisa-bisanya dia mengizinkan adiknya berhenti sekolah. Apa dia ingin menjadikan adiknya seorang Bodyguard seperti dirinya." Lirih Sawn kesal. Raina dan bi Sumi tidak menyadari keberadaan Sawn. Karna Sawn tidak ingin membuat mereka canggung dengan kehadirannya.
"Aku tahu kakak sedang marah saat ini, karna itu kakak berkata seperti itu, kan?" Ucap Andre sambil menggenggam jemari Raina dengan kedua tangannya.
"Marah? Bagaimana wajah tersenyum seperti itu dibilang marah. Dasar bocah nakal, kau lebih nakal di bandingkan dengan kakakmu." Ucap Sawn lagi pada dirinya sendiri.
"Jika dibilang marah? Ya, kakak sangat marah. Kakakmu ini bukan Singa betina yang akan langsung menggigitmu jika melakukan kesalahan. Sekarang katakan pada kakak apa yang membuatmu menangis?"
Sawn memandang heran pada dua saudara yang bertingkah sangat romantis itu, ia sendiri tidak pernah berbincang seintim itu bersama Yuna.
"Teman sekelasku tidak ada yang mau berteman dengan ku, mereka bilang aku hanya nyamuk yang berkeliaran di antara segerombolan orang kaya hanya untuk menghisap darah, sejak aku memasuki sekolah itu tidak seharipun aku merasa tenang. Mereka selalu membully ku seolah aku hanya sampah.
Hari ini batas kesabaranku mulai terkikis. Mereka tidak hanya menghinaku, mereka menghina kakak, dan mereka juga menghina ibuuu." Air mata Andre mengalir semakin deras.
Sawn yang mendengar pembicaraan adik dan kakak itu juga ikut meneteskan air mata. Anak orang kaya mana yang berani menghina temannya sampai separah itu?
"Apa kamu masih ingat apa yang sering kakak katakan jika ada orang yang berani menghinamu....?" Tanya Raina sambil mengapit wajah Andre dengan kedua tangannya. Andre mengangguk sambil tersenyum.
Jika ada kata yang melukai hati, menunduklah dan biarkan ia melewatimu. Jangan di masukkan dalam hati agar hatimu tidak lelah. Ucap Raina dan Andre bersamaan, mereka berdua tersenyum, Raina memeluk Andre dengan punuh kasih sayang membuat Sawn merasa iri padanya.
...***...
__ADS_1