Mencintai Bodyguard Saleha

Mencintai Bodyguard Saleha
Kunjungan Tante Alya


__ADS_3

Ega membersihkan lantai sambil bernyanyi, suara cemprengnya benar-benar membuat Melati merinding. Tanpa direncanakan, dua gadis muda itu beradu mulut sampai saling mendorong pelan.


"Kalau gak bisa nyanyi mending gak usah sekalian, suara mu membuat teliga ku jadi berdengung." Gerutu Melati tanpa menghiraukan bi Sumi yang menatap mereka berdua dengan tatapan heran.


"Gak apa-apa Melati! Biarkan Ega menikmati waktu paginya dengan senang hati." Ucap Raina sambil menepuk pundak Melati.


"Nyonya kapan datang? Ah, maaf. Maksud saya, kak Raina kapan datang?"


"Dari tadi. Sejak kalian saling beradu mulut sampai saling dorong. Untungnya kalian tidak sampai saling jambak. Jika itu terjadi, itu pasti akan jadi berita besar." Ucap Raina sambil menunjuk kearah Sawn yang sedang berjalan pelan menuruni anak tangga.


"Tu-an ada di-si-ni?" Ucap Ega dan Melati dengan suara gugupnya.


"Tenang saja, pak Sawn tidak sempat melihat perdebatan kalian." Sambung Raina sambil berjalan kearah bi Sumi yang masih memandang kesal pada dua gadis muda yang berdiri tidak jauh darinya.


"Selamat pagi, tuan." Sapa Ega dan Melati berbarengan. Mereka terlihat kompak, walau sebelumnya mereka terlibat adu mulut.


"Ia, selamat pagi." Balas Sawn singkat.


"Kalian kenapa? Apa kalian bertengkar lagi?" Tanya Sawn sembari menarik bangku tempatnya biasa duduk untuk sarapan..


"Be-bertengkar? Apa mak-sut tuan?" Ucap Melati dan Ega dengan wajah terkejut.


"Ya... Biasanya aku sering mendengar suara gaduh kalian berdua, aku tahu kalian sedang bertengkar. Hanya saja, aku tidak ingin terlibat supaya kalian tidak merasa terganggu dengan keberadaanku." Ucap Sawn pelan sembari menahan tawa.


Gdebukkkkkkk! Bagai mendapat hantaman keras, mendengar pernyataan tuannya Ega dan Melati saling tatap dengan tatapan kosong. Mereka merasa malu.


Sejujurnya Sawn tidak pernah melihat dua gadis muda itu bertengkar, hanya saja ia ingin mengerjai dua gadis yang berdiri di depannya itu agar tidak selalu berisik.


"Apa yang kau lakukan? Kau menakuti mereka." Ucap Raina sambil menumpahkan air mineral untuk Sawn. Mendengar protes Raina, Sawn hanya bisa tersenyum saja. Sedetik kemudian ia melirik kearah Ega dan Melati, benar saja wajah gadis muda itu terlihat pucat karena ketakutan.


"Kalian tidak perlu memasukkan ucapanku kedalam hati, aku hanya bercanda." Ucap Sawn.


Bercanda? Tuan bilang dia bercanda? Apa itu wajah orang yang sedang bercanda? Dia terlihat menakutkan, entah dia bercanda atau tidak raut wajahnya sama saja! Gumam Ega dalam hatinya.


Sementara Melati, ia hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal, sedetik kemudian netranya menatap Raina yang saat ini sedang menyajikan sarapan untuk tuannya.

__ADS_1


Lima menit berlalu sejak Sawn menyelesaikan sarapannya. Tangan Raina melingkar di lengan sawn sambil berjalan pelan menuju pintu depan.


Setiap pagi Raina selalu mengantar Sawn sampai pintu depan hanya untuk mengatakan 'Hati-hati di jalan, sesibuk apa pun pekerjaanmu jangan lupa Salat' sungguh, ucapan singkat yang selalu Raina ucapkan setiap paginya bagai alarm yang terus aktip dalam pikiran Sawn Praja Dinata.


Sawn yang dulunya mengabaikan setiap perintah Tuhannya berubah hanya dalam hitungan bulan saja karena Raina selalu mengingatkannya dengan ucapan yang sama.


Teman yang baik itu ibarat penjual minyak wangi. Kau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalau pun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sawn sangat tahu itu, karena itulah ia merasa sangat diberkati memiliki Raina yang selalu berdiri disisinya.


Nasihat-nasihat kecil yang selalu Raina ingatkan padanya bagaikan hujan yang mencuci bersih hatinya. Ia merasa tenang dan ia merasa bahagia.


Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?


Sawn tersadar dari lamunannya ketika Raina menepuk pelan tubuh kekarnya.


"Ada apa? Apa ada hal yang mengganggumu? Katakan padaku!" Tanya Raina khawatir.


"Tidak ada. Aku hanya sedang berpikir, berada di dekatmu membuat jantungku berdebar sangat cepat. Haruskah aku kekantor? Atau dirumah saja memandangi pesona luar biasa Rainaku?"


Raina terkekeh mendengar guyonan Sawn yang sama sekali tidak lucu.


Sawn mengangguk, kemudian tersenyum.


"Aku berangkat!" Ucap Sawn singkat. Kali ini giliran Raina yang balas mengangguk.


Baru saja Raina akan berbalik, tiba-tiba Sawn menarik pergelangan tangannya sembari berujar 'Ada yang ketinggalan'


"Apa?" Tanya Raina penasaran.


"Sedekah pagi." Balas Sawn singkat kemudian melayangkan kecupan di kening Raina.


...***...


Waktu menunjukkan pukul 10.30 ketika Raina bergegas meninggalkan kamarnya, hari ini tekadnya sudah bulat. Ia akan mengunjungi Panti, dan sorenya akan merayakan syukuran untuk Andre yang sudah hatam tiga puluh Juz Al-Qur'an.


Raina sangat bahagia untuk setiap prestasi yang di peroleh adik-adiknya. Dan di antara semua hal yang Ada, Raina paling bangga ketika adik-adiknya bisa membaca Al-Quran dengan lancar dan tartil.

__ADS_1


Bahkan si bungsu Amel yang belum bisa baca tulis, Raina ajarkan dengan metode mendengarkan. Beruntungnya, anak manis itu bisa menghafal setengah Juz Amma walau dengan suara cadelnya.


"Raina, sayang!"


Baru saja Raina membuka pintu, di depannya sudah ada bu Alya yang berdiri sembari menenteng buket bunga Mawar kesukaannya.


Bu Alya terseyum, namun matanya menjelaskan sebaliknya. Ada kerinduan besar yang terpendam, seolah kerinduan itu bagai racun yang menggerogoti jiwanya.


Bu Alya terlihat kurus, entah beban apa yang memberatkannya, Jauh di dalam hati Raina, ia benar-benar kasihan pada wanita yang sekarang sudah menjadi anggota keluarganya itu.


"Tante Alya ada disini?"


"Apa kau akan pergi? Sepertinya tante mengganggumu." Balas bu Alya sembari menyodorkan buket bunga pada Raina.


"Aku akan mengunjungi ibu ku. Karena tante ada disini, tidak apa-apa, aku bisa berkunjung di lain waktu." Ucap Raina sambil meraih pergelangan tangan bu Alya, mempersilahkan wanita anggun yang seusia dengan bude Romlahnya itu masuk kedalam.


"Melati, tolong buatkan minuman hangat untuk tante Alya. Kami akan menunggu di balkon." Ucap Raina begitu Melati muncul di depannya.


"Baik kak."


Dua menit kemudian Raina dan bu Alya duduk di balkon lantai dua. Tatapan tajam bu Alya mengabarkan kalau ia sedang dalam keadaan kurang baik.


"Tante Alya apa kabar?" Raina membuka suara diantara senyapnya udara.


"Semalam Sawn cerita, tante ada di Bandung! Apa semuanya baik-baik saja?" Raina kembali mengurai tanyanya, hanya untuk mengalihkan perhatian bu Alya dari beban beratnya.


Apa tante Alya merindukan Andre? Sudah lama sekali sejak peristiwa di pusat perbelanjaan itu! Haruskah aku mengatur pertemuan tante Alya dengan putranya? Bagaimana caraku? Aku bahkan belum mengatakan apa pun pada ibu, jika dia tahu segalanya, dia pasti marah besar! Gumam Raina panjang kali lebar dalam hatinya.


"Tante tidak punya hak apa pun pada putra tante sendiri, tante hanya ingin mengucapkan terima kasih pada ibumu karena sudah merawat Andre dengan sangat baik. Sayangnya, tante tidak sanggup menatap wajah ibumu." Ucap bu Alya dengan nada suara berat. Air mata mulai menetes dari sudut matanya.


Raina ikut larut dalam kesedihan bu Alya.


Entah cara apa yang akan di tempuh Raina untuk membantu bu Alya agar mendapatkan pelukan putranya, pelukan yang sangat dirindukannya di sepanjang masa.


...***...

__ADS_1


__ADS_2