Mencintai Bodyguard Saleha

Mencintai Bodyguard Saleha
Penantian


__ADS_3

Huh...! Raina membuang nafas, lega. Akhirnya setelah seharian sibuk berkutat dengan pekerjaan ia bisa kembali ke kamarnya dan berbaring di tempat tidur yang ia rindukan. Tangannya meraih ponsel yang ia letakkan di atas nakas.


Mata Raina terbelalak melihat ada pesan vidio.


"Ayo kita lihat, video apa ini?" Ucap Raina sambil memperbaiki bantal yang mengganjal kepalanya.


Raina tersenyum melihat vidio yang di kirimkan Robin. Ia tidak bisa menebak kenapa Robin mengirimkan vidio yang memperlihatkan wajah cemberut Sawn. Bagaimana pun juga, ada rasa syukur di dalam hati Raina. Wajah yang di rindukannya muncul di ponselnya. Belum Selesai Raina melihat vidio yang di putarnya, sebuah pesan masuk dan ia buru-buru membukanya.


Assalamu'alaikum, calon ibu dari anak-anak ku! Apa kabar? Tulis Sawn dalam pesan singkat pertamanya.


Di tempat lain Sawn sedang deg-degan menanti pesan balasannya. Saat ini ia masih terlalu sungkan untuk sekedar meminta bantuan.


Wa'alaikumsalam, calon imam masa depanku! Katakan padaku, apa yang membuatmu semurung itu?


Sawn terkejut membaca pesan balasan Raina. Ia berusaha mengatur nafasnya kemudian kembali merangkai kata.


Apa kau menaruh Cctv di kamarku? Bagaimana kau bisa tahu kalau aku sedang murung?


Sawn mengedarkan pandangannya kesetiap sudut kamar. Ia tidak perduli walau terlihat konyol karena melakukan itu.


Lagi-lagi Raina hanya bisa tersenyum membaca pesan balasan yang Sawn kirimkan untuknya.


"Cctv? Itu sangat konyol!" Lirih Raina.


Ia. Aku menaruh Cctv di setiap tempat yang kau lalui untuk mengawasimu. Siapa tahu kau berpaling dariku, dengan begitu aku bisa menghukum mu! Sekarang katakan, apa yang membuatmu resah? Tulis Raina sembari tersenyum nakal.


Apa aku boleh menceritakan resah ku? Sawn bertanya dengan sikap hati-hati.


Tentu saja. Balas Raina


Mertua tante Alya ingin bertemu Andre! Sayangnya aku tidak tahu harus berbuat apa untuk mendapatkan izin mu!


Anggap saja aku seperti tongkat ajaib. Sekali aku menggerakkan jari, masalah mu selesai. Kapan mereka ingin menemui Andre?

__ADS_1


Sawn tersenyum lega membaca pesan balasan dari Raina. Seketika ia membayangkan wajah ayu itu sedang tersenyum manja hanya untuknya.


Besok!


Apa? Besok? Kalau begitu aku dalam masalah besar! Aku harus meminta izin dari bude! Aku tidak bisa bicara pada ibu sampai kondisi beliau sembuh total! Hmmm!🙁


Sekarang Sawn ikut menghela nafas membaca pesan singkat Raina.


Sementara itu di panti, Raina segera menemui bu Romlah di dapur, di dapatinya bu Romlah sedang memijit kakinya yang terasa nyeri, maklum saja karena rencana pernikahan Raina membuatnya memiliki pekerjaan tambahan.


"Bude, apa bude baik-baik saja?" Raina bertanya sembari berjalan pelan mendekati bu Romlah.


"Kau belum tidur? Kenapa kau keluar dari kamarmu?" Bu Romlah bertanya sambil menghentikan aktivitasnya.


"Raina belum ngantuk, bude. Sebenarnya, ada yang ingin ku katakan pada bude!" Ucap Raina pelan, kali ini wajahnya merunduk. Bayangan wajah geram bu Romlah membuat Raina merasa takut bahkan sebelum ia mulai mengurai beritanya.


"Apa itu mendesak?"


"Katakan apa pun yang ingin kau katakan, setelah itu masuk kekamarmu." Ucap bu Romlah lagi, kali ini ia bangun dari posisi duduknya, meraih buah yang tersisa di meja kemudian memasukkannya kedalam kulkas.


"Bude, apa bude masih ingat orang yang menemui bude dan ingin mengambil Andre?"


Mendengar pertanyaan Raina rasanya darah bu Romlah mulai mendidih. Membayangkan peristiwa terakhir kali membuatnya semakin kesal.


"Kenapa kau tanyakan hal buruk itu? Jika ibu mu mendengarnya dia pasti akan pingsan karena kesal." Jawab bu Romlah cepat, kemudian ia meletakkan jari telunjuk di bibirnya, mengisyaratkan Raina agar tutup mulut. Sayangnya, Raina tidak bisa mengikuti permintaan bu Romlah, ia harus tahu jawaban apa yang akan di berikan budenya.


"Bude, sebenarnya orang yang datang menemui bude waktu itu adalah bu Alya, tantenya pak Sawn." Ucap Raina sambil merunduk, kemudian ia diam sembari menutup bibir dengan jari telunjuknya. Hampir saja bu Romlah jatuh karena terkejut, namun untungnya Raina segera meraih kedua lengan bu Romlah.


"Wanita itu datang lagi kerumahku dan aku tidak mengenalinya? Kakak ku yang malang, bagaimana pendapatnya jika dia tahu orang yang membuatnya sakit adalah keluarga calon besannya." Raina ingin menangis mendengar ucapan bu Romlah, namun sekuat tenaga ia berusaha menahan air matanya. Jika pun ia menangis, maka ia tidak akan pernah memperlihatkan itu pada bu Romlah ataupun bu Rahayu.


"Bude, bu Alya tidak seburuk yang bude pikirkan. Aku tahu dia melakukan kesalahan, aku mebelanya bukan karena aku mencintai keponakannya, aku membelanya karena aku ingin bude menjadi sosok pemaaf walaupun itu sulit." Ucap Raina sembari menggenggam jemari bu Romlah.


"Ayah Andre berasal dari Jerman. Besok neneknya akan datang menemui Andre, dan ini untuk pertama kalinya Andre akan menemui keluarga ayahnya. Tolong jangan hukum Andre atas kesalahan bu Alya." Ucap Raina lagi sambil memandangi wajah bu Romlah dengan penuh pengharapan.

__ADS_1


"Aku janji pada bude, setelah Andre bertemu dengan keluarga ayahnya, dia akan bersama kita lagi, disini, di tempat ini." Raina menyakinkan.


Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibir bu Romlah, ia memandang netra Raina berharap bisa mendapatkan jawaban dari sana. Sedetik kemudian bu Romlah tersenyum tipis, Hanya ada kepastian kalau semuanya akan baik-baik saja.


"Baiklah. Kau boleh membawa Andre bersama mu, tapi kau harus janji pada bude kalau adikmu akan pulang besamamu!"


"Raina janji bude! Adik ku akan pulang bersama ku, nyawaku sebagai jaminannya." Balas Raina sambil tersenyum bahagia.


"Ingat, ibu mu tidak boleh tahu apa pun yang kita bicarakan malam ini. Jika dia mengetahui segalanya sebelum kita bicara padanya, maka semuanya akan berakhir untukmu juga adikmu." Ucap bu Romlah memperingatkan.


"Sekarang masuk kekamarmu, jangan lupa berdoa sebelum tidur." Ucap bu Romlah lagi sembari mendorong tubuh Raina agar keluar dari dapur.


...***...


Sementara itu di kediamannya Sawn masih menunggu seperti bocah baik, sedetikpun ia tidak bergerak dari posisi duduknya, netranya hanya tertuju pada ponselnya saja. Menanti jawaban dari Raina selalu membuatnya gugup.


Entah sihir apa yang ada dalam dirinya? Kenapa dadaku selalu saja berdebar setiap kali menunggu jawaban darinya. Seolah ia candu bagiku, dan hidup ku tidak berarti tanpanya. Gumam Sawn pelan.


Dret.Dret.Drettt.


Mendengar ponselnya bergetar, Sawn buru-buru membuka pesan singkatnya.


Bude Romlah setuju! Besok aku akan menemuimu di Mall.


Balasan pesan dari Raina berhasil membuat Sawn tertawa lepas, ia berjalan menuju balkon kemudian membuka pintunya, membiarkan angin malam membelai lembut wajah tampannya.


Sawn membentangkan kedua lengannya, berbisik pada bulan, bintang, dan gelapnya malam, kalau ia sangat terberkati dengan hadirnya Raina disisinya.


Penantian satu bulan sebelum akad nikah ini membuat Sawn tidak tenang. Ia berharap waktu cepat berlalu sehingga ia bisa merangkul Raina dalam nuansa yang di penuhi cahaya Rembulan.


Aku merindukanmu bidadari surgaku. Aku merindukan mu! Lirih Sawn pelan.


...***...

__ADS_1


__ADS_2