
Mendengar nasihat Raina, Prof. Zain merasa mendapat sedikit pencerahan. Namun nasihat itu tidak juga bisa mengusir kuatnya pesona Angel yang menempel di dinding-dinding hatinya. Tapi dari pembicaraannya dengan Raina, ia memiliki seberkas cahaya yang menerangi gulitanya akal pikirannya karena diselimuti bayangan Angel.
Mencintai seseorang dalam kurun waktu yang lama sangat sulit untuk melupakannya. Bagaimana memulai hal yang baru jika dinding-dinding hati telah mengeras oleh satu nama yang membuatmu terbiasa dengan perasaan cintanya.
Jika hati telah di butakan oleh ilusi cinta tak bertepi, maka saat itu kamu berjalan dalam kegelapan. Alangkah baiknya jika kamu sadar untuk menepis rasa itu, dan memulai merancang hidup dengan pilihan baru.
Cinta itu luar biasa indahnya jika kamu bersanding dengan pemilik jiwa yang ketika kamu memandangnya tenteram pula jiwamu.
Cinta itu luar biasa kesedihan yang di tawarkannya ketika kamu bersanding dengan seseorang yang ketika kamu melihatnya tidak ada kebahagiaan dalam setiap tarikan dan hembusan nafasmu.
Ketika kamu memandang raganya, hanya ada penyesalan saja. Kenapa aku harus bertemu dengannya? Apa Tuhan tidak berbelas kasih padaku sampai aku di pertemukan dengan orang yang salah?
Wa likullin darajatum mimma 'amilu, wa liyuwaffiyahum a'malahum wa hum la yuzlamun.
Dan setiap orang memperoleh tingkatan sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan, dan agar Allah mencukupkan balasan perbuatan mereka, dan mereka tidak dirugikan. (Qs.Al-Ahqaf: 19)
Tuhan maha pengasih lagi maha penyayang, jika ada kesedihan yang datang dalam setiap rangkaian hari-harimu, maka bersyukurlah. Ujian datang bukan karena kamu dihinakan melainkan derajatmu sedang di tinggikan.
Prof. Zain melirik arloji di pergelangan tangannya. Waktu menunjukan pukul 1.29 ketika Prof. Zain memandang rumah megah di depannya. Ia berpikir dengan hati-hati agar penyesalan tidak menghampiri hidupnya, hidup yang setengahnya sudah berantakan oleh gadis anggun yang selama ini selalu mewarnai hati dan pikirannya. Angel Sasmita.
Prof. Zain membuka pintu mobil kemudian berjalan menuju gerbang besi. Ia mengatur deru nafasnya, ia sangat gugup.
"Apa tuanmu ada di dalam? Buka pintunya!" Ucap Prof. Zain dengan suara datarnya. Penjaga separuh baya itu terlihat gugup.
"Tuan Zain? Kenapa anda datang selarut ini? Nona tidak ada di dalam." Balas penjaga separuh baya itu dengan tatapan takutnya.
"Bapak tidak perlu berbohong padaku! Aku seorang Profesor, aku tahu kapan orang berbohong atau jujur padaku." Ucap Prof. Zain dengan nada suara meninggi. Ingin rasanya Prof. Zain menertawakan dirinya sendiri.
Aku tahu kapan orang berbohong atau jujur padaku. Omong kosong. Gerutu Prof. Zain dalam hatinya. Saat ini ia berpikir dialah orang terbodoh di dunia. Bukan hanya mencintai gadis yang salah, namun hampir saja ia melakukan dosa besar dengan memisahkan dua anak manusia yang saling mencintai karena Allah.
Nona Raina maafkan aku. Gumam Prof. Zain lagi sambil menunggu di bukakan gerbang besi yang menjulang tinggi.
"Buka pintunya! Apa anda ingin saya memanjat?" Prof. Zain sangat kesal, namun ia berusaha menahan diri untuk tidak marah pada penjaga separuh baya itu.
"Ba-ik tu-an!" Balas penjaga itu gugup.
__ADS_1
Semenit kemudian Prof. Zain melenggang masuk menuju kediaman Angel Sasmita. Di halaman depan berjejer sepuluh mobil mewah.
"Dasar payah! Tengah malam begini mereka masih berpesta." Gerutu Prof. Zain sembari membuka pintu depan yang sengaja tidak dikunci.
Tiga gadis berpakaian setengah terbuka sedang asyik menari dengan tiga pria, music yang mengalun keras membuat dada Prof. Zain berdebar hebat.
Tempat ini terlihat tidak seperti rumah lagi. Gerutu Prof. Zain sambil berjalan kearah pengeras suara.
Tanpa di minta Prof. Zain mematikan musik berisik yang memekakkan telinga. Semua mata tertuju pada Prof. Zain. Wajah tampan itu terlihat tidak bersahabat. Netra birunya memamerkan amarah dan benci, tatapan tajamnya seolah menjelaskan kalau ia ingin menghajar pria dan wanita yang berdansa di depannya tanpa memperdulikan orang lain terganggu oleh ulahnya.
"Kalian semua, pergi dari sini." Pinta Prof. Zain baik-baik.
Sayangnya tidak ada yang menuruti ucapannya, Tiga gadis dan tiga pria di depannya justru saling tatap tak percaya dengan apa yang barusan di dengarnya.
"Zain, kapan kau datang?" Angel bertanya sambil menuruni anak tangga. Wajah cantiknya memamerkan senyuman seindah purnama. Siapa pun yang melihat Angel Sasmita akan terjerat pada kecantikan sempurnanya.
"Kenapa kalian berhenti berpesta? Bukankah aku sudah bilang kalian boleh berpesta sampai kalian merasa bosan!" Angel berjalan mendekati Prof. Zain yang berdiri tidak jauh darinya.
"Sekarang baru sempurna! Aku bisa menghabiskan malam denganmu sembari menikmati romansa penuh cinta!" Sambung Angel penuh semangat.
"Ayolah Zain, sekarang waktunya kita bersenang-senang! Kita masih muda, nikmati waktu ini dengan berpesta." Ucap Pria tampan disisi kanan Angel Sasmita. Prof. Zain tahu, pria itu merupakan lawan main Angel dalam film barunya.
"Kalian semua, keluar." Prof. Zain berteriak kasar. Wajah tampannya terlihat memerah menahan amarah.
"Ayo kawan-kawan, tempat ini tidak asyik lagi." Ucap pria itu tanpa menoleh kearah Angel yang masih berdiri mematung.
"Ada apa denganmu? Aku mengizinkanmu memasuki hidupku, bukan berarti kau bisa mengusir teman-temanku!" Angel berteriak kasar sambil melempar tubuh sempurna Prof. Zain dengan bantal yang berjejer si atas sofa.
"Tutup mulut mu! Sudah cukup dengan sendiwaranya! Kau melakukan segala hal yang kau bisa untuk mendapatkan semua yang kau inginkan.
Sayangnya, tidak semua hal bisa kau dapatkan. Melihat tingkah mu, aku yakin semua orang akan menjauh darimu. Termasuk, aku!" Prof. Zain menatap Angel dengan tatapan setajam belati.
"Apa mau mu, hah? Kau datang kemari bukan untuk memelukku, kau datang kemari hanya membawa amarahmu! Apa aku terlihat seperti gadis biasa yang akan menampung semua sampah yang ada di hatimu?" Angel mulai terisak, kali ini Prof. Zain tidak akan menghapus air mata gadis anggun di depannya.
"Bukan hanya Sawn ku, sekarang kau pun ikut-ikutan bersikap dingin padaku? Apa mau mu? Kau sangat kejam!" Angel memukul dada bidang Prof. Zain dengan kedua tangannya.
__ADS_1
"Bukan aku yang kejam, sikap burukmu yang membuatku menjauh darimu. Kau pembohong, kau kasar." Prof. Zain berteriak dengan suara lantang. Kali ini ia balas melempar Angel dengan bantal yang sama, yakni bantal yang berjejer di atas sofa dekat tempatnya berdiri.
"Kau berjanji mengembalikan Sawn ku, hanya ini batas kemampuanmu? Bukannya membuat istri atau adiknya menangis kau justru terikat pada jalang itu? Aku benci padamu!" Angel balas meneriaki Prof. Zain dengan suara teriakan kasar. Semua orang yang bekerja di rumah Angel mulai merinding melihat kegilaan tuannya.
Jalang!
Satu kata itu seolah menari-nari di benak Prof. Zain. Gadis anggun yang coba ia peluk lima jam yang lalu mendorong tubuhnya karena ingin menjaga diri dari laki-laki yang tidak halal baginya. Tapi disini, seorang Angel Sasmita berani mengatakan gadis itu jalang.
Amarah yang coba Prof. Zain bendung akhirnya meluap juga. Ia berjalan kearah Angel dan mencengram leher jenjang Angel. Tidak ada lagi keteduhan di balik netra biru itu.
"Tutup mulutmu! Berani sekali kau menghina gadis anggun itu, selama ini aku selalu diam tapi sekarang tidak lagi.
Cinta? Persetan dengan cinta. Aku bahkan tidak ingin melihat wajahmu lagi. Mulai hari ini, aku bukan lagi pengagum mu!
Rasa cinta yang ku punya untukmu telah menguap ke angkasa." Prof. Zain melepas cengkeraman tangannya dari leher jenjang milik Angel Sasmita.
Uhuk.Uhuk.Uhuk.
Angel mulai batuk-batuk setelah prof. Zain melepaskan tangannya dari leher jenjangnya. Tidak ada sepatah kata pun yang terlontar dari bibir Angel Sasmita selain suara deru nafas berat saja. Ia hanya bisa menatap punggung Prof. Zain yang semakin menjauh darinya.
Huahhhhhh!
Prof. Zain berteriak kasar setelah ia berada dalam mobilnya, ada rasa lega yang menyelimuti lubuk hati terdalamnya. Melepas Angel adalah keputusan besar yang di ambilnya. Walau tidak mudah, setidaknya itu akan menenangkan jiwanya.
Selamat tinggal masa lalu. Aku tidak akan terpaku lagi padamu. Tidak ada kebaikan dalam dirimu jika aku terus memelukmu. Gumam Prof. Zain pelan.
Prof. Zain tidak menyesali masa lalu, masa lalu ada agar kita belajar untuk tidak terjebak dalam perangkap yang sama.
Langkah apa yang akan di lakukan Prof. Zain untuk mendapatkan hati Yuna Dinata?
Akankah Yuna Dinata mau menerima pria sempurna sekelas Prof. Zain De Lucca yang ia cap sebagai pria mesum sejak pandangan pertama?
Entah takdir apa yang menunggu mereka. Walau demikian, tetaplah menjadi hamba Tuhan yang selalu mensyukuri setiap karunia yang ada.
...***...
__ADS_1