Mencintai Bodyguard Saleha

Mencintai Bodyguard Saleha
Tergoda Lagi (Raina)


__ADS_3

"Tadi di bawah, apa yang kau katakan? Aku seperti Playboy yang akan menerkam mangsanya! Akan ku perlihatkan bagaimana cara seorang Playboy menerkam mangsanya." Ucap Sawn menggoda Raina.


Raina tersedak, kaget. Netranya memandang Sawn dengan tatapan tajam.


Ada apa dengan lelaki aneh ini, kenapa ia terus mendekat? Lirih Raina pelan sembari berjalan mundur.


Rasanya Sawn ingin tertawa lepas melihat wajah takut Raina. Cangkir koffe masih berada di tangan kanannya, bak music yang mengalun merdu Cangkir itu pun tidak bisa diam, Sawn merasa Raina sedang gemetaran namun ia tidak perduli itu. Ia hanya ingin memberikan pelajaran pada gadis ayu di depannya itu agar tidak pernah lagi berpikiran kotor tentangnya.


Playboy? Hah... Itu penghinaan tingkat tinggi.


"Oh Tuhan, seharusnya aku tidak perlu menemuinya. Sekarang aku terjebak dimana? Ini lebih menakutkan dari kandang Macan." Langkah kaki Raina terhenti, ia tidak bisa maju atau mudur. Tanpa ia sadari tubuh kecilnya membentur dinding dan mengenai meja di sebelah kirinya, hampir saja Vas bunga itu terjatuh, namun Sawn dengan sigap mempercepat langkahnya dan meraih Vas yang jika terjatuh akan mengenai kaki Raina yang masih terbalut kaus kaki coklat.


Sawn meraih koffe dari tangan Raina, dan tanpa sengaja jari-jari tangan mereka bersentuhan. Raina terperanjak, ia benar-benar terkejut. Untuk pertama kalinya hal itu terjadi, karena biasanya ia hanya menangkufkan kedua tangannya atau hanya membalas dengan senyuman pada lawan bicaranya.


"Seperti inilah yang di lakukan seorang Playboy pada wanita yang menjadi incarannya." Ucap Sawn dengan nada nakal. Sedetik kemudian ia meletakkan koffe yang ada di tangannya di atas meja.


Dag.Dig.Dug.


Dada Raina berdebar, nafasnya naik-turun, ia bisa mencium aroma Maskulin yang menguar dari tubuh peria di depannya, karena jarak mereka dekat, sangat dekat sampai-sampai Sawn bisa mendengar dengan jelas deru nafas Raina yang tak beraturan. Pikiran liar Sawn mulai menguasai dirinya. Rasanya ia ingin menerkam wanita yang berdiri tepat di hadapannya, namun buru-buru ia menguasai diri, hanya orang cerdas yang mengetahui batasannya.


"Eeemmm!" Sawn berdehem sembari melangkah mundur tiga langkah, sedikit menjauh dari tubuh Raina yang mulai bergetar ketakutan.


"Buka matamu!" Perintah Sawn, kali ini ia berjalan mendekati Raina lagi, meraih cangkir Koffe yang ia letakkan di atas meja dengan jemarinya.


Cesss!


Untuk sepersekian detik netra Sawn dan Raina kembali bertemu, Raina menelan salivanya karena merasa ada yang salah dengan hatinya.


"Kita akan pergi ke pusat perbelanjaan untuk meninjau. Kau akan ikut bersamaku, untuk itu kau harus menggati pakaianmu. Jangan gunakan pakaian seragam seperti yang biasa kau gunakan ketika mengawalku. Hari ini suasana hatiku sedang baik. Pergilah dan bersiaplah." Ucap Sawn semangat, ia berjalan kearah sofa, duduk disana sembari menyeruput koffe yang mulai dingin.

__ADS_1


Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir Raina, berada dekat dengan Sawn membuat hati dan pikirannya kacau, ia masih terkejut.


"Satu lagi, kali ini aku memaafkanmu karena memanggil ku playboy. Lain kali kau tidak akan selamat." Ucap Sawn ketus kemudian memamerkan senyum manisnya.


Lagi-lagi Raina terpesona, cara Sawn tersenyum padanya membuat hatinya semakin berdebar tak karuan.


Ya Allah... Apa aku salah menyimpan rasa ini? Rasanya aku seperti berada di atas awan. Bahagia karena bisa melihat senyumnya, ini benar-benar konyol. Lirih Raina dalam hatinya, pelan ia berjalan menuruni anak tangga, meninggalkan Sawn dengan senyum manis yang masih mengembang di wajah tampannya.


...***...


10:30 Pusat perbelanjaan.


Beberapa orang yang terlihat asing di netra Raina berjalan menghampiri Sawn Praja Dinata kemudian berjabat tangan dengannya. Percakapan antara Sawn dan orang-orang itu berlangsung sambil mereka berjalan menyusuri setiap bagian pusat perbelanjaan. Dan tak jarang lelaki ataupun wanita separuh baya menundukan kepala memberi hormat pada Sawn, hal itu berhasil membuat Raina heran tingkat tinggi.


"Kenapa bapak itu merunduk di hadapan peria menyebalkan ini? Auhh, aku merinding." Gumam Raina melihat pemandangan di depannya


"Ooh tidak! Aku tertangkap. Bagaimana kalau dia tahu aku memandang heran sekaligus kesal padanya. Bisa-bisa gajiku bulan ini akan di potong." Raina segera mengalihkan pandangannya ketika Sawn menatapnya curiga.


"Kenapa kau menatapku? Apa kau mulai jatuh cinta padaku?" Guyon Sawn sambil terkekeh.


Huek. Raina pura-pura ingin muntah, ia tidak pernah tahu laki-laki yang ia kenal pemarah tiba-tiba berubah menjadi sosok narsis, belum hilang ingatan Raina tentang tadi pagi saat lelaki itu menyentuh jemarinya tanpa sengaja, dan sekarang lelaki itu terkekeh di hadapannya.


Ya Allah, aku tergoda. Jangan sampai aku hilang kendali karenanya. Lirih Raina sembari mundur dua langkah. Raina menyadari mundur dua langkah tidak akan memberi pengaruh apa pun bagi hatinya. Toh ia akan tetap mengagumi lelaki tampan yang berdiri di depannya itu.


"A-P-A saya tidak waras? Untuk apa saya jatuh cinta pada bapak?" Balas Raina.


Sawn masih terkekeh melihat ekspresi wajah gugup Raina, ia merasa seperti sedang menonton filem Romantis Komedi.


"Baiklah, aku akan mempercayai ucapan mu. Bodyguard cantik ku." Ucap Sawn pelan seperti sedang berbisik.

__ADS_1


Sementara itu, di sudut yang tak terlihat, sepasang mata memandang dengan sorot kebencian ke arah Sawn dan Raina. Dalam hatinya begitu banyak racun yang tersimpan sampai ia ingin memuntahkannya.


"Ular Piton tidak melenyapkan mangsanya dengan bisa, namun melenyapkan dengan cara melilit tubuh mangsanya sampai tulang-tulangnya remuk. Dan saat ini aku benar-benar ingin mematahkan tulang mu." Lirih seseorang sembari melihat Raina meninggalkan Sawn dengan senyum yang masih mengembang di wajah ayunya.


"Kau berani menatapnya dengan tatapan cinta? Akan ku pastikan kau akan membayar segalanya." Lirih orang itu lagi, matanya masih memandang ke arah Raina yang berjalan munuju Toilet wanita.


...***...


"Kau terlihat bahagia, apa ada hal baik yang terjadi?" Seseorang bicara pada Raina yang masih mencuci tangannya.


"Nona Angel, anda ada disini?" Sapa Raina setelah melihat pantulan wajah Angel dari cermin.


"Tentu saja. Justru aku yang heran kenapa wanita seperti mu bisa berada disini? Ahh iya... Aku tahu kau datang kemari karena ingin tahu seberapa bayak kekayaan yang di miliki Sawn ku, iya kan?" Angel menatap Raina dengan tatapan tajam.


Tak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir Raina. Ia tidak menyangka wanita cantik nan cerdas yang berdiri di hadapannya hanya Makhluk cantik berpikiran sempit.


Lebih memilih mengabaikan Angel, Raina meraih ponsel di sakunya dan membaca pesan singkat, di layar Ponselnya tertulis dengan jelas, Pak Pemarah.


Hai kamu...


Aku menunggumu di parkiran. Segera datang atau aku akan meninggalkanmu.😠


William Shakespeare mengatakan, "Janganlah Anda menyalakan tungku bagi musuh, karena anda akan terjerembab ke dalamnya."


Semakin besar kebencianmu pada seseorang, maka semakin besar pula kesedihan yang akan kau rasakan.


Raina tersenyum membaca pesan singkat yang di kirim Sawn. Tanpa menghiraukan Angel, Raina beranjak meninggalkannya dan berjalan menuju parkiran.


...***...

__ADS_1


__ADS_2