Mencintai Bodyguard Saleha

Mencintai Bodyguard Saleha
Haruskah Aku Bahagia?


__ADS_3

Sapuan warna kuning keemasan dengan dekorasi bergaya modern mendominasi kamar yang di tempati Sawn Praja Dinata dan Raina Salsadila, hal itu menambah kesan Romantis untuk mereka tempati berdua.


Sejak Sawn masih tinggal di kediaman Dinata, ia jarang sekali keluar rumah dan lebih banyak menghabiskan waktunya di kamar bila libur bekerja, karena itulah setiap tiga bulan sekali ia akan meminta Mamanya mengubah dekorasi kamar yang ia tempati. Namun kali ini berbeda, sejak Raina masuk dalam hidupnya entah itu gaya modern atau gaya timur tengah, atau tanpa dekorasi sekalipun Sawn akan tetap betah selama ada Raina di dalamnya.


Seperti biasa, Sawn menatap wajah tertidur istrinya. Wajah itu nampak polos tanpa balutan Make up apapun, wajah polos itu tetap cantik di matanya, bukan hanya sekadar sanjungan karena itulah kebenarannya. Pipi merona dan bibir tipis tanpa sapuan lipstik merek terkenal manapun Raina tetaplah cantik, cantik bagi Sawn yang memandangnya.


Mmmmm....


Tubuh ramping Raina menggeliat untuk sesaat, perlahan mata indahnya mulai terbuka lebar dan mendapati sosok yang sangat dicintainya sedang tersenyum bahagia hanya untuknya.


"Kau sudah bagun? Kenapa kau tidak membangunkan ku?" Tanya Raina begitu ia membuka mata dan menyapa suami tampannya.


"Aku sedang menikmati kecantikan seindah Purnama. Kekasihku tidak hanya cantik tapi dia juga saleha. Aku mencintaimu Bodyguard salehaku!


Uufffs... Maaffff... Bukan Bodyguard saleha lagi! Tapi, istri saleha!" Ucap Sawn lantang sembari mencubit hidung bangir milik istrinya.


"Are you kidding me?" Raina balas menggoda Sawn dengan bahasa yang jarang ia gunakan sejak tidak berhubungan lagi dengan Chen.


"Uuuu... Istri salihaku ternyata jago Bahasa assuing." Balas Sawn lagi, ia kembali mencubit hidung bangir Raina, ia bahkan memplesetkan kata asing menjadi assuing hanya untuk mengoda istri salihanya.


Sungguh, sangat jarang sekali mereka bisa menghabiskan waktu berdua seperti saat ini karena kesibukan Sawn di kantornya, sekali ia memiliki waktu luang, rasanya tidak cukup untuk Sawn sekedar mencubit hidung Raina atau menggoda istri cantiknya.


"Tadinya aku ingin membangunkanmu, sayang sekali pesonamu telah menyihirku sampai aku tidak bisa menggerakkan tangan, bibir dan kakiku." Ucap Sawn mencoba membela diri.


"Kau tahu? Kau sangat pandai memainkan kata-kata, dan hal itu semakin membuatku jatuh cinta pada sosok Sawn Paraja Dinata. Lihat saja, jika kau berani melakukan hal yang sama pada wanita lain, aku pasti akan menghukummu." Balas Raina sambil bangun dari posisi terlentangnya.


"Aku ingin lihat, bagaimana cara wanita saliha menghukum suaminya?" Sawn menantang Raina untuk membuktikan ucapannya.


"Baiklah, sekarang perhatikan bagaimana wanita saliha memberikan hukuman pada suaminya. Bukan dengan kata-kata kasar atau umpatan. Aku akan melakukannya sekali saja, hanya sekali!" Ucap Raina menegaskan tanpa melepas senyuman dari bibir tipisnya.


Pelan, Raina memajukan wajah ayunya sampai ia bisa mencium wangi yang menguar dari tubuh Sawn Praja Dinata, dan tanpa pemberitahuan ia langsung melanyangkan kecupan singkatnya di bibir suami tersayangnya.

__ADS_1


Melihat Raina melayangkan kecupan dibibirnya Sawn benar-benar tidak bisa berkata apa-apa. Ia hanya bisa mengedipkan mata. Sedetik kemudian ia menyentuh bibirnya yang di kecup Raina.


"Bagaimana, apa kau sudah lihat bagaimana kami para istri saliha memberikan hukuman?" Raina tersenyum sembari berjalan menuju kamar mandi.


"Kau curang!" Balas Sawn tanpa menghiraukan Raina yang terus saja meledeknya. Rasanya Sawn ingin membalas Raina dengan balasan yang sama, sayangnya Raina sudah masuk kekamar mandi. Kini ia hanya bisa menghela nafas sembari berujar 'Hukuman yang manis'.


...***...


Di ruang tengah bu Alya dan Bu Hanum, mereka berdua sedang memilih pakaian yang sesuai untuk mereka kenakan malam ini. Berbagai macam model dan warna sudah bu Alya coba, sayangnya belum ada satu pun yang cocok untuknya.


Di tangga sudah ada Sawn dan Raina, mereka menuruni anak tangga sembari menautkan jemari lentik mereka. Sesekali Sawn melempar senyuman pada Raina, rasa syukur benar-benar memenuhi rongga dadanya.


"Sayang, pilih pakaian mana pun yang kau ingin kan. Pastikan malam ini kau berpenampilan sempurna sehingga suamimu tidak melirik wanita lain." Guyon bu Hanum sembari memilih-milih pakaian yang menurutnya sesuai dengan postur tubuh jenjangnya.


Raina hanya bisa tersenyum mendengar ucapan ibu mertuanya sambil melirik Sawn dengan tatapan memperingatkan.


"Ma... Raina izin pulang, ya? Raina melupakan sesuatu di rumah." Raina menatap ibu mertuanya dengan tatapan memelas, ia berharap bu Hanum akan memberinya izin tanpa perlu menanyakan apapun.


"Tidak bisa, Ma. Maafff! Raina benar-benar meninggalkan barang penting! Raina janji akan segera kembali!" Raina menangkupkan kedua tangannya di depan dada.


Melihat wajah menantunya yang terlihat bersungguh-sungguh akhirnya Bu Hanum luluh juga. Satu menit kemudian, Sawn dan Raina meninggalkan dua wanita yang sangat mereka sayangi itu larut dalam kesibukannya, sementara mereka berdua berjalan menuju halaman depan.


"Kau mau apa? Lepaskan tanganku!" Raina menepuk pelan lengan Sawn tanpa memperdulikan Bi Sumi dan Mbok Dami yang menatap mereka dengan wajah yang memamerkan senyuman.


"Siapa yang berani memarahi ku? Aku hanya menggoda istriku, bukan istri orang lain." Balas Sawn tanpa memperdulikan tatapan Raina yang seolah ingin mengulitinya. Ia bisa melihat wajah bersemu malu milik Raina karena di perhatikan oleh dua wanita separuh baya yang tak jauh dari tempatnya berdiri, Mbok Dami dan Bi Sumi.


Sawn hanya ingin menggoda Raina, masih teringat dengan jelas di benaknya bagaimana Raina mempermainkannya di kamar dengan kecupan singkatnya, kini Sawn ingin membalasnya.


"Tidak ada yang akan marah padamu, hanya saja Junior tidak ingin Papanya bersikap nakal pada Mamanya." Bantah Raina sambil tersenyum. Semenjak Raina hamil, rasanya ia selalu ingin bersikap manja, namun sekarang bukan waktu yang tepat.


"Baiklah, kali ini aku melepaskan Mamamu! Lain kali, tidak akan!" Celetuk Sawn sembari menunjuk perut rata Raina, yang kemudian di balas suara gelak tawa dari Raina.

__ADS_1


"Kau tidak perlu mengantarku, aku pulang untuk mengambil hadiah Mama dan Papa. Hadiah yang dengan sepenuh hati kita siapkan berdua, aku janji akan segera kembali."


"Tetap disini, biar aku saja yang mengambilnya. Atau kau bisa pergi bersama Agil. Sebentar lagi Agil, Bobby dan Yanto akan segera tiba. Kau bisa pergi bersama mereka." Ucap Sawn mengurai resahnya. Ia benar-benar tidak nyaman membiarkan Raina pergi sendiri.


"Aku mantan Bodyguard, tidak mudah untuk mengalahkanku!" Jawab Raina pelan, sedetik kemudian wajah ayunya memamerkan senyuman.


Tidak ada bantahan lagi dari Sawn selain membiarkan istri salehanya pergi sendirian. Ia meraih lengan Raina kemudian mengunci tubuh Raina dalam pelukan hangatnya, pelukan yang menandakan kerinduan sebelum perpisahan.


Raina masuk kedalam mobil tanpa melepas senyuman dari wajah ayunya.


"Bagaimana jika aku merindukanmu?"


"Sayang, kita bahkan belum berpisah! Kerinduan seperti apa yang dimiliki suamiku ketika aku masih berdiri di depannya?"


Tidak ada jawaban dari bibir Sawn Praja Dinata atas pertanyaan Raina, karena ia sendiri tidak tahu jawabannya. Bagaimana bisa kerinduan, cinta, dan kasih sayang menelusup masuk membelai lembut hatinya di saat bersamaan.


"Jika kau merindukanku, sebut namaku dan pinta aku pada Tuhanku."


Bahkan setelah mendengar ucapan menenangkan dari Raina, Sawn masih belum bisa menerimanya. Sekarang ia malah mengeluarkan ponsel dari sakunya, kemudian mengarahkannya pada wajah cantik istrinya.


Ceklekkkk!



"Aku akan selalu berada di sisimu, apa kau masih membutuhkan potretku?" Raina bertanya sambil menggenggam erat jemari Sawn dari dalam mobilnya.


"Aku tidak butuh itu! Hanya saja, kau akan meninggalkan ku untuk sesaat, saat aku mulai merindukanmu aku akan menatap wajahmu dengan penuh kebanggaan karena aku pria beruntung yang memiliki istri cantik nan soleha." Balas Sawn tanpa melepas senyuman dari wajah tampannya.


"Baiklah, kau bisa melihatku sesukamu. Sekarang izin aku pergi." Ujar Raina dengan wajah memelas. Tidak ada bantahan dari Sawn Praja Dinata selain anggukan kecil saja, ada beban besar yang mengganjal di lubuk hatinya namun ia berusaha untuk tenang di depan Raina Salsadila. Sedetik kemudian Sawn hanya bisa melambaikan tangan pada istrinya itu, sementara mobil yang Raina kendarai semakin menjauh dari kediaman Dinata.


Aku tidak bisa mengatakan apapun di depan Bidadari surga itu! Aku bahkan tidak bisa membantah ucapannya. Haruskah aku bahagia? Rasanya aku tidak akan bisa tersenyum tanpa kehadirannya disisiku. Gumam Sawn pelan setelah mobil yang di kendarai Raina tidak nampak lagi di netra indahnya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2