
Suasana malam terasa semakin mencekam, jalan raya yang biasanya ramai di lewati oleh para pengendara roda dua maupun roda empat berubah sepi seolah mendapat mandat untuk tidak melewati jalan raya itu.
Yuna masih meringis menahan sakit, sementara kelima pria matang di depannya sedang asyik berargumen siapa yang paling kuat dan siapa yang paling benar.
Yuna benar-benar geram. Bahkan sekarang tubuh sexy nya mulai gemetar menahan hawa dingin yang mulai menusuk setiap persendian tubuh rampingnya.
Haissst! Kapan aku bisa beranjak dari tempat ini? Profesor payah itu, bukannya melayangkan tinjunya ia malah berdebat dengan preman kelas karet, apa dia berpikir sedang di dalam kelas. Dasar aneh! Gumam Yuna sambil milirik preman yang masih konsisten memelintir lengannya, sesekali terdengar rintihan yang lolos dari bibir ranum Yuna.
"Apa kau tidak punya malu, lepaskan tanganku! Kalian semua benar-benar manusia tercela. Jika aku sampai terluka parah karena kalian, maka saksikan, besok malam clab kalian tidak akan pernah lagi bisa membuka pintunya." Ancam Yuna sambil berusaha melepaskan tangannya, sayangnya tenaganya hampir habis, yang terasa hanya nyeri dibeberapa bagian tubuhya. Alhasil Yuna masih duduk bersimpuh di aspal pinggir jalan.
"Kau wanita teraneh yang kami temui, kau bertingkah suci tapi pakaianmu terlihat lebih buruk dari pakaian para wanita yang keluar masuk clab itu." Tunjuk lelaki yang masih konsisten menemani Yuna, kali ini ia menjitak kepala Yuna. Lagi-lagi Yuna hanya bisa meringis menahan sakit.
Sepertinya negosiasi antara si Profesor dan preman itu gagal, mereka mulai adu kekuatan dengan saling menendang, memukul, dan menyerang secara membabi buta.
"Prof, awas." Yuna berteriak memperingatkan, hampir saja Prof.Zain terkena hantaman benda tumpul yang mengarah di kepalanya.
"Uuuuu... Tidak buruk." Ucap Yuna pelan karena melihat Prof. Zain menghindar dengan lihai.
Gdebukk!
Satu tendangan mengarah tepat diperut Prof.Zain, ia meringis kesakitan. Tubuh jangkungnya terlempar dan mendarat di aspal.
Wajah tampannya juga terlihat mulai lebam, pria pemilik iris biru itu terlihat kesal, sesekali ia mengarahkan pandangannya pada Yuna yang masih duduk bersimpuh dengan tangan yang masih di pelintir kasar oleh seorang kawanan preman. Melihat itu membuat Prof.Zain mengumpulkan sisa-sisa tenaganya dan kembali berduel seperti singa kelaparan.
Satu per satu keempat pria tangguh itu tersungkur ke aspal, secepat kilat Prof. Zain berlari kearah Yuna dan untuk terakhir kalinya ia saling adu jotos dengan pria yang mencengkram lengan Yuna. Kali ini tidak terlalu sulit, hanya dengan dua tendangan dan satu pukulan yang mengenai tubuh jangkung preman itu, ia tersungkur sambil menahan sakit di tubuh kurusnya.
"Dasar payah. Aku pikir dia tidak akan kesakitan hanya karena beberapa pukulan dan tendangan. Jika kau tahu itu sakit kenapa kau memilih menjadi preman." Yuna menendang lelaki yang terkapar di sebelahnya, tampa ia sadari Prof. Zain meraih jemarinya dan mereka berlari menjauh dari halaman clab.
"Lepaskan tanganku." Ucap Yuna sambil menarik tangannya dari genggaman jemari Prof.Zain. Setelah mereka cukup jauh dari halaman clab mereka berdua mulai mengatur nafas lega.
"Bapak benar-benar modus. Untuk apa bapak memegang tanganku seerat itu." Gerutu Yuna dengan nafas yang masih terdengar berat.
__ADS_1
"Apa aku terlihat tertarik padamu? Apa kau itu cantik? Seharusnya kau berterima kasih padaku, kau malah marah-marah tidak jelas. dasar wanita aneh." Balas Prof.Zain dengan wajah datarnya.
"Apa keluargamu tahu kau datang ketempat itu? Kenapa kau sangat ceroboh? Seharusnya sebagai wanita kau harus bisa menjaga dirimu, kau malah berkeliaran seperti kelelawar di tengah malam." Mendengar omelan Prof.Zain membuat darah Yuna terasa mendidih.
Wah... Aku benar-benar kesal. Berani sekali dia mengataiku kelelawar. Sebelumnya dia mengataiku kucing liar. Gumam Yuna dengan tatapan tajam menghunus.
"Kau tidak perlu melihatku seperti itu. Aku tahu aku tampan, dan yang paling penting aku tidak tertarik padamu. Ckckck!" Decit Prof.Zain sambil memandangi wajah cantik Yuna yang masih terbalut make up tebal.
"Maling teriak maling! Apa bapak tahu apa artinya itu? Anda membicarakan tentang harga diri dan menjaga diri, anda sendiri menempelkan bibir anda pada sembarang wanita. Dasar Profesor mesum." Desis Yuna seraya menyebikkan bibirnya penuh dengan kepuasan.
Seketika Prof.Zain teringat kelakuannya sejam yang lalu. Tanpa ia sadari sepasang iris hitam memandanginya dengan tatapan tajam, seolah pemilik iris hitam itu merasa jijik padanya, karena permainan panasnya terganggu dan ia mulai kesal.
Prof.Zain terlihat salah tingkah. Bagaimana tidak, karena kesalahan Yuna membuka sembarang pintu mereka saling menatap dalam posisi terburuk yang di lakukan Prof.Zain.
"Aku benar-benar tidak menyukai anda, karena perbuatan anda malam ini mata suci ku jadi ternoda. Meskipun begitu, aku sangat berterima kasih karena anda sudah menolongku. Aku tidak ingin berhutang. Aku pasti akan membalas kebaikan anda malam ini, entah dengan secangkir kopi panas atau dengan seteguk air, aku pasti akan membalasnya." Ucap Yuna karena tidak ingin berhutang budi.
Tin.Tin.Tin.
Mobil Silver yang di kendarai Vivi berhenti tepat di dekat Yuna dan Prof.Zain yang masih berdiri mematung.
"Terima kasih karena Profesor sudah menjaga Yuna kami. Malam ini kami berhutang pada Profesor." Sambung Arnela sambil membungkukkan badan memberi hormat. Melihat wajah lebam Profesor.Zain membuat Arnela yakin kalau Profesor.Zain adalah orang yang baik. Mendengar sanjungan Arnela membuat Prof.Zain terlihat nyengir kuda seraya mengangkat bahunya.
Sedetik kemudian mobil Silver itu berjalan membelah jalanan yang masih terlihat legang, meninggalkan Profesor.Zain yang masih menahan perih di perutnya.
...***...
Waktu menunjukan pukul 3.00 ketika Prof.Zain tiba di rumah dan menghempaskan tubuh nyerinya di atas tempat tidur empuk yang di huninya sejak sebulan yang lalu.
Memorinya kembali berputar, mengingat tatapan tajam Yuna yang memandangnya dengan tatapan terkejut ketika ia menindih seorang wanita di clab malam. Entah kenapa ia tidak bisa menahan gejolak dihatinya sampai ia melampiaskan hasratnya pada wanita lain, ketika hasrat itu hampir saja tersalurkan gadis aneh itu membuka pintu dan mulai memandangnya dengan mata membulat seolah tatapan itu mengatakan kalau ia lelaki termesum di dunia.
Maling teriak maling. Kelakuan mesum bapak mengotori mata suciku. Ucapan kasar bernada sindiran itu berhasil mengoyak hati terdalam Prof.Zain. Ia tidak menyangka, seorang mahasiswi cantik berambut sebahu itu mempertanyakan cara hidup yang ia jalani selama ini. Ketika alam bawah sadarnya hanya tertuju pada Yuna tiba-tiba saja seseorang terdengar sedang mencoba membuka gagang pintu yang ia tutup secara sempurna.
__ADS_1
"Kau dari mana saja? Apa kau tahu sekarang jam berapa?" Ucap seorang gadis begitu ia berhasil membuka pintu. Penerangan di dalam ruangan terlihat temaram. Membuat Prof.Zain bisa melihat kekesalan diwajah gadis anggun itu.
Seakan tidak bertenaga lagi, Prof.Zain lebih memilih diam dari pada meladeni kemarahan gadis anggun itu. Ia tahu jika ia meladeninya maka cekcok yang berakhir dengan saling tidak bertegur sapa akan terjadi di antara mereka berdua.
"Jawab aku Zain, kau dari mana?"
"Aku tidak perlu menjawab mu. Kau tahu pintu keluarnya, biarkan aku sendiri." Balas Prof.Zain dengan sikap abainya.
"Aku tidak bisa jika kau terus mengabaikanku seperti ini. Kau tahukan? Hanya kau tempatku bergantung." Ucap wanita itu pelan, air matanya mulai menetes membasahi wajah cantiknya.
"Sudahlah Ngel. Aku muak mendengar kata-kata itu. Jika kau tidak keluar dari kamarku maka aku yang akan keluar."
"Zain. Aku mohon, jangan bersikap dingin padaku, aku tidak bisa." Ucap wanita anggun itu lagi sambil mencengram lengan Profesor.Zain yang hendak meninggalkan kamar.
Secepat kilat Profesor.Zain menyambar lengan wanita itu dan merebahkannya di atas tempat tidur. Ia mulai melahap bibir ranum itu dengan kasar, dan tanpa ampun. Sedetik kemudian bayangan akan wajah Yuna seolah-olah menari di depannya sambil berujar....
Kelakuan kotor bapak mengotori mata suciku.
Disaat wanita yang di tindih Profesor.Zain mulai membalas ciuman panasnya, ia justru menyudahi permainannya. Sambil mengangkat kepalanya.
"Kau tidak menarik lagi. Bibirmu tidak semanis dulu, aku akan pergi dari tempat ini. Jangan mencegah langkah kakiku karena aku tidak akan pernah berbalik kebelakang." Ucap Prof.Zain tanpa menatap gadis anggun yang masih berbaring di atas tempat tidurnya.
"Janjiku padamu akan tetap kutunaikan. Pria payah itu akan menjadi milikmu, entah dia kehilangan adiknya atau istrinya. Aku tidak perduli." Ucap Prof.Zain sambil menarik kopernya dan meninggalkan rumah mewah berlantai dua itu.
Sementara gadis anggun yang masih terbaring di atas kasur itu terus saja tersenyum bahagia. Mendengar Prof.Zain mengatakan akan mengembalikan kekasihnya membuatnya sangat bahagia, seolah angin Surga mulai membelai lembut hatinya.
Prof.Zain melangkah keluar rumah dengan beban berat yang menghimpit hati terdalamnya. Ia sendiri bertanya-tanya pada dirinya, sanggupkan ia membuat gadis seanggun Yuna Dinata pemilik rambut sebahu itu menangis.
Kelakuan kotor bapak mengotori mata suciku. Ucapan singkat Yuna itu berhasil membuat Prof.Zain melepaskan diri dari cinta sepihaknya. Ia keluar dari kediaman Angel dengan perasaan campur aduk. Antara janji yang harus ia tunaikan dan ketidak sanggupannya melecehkan gadis cantik yang merupakan mahasiswanya sendiri. Dilema ini benar-benar melumpuhkan urat sarafnya untuk bisa berpikir dengan jernih. Hal yang bisa ia lakukan hanya menghindari Angel untuk sesaat tanpa perlu berbalik kebelakang.
Api cinta membakar hatiku, seperti kebakaran yang di kobarkan Hanoman sewaktu membumi hanguskan Alengka. Kenapa manusia harus memiliki perasaan seperti itu? Gumam Prof.Zain sambil terus melangkahkan kakinya meninggalkan kediaman gadis pujaannya, Angel Sasmita.
__ADS_1
Cara yang terbaik untuk mengobati cinta yang luka adalah Dengan Jatuh Cinta Lagi.
...***...