Mencintai Bodyguard Saleha

Mencintai Bodyguard Saleha
Panik


__ADS_3

"Apa hari ini Abi sibuk? Apa Abi bisa tidak bekerja, maksud Ummi hanya untuk hari ini saja...?" Raina bertanya sambil merunduk. Wajah cantiknya memamerkan kesedihan. Sayangnya, Sawn tidak bisa melihat kesedihan itu, karena kesedihan Raina tersembunyi kala wajah cantik itu merunduk untuk menyembunyikan gundah di hatinya. Sementara itu, tangan kanannya tak berhenti mengusap perut buncitnya.


"Maaf, sayang. Hari ini tidak bisa. Si payah Robin mengatur pertemuan penting dengan rekan bisnis yang datang dari Shanghai. Tapi, Abi janji Abi akan segera pulang. Apa tidak apa-apa?"


Sawn bertanya sambil menatap wajah merunduk Raina, ia benar-benar tidak bisa menebak apa istri cantiknya sedang sedih atau bahagia.


"Ada apa? Apa Ummi merasa tidak nyaman? Atau Ummi merasakan sakit? Ayo... Kita harus kerumah sakit." Sawn bertanya sambil meraih lengan Raina. Wajah tampannya memamerkan ketakutan luar biasa.


"Tidak. Ummi tidak apa-apa. Ummi hanya merasa sedikit lelah. Abi tidak perlu khawatir, dengan istirahat Ummi pasti akan baik-baik saja." Balas Raina sambil memamerkan senyum manisnya.


Bbbbooommmm!"


Tanpa aba-aba Robin langsung menggeprak meja kerja Sawn Praja Dinata, seketika lamunan Sawn tentang pembicaan singkatnya dengan Raina pagi tadi menguap keangkasa. Kekhawatirannya kini tergantikan oleh kekesalan luar biasa. Kesal karena Robin mulai mengusiknya dengan sikap jahilnya.


Bukannya merasa bersalah, Robin malah tertawa lepas seperti orang kesurupan. Kali ini Sawn benar-benar ingin menghajar sahabatnya itu sampai tawa yang terukir di wajah tampannya akan menghilang. Sayangnya, ia tidak bisa melakukan itu karena Sawn sendiri sangat mengenal sikap jahil Robin, dan ini bukan untuk pertama kalinya.


"Apa kau tidak waras? Apa itu lucu? Rasanya aku ingin mematahkan tulang mu?" Gerutu Sawn sambil mengepalkan tangannya. Ia menatap Robin dengan tatapan setajam belati, seolah tatapan itu akan menguliti lawannya.


"Hahaha. Maaffff!" Robin berusaha menghentikan tawanya. Nampaknya, itu terlalu sulit baginya sampai ia menutup mulut dengan tangan kanannya.


"Yahhh... Aku rasa kau sangat menikmati saat melihatku kesal. Aku berharap akan ada gadis aneh yang hadir dalam hidupmu kemudian menghilangkan sikap jahil mu." Ucap Sawn ketus kemudian menghela nafas kasar.


"Maaffff!" Ucap Robin lagi. Kali ini ia benar-benar menghentikan tawanya, ia menjewer kedua telinganya sebagai tanda penyesalan.


Tidak ada balasan dari Sawn selain senyum tipis yang terlihat di wajah tampannya. Sejujurnya, Sawn masih kesal namun sebisa mungkin ia menutupi kekesalannya dengan senyum tipis yang coba ia paksakan.


"Berkali-kali mengetuk pintu, tak ada balasan darimu. Aku pikir jiwamu sedang jalan-jalan entah kemana, karena itu sikap jahilku mulai muncul." Ucap Robin sambil berjalan menuju sofa kemudian duduk di atasnya tanpa menghiraukan Sawn yang masih menatapnya dengan tatapan tajam.


"Ada apa? Wajahmu terlihat menyedihkan. Apa nona sendirian tidak memberimu makan?

__ADS_1


Yahhh... Aku mengerti, kondisi nona sendirian tidak akan mengizinkannya meladeni suami manja sepertimu." Ucap Robin lagi, ia yang bertanya ia juga yang menjawab. Tentu saja hal itu mebuat Sawn ingin tertawa.


"Kau salah! Rainaku tidak seperti itu. Dia lebih cantik dari wanita manapun, dan dia lebih baik dari siapapun.


O iya... Apa yang di katakan Ruan? Apa dia akan datang? Apa perwakilan dari Shanghai sudah tiba. Jam berapa mereka tiba? Apa kau tidak bisa menangani apa pun tanpa diriku? Aku harus segera pulang!"


"Yaya... Aku tahu, kau jenis suami yang tidak bisa jauh dari Istri. Melihat tampangmu, saat ini kau pasti ingin segera lari menuju nona sendirian, ia kan?" Robin bertanya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia benar-benar tidak habis pikir, sahabatnya yang dulu pemarah berubah menjadi sosok romantis yang tidak bisa jauh dari belahan jiwanya.


"Baiklah. Jika kau mau pulang kau bisa pulang, aku akan menangani segalanya." Ucap Robin lagi sambil meraih air mineral yang tersedia di atas meja.


Tok.Tok.Tok.


Sontak, netra Sawn dan Robin menatap kearah sumber suara. Wajah cantik Rita muncul dari balik daun pintu, tangan kirinya memegang beberapa berkas penting, sementara tangan kanannya memegang ponsel yang masih menyala.


Entah apa yang dipikirkan wanita cantik itu sampai wajahnya terlihak memamerkan kekhawatiran tingkat tinggi. Tidak hanya terlihat khawatir, tubuh tamping Rita bahkan terlihat bergetar.


"Ada apa dengamu? Apa kekasihmu ketahuan selingkuh? Jika itu kebenarannya, tinggalkan dia dan cari yang lain. Untuk apa kau bersama laki-laki tidak berguna sepertinya." Celetuk Robin begitu Rita berdiri tepat disisi kanan Sawn.


Pletakkkk!


Sawn melempar wajah tampan Robin dengan bantal kecil yang ada di tangannya. Ia menatap Robin sambil menyebikkan bibir tipisnya, ia mencoba memberikan isyarat agar sahabatnya itu tidak perlu bicara omong-kosong.


"Bob-bosssss." Rita menyodorkan ponsel yang ada di tangannya pada Sawn, suara gugupnya seolah mengabarkan berita besar yang dia bawa bersamanya.


"Bob-booosssss!" Lagi-lagi Rita berucap dengan suara gugupnya. Suaranya nyaris tak terdengar.


"Ada apa denganmu? Jika kau tidak ingin mengatakan apa pun, seharusnya kau tidak perlu datang kemari!


Apa kau menangis karena si payah ini mengganggumu? Katakan padaku! Aku akan mematahkan tulangnya untukmu." Ucap Sawn mencoba mencairkan suasana yang mulai terasa canggung, tangan kanannya masih menunjuk kearat Robin yang terlihat terkejut karena disalahkan.

__ADS_1


"Apa kau tidak waras? Kenapa kau menunjuk kearahku? Aku bahkan tidak menemuinya sejak pagi." Ucap Robin membela diri.


"Sebenarnya, Bi Sumi menghubungi saya karena ponsel bos tertinggal di rumah. Bi Sumi ingin bicara." Ucap Rita begitu ia bisa menahan derai air matanya.


"Aahhhh... Benarkah?" Sawn berucap sambil meraba saku bajunya.


"Dasar payah! Kenapa aku bisa melupakannya? Aku yakin Raina pasti panik." Gerutu Sawn pada dirinya sendiri. Sedetik kemudian ia meraih ponsel yang disodorkan Rita dengan wajah mengukir senyuman.


"Assalamu'alaikum Bi Sumi. Ada apa?" Tanya Sawn dengan suara pelan, ART separuh bayanya terdengar panik. Sawn langsung berteriak kasar. Raut wajahnya berubah, panik, sedih, kesal dan takut, perasaan itu kini memenuhi rongga dadanya.


"Rumah sakit mana?" Sawn kembali berteriak. Setelah mendengar jawaban yang ingin di dengarnya, ia meraih kunci mobil kemudian berlari meninggalkan kantor tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Robin yang melihat kepanikan sahabatnya itu hanya bisa menghela nafas kasar. Jauh di dalam lubuk hatinya, ia berharap yang terbaik untuk semua orang.


...***...


Tuan... Non Raina jatuh di ruang tengah, non Raina mengeluh perut beliau sakit. Saat ini kami ada di rumah sakit. Tolong cepat datang, non Raina membutuhkan tuan. Mendengar ucapan ART separuh bayanya darah Sawn terasa mengalir lebih cepat. Dadanya terasa sesak, sejak meninggalkan kantor air matanya terus saja menetes, karena panik ia bahkan sampai meneriaki Bi Sumi dengan suara cukup keras.


"Haisstt! Tin.Tin. Tin." Sawn kesal luar biasa, ia tak menyangka akan terjebak dalam kemacetan panjang. Netranya menatap kesetiap arah. Sayangnya, ia tidak bisa menemukan jalan untuk keluar dari kemacetan ini.


"Aisssttt. Ini benar-benar menyebalkan. Seharusnya aku mengikuti keinginan Rainaku untuk tidak kekantor. Tapi, apa ini?" Sawn menyalahkan dirinya sendiri, sementara tangannya meraih tisu. Sungguh, kepanikan yang di alaminya saat ini berhasil membuat dadanya berdebar kencang, dan keringat mulai membasahi wajah tampannya.


...***...


Waktu berjalan terasa sangat cepat. Author sampai gak sadar kalau sekarang sudah sampai di episode 145.


Terima kasih untuk dukungan semua sahabat pembaca karya Mencintai Bodyguard Saleha, semoga kita semua senantiasa dalam lindungan Allah SWT.


Sahabat bisa silaturrahmi dengan Author Hasma Mahmud di IG dengan nama yang sama @Hasma_mahmud.


Selamat beraktivitas dan tetap jaga kesehatan.

__ADS_1


...❤❤❤...


__ADS_2