Mencintai Bodyguard Saleha

Mencintai Bodyguard Saleha
Berita Duka


__ADS_3

"Apa kak Raina baik-baik saja? Apa wanita itu menyakiti kakak? Berani sekali mereka melakukan kekacauan ini, rasanya aku ingin menjambak rambut mereka."


Mendengar pertanyaan sekaligus omelan dari Rita membuat Raina ingin tertawa. Ia tidak menyangka kalau Rita bisa secerewet itu. Biasanya gadis berambut coklat itu hanya bicara seadanya, dan hal itu membuat Raina yakin masih banyak orang yang menyayanginya.


"Apa aku terlihat lucu? Disini aku kesal kak Raina malah tersenyum bahagia." Ucap Rita lagi.


"Terimakasi sudah membelaku, dan aku sangat bersyukur untuk itu." Balas Raina tanpa melepas senyuman dari wajahnya.


Rita memeluk Raina dengan penuh kasih sayang, hubungan persaudaraan di antara mereka berdua mulai terjalin sejak awal.


Tot.Tok.Tok.


"Apa aku mengganggu adegan mengharukan kalian berdua?" Robin bertanya sembari berjalan menuju dua gadis muda yang berdiri sepuluh langkah darinya.


"Sama sekali tidak pak." Jawab Rita sambil melepas pelukannya dari Raina.


"Apa kau baik-baik saja?" Robin mengulang pertanyaan yang Rita ajukan.


"Tentu saja aku baik-baik saja. Justru aku merasa khawatir pada wanita itu, aku mencengkram lengannya terlalu kuat. Mendengarnya meringis membuat ku takut, apa aku tidak akan di laporkan? Ooh... Tidak!"


Raina mendengus kesal pada dirinya.


"Apa yang kakak katakan? Wanita itu tidak akan berani melakukan itu." Balas Rita sambil menepuk pundak Raina.


"Nona sendirian, sepertinya wanita yang menyerangmu adalah Fan Fanatik Angel."


"Fan fanatik? Apa itu berbahaya?" Raina bertanya karena tidak tahu, ia terlihat penasaran.


Raina memandang Robin dan Rita bergantian, sayangnya dua orang itu hanya balas memandangnya tanpa berucap sepatah kata pun, mereka hanya tersenyum.


"Apa ada yang salah dengan pertanyaan ku?"


"Tidak ada yang salah. Hanya saja Fan Fanatik itu sedikit menakutkan. Aku pernah membaca surat kabar, seorang Fan Fanatik bahkan ada yang sampai tega meneror orang yang berani mengganggu idolanya. Aku tidak tahu motifnya apa, sama seperti hari ini, sepertinya Fan Fanatik Angel melampiaskan kekesalannya padamu karena kau sudah berani mengganggu kehidupan idola mereka." Mendengar penjelasan Robin, Raina hanya bisa menghela nafas panjang, berharap kekhawatirannya bisa berkurang.


"Aku sampai lupa bertanya, berita apa yang di tonton orang-orang itu sampai mereka bertingkah sangat agresip? Dan pak Sawn, Iiihhhh.... Jangan sampai aku terlibat dalam masalahnya lagi, melihatnya berteriak seperti tadi membuat ku merinding." Ucap Raina sembari membayangkan peristiwa yang membuatnya sulit bernafas.


Rita menyodorkan ponsel pada Raina, mata Raina terbelalak mendengar wawancara yang di ucapkan Angel.

__ADS_1


Aku tidak mengenalnya, hanya saja aku pernah bertemu dengannya sekali. Dia terlihat polos, aku yakin dia tidak akan berani melakukan itu, untuk wanita sekelas dirinya, dia tidak akan berani menjadi orang ketiga di antara Aku dan Sawn.


Aku percaya pada cinta kami berdua, kami tidak akan pernah terpisahkan apalagi hanya karena pihak ketiga.


Angel memamerkan senyum terbaiknya.


Cinta kami berdua? Pihak ketiga? Dua ungkapan Angel itu berhasil mengoyak hati Raina! Meskipun sedih ia mencoba untuk tersenyum di depan Robin dan Rita.


Cinta kami tidak selemah itu, selama beberapa waktu ini aku menghilang dari media dan kehidupan cintaku Sawn Praja Dinata. Aku mengalami banyak hal dalam hidup ini, meskipun aku hampir mati, aku mencoba untuk kembali, dan ketika aku kembali Sawn ku memeluk ku dengan erat. Ia berbisik di telingaku dengan ucapan yang berhasil mencuri hati ku 'Sayang, jangan tinggalkan aku sendiri'


Angel, lagi-lagi wanita itu tersenyum, kali ini senyumnya lebih lebar. Seakan senyum di wajahnya berkata 'Hai Raina kamu tidak memiliki harapan untuk mendapatkan Sawn, karena Sawn hanya tercipta untuk ku.


Hhmm! Raina hanya bisa menghela nafas kasar, kali ini Robin dan Rita menangkap aroma-aroma kecemburuan dari helaan nafas panjang Raina.


"Kakak, kakak kenapa? Apa Ucapan nona Angel membuat mu kesal?" Sebenarnya Rita ingin bertanya 'Apa kau menyukai tuan Sawn' namun ia mengalihkan pertanyaannya karena ia tahu tidak sopan bertanya seperti itu.


"Tadinya aku merasa terpuruk karena perlakuan gadis-gadis aneh itu. Tapi, sekarang tidak lagi, karena aku yakin masih banyak orang yang perduli padaku. Terimakasi untuk kalian semua." Raina bersungguh-sungguh ketika mengucapkan itu, lihatlah wajahnya, ia sampai-sampai tidak bisa berhenti mengumbar senyum tipis di wajah ayu nya.


"Jangan pikirkan tentang kejadian aneh tadi, anggap saja kau sedang naik Roller Coster." Robin mencoba mengalihkan pikiran Raina, dan untungnya dia berhasil, Raina merasa jauh lebih baik.


"Tanpa mas Robin mengatakan itu, aku juga sudah mengetahuinya. Siapa lagi yang lebih mengetahuinya selain diriku. Manis dan Pahit kehidupan ini rasanya sudah ku rengkuh hanya dalam hitungan Angka." Raina mencoba mengingat kenangan lama yang mewarnai setiap helaan nafas kasarnya.


"Aku bisa memahami kenapa Sawn sangat marah, aku berharap kau tidak akan memasukkan kedalam hati setiap hal yang di ucapkannya dalam kemarahannya, dia memang seperti itu. Jika dia berani memarahi mu di hadapan orang banyak itu artinya dia mulai memperhatikannmu."


Huekk! Rasanya Raina ingin muntah, namun ia berusaha untuk menahannya.


Dia mulai memperhatikanku? Tapi, dia memarahiku di depan orang bayak. Apa itu masuk akal? Orang kaya ini memang aneh. Gumam Raina sembari menelan salivanya.


Kring... Kring.


"Rita, hempon mu berdering. Itu sangat berisik!"


"Maaf pak Robin, tapi itu bukan milik ku! sepertinya itu milik kak Raina." Balas Rita pelan, ia meletakkan koffe yang belum sempat ia seruput diatas meja.


"Mungkin punya kak Raina!" Jawab Rita lagi.


"Punya ku? Ah.... Ia, aku lupa, aku meletakkannya di dalam laci itu." Tunjuk Raina pada laci di samping Robin.

__ADS_1


Nomor baru? Raina mengernyitkan dahinya. Biasanya ia tidak suka mengangkat nomor baru jika sang empunya nomor tidak mengirimi nya pesan terlebih dahulu. Entah kenapa, melihat nomor baru di ponselnya kali ini Raina mengalah.


Pelan Raina menggeser tobol warna hijau, dan terdengarlah suara seseorang dengan deru nafas yang tak beraturan, sepertinya orang di sebrang sana sedang menangis pilu.


"Assalamu'alaikum, ini dengan Raina. Ada yang bisa saya bantu...?" Raina memulai pembicaraan dengan nada santai, berharap orang si sebrang sana menghentikan tangisnya.


Hiks.Hiks.Hiks...


Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir orang yang menghubungi Raina selain suara tangis nya yang terdengar semakin pilu.


Apa air matanya terbuat dari air keran? Kenapa dia tidak mengucapkan sepatah katapun? Jika dia ingin menangis seharusnya dia tidak perlu menghubungi ku, atau setidaknya ia hentikan dulu tangisnya baru menghubungi ku. Aku harus apa jika orang yang menghubungiku hanya menangis seperti ini? Haruskan aku menutup panggilan ini? Atau mungkin saja orang ini salah sambung, karena mengira aku adik atau kakaknya padahal tidak. Gumam Raina dalam hatinya.


"Hhmmm! Kakak, jika kau tidak mengucapkan sepatah kata pun, aku harus apa? Haruskan aku menutup panggilan ini dan anda bisa menghubungi ku nanti saja?" Ucap Raina.


Sementara itu di depannya, Robin dan Rita hanya bisa saling pandang dengan tatapan heran.


"Siapa?" Rita bertanya dengan suara yang hampir tak terdengar. Melihat wajah penasaran Rita, Raina hanya bisa menggelengkan kepala karena ia benar-benar tidak tahu jawabanya.


"Kak Raina... Kakek kak. Hiks...Hiks... Kakek Alfa, kakek Alfa sudah tidak ada!" Ucap wanita di sebrang sana, suaranya masih di iringi dengan tangis pilunya.


Dak.Dig.Duk.


Jantung Raina berdetak lebih cepat, waktu terasa berjalan melambat. Air mata mulai tumpah dari netranya, dadanya terasa sesak. Wajah tersenyum kakek Alfa di pertemuan terakhir mereka masih tampak jelas menari-nari di pelupuk matanya.


Tidak ada lagi percakapan lebih lanjut dari Raina dan wanita yang menghubunginya, sekujur tubuh Raina bergetar hebat. Hampir saja ia tersungkur, untungnya Robin dan Rita memengang lengan kanan dan kirinya. Ponsel yang Raina gunakan terpelanting kelantai.


Ponsel itu hancur sama seperti hatinya yang saat ini hancur berkeping-keping. Tanpa berucap sepatah kata pun Raina langsung berlari meninggalkan Robin dan Rita yang saat ini merasa khawatir.


Beberapa pasang mata memandang heran pada Raina yang terus berlari meninggalkan kantor, bahkan beberapa orang berpikir Raina menangis karena kejadian pagi tadi.


Sawn yang hanya melihat punggung Raina ketika berlari pun merasa sangat khawatir.


Apabila kamu dizhalimi dan dihinakan oleh orang yang menzalimimu, maka tersenyumlah, karena kamu adalah orang yang dizhalimu bukan yang menzhalimi. Pujilah Tuhanmu, mintalah perlindungan-nya bagi dirimu, sehingga kamu tidak berada pada posisinya dan dia berada pada posisimu.


Apabila kamu merasa susah karena tertimpa berbagai duka dan kesedihan, maka tersenyumlah, barangkali senyum bisa menghilangkan berbagai kesalahan dari dirimu.


...***...

__ADS_1


__ADS_2