Mencintai Bodyguard Saleha

Mencintai Bodyguard Saleha
Haru


__ADS_3

Satu setengah jam berlalu sejak kunjungan tante Alya dirumah mewah Sawn Praja Dinata, Raina memutuskan menemui Andre dan menunggu adiknya di depan gerbang sekolah siang ini.


Dari jarak yang tidak terlalu jauh, Raina masih bisa melihat adiknya itu berjalan bersama kawan-kawannya sambil tersenyum bahagia.


Sekilas, cerita Andre yang pernah di kuncilkan teman-teman sekelasnya kembali muncul dalam benak Raina.


Adik ku itu nampak bahagia, aku yakin teman-temannya sudah menerimanya. Gumam Raina sembari menatap wajah sempurna Andre.


"Kakak!" Andre melambaikan kedua tangannya kearah Raina tanpa melepaskan senyum bahagianya.


Setelah berpamitan dengan kedua teman yang mengapitnya, Andre segera berhambur kearah Raina yang masih menunggunya di dalam mobil.


"Kakak datang untuk menjemputku?"


"Mmm." Balas Raina sambil tersenyum tipis.


"Masuklah, kita akan makan siang bersama. Setelah itu kakak akan mengantarmu pulang."


"Baik, kak." Balas Andre lagi tanpa bertanya kenapa Raina menjemputnya.


Sementara itu di tempat berbeda, seperti biasa Sawn masih sibuk dengan tumpukan pekerjaannya. Sesekali, ia menghela nafas berat sambil menyandarkan kepala di sandaran kursi. Tidak tahu kenapa sejak pagi tadi perasaannya benar-benar tidak nyaman, seolah ada hal buruk yang akan terjadi dalam dunia pernikahan damainya.


Tok.Tok.Tok.


Suara ketukan yang bersumber dari pintu membuyarkan pikiran menakutkan Sawn Praja Dinata.


"Masuk." Ucapnya dengan berat hati.


"Selamat siang, bos." Sapa Robin begitu kepalanya menyembul dari balik daun pintu.


"Wajahmu terlihat seperti orang putus asa, apa pernikahanmu baik-baik saja? Katakan padaku jika 'Nona sendirian' mengganggumu. Aku pasti akan menghukumnya." Guyon Robin sambil meletakkan amplop berwana keemasan di atas meja kerja Sawn.


"Apa kau tidak waras! Rainaku itu lebih lembut dari sutra, bahkan kebaikannya mampu melelehkan permata. Lalu, untuk apa gadis sebaik dirinya menggangguku?" Balas Sawn serius.


"Iya, kau benar juga. Yang ada, kau yang akan mengganggu Raina." Sambung Robin sambil berjalan kearah sofa yang kemudian di ikuti Sawn dari belakangnya.

__ADS_1


"Katakan, apa yang kau bawa itu?" Tunjuk Sawn pada amplop keemasan yang di letakkan Robin.


"Oohhh itu? Itu undangan terbuka untuk semua pengusaha sukses yang ada di Nusantara, semua orang berkumpul dalam acara bergengsi itu. Aktris, model, pengusaha, bahkan Dosen yang berpengaruhpun hadir dalam acara itu. Jangan lupa ajak 'Nona sendirian' sudah lama aku tidak melihatnya. Aku merindukannya." Goda Robin pada Sawn.


"Akan ku tayakan pada Raina, apa dia mau ikut atau tidak! Dan satu lagi, jangan panggil Rainaku 'Nona sendirian' telingaku terasa gatal mendengar pria lain mengagumi istriku. Bahkan jika kau temanku, aku tidak akan ragu-ragu melayangkan tinjuku pada wajah sok tampanmu." Balas sawn dengan nada candaan.


Robin terkekeh mendengar ucapan Sawn yang terdengar serius namun terbalut dalam candaan khas yang sering mereka lakukan.


"Apa kau akan datang? Itu akan meyenangkan jika kita bisa berangkat bersama seperti dulu." Sambung Robin lagi sembari mengenang masa-masa ketika Sawn belum berumah tangga.


"Akan ku usahakan!" Jawab Sawn singkat. Kemudian kembali kemeja kerjanya.


"Kau tidak boleh datang kepesta jika Raina tidak ikut bersamamu! Ulat keket sejenis Angel akan menempel padamu lebih buruk dari kutu penghisap darah. Setidaknya, jika Raina ikut bersamamu, itu akan membatasi gerakannya."


Robin sendiri tidak bisa membayangkan betapa besar kebenciannya pada wanita yang bernama Angel. Ia bahkan mengumpamakan gadis anggun itu lebih buruk dari kutu penghisap darah. Setiap kali menyebut nama wanita itu perasaan kesal datang tanpa diminta.


Tanpa diminta, Sawn pun akan mendorong Angel menjauh darinya sejauh-jauhnya. Sudah cukup ia terlibat dengan wanita itu, terlibat dengannya hanya akan membawa luka saja.


...***...


Tidak ada sepatah kata pun yang terlontar dari bibir tipis Andre, ia menjawab Raina hanya dengan anggukan kepala saja.


"Apa kau mau mendengar cerita kakak?" Raina bertanya lagi pada Andre, tangan Raina menggenggam erat jemari Andre. Sementara tatapannya, tak ia lepaskan dari wajah adiknya walau hanya sedetik saja.


Andre kembali mengangguk, mencoba memberi jawaban pada kakak yang sangat disayanginya itu.


"Ketika kakak seusiamu, hal yang paling kakak impikan adalah berbaring di pangkuan ibu. Kau tidak akan bisa membayangkan kesedihan kakak, merindukan sosok ibu siang dan malam terasa sangat membahagiakan, namun kau tidak bisa memeluk dan menciumnya, menurut kakak itu sangat menyedihkan." Ucap Raina sembari melepas genggaman tangannya dari jemari Andre.


"Ketika seorang anak lahir, tidak ada apa pun di dunia ini yang bisa menandingi kebahagiaan menjadi seorang ibu. Terkadang, ada jalan terjal dan berduri yang di lewati seorang ibu untuk bisa bertahan hidup.


Dan baru-baru ini, kakak baru tahu kalau ibumu masih hidup, sepertinya ibumu juga melewati jalanan berduri itu sehingga beliau lebih memilih untuk melepasmu dan melihatmu dari jauh. Kau tahukan siapa ibu kandungmu?"


Lagi-lagi Andre hanya bisa menganggukkan kepala menjawab setiap pertanyaan Raina.


"Kakak tidak akan pernah memaksamu untuk menerima bu Alya sebagai ibumu! Kakak hanya ingin kau tahu, kau beruntung memiliki ibu sebaik bu Alya. Tentang masa lalunya, maafkanlah. Dan menyangkut masa depanmu dengan ibumu serahkan semuanya hanya pada Allah." Ucap Raina serius. Nada suaranya terdengar berat.

__ADS_1


"Raina, terima kasih." Ucap bu Alya sambil tersenyum bahagia.


Raina tersentak, ucapan singkat bu Alya berhasil membuyarkan ingatannya tentang percakapan yang ia lakukan dengan Andre setengah jam yang lalu.


"Sama-sama, tante." Balas Raina sambil mengelus kepala Andre.


"Kau bisa memanggilku dengan sebutan apa pun yang membuatmu nyaman. Bibi, nyonya, tante, atau kau bisa memanggilku Alya." Ucap bu Alya pelan.


Raina sendiri tidak tahu apa yang ada dalam pikiran adiknya itu. Raina tahu, adiknya itu merasa terkejut dan tidak nyaman dengan posisi yang ada saat ini, hanya saja, Raina ingin melihat Andre menjadi anak yang berpikiran luas dan bisa menerima semua kenyataan yang ada di depan matanya, karena sesungguhnya lari dari masalah tidak akan pernah menyelesaikan masalah.


"Kau bisa memanggilku Mama kapanpun kau mau! Bahkan jika aku sampai menua, aku sanggup menunggu untuk itu." Sambung bu Alya sembari menatap Andre yang duduk di depannya dengan kepala yang masih tertunduk.


Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari lisan Raina, ia hanya ingin melihat dan mendengar seberapa besar usaha bu Alya untuk melunakkan hati putranya. Untuk sesaat pikiran Raina berfokus pada bu Rahayu.


Raina menghela nafas panjang memikirkan reaksi ibunya itu jika beliau sampai tahu tentang ibu kandung Andre.


Sebesar apa pun kemarahan bu Rahayu nantinya, Raina bener-benar telah mempersiapkan hatinya untuk menampung kemarahan ibunya itu. Raina hanya ingin agar semua orang berbahagia.


"Ma-ma." Ucap Andre dengan suara berat begitu anak manis itu mengangkat kepalanya.


Terlihat dengan jelas, mata bu Alya berkaca-kaca, air mata tidak berhenti menetes membasahi wajah cantiknya. Mendengar Andre memanggilnya mama serasa Dunia sedang bersimpuh di hadapannya, tidak ada lagi hal yang di inginkannya, karena semua bahagai sudah menjadi miliknya.


"Mama." Ucap Andre lagi dengan suara yang lebih keras. Ia mendekati bu Alya dan memeluk ibunya dengan derai air mata yang tak bisa ditahan lagi.


Hiks.Hiks.Hiks.


Indra pendengaran Raina hanya di penuhi suara tangis saja. Entah bu Alya ataupun Andre mereka berdua sama saja.


Raina menangis. Hanya saja, ia lebih memilih menangis dalam diam, melihat ibu dan anak di depannya saling peluk membuat rongga dada Raina di penuhi perasaan haru luar biasa.


Ya Allah, aku telah melakukan kewajiban pertamaku sebagai anggota keluarga Dinata, menyatukan tante Alya dan putranya. Aku tidak tahu apa pendapat ibuku tentang masalah ini, hanya satu pintaku, jika ada yang harus menangis karena menyatukan Andre dan ibunya, maka biarlah aku yang menanggung segalanya. Lirih Raina dalam hatinya.


Ingin sekali Raina berbagi moment bahagia di depannya ini dengan Sawn Praja Dinata, Raina segera mengambil ponsel dari dalam tasnya dan mengabadikan apa yang dilihat nerta hitamnya dalam bentuk vidio pendek.


...***...

__ADS_1


__ADS_2