Mencintai Bodyguard Saleha

Mencintai Bodyguard Saleha
Kecewa


__ADS_3

"Apa pestanya sudah berakhir, kenapa semua orang berkumpul disana?" Robin melirik Yuna dan Sawn, yang di tanya hanya menggelengkan kepala tidak tahu.


"Aku lupa memberi tahumu, rekan bisnis kita yang kau..." Ucapan Robin tertahan di tenggorokannya begitu ia mendengar ada yang berteriak dari sumber kerumanan yang tidak jauh dari tempatnya berdiri.


"Tutup mulutmu." Wanita yang berdiri disamping Angel kembali meradang, Raina yang di teriaki hanya bisa berusaha menahan amarahnya yang hampir meledak.


Sawn menarik lengan Robin dan berjalan menuju sumber keributan.


"Aku tidak suka terlibat dengan hal konyol. Lepaskan tanganku." Robin menarik lengannya dan membiarkan Sawn berjalan sendirian yang kemudian di ikuti langkah Yuna dari belakang.


"Aku tidak pernah menggunakan lidah ku untuk menghina siapapun, dan aku juga tidak pernah menggunakan tangan ku memukul orang yang tidak bersalah. Hari ini kalian sudah melewati batas, dan batasku pun sudah habis dalam meladeni orang-orang kasar seperti kalian." Raina berusaha meninggalkan kerumunan, entah kenapa seseorang menarik lengannya sambil berteriak.


"Beraninya kau." Karna kesal Angel mendorong Raina, untungnya seseorang menarik lengannya hingga ia tidak terjerembab di lantai.


Pertemuan setiap manusia sesungguhnya tidak pernah terjadi tanpa ada alasan di baliknya. Ada banyak wajah yang kamu temui setiap hari, namun tidak semuanya memiliki warna yang akan membuatmu selalu teringat. Ada yang datang dengan seutas cinta dan senyuman, lalu pergi membawa luka mendalam.


Seperti hari ini, Raina mengangkat tangannya bersiap membalas perlakuan kasar Angel padanya, tangan yang tadinya akan menampar wajah mulus Angel terhenti karna seorang memegang lengannya dengan kasar. Tanpa sepatah katapun orang yang memegang lengan Raina langsung mendorong tubuh Raina sampai membuat tubuh gadis itu terjerembab di lantai yang dingin.


Semua mata memandang kasihan pada Raina yang masih bersimpuh lemah.


"Apa salah ku Tuhan sampai aku di perlakukan seburuk ini." Lirih Raina dengan derai air mata yang tidak dapat ia bendung walau ia ingin melakukannya.


"Apa kau sudah gila, apa yang kau lakukan?" Ucap Robin pada Sawn yang masih berdiri mematung. Robin berjalan kerah Raina kemudian menuntunnya untuk berdiri. Bagai di sambar petir, Robin terkejut begitu melihat wajah menangis Raina.


"Nona sendirian, apa yang kau lakukan disini?" Ucap Robin masih memamerkan wajah terkejutnya.


Nona sendirian? Sawn mengingat dengan jelas kalau itu panggilan khusus Robin untuk Bodyguard yang telah berhasil mencuri ketenangan setiap malamnya.


Sawn menoleh kearah Robin, ia benar-benar terkejut begitu melihat mata wanita yang sangat ia sayangi itu basah karna menangis. Dan yang membuat wanita itu menangis tak lain adalah dirinya sendiri.


"Ya Tuhan, apa yang sudah ku lakukan? Kenapa aku harus hidup jika untuk melihat hal buruk ini. Kau benar-benar buruk Sawn." Sawn mengutuk dirinya sendiri, sementara di sisi kirinya Angel tersenyum penuh kemenangan.


Tatapan Raina dan Sawn saling bertemu, bibir mereka sama-sama terkunci. Membayangkan bagaimana Raina tersungkur semakin membuat Sawn tersiksa, tidak ada yang bisa melihat deritanya selain ia bisa merasakannya sendiri.


Raina berusaha melepaskan tangan Robin yang saat ini masih menggenggam erat lengannya, hanya air mata saja yang bisa mengungkapkan perasaannya saat ini. Malu, Kesal, Sedih, Terhina, semua perasaan itu berkumpul menjadi satu.


...***...

__ADS_1


"Apa kau sudah gila? Kenapa kau mendorong Raina sekeras itu?" Robin berteriak, ia terlalu kesal untuk tidak memarahi Sawn yang saat ini hanya bisa duduk mematung.


"Sudahlah, percuma bicara denganmu saat ini. Tidak ada gunanya." Ucap Robin sambil berjalan keluar dari kamar Sawn yang gelap.


Setiap detik perputaran semesta, tidak pernah luput dari penglihatan Allah. Juga di tiap jengkal rasa khawatir yang terkirim lewat doa-doa dari bibirmu, dia pasti mendengarnya. Dalam nafasmu yang terengah-engah karna kelelahan bekerja, Dia telah mencatatnya dengan ribuan pahala.


Sama halnya dengan Sawn, saat ini ia nyaris putus asa, merasa gila karna perlakuannya pada Raina sejam yang lalu.


Pranggg!


Sawn melempar pas bunga yang berada di atas nakas.


Kata orang, kebencian yang berlebihan sejatinya adalah awal dari rasa cinta yang membuncah. Sawn sadar, ia di buat amat sangat tak nyaman oleh Raina, namun di lubuk hatinya yang terdalam ada begitu banyak pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab. Ia ingin menelusuri alasan yang lebih jelas kenapa Raina bisa hadir di pesta Angel tanpa sepengetahuannya.


Klikkk!


Yuna menyalakan lampu kamar Sawn. Gadis manis itu merasa prustasi melihat kakaknya duduk dalam kegelapan. Baru kali ini ia melihat kakaknya serapuh itu.


Ini bukan pertama kalinya Yuna melihat kakaknya berada dalam masalah, dulu ketika Angel meninggalkannya, Sawn selalu menghabiskan setiap malamnya di Clab malam walaupun ia kesana tidak untuk mencicipi minuman keras.


"Matikan lampunya!" Ucap Sawn sembari menghalangi cahaya dengan tangannya.


"Kakak! Ini tidak benar, kak." Balas Yuna dengan derai air mata yang tidak dapat ia tahan. Pelan Sawn memandang wajah sedih adiknya dengan tatapan yang tidak kalah sedih dari Yuna.


"Matikan lampunya, Yuna. Kakak tidak suka cahaya nya." Ucap Sawn dengan suara yang nyaris tidak terdengar.


"Ada apa dengan kakak? Seharusnya kakak mencari kak Raina dan minta maaf padanya, bukan sebaliknya mengurung diri di kamar gelap ini." Balas Yuna sambil mendekati Sawn yang duduk di lantai sembari menyandarkan tubuhnya di lemari pakaian.


"Kakak harus minta maaf karna apa? Apa karna kakak tidak tahu dia Raina? Atau karna dia mencoba menampar Angel? Tolong tinggalkan kakak sendiri!" Ucap Sawn sembari menangkupkan kedua tangan di depan dada.


Melihat kakaknya menangkupkan kedua tangan di depan dada membuar Yuna terkejut luar biasa.


"Baiklah. Yuna akan meninggalkan kakak sendiri, Yuna mohon kakak jangan menyakiti diri kakak sendiri." Ucap Yuna sambil melangkah kaki, ia mematikan lampu kamar Sawn kemudian meninggalkan kakaknya sendiri dalam kegelapan.


Aaaaaaaa!


Hikkkk.Hikkk.

__ADS_1


Sawn berteriak keras yang kemudian di iringi suara tangisnya yang mulai pecah dalam kegelapan. Mendengar suara tangis kakaknya membuat Yuna semakin bersedih.


"Kak Raina, Kakak dimana?" Lirih Yuna pelan sambil menghapus air mata dengan punggung tangannya.


...***...


"Mbak yu kenapa lagi? Apa kali ini ada masalah yang tidak kuketahui?" Ucap bu Romlah sembari menghempaskan tubuhnya di Sofa yang tak jauh dari posisi bu Rahayu berdiri.


"Mbak sendiri tidak tahu kenapa mbak sangat gelisah. Padahal anak-anak sudah pada tidur!" Balas bu Rahayu Sembari menghempaskan tubuhnya di sofa yang sama tempat bu Romlah duduk.


"Apa terjadi sesuatu pada Raina?" Bu Rahayu mulai memamerkan wajah gelisahnya.


"Mbak yu mulai dech. Jangan bicara sembarangan, bagaimana jika omongan mbak yu benar, lalu Raina memiliki masalah."


"Maafkan mbak, Rom. Mbak yu lupa kalau omongan itu bisa jadi doa. Mau gimana lagi, hati seorang ibu selalu mengkhawatirkan anak-anaknya!" Ucap bu Rahayu sambil beristigfar dalam hatinya.


"Seharusnya mbak yu pergi saja kealamat yang di tunjukan wanita itu." Ucap bu Rahayu lagi sambil menyenderkan kepalanya di pundak bu Romlah.


"Apa mbak yu sudah gila? Untuk apa mbak yu mempercayai wanita itu. Lagi pula aku tahu, Raina kita tidak akan pernah berteman dengan wanita seperti itu. Melihat caranya berpakaian membuatku nyakin dia hanya wanita aneh pengadu domba."


"Kurasa kau benar, Rom. Tolong ambilkan ponsel, mbak mau menelpon Raina." Ucap bu Rahayu sambil membuang nafas gelisah.


Bu Romlah menarik lengan bu Rahayu sembari menunjuk kearah pintu masuk.


"Mbak yu bisa lihat, kan? Raina kita baik-baik saja." Ucap bu Romlah masih menunjuk kearah pintu, Raina ada disana sambil memamerkan senyum bahagianya.


Dua wanita yang sangat di cintai oleh Raina itu pun tersenyum kearahnya, tidak ada yang tahu saat ini Raina sedang menangis dalam hatinya, menangis pilu sampai ia tidak bisa mengucapkan sepatah katapun.


"Apa kabar sayang?" Bu Rahayu mencium kening Raina kemudian mengelus lemput kepala putrinya.


Ya Allah, aku kecewa. Sangat kecewa. Malam ku terasa kelam. Tapi aku tahu semuanya akan baik-baik saja. Lirih Raina dalam hatinya, kemudian hanyut dalam pelukan ibunya yang sangat dia rindukan.


Bagi Raina, pertemuannya dengan Sawn malam ini cukuplah menjadi alasan untuk tak pernah lagi mengungkit nama Lelaki itu walau dalam kesendiriannya. Sawn memang lelaki dingin dan pemarah, namun yang dilakukan lelaki itu padanya malam ini benar-benar membuktikan ia tidak pantas untuk memikirkannya. Perlakuan Sawn malam ini telah mengikis habis kekaguman Raina atas perasaannya. Maka tak ada alasan yang ingin disemai Raina ketika mereka berhadapan kembali.


Namun, akankah Allah mengizinkan dua insan ini mengakhiri hubungan mereka sebelum mereka memulainya...?


...***...

__ADS_1


__ADS_2