Mencintai Bodyguard Saleha

Mencintai Bodyguard Saleha
Rahasia (Part2)


__ADS_3

Kamu dimana? Aku menunggumu! Jika dalam dua menit kamu tidak datang, gaji mu akan ku potong.


Raina bangkit dari posisi duduknya, matanya melotot membaca pesan singkat yang dikirim Sawn padanya.


"19:30. Oh tidak, pesan ini dikirim setengah jam yang lalu. Apa orang ini tidak punya hal lain yang ingin dia katakan padaku, ia selalu saja mengancam 'Potong Gaji' Dasar meyebalkan." Umpat Raina kesal sambil melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.


Waktu menunjukan pukul 20:19 ketika Raina membaca pesan singkat yang ada di ponselnya.


"Ini sangat telat. Sebaiknya aku tidak perlu masuk. Aku khawatir dia akan mengulitiku dengan sikap pemarahnya." Ucap Raina lagi sambil meletakkan ponselnya.


Apa aku harus memberikan mu undangan untuk segera datang. Ku hitung sampai lima, jika kamu tidak juga datang, maka aku akan menghukum mu dengan....🤔


Raina tersenyum simpul membaca pesan singkat kedua yang di kirimkan Sawn untuknya. Tanpa berpikir panjang Raina segera masuk kedalam dan di dapatinya Sawn duduk dengan dua wanita, Raina tersenyum melihat wanita yang duduk menggunakan jilbab Maroon karena itu sosok yang nampak akrab di netranya, berbeda dengan wanita bergaun biru, Raina sama sekali tidak mengenalinya.


"Apa bapak memanggil ku?" Tanya Raina begitu ia sampai di hadapan tiga Makhluk indah yang sedang menikmati makan malamnya. Mata Raina melotot melihat Sawn, tidak ada makanan apa pun di depannya selain secangkir koffe yang hampir habis.


Ooh ya ampun, lihatlah orang ini! Kenapa malam-malam minum koffe? Dasar aneh! Lirih Raina dalam hatinya, sejujurnya ia pernah mendengar cerita bi Sumi kalau Sawn tidak bisa minum koffe di malam hari, itu akan membuatnya terjaga sepanjang malam.


Apa yang membuatnya sampai lupa kalau dia tidak bisa minum koffe di malam hari? Sudahlah. Apa perduli ku, tugasku hanya mengawalnya. Pulang, kemudian tidur. Lirih Raina lagi, ia tidak begitu memperhatikan kalau Sawn menatapnya dengan tatapan tajam.


"Apa aku juga harus mengirim pesan agar kamu mau duduk." Sawn pura-pura terlihat kesal, padahal sebenarnya ia ingin bersenangdung ria memberi tahukan pada dunia kalau kekasihnya telah tiba.


"Ooh... Jadi dia Singa Betina itu? Tidak buruk." Ucap bu Alya sambi mengangkat jempolnya pada Sawn. Berbeda dengan bu Hanum, ia hanya bisa tersenyum kecil sambil menunjuk bangku yang harus di duduki Raina.


"Pelayan." Panggil Sawn sambil mengangkat tangan kanannya kearah pelayan wanita berseragam hitam putih dengan rambut panjang yang di kuncir kuda.

__ADS_1


"Bawakan aku ini, ini, dan ini." Tunjuk Sawn pada menu yang ada di tangannya, pelayan itu hanya mengangguk, sesekali menjawab 'Ia' Raina hanya bisa diam saja, karena sejujurnya semua makanan yang di sebutkan Sawn terdengar aneh di telinganya.


Dua menit kemudian pesanan yang di minta Sawn sudah ada di atas meja.


"Singa Betina. Uupp... Maaf, maksut ku Raina. Kalian makan saja. Jangan hiraukan kami." Ucap bu Alya sambil menunjuk kearah bu Hanum.


Untuk sesaat meja makan kembali sunyi, Sawn dan Raina sama-sama sibuk dengan kunyahannya. Sementara bu Alya, ia sibuk dengan ponselnya.


"Apa yang akan kau lakukan jika keluarga itu menolak memberikan putramu kembali?" Bu Hanum bertanya sambil meletak kan cangkir tehnya di meja. Mendengar pertanyaan Bu Hanum, bu Alya terlihat tegang. Sesekali Raina memberanikan diri menatap dua wanita hebat di depannya.


Hemmm! Bu Alya menghela nafas, wajahnya terlihat prustasi. Untuk pertama kalinya ia merasa selemah ini, dan untuk pertama kalinya pula ia setidak berdaya ini.


"Tante tidak perlu khawatir, aku, papa dan mama ada untuk tante. Bagaimanapun juga keluarga itu harus mengembalikan putra tante Alya secepatnya, karena mereka tidak berhak menahan anak orang lain di rumah mereka. Tidak tahu seburuk apa keluarga itu." Ucap Sawn dengan nada sinis, amarah mulai terdengar dari ucapan singkatnya.


"Mbak, sebaik-baiknya keluarga itu, aku tidak ingin anak ku berada di tempat itu lebih lama lagi. Tempat itu sangat sempit, sampai kapan pun juga aku tidak akan pernah membiarkan orang-orang payah itu merawat putra ku." Ucap bu Alya sinis.


Uhuk. Uhuk. Uhuk.


Raina batuk-batuk karena tersedak makanan yang hapir masuk ke saluran pernafasannya.


"Apa kamu sangat lapar sampai harus tersedak makanan? Makan perlahan." Ucap Sawn judes, padahal sebenarnya ia sangat khawatir.


"Mmm! Maaf." Ucap Raina menyesal.


"Apa kau baik-baik saja? Apa kau perlu ke dokter?" Bu Hanum terlihat khawatir.

__ADS_1


Setelah Raina meminum air, ia memperbaiki posisi duduknya, berharap apa yang akan ia katakan tidak akan membuat siapa pun tersinggung.


Ya Allah. Jaga lisanku, jangan biarkan aku menyakiti hati dan perasaan orang lain. Lirih Raina sambil menarik nafas panjang kemudian pelan menghembuskannya.


"Apa saya boleh mengatakan sesuatu?" Raina mencoba meminta izin untuk menghormati tiga orang penting yang duduk di depannya.


"Apa yang ingin kau katakan, katakan saja. Tidak perlu meminta izin." Balas Sawn sambil menyodorkan tisu pada Raina, karena ada sisa makanan di sudut kiri bibirnya.


"Orang-orang payah! Menurut ku itu kata-kata yang kasar. Nyonya Alya, anda tidak boleh berkata seperti itu untuk orang yang sudah berjasa membesarkan putra anda. Siapa pun dia, anda harus berterima kasih padanya. Karena berkat orang itulah putra anda masih hidup sampai saat ini." Raina menghentikan ucapannya, ia bisa melihat raut kesal dari wajah bu Alya yang di tujukan padanya. Meskipun begitu, yang salah harus di luruskan.


"Nyonya mungkin tidak tahu beratnya tinggal tanpa orang tua. Saya mengalami itu sejak saya berusia delapan tahun. Sejak orang tua saya meninggal, saya di adopsi oleh pasangan suami istri yang sangat kejam. Tidak ada hari tanpa penyiksaan, bahkan tulang rusuk ku sampai patah." Raina menghela nafas, dadanya terasa sesak. Rasa sakit itu kembali menyeruak, menghantam ketenangannya. Rasanya Raina ingin menangis meraung mencoba menghilangkan rasa sakit. Namun tetap saja, luka lama akan sulit di sembuhkan walau seiring berjalannya waktu sakitnya akan tetap terasa.


"Anda harus bersyukur karena orang yang merawat putra anda orang yang baik. Anda harus bersabar jika keluarga itu belum memberikan izinnya untuk membawa putra anda pulang. Jika anda bisa marahasiakan keberadaan putra anda dari dunia, maka ibu angkat sebaik ibu angkat putra anda pun bisa memberikan nyawanya untuk anak-anaknya."


Bu Hanum, bu Alya, dan Sawn masih menyimak setiap kata yang di rangkai Raina, kata-katanya bak tamparan halus yang mendarat di pipi bu Alya.


Tulang rusuk ku patah!


Ucapan singkat itu seolah menari-nari di benak Sawn Praja Dinata. Ia menoleh kearah lain sembari cepat menghapus air mata sebelum ketiga wanita anggun di hadapannya mengetahui dirinya menangis.


Aku bersumpah akan menghukum manusia rendah yang berani melukai Raina ku! Lirih Sawn dalam hatinya. Merasa lebih baik, Sawn kembali menatap secara bergantian tiga wanita anggun yang duduk di depannya sembari melempar senyum tipis untuk menyembuyikan kesedihannnya.


Entah rahasia kelahiran anak mana yang menjadi bahan pembicaraan Raina Salsadila! Meskipun begitu, ia berharap semuanya akan berjalan baik antara ibu angkat anak itu dan nyonya Alya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2