Mencintai Bodyguard Saleha

Mencintai Bodyguard Saleha
Pertengkaran Wanita


__ADS_3

Ketika mata telah di butakan dari kebenaran, maka aib orang lain akan terasa manis untuk di ungkapkan jadi bahan pembicaraan. Tidak ada lagi perasaan sedih karena menyakiti orang lain. Seolah nafsu dalam diri berkata, lakukan saja karena semuanya baik-baik saja.


"Bu, ibu.... Cepat kemari!" Ega yang merupakan keponakan bu Sumi berteriak dari ruang tengah, Bi Sumi dan Melati yang masih sibuk membereskan pakaian di belakang terkejut mendengar teriakan itu.


Kedua wanita beda generasi itu langsung berlari kearah sumber teriakan untuk mencari tahu masalah yang terjadi. Mereka berpikir Ega terjatuh atau luka, nyatanya wanita muda itu sedang asyik menonton berita di pagi hari.


"Apa kamu senang melakukan ini? Untuk apa berteriak? Kami pikir kamu terjatuh dari tangga dan tulang mu patah!" Ucap bi Sumi kesal berusaha menahan amarahnya.


"Ibu, ini masalah besar! Coba ibu lihat berita di Televisi, bukankah ini...." Ucapan Ega tertahan di tenggorokannya, belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, bi Sumi malah mencecarnya.


"Apa aku terlihat memiliki waktu luang untuk hal seperti ini? Untuk apa kamu menonton acara gosip, segera matikan televisinya! Kita punya banyak pekerjaan." Bentak bi Sumi tanpa memandang kearah lain.


"Bu, ini tentang non Raina. Berita konyol ini menjelek-jelekan non Raina!" Ucap Ega kesal, bi Sumi yang tadinya akan pergi langsung merebut remot kontrol dan mebesarkan volume suara, semua pakaian yang ada di tangan bi Sumi terjatuh, ia tidak dapat menahan keterkejutannya.


"Ada apa dengan berita ini? Kenapa wanita itu mengatakan non Raina mencuri tuan Sawn dari nona Angel. Padahal kita semua tahu kalau itu tidak benar! Bagaimana jika non Raina tahu semua orang menyalahkannya atas kesalahan yang tidak pernah ia lakukan? Ooh tidak... Hatinya pasti akan hancur." Ucap bi Sumi pelan, air mata mulai menetes dari sudut matanya.


Walaupun Raina orang baru di istana Sawn Praja Dinata, namun bi Sumi sudah terlanjur dekat dengannya. Kasih sayang mereka nyata, karena itulah ketika orang yang ia sayangi di sakiti, naluri keibuannya mengutuk orang yang berani membeberkan berita palsu hanya untuk menaikkan popularitas.


"Untunglah tuan Sawn sudah berangkat! Jika tidak, dia pasti akan membuat keributan." Gumam bi Sumi dalam hatinya sembari mengatur deru nafasnya, karena kesal membuatnya sulit bernafas.


...***...


Waktu menunjukan pukul 9:30 ketika Raina baru saja menginjakkan kakinya di Lobby kantor, setiap orang yang ia temui memandang dengan tatapan tajam kearahnya, seolah mata-mata itu memberikan isyarat kalau dirinya akan berakhir seperti dalam permainan, Skakmat.


"Ooh... Jadi wanita perebut kekasih orang itu seperti ini? Mungkin gara-gara Jilbabnya dia tidak bisa menemukan yang sesuai menurut levelnya." Ucap salah seorang karyawan wanita bertubuh ramping.


"Aku tidak mengerti maksut perkataan mu, apa kamu bisa mengulanginya?" Jawab Raina sambil menatap tajam kearah wanita yang berani membawa-bawa jilbab dalam urusan pribadi yang Raina masih tidak pahami.


Brusss!


Secangkir air dingin mendarat tepat di wajah polos Raina. Ia mulai menatap satu per satu wajah setiap orang yang berdiri di depannya, mereka semua memandang dengan tatapan sama. Mata yang penuh dengan Amarah.


"Apa kau sudah tidak waras?" Raina membentak wanita yang menyiram air ke wajahnya.


"Air itu khusus untuk mu, agar akal mu kembali normal!" Ucap wanita bergaun biru sembari memamerkan wajah kesalnya.


"Kami tidak menyangka boss besar bisa menerima mu menjadi pengawal pribadinya! Dasar parasittt!" Ucap wanita itu lagi.


"Apa? Parasitt!"

__ADS_1


Raina mengusap dada sembari membuang nafas kesal, ingin rasanya ia menarik rambut wanita kasar itu. Namun ia masih berusaha menahan diri untuk tidak melakukannya.


"Aku tidak pernah melihat wanita menjijikkan selain dirimu, kamu bersembunyi di balik kain penutup kepala ini, hah?"


"Cukup! Ini masih pagi, tapi aku malah mendengar omong kosong dari kalian? Aku berusaha untuk tidak marah ketika kalian menghinaku, tapi kali ini kalian benar-benar melampaui batas. Tadi apa yang kalian katakan? Aku bersembunyi dibalik kain penutup kepala. Jaga ucapan kalian, hanya orang terhormat yang menghormati orang lain, dan kalian? Aku tidak yakin tentang itu."


Setelah mengatakan itu Raina berusaha meninggalkan kerumunan yang menyudutkan dirinya, sayangnya itu tidak mudah. Seorang wanita tidak membiarkan Raina pergi dengan cara mencengkeram lengannya.


"Lepas." Ucap Raina kasar.


Bukannya melepaskan lengan Raina, wanita itu malah mencengkeramnya lebih kuat.


Raina mundur dua langkah kemudian balas menarik lengan wanita itu, ia mengunci wanita itu dengan lengannya dan tanpa sengaja ia menginjak kaki wanita itu dengan sepatu kets nya.


Auuu! Wanita itu meringis! Mendengar wanita itu meringis Raina segera melepas cengkeramannya.


"Dengar! Aku bukan orang yang bisa kalian takut-takuti, karena sekali kalian menamparku maka aku akan balas menampar kalian dua kali." Raina mencoba menakut-nakuti wanita itu agar mereka menjauh sehingga ia bisa pergi dengan mudah.


"Ooo... Ular ini sudah berani menunjukan taringnya, aku tidak takut." Ucap wanita itu kesal sembari mengibaskan tangannya yang masih terasa sakit bekas cengkeraman Raina.


Mendengar perdebatan tak kunjung selesai, seorang receptionis mengambil inisiatif untuk menelpon ponsel Robin.


"Ooh... Tidak. Rita, tolong angkat telponnya!" Robin bicara sambil tangannya membolak-balik beberapa file lama, ia tidak menyadari kalau Rita tidak ada di tempat duduknya.


Suara deringan telpon itu benar-benar mengganggu konsentrasinya, sampai-sampai Robin harus berjalan kearah meja kerja Rita.


"Hallo, ini dari kantor sekretaris, ada yang bisa saya bantu?"


"Pak Robin, ini Lisa pak dari meja Receptionis. Di Lobby sedang ada keributan besar antara non Raina dan beberapa kariawan wanita. Bapak harus datang sekarang." Ucap Lisa di sebrang sana, terdengar kecemasan dari nada suaranya.


"Apa?" Robin terkejut sembari memegang dadanya.


"Apa kamu yakin kalau itu Raina?" Tanya Robin lagi.


"Ia, pak. Itu benar-benar nona Raina." Ucap Lisa lagi.


Robin langsung menutup panggilan kemudian berlari keluar kantornya. Semua dokumen yang ada di tangannya berserakan dilantai. Saat ini ia hanya ingin segera ke Lobby tanpa menghiraukan hal lainnya lagi.


...***...

__ADS_1


"Apa yang sedang kalian lakukan?" Sawn berteriak kasar di depan puluhan kariawan.


Raina hampir saja terjatuh, tanpa sengaja ia terdorong karena terkejut mendengar teriakan bos besar yang biasanya tidak pernah terlibat dengan urusan peribadi kariawannya.


Untungnya Sawn segera menangkap tubuh Raina, sehingga ia tidak tersungkur kelantai.


"Ada apa dengan mu? Apa kamu sangat suka terjatuh sampai-sampai kamu tidak bisa membela dirimu sendiri?" Sawn mencecar Raina dengan teriakan kerasnya.


Raina yang di teriaki hanya bisa merunduk pasrah. Apalagi yang bisa ia lakukan selain diam, toh ia sudah tahu tabiat laki-laki di depannya ini sangat hobby marah-marah.


"Dan kalian? Kalian berkumpul seperti lalat hanya karena gosip murahan. Haruskah aku bertepuk tangan karena melihat kalian bertenggar di perusahaan ku! Apa untuk ini aku membayar kalian?"


Kali ini Sawn benar-benar geram.


Tidak ada satupun yang berani mengangkat kepalanya mendengar omelan Sawn.


"Jangan pernah ulangi lagi apa yang kalian lakukan hari ini, karena aku tidak akan segan-segan memecat kalian semua. Sekarang, bubar!"


Sawn menatap Raina dengan pandangan kesal, ia berdiri di depan Raina sambil melipat kedua lengannya.


"Didepan ku, kamu bertingkah seperti singa kelaparan. Sementara di depan para gadis itu kamu berubah menjadi kelinci manis yang tidak bisa membela dirinya ketika akan di penggal. Sebenarnya kamu ini siapa?"


"Sudahlah, biarkan dia pergi. Apa kau tidak lihat pakaiannya basah?" Ucap Robin sembari menarik lengan Sawn.


"Rita, bawa Raina pergi bersamamu." Ucap Robin lagi. Dalam hatinya ia sangat khawatir, Sawn terlihat sangat marah dan ia tidak ingin menambah kekesalan sahabatnya lagi.


"Ini hanya pertengkaran antar wanita, seharusnya ia tidak terlibat." Gumam Raina dalam hatinya sebelum ia benar-benar menghilang dari pandangan Swan Praja Dinata.


Sawn meninggalkan Lobby dengan kekesalan yang masih membara di hatinya. Mendapat berita Raina bertengkar di Lobby bersama para karyawan lain membuatnya sangat kesal. Lebih-lebih alasan pertengkaran mereka karna dirinya. Sawn berpikir keras siapa dalang di balik kekacauan ini.


"Selama ini aku selalu menjauhkan kehidupan pribadiku agar tidak tercium media, lalu siapa yang berani mengganggu singa yang sedang tidur ini?" Gumam Sawn.


"Kalian bertiga, cari tahu wartawan yang berani menulis berita konyol ini. Temukan dalang di balik semuanya. Aku harus mengetahuinya, dengan begitu aku bisa memberikan hukuman padanya. Waktu kalian satu kali dua puluh empat jam." Sawn memberikan perintah tegas, dan ketiga bodyguard itu langsung bergerak.


Matahari akan terbenam, dan bintang-bintang akan datang menghiasi malam-malam mu. Di antara perputaran waktu itu, sedikit demi sedikit rahasia yang tersembunyi pun akan terkuak dengan sendirinya. Tidak perduli sekuat apa pun seseorang berusaha menyembunyikannya.


Karena Takdir selalu bekerja mengikuti kehendak yang kuasa! Allah!


...***...

__ADS_1


__ADS_2