
Waktu berjalan terasa begitu cepat. Sebulan yang dinanti-nantikan Yuna dan Prof. Zain akhirnya datang juga. Sembilan puluh sembilan persen dari rencana awal pernikahan mereka telah rampung secara sempurna. Kini mereka tinggal mununggu kapal mereka berlayar menuju samudra, samudra rumah tangga yang entah akan membuat mereka bahagia atau justru sebaliknya menderita.
Yuna sendiri menyadari, setelah menikah kehidupan wanita akan berubah seutuhnya. Karena itulah, nasihat mamanya selalu bergema ditelinganya, carilah lelaki yang bisa membuatmu shalihah, bukan cuma merubah statusmu dari single menjadi menikah. Entah berapa puluh kali sudah Bu Hanum mengulangi ucapan yang sama. Dan hari ini Yuna berdo'a dengan sepenuh hatinya agar sosok Prof. Zain De Lucca bisa membuatnya bahagia.
Menikah itu hal yang baik jika sudah ada keinginan dan kemampuan. Namun perlu di ingat, menikah perlu banyak pertimbangan bukan sekadar ikut trend semata.
Jika ingin berlayar pilihlah nahkoda yang tepat, lautan itu luas dan dalamnya lautan dibawahnya tak selamanya tenang, gerimis, hujan dan juga badai bisa datang kapan saja. Jika nahkodanya tepat, tentu akan bisa melewati rintangan-rintangan yang datang menghadang. Yuna kembali mengingat nasihat Mamanya sebelum ia memutuskan menerima Prof. Zain sebagai masa depannya.
Sekarang ia menatap pantulan wajahnya di cermin sambil menyisir rambut sebahunya. Keyakinan dan percaya diri akan pilihannya kini memenuhi rongga dadanya. Ia begitu yakin akan pilihannya sampai ia sendiri lupa sejak kapan rasa yang biasa-biasa saja itu menjelma menjadi rasa luar biasa.
Untuk sesaat Yuna disibukkan oleh pikiran-pikiran yang selama ini membebani hatinya, ia tersadar setelah mendengar suara tangisan bayi yang terdengar bergema di indra pendengarannya. Tanpa berpikir panjang Yuna langsung membuka pintu kamarnya kemudian berlari menuju ruang tengah tempat berkumpulnya semua anggota keluarga.
"Kakak." Yuna berhambur kedalam pelukan Raina, untuk sesaat ia manangis dalam pelukan kakak ipar tersayangnya itu.
"Hay... Kenapa pengantin kami menangis? Kau harus bahagia dan jangan sia-siakan air mata ini." Guyon Raina sambil melepas pelukannya dari tubuh ramping adik ipar kesayangannya, Yuna Dinata.
"Kau lihat Malaikat kecil itu? Dia sangat bahagia sampai tidak sabar untuk segera keluar hanya untuk menyaksikan kebahagiaan tantenya." Goda Raina lagi, kali ini ia menunjuk Malaikat kecilnya yang masih terlelap dalam dekapan Suami tersayangnya, Sawn Praja Dinata.
"Kakak... Apa aku boleh menggendongnya?" Yuna bertanya sambil menggenggam erat jemari Raina. Tidak ada balasan dari Raina selain anggukan kepala.
Melihat tanggapan Raina, dengan sikap antusias luar biasa, Yuna langsung menghampiri Sawn yang saat ini berdiri di samping Pak Andi dan Bu Hanum.
"Kakak... Aku ingin menggendongnya! Berikan padaku. Dan satu lagi, selama aku menggendongnya, kakak tidak boleh mengambilnya dariku, tidak ada bantahan. Titik." Ucap Yuna setelah ia mengambil Malaikat kecil itu secara paksa dalam dekapan Sawn Praja Dinata.
"Mama lihat kelakuan putri Mama? Dia belum menikah tapi dia sangat antusias pada putraku." Sawn pura-pura mengeluh pada Bu Hanum, sedetik kemudian ia tersenyum sambil menepuk bahu Yuna hanya untuk menggoda adik kecilnya itu.
Waktu benar-benar berjalan sangat cepat, dua bersaudara yang selalu menghabiskan waktu mereka untuk bercanda dan belajar bersama, Sawn dan Yuna, kini mereka sudah benar-benar dewasa dan harus menjalani hidup masing-masing, memikirkan hal itu membuat Bu Hanum ingin meneteskan air mata. Dua anak nakalnya yang selalu membuat kegaduhan kini sudah bukan miliknya lagi.
"Mama tidak perlu bersedih. Setelah anak-anak pergi, tinggal kita berdua disini. Apa Mama tidak merindukan saat kita menjadi pengantin baru? Papa sangat merindukan masa-masa itu. Dan Papa janji, Papa akan bersikap baik pada Mama!" Pak Andi berusaha menghibur Bu Hanum yang mulai merasakan kesedihan mendalam, ia berbisik di telinga istri tersayangnya itu sambil mengukir senyuman. Bukannya membalas ucapan suaminya, Bu Hanum malah bersemu memerah. Pak andi dan Bu Hanum bersikap layaknya remaja yang baru merasakan cinta. Begitulah seharusnya bersikap dalam menjalani rumah tangga, bahagia dan derita harus di jalani bersama-sama, tidak perlu saling menyalahkan jika ada derita yang datang tanpa pemberitahuan sebelumnya.
"Assalamu'alaikum... Apa kabar Baby boy? Tante sangat bahagia bisa melihatmu. Apa kau tidak menyusahkan Ummimu hanya untuk melihat tante bahagia?
__ADS_1
Dokter bilang, Ummimu akan melahirkan bulan depan. Tapi apa ini? Kau bahkan lahir di pertengahan bulan. Kau tidak boleh keras kepala seperti Abimu." Goda Yuna pada keponakan kecilnya yang masih menutup mata, Yuna tersenyum sambil mengusap setiap inci wajah menawan keponakannya itu. Ada bahagia yang saat ini memenuhi rongga dadanya, bahagia yang ia sendiri tidak bisa mengukur kedalamannya.
Bahagia itu sederhana, jika setiap hal kecil yang datang padamu dan kamu bisa bersyukur untuk itu, maka tidak akan ada kesedihan yang akan memberatkan pundakmu. Tetap memohon pada yang kuasa agar hatimu di lapangkan olehnya, karena setiap bahagia ataupun derita, semuanya bersumber dari hati.
...***...
02:30 malam.
Dret.Dret.Dret.
Getaran ponsel yang bersumber dari atas nakas membuat Yuna terkejut luar biasa. Bagaimana tidak, saat ia sedang khusyuk-khusyuknya berdoa, entah orang tidak waras mana yang mengiriminya pesan di tengah malam buta.
Dret.Dret.Dret.
Pesan pertama, kedua, ketiga, keempat dan kelima terus saja masuk tanpa bisa ia baca. Karena sesungguhnya berbicara dengan Rabbnya saat Tahajud lebih ia sukai dari pada sekedar membaca pesan cinta.
Ya Allah...
Sehari, dua hari, sepekan, dua pekan, dan kali ini pekan keempat pun telah berlalu begitu saja.
Aku di sini tak pernah kenal kata lelah dan menyerah untuk senantiasa mencari ilmu, memantaskan diriku dihadapanmu sehingga dia yang kau takdirkan untuk ku akan merasa bangga bahwa aku adalah pilihan terbaik untuknya. Pinta Yuna memulai doa panjangnya. Sungguh, berdoa di tengah malam jauh lebih menenangkan dan mendatangkan kekhusyuan.
Aku disini belajar banyak hal, agar nanti suatu saat, saat gelombang masalah dalam hidup menerpa kami berdua aku tidak akan mengeluhkan takdir yang kau gariskan untukku.
Allah...
Saat ini aku benar-benar siap untuk berjuang di jalan yang kau berkahi bersama dia yang kau pilihkan untukku. Aku siap membangun keluarga yang penuh cinta. Dan bersama membangun istana di Surga.
Allah...
Aku sadar diriku jauh dari sempurna. Aku memang bukan Siti Khadijah, tapi aku belajar setia darinya. Aku bukanlah Siti Aisyah, tapi aku belajar ikhlas darinya. Aku bukanlah Fathimah binti Muhammad, tapi aku belajar tabah darinya.
__ADS_1
Allah...
Kini aku telah siap untuk menyempurnakan separuh agamaku, maka mudahkanlah setiap urusanku. Dan ku serahkan setiap urusanku padamu, maka berkahilah hidupku. Aamiin...
Yuna menyudahi doanya dengan keyakinan akan dikabulkan oleh yang Kuasa. Sudut matanya masih berair, pelan ia menghapus sudut mata dengan punggung tangannya.
Beberapa orang mungkin lebih mudah meneteskan air mata saat menonton film yang menguras emosi. Namun, salah satu kenikmatan yang diberikan Allah pada hambanya adalah kenikmatan ketika dia berdoa sambil meneteskan air mata.
Jika bimbang dan ragu memenuhi rongga dadamu bagaimana bisa kau akan menemukan kenikmatan saat kau menghadapkan wajahmu pada Tuhan yang maha Pemurah? Betapa tak berartinya diri ini, diri yang selalu lupa betapa baiknya yang Kuasa sementara kita masih larut dalam dosa. Nasihat Mamanya kembali bergema di indra pendengarannya. Baru saja Yuna menghapus sudut matanya dan bersiap bangun dari sajadahnya, air matanya kembali tumpah dan menghalanginya untuk bangun.
"Ya Allah ampuni dosaku dan berilah kekuatan untuk jiwaku, kekuatan yang bisa membuatku semakin dekat denganmu." Ucap Yuna dengan suara lirih, kemudian ia beranjak dari tempat duduknya.
"Aahhh iya... Ada pesan masuk untukku." Ucap Yuna lagi setelah ia duduk di tempat tidurnya. Pelan ia meraih ponsel yang ia simpan di atas nakas. Setelah membaca Bismillah, Yuna mulai membuka ponselnya, bibirnya mengukir senyuman melihat nama yang tertera di layar ponselnya.
Assalamu'alaikum...
Uppssss! Rasanya panah menembus jantungku. Membayangkan mendengar suaramu menjawab salamku, membuatku tersenyum sendiri.😃😃😃
"Gombal." Ucap Yuna sambil tersenyum, ia kembali membaca pesan di ponselnya.
Mmmm... Beraninya kau memanggilku gombal! Aku pasti akan menghukum mu. Lihat saja nanti!
Lagi-lagi Yuna tersenyum membaca pesan ketiga. Ia tidak menyangka pria pilihannya bisa membuatnya tersenyum di tengah malam buta hanya karena membaca pesan singkatnya.
"Apa dia punya mata-mata? Aku bahkan belum membalas pesan singkatnya, dan lihatlah dia? Dia membalas setiap ucapanku seolah ia bisa membaca pikiranku." Ujar Yuna sambil menarik nafas panjang kemudian pelan menghembuskannya dari bibir.
Cintamu adalah kekuatanku. Senyummu adalah penyemangat hidupku, jika air yang turun dari langit bisa menyuburkan bumi. Maka sebaliknya, air yang keluar dari matamu adalah sumber deritaku.
Tetaplah tersenyum seperti yang kau lakukan saat ini. Aku tidak perduli jika kau memanggilku gombal, karena sesungguhnya senyummu lebih berarti dari apa pun yang ada di dunia ini.
Yuna merasa tersentuh membaca setiap bait kata yang di rangkai oleh Prof. Zain De Lucca. Ia bahkan sampai mengusap dada, berharap jantungnya masih ada disana. Rayuan tengah malam Profesor muda itu berhasil membuat Yuna tak bisa menahan senyum menawannya. Jatuh cinta hanya sekali, dan menikah pun harus sekali, hanya itu prinsip hidup yang dimiliki Seorang Yuna Dinata. Dan dengan sepenuh hatinya, ia memohon pada yang kuasa agar pilihan hatinya menjadi pilihan Tuhannya juga. Banyak pasangan yang mengagung-agungkan kata-kata cinta, namun berakhir saling membenci setelah berpisah.
__ADS_1
Apa semudah itu saling membenci setelah berpisah? Entahlah, setiap orang menjalani hidup seperti yang di inginkan hatinya, apa pun pilihan hatimu jangan sampai saling membenci hanya karena adanya perbedaan, perbedaan ada bukan untuk saling membenci, namun perbedaan ada untuk saling menguatkan dan saling berbagi dalam setiap episode hidup ini.
...***...