Mencintai Bodyguard Saleha

Mencintai Bodyguard Saleha
Keputusan Final


__ADS_3

Bu Hanum langsung berdiri begitu melihat suaminya berjalan menuruni anak tangga sambil memegang tangan Prof. Zain. Melihat wajah serius suaminya, Bu Hanum benar-benar tidak bisa membaca Raut wajah itu. Kesal, bahagia, ataukah marah? Itu terlihat sangat membingungkan.


Robin yang sedang makan buah pun segera menelan buah yang ada di dalam mulutnya tanpa mengunyahnya dengan halus.


Dag.Dig.Dug.


Dada Yuna berdebar sangat cepat, seolah jantungnya akan loncat keluar. Sebelumnya ia tidak pernah merasakan ketakutan yang berhasil membuat nafasnya terasa sesak. Melihat Papanya memegang lengan Prof. Zain dengan raut wajah serius semakin membuatnya tegang.


"Pa-papa?" Yuna menyapa sambil menatap wajah serius itu.


"Apa Papa sudah memutuskan tentang kelanjutan hubungan kami? Apa pun keputusan Papa, Yuna akan tetap mengikutinya!" Sambung Yuna dengan suara pelan. Sepersekian detik kemudian ia merunduk tanpa berani menatap wajah Papanya lagi. Ia meneteskan air mata dalam diamnya.


"Mbok... Tolong siapkah teh hangat!" Pinta Pak Andi pada Art yang berdiri dan mencuri dengar pembicaraan mereka dari balik dinding.


"Ba-baik Tuan." Balas Art sepuh itu sambil berjalan pelan menuju dapur.


"Papa tidak pernah memaksakan kehendak pada anak-anak Papa. Kali ini Papa akan memutuskan apakah Prof. Zain layak atau tidak untuk mu, jika dia tidak layak, Papa akan mencarikan calon yang lebih baik." Ujar Pak Andi begitu ia sampai di ruang tengah dan duduk di samping Bu Hanum.


"Papa yakin dengan keputusan Papa? Mama suka Nak Zain!" Ujar bu Hanum sambil menatap Prof. Zain dengan tatapan kasih sayang. Prof. Zain yang duduk di samping Robin pun masih terlihat sedikit tegang. Semua hal sudah ia lakukan untuk meyakinkan Pak Andi, jika Pak Andi sampai menolaknya maka tidak ada alasan baginya untuk tetap tinggal.


"Tuan, ini teh yang tuan minta."


"Terima kasih." Ucap Bu Hanum sambil tersenyum pada Mbok Dami.


"Dimana Sawn dan Raina?"


"Kakak ipar tidak enak badan, kak Sawn membawanya kekamar." Balas Yuna sambil menatap wajah Papanya.


"Ahhh itu... Kak Sawn datang." Ucap Yuna lagi begitu melihat Sawn berjalan pelan sambil menuruni anak tangga.


"Apa Papa sudah memutuskan akan menerima Prof. Zain atau menolaknya?" Sawn bertanya begitu ia sampai di ruang tengah kemudian duduk di samping Mamanya.

__ADS_1


"Bukankah Raina tidak sehat, kenapa kau meninggalkannya? Seharusnya kau menemaninya!" Bu Hanum bertanya tanpa melepas pandangan dari putra kebanggaannya.


"Dia sudah tidur. Dia tidur setelah melaksanakan salat isya."


"Salat? Bukankah Raina sedang sakit? Salat apa yang kau maksud?" Robin bertanya sambil memamerkah wajah khawatirnya.


"Kau dan aku sama-sama bodoh! Jika kau berada di dekat Raina kau akan menyadari kalau kau berasal dari dunia berbeda.


Dia tidak sepertimu! Dia juga tidak sepertiku!Bagi seorang Raina salatnya lebih berharga dari nyawanya. Jika dia tidak bisa berdiri dia akan mengerjakan salatnya dengan cara duduk. Jika dia tidak bisa duduk maka dia akan mengerjakan salatnya dengan cara berbaring. Kali ini dia mengerjakan salatnya dengan cara duduk. Aku meninggalnya setelah kami selesai salat." Balas Sawn sambil meraih cangkir teh yang ada di atas meja.


Robin mengangguk sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, untuk pertama kalinya ia mendengar Salat boleh di kerjakan dengan cara duduk atau berbaring.


Apa kabar dengan diriku? Tangan dan kakiku masih lengkap, aku juga sehat! Aku lupa kapan terakhir kali aku mengerjakan salat. Gumam Robin dalam hatinya tanpa menghiraukan tatapan tajam Sawn.


"Ketika Papa melamar Mama kalian, Papa juga mengatakan hal yang sama pada Almarhum Opa kalian. Ucapan yang sama seperti yang Prof. Zain katakan. Mungkin Papa satu-satunya pria yang tidak tahu malu di dunia ini.


Papa hanya mahasiswa miskin, entah dari mana Papa mendapatkan keberanian untuk mendekati Mama kalian, Mama kalian adalah wanita tercantik di kampus dan wanita yang paling baik yang pernah Papa temui seumur hidup Papa." Pak Andi tersenyum sambil mengurai kisah masa lalunya, kisah yang ia sendiri tidak pernah ceritakan pada Sawn dan Yuna.


"Papa memberanikan diri menemui Opa kalian hanya berbekal keyakinan, keyakinan kalau yang Kuasa akan menyatukan kami walaupun dinding perbedaan diantara kami cukup besar.


Awalnya Papa merasa tertekan dan tidak berani menemui Opa kalian. Dalam hati, Papa hanya bisa memohon pertolongan pada yang Kuasa, karena segala yang ada di dunia ini berjalan sesuai kehendaknya.


Jujur, papa menangis ketika Opa kalian bertanya Apa yang bisa Papa lakukan untuk membuat Mama kalian bahagia. Papa tidak punya apa-apa selain harga diri, karena bagi kami yang tidak punya uang dan kekuasaan harga diri kami jauh lebih berharga dari apa pun yang ada di dunia.


Papa merasa tercekik mendengar setiap pentanyaan Opa kalian, Papa berpikir sangat keras, Mama kalian selalu hidup seperti Ratu sementara Papa selalu hidup dengan kerja keras.


Sesekali Papa memberanikan diri menatap wajah karismatik Opa kalian, Opa kalian terlihat menghela nafas kasar, seolah tatapan itu mengatakan, berani sekali kamu mendekati putri berharga ku? Kamu hanya pria miskin maka bersikaplah seperti orang tak terlihat, pergi dari sini?


Setidaknya, begitulah pikiran Papa mengartikan tatapan tajam Opa kalian. Bukankah Papa kalian ini berpikiran sangat sempit?" Ucap Pak Andi lagi sambil tersenyum, memori otaknya membawanya kembali saat ia melamar bu Hanum namun ia merasa takut oleh statusnya.


"Dulu Papa juga mengatakan, Papa tidak bisa berjanji untuk menjadi yang terbaik, tapi Papa berjanji akan selalu menemani Mama kalian, dan itulah yang Papa lakukan sampai sekarang.

__ADS_1


Malam ini Prof. Zain pun melakukan hal yang sama, Prof. Zain mengukuhkah ucapannya untuk selalu menemami Yuna. Bagi Papa itu lebih dari cukup! Setelah menimbang segala hal dengan matang, dengan ini Papa putuskan...!" Ucapan Pak Andi tertahan di tenggorokannya, ia menatap satu per satu anggota keluarganya kemudian tatapannya berakhir pada Prof. Zain De Lucca.


Glekkkkk!


Prof. Zain hanya bisa menelan salivanya, menanti jawaban Pak Andi membuat nafasnya terasa sesak, dadanya berdebar sangat cepat, rasanya ia ingin berteriak hanya sekedar menghilangkan gundah di hatinya. Jangankan berteriak, ia bahkan tidak bisa menatap wajah Pak Andi dan Bu Hanum.


Kau di tolak! Kau di tolak! Pak andi belum mengucapkan apa pun namun ucapan itu terus saja berputar di memori otak Prof. Zain.


"Dengan mengucap Bismillahir rahmanir rahim, dengan ini Papa putuskan kalau Papa menerima lamaran Nak Zain untuk putri tersayang Papa Yuna Dinata." Ucap Pak Andi tanpa basa-basi.


Ruang tengah yang tadinya terasa sunyi kini berubah riuh oleh isakan tangis Yuna, tangisnya mulai pecah setelah mendengar putusan final Papanya. Entah dari mana datangnya perasaan sedih bercampur bahagia yang memenuhi rongga dadanya. Disela-sela tangisnya tak henti-hentinya ia berucap 'Alhamdulillah' sebagai bentuk syukurnya pada Illahi.


Mata basah Yuna menatap wajah bahagia Mama dan Papanya. Ketika seorang anak bahagia maka orang tuanya yang paling merasakan bahagia di atas semesta, dan ketika seorang anak sedih maka orang tuanya pulalah yang paling merasakan dukanya.


Tuhan.... Terima kasih untuk setiap nikmat yang kau berikan padaku juga keluargaku, karuniamu melebihi luasnya samudra, sementara dosaku lebih bayak dari pada buih di lautan. Maafkan aku! Maafkan aku! Lirih Yuna dalam hatinya sambil meneteskan air mata.


Malam indah ini terasa sangat singkat, namun kebahagiaan yang di tawarkannya tak terkira jumlahnya. Entah Prof. Zain atau pun Yuna, mereka tidak ingin malam ini berakhir tanpa melukis kenangan manis yang akan mereka bawa sampai kealam mimpi indah mereka.


Mendengar persetujuan dari Pak Andi membuat Prof. Zain merasakan bahagia luar biasa, tanpa berucap sepatah kata ia langsung mendekati Pak andi dan Bu Hanum, ia meneteskan air matanya sambil duduk bersimpuh di bawah kaki kedua orang yang sangat dihormatinya itu.


"A-apa yang kau lakukan? Cepat bangun dan duduk di tempatmu!" Perintah Bu hanum sambil memegang lengan Prof. Zain.


"Terima kasih karena telah melahirkan putri secantik Yuna, membesarkannya menjadi wanita mandiri dan mendidiknya menjadi wanita yang tidak takut dalam membela kebenaran." Prof. Zain menangkupkan kedua tangannya di depan dada.


"Wanita bukanlah pakaian yang bisa kamu kenakan dan kamu tanggalkan sesuka hati. Wanita itu terhormat dan memiliki haknya.


Pesan Bapak, jagalah putri ku sebagaimana kamu menjaga dirimu sendiri. Jangan lupa kalau dia akan menjadi tanggung jawabmu. Dan tanggung jawab yang paling besar bagi kita kaum laki-laki adalah membuat istri kita selalu merasakan aman dan nyaman, tidak hanya menjadi pasangan di dunia tapi juga menjadi pasangan sampai kesurga." Ucap Pak Andi sambil menepuk pelan bahu Prof. Zain De Lucca.


Aku memiliki istri yang sempurna, aku sangat mencintainya melebihi apa pun yang ada di dunia ini. Aku tidak ingin berpisah darinya walau hanya sekejap mata. Tuhan yang maha pengasih lagi maha penyayang, satukan kami sampai kesurga. Pinta Sawn dalam diamnya. Mendengar ucapan Papanya membuat Sawn semakin merindukan Raina, padahal ia meninggalkan istrinya itu tak lebih dari satu jam saja.


...***...

__ADS_1


__ADS_2