
15:30 Bandara.
"You will leave with the first flight of this evening." (Kamu akan berangkat dengan pesawat sore ini). Raina membuka suara memecah keheningan. Ruan hanya bisa tersenyum tipis di wajah tampanya.
"Thank you for your kindliness." (Terima kasih atas kebaikan mu). Balas Ruan sambil menyodorkan tas tangan miliknya pada pengawal pribadinya.
Sawn dan Robin hanya bisa menyaksikan dua orang menawan di depannya saling balas ucapan dan sesekali saling melempar senyuman. Ruan mendekat kearah Raina kemudian bersiap untuk memeluknya.
Mata Sawn terbelalak tidak percaya melihat apa yang ingin di lakukan lelaki tampan yang berdiri tidak jauh darinya itu. Pelan Sawn berjalan mendekat kearah dua orang itu, jika lelaki itu sampai memeluk Raina, Sawn bersiap untuk melayangkan tinjunya pada perut rekan bisnisnya itu.
"Are you kidding me?" Raina menunjukkan wajah juteknya sambil menyilangkan kedua tangan di depan dada.
Hahahhah! Ruan tertawa lepas sampai membuat beberapa orang yang berjalan melewatinya memandang heran kearahnya.
Entah apa yang dipikirkan si kulit pucat itu? Melihat Raina menyilangkan tangan ia malah tertawa lepas. Gumam Sawn masih menahan amarahnya.
Berani sekali dia memikirkan untuk memeluk Raina. Aku bahkan tidak berani membayangkan itu walau hanya dalam mimpi. Gumam Sawn lagi.
"Apa yang kau katakan?" Robin bertanya karena melihat bibir Sawn komat-kamit.
"Apa kau membaca mantra untuk mengusir lelaki itu karena terlalu dekat dengan Raina? Katakan padaku, aku juga ingin belajar darimu!" Guyon Robin lagi, rasanya Sawn ingin marah pada sahabatnya itu, berani sekali dia mengatakan omong-kosongnya.
Mantra? Hahhh... Aku bahkan tidak tahu itu. Lirih Sawn sambil memandang Robin dengan tatapan tajam.
Pletak!
Sawn melayangkan sentilannya tepat mengenai jidat Robin. Robin terlihat kesal, ia mengusap jidatnya sambil menyumpahi Sawn dalam hatinya.
__ADS_1
"Apa kau sudah selesai dengan omong-kosong mu? Sekarang ayo kita temui mereka." Ucap Sawn pelan.
Robin berjalan di belakang Sawn sambil mengusap jidatnya yang masih terasa sedikit perih, entah kenapa ia bisa mencium aroma kecemburuan di balik wajah datar yang Sawn tunjukan. Mantra? Jelas-jelas Robin tahu kalau itu hanya alasan kecil yang memancing amarah sahabatnya, amarah yang sebenarnya tidak bermaksut di tujukan padanya.
Robin bersedekap sambil berdiri tegap, dari jarak sepuluh langkah ia bisa melihat wajah kesal Sawn yang di balut dengan senyuman paksaan. Ingin rasanya Robin tertawa lepas namun ia tidak bisa melakukan itu sebelum ia memastikan secara langsung dari sahabatnya itu. Entah apa yang di berikan Raina pada Ruan, pemberian yang di balut dengan kertas merah muda bertuliskan "I love you."
"Why do you not live here for a few day?" (Mengapa kamu tidak tinggal disini untuk beberapa hari). Raina bertanya sambil tersenyum tipis. Gadis ayu itu memang jarang tertawa terbahak-bahak. Raina tahu betul salah satu akhlak seorang Muslimah adalah tidak tertawa berlebihan di depan lelaki yang tidak halal baginya.
"I am sorry, Raina. I can't live here in a long time, because I have had a date with my friend in Shanghai. But, don't worry I will try to come at this place again in near by." (Maafkan saya, Raina. Saya tidak bisa tinggal disini dalam waktu yang lama, karena saya sudah mempunyai janji dengan teman saya di Shanghai. Tetapi, jangan khawatir, saya akan berusaha untuk datang ke sini lagi dalam waktu dekat). Balas Ruan.
"Baiklah, aku percaya padamu. Semoga kau selalu bahagia dimanapun kau berada." Ucap Raina tulus.
Sedetik kemudian, Ruan dan pengawalnya melenggang masuk kedalam bandara melalui pemeriksaan yang cukup ketat. Raina dan Ruan, mereka saling melambaikan tangan sebagai tanda perpisahan. Sementara Sawn, ia hanya bisa menghela nafas kasar menyaksikan wanita yang disayanginya terlihat sedih di tinggal oleh lelaki asing yang membuatnya merasa tidak aman dalam beberapa hari ini.
...***...
"Apa kau sudah selesai dengan drama ini? Jika sudah ayo kita pulang?" Ucap Sawn setelah Ruan tidak lagi terlihat di netranya.
Mendengar jawaban ketus Raina membuat Sawn sedikit kesal, ia menoleh kearah lain sambil membuang nafas kasar.
"Motormu tidak ada! Aku meminta Agil membawanya pulang."
"Apa?" Raina terkejut mendengar jawaban Sawn, ia benar-benar ingin marah namun ia tidak bisa melakukan itu melihat Bandara sore ini nampak Ramai.
"Anda benar-benar membuat ku kesal." Ucap Raina lagi.
"Apa aku harus menggendong mu? Atau aku harus menggenggam erat jemarimu? Katakan padaku!" Sawn menuntut Raina dengan jawaban cepatnya.
__ADS_1
Sepertinya singa betina ini masih marah? Lihatlah wajah masamnya! Ia bahkan tidak bergeming sedikitpun. Gumam Sawn dalam hatinya sembari bersiap meraih tangan Raina.
"Baik, aku akan ikut. Anda tidak perlu menakuti ku seperti itu." Ucap Raina pasrah sambil mempersilahkan Sawn jalan di depannya.
Sawn membuka pintu mobil di bagian belakang namun Raina sudah naik terlebih dahulu di kursi bagian depan.
"Apa kau yakin akan duduk di depan?"
Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir merah muda alami Raina Salsadila, ia hanya bisa diam seribu bahasa tanpa melirik ke arah orang yang menanyainya.
Dia masih marah! Baiklah, aku akan meluluhkan hatimu! Gumam Sawn pelan.
Dia bertanya apa aku mau duduk dibelakang? Tentu saja aku mau duduk di belakang. Terakhir kali aku duduk di belakang dia marah-marah. Mengingat tatapan tajamnya saja membuatku merinding. Lirih Raina dalam hatinya tanpa memperdulikan Sawn yang sudah duduk tepat di sampingnya. Mobil mulai berjalan pelan menembus padatnya lalu lintas. Sesekali Sawn terlihat kesal, tiga puluh menit berlalu namun mobilnya masih terjebak dalam kemacetan panjang. Kendaran mengular seluas mata memandang.
"Saya tahu kemarin pak Sawn datang ke panti! Katakan, apa yang membuat bapak datang tapi bapak tidak berani masuk?" Kali ini Raina menatap wajah rupawan sawn dengan tatapan penasaran.
Sawn mulai salah tingkah mendengar pertanyaan dadakan dari Raina, ia sendiri tidak pernah memprediksi kalau gadis ayu yang duduk di sampingnya akan menanyakan hal itu.
Bagaimana dia bisa tahu kalau aku datang kerumahnya? Bukankah aku sudah memastikan tidak ada yang melihatku. Singa Betina ini memiliki mata elang. Aku harus berhati-hati dengannya. Lirih Sawn dalam hatinya.
"Maafkan aku karena selalu membuat mu sedih! Aku bersungguh-sungguh ketika aku mengatakan kata maaf. Masalah Andre? Aku benar-benar tidak tahu kalau dia anak tante Alya. Justru aku baru tahu ketika kau datang ke kantor ku dengan membawa segudang amarahmu." Ucap Sawn di tengah kemacetan.
"Kau tidak perlu merasa bersalah padaku! Jika kau anggap aku benar, maka kembalilah menjadi pengawal pribadiku." Ucap Sawn lagi.
Aku tidak mengharapkan mu menjadi baju anti peluru ku. Yang ku inginkan, kau menjadi wanita sholehah yang kan menjaga hati ku. Lagi-lagi Sawn hanya bisa mengungkapkan isi hatinya tanpa sepengetahuan wanita yang duduk di sampingnya. Dan ini untuk kesekian kalinya.
Mobil Sawn terus melaju membelah jalanan yang mulai legang, netra Raina terbelalak melihat jalan yang di lalui Sawn tidak mengarah kerumahnya. Meskipun demikian Raina memilih untuk tetap diam. Ia hanya bisa berharap peria yang duduk di sampingnya itu akan kembali ke akal sehatnya.
__ADS_1
Ternyata Raina lebih takut ketika Sawn bersikap baik padanya ketimbang lelaki itu memarahinya dengan kata-kata yang menyakitkan dada.
...***...