Mencintai Bodyguard Saleha

Mencintai Bodyguard Saleha
Harga Diri


__ADS_3

"Untuk apa nona Angel mengundang ku kerumahnya? Jika aku tidak datang ia akan terluka, dan jika aku yang datang maka aku yang akan merasa bosan disana. Bagaimana caraku meyakinkan nona Angel kalau aku tidak bisa datang...?" Raina memikir kan cara apa yang harus ia tempuh tanpa menyakiti siapapun.


"Jika aku datang kesana dan pak Sawn sampai melihat ku, itu akan jadi masalah besar!"


Raina duduk si kamarnya sembari membayangkan kejadian semalam, rasanya untuk sesaan ia tidak ingin melihat pria yang menjadi atasannya itu. Berada sisi pria itu jauh lebih berbahaya dari pada bertarung dengan Pegulat sekalipun.


Raina meletakkan tangan kanan di atas dadanya. Dadanya masih berdebar membayangkan bagaimana Sawn menggenggam jemarinya dalam keadaan tidak sadar, mengingat itu membuat Raina merinding.


Harga diri? Harga diri seorang wanita terletak pada apa yang ia ucapkan dan bagaimana ia bersikap pada semua orang.


Tok.Tok.Tok.


"Non Raina mau makan apa? Bibi akan memasak sesuai selera non Raina." Ucap bi Sumi begitu wajahnya nampak dari balik daun pintu.


"Saya tidak lapar."


"Non Raina mau kemana? Biasanya anda tidak keluar malam, apa ada hal mendesak?"


"Ibu benar, saya tidak suka keluar malam. Nona Angel meminta agar saya kerumahnya. Dia bilang ada hal mendesak."


"Apa pak Sawn sedang tidur?" Raina bertanya karna penasaran.


"Tuan sudah pergi sejam yang lalu. Ooo iya, bagaimana keadaan keluarga non Raina?"


"Keluarga saya baik-baik saja bu, Alhamdulillah." Jawab Raina sambil tersenyum, siapa pun yang melihat senyumnya pasti akan merasakan kedamaian.


"Non. Apapun yang terjadi bibi tetap di pihak non Raina." Ucap bi Sumi sambil meninggalkan Raina di kamar sunyi yang sudah tiga bulan ini ia tempati.


"Di pihak ku? Apa maksut bu Sumi." Lirih Raina pelan sambil bersiap memenuhi undangan Angel.

__ADS_1


Sama seperti hari-hari biasa Raina tampil apa adanya. Ia memakai Pasmina kuning yang ia padu-padankan dengan warna gamis senada, dan tak lupa ia juga memakai pelembab bibir yang warnanya tidak terlalu mencolok.


Setelah merasa siap, Raina meminta pak Ujang mengantarnya kekediaman Angel.


Bismillahirrahmanirrahim...


Raina melangkahkan kaki, dan meninggalkan kediaman mewah Sawn Praja Dinata.


...***...


"Kenapa tempat ini sangat ramai? Nona Angel tidak mengatakan apapun." Lirih Raina begitu ia sampai dirumah Angel yang di penuhi tamu undangan, bahkan beberapa wanita melirik aneh melihat penampilannya.


Tak jauh dari tempat Robin berdiri, ia menarik lengan Sawn dan meminta sahabatnya itu melihat kearah pintu masuk. Disana masih berdiri Raina dengan sikap terkejutnya.


"Kenapa dia kemari, apa kau mengundangnya?" Ucap Sawn pelan namun matanya masih memandang kearah pintu masuk, sepersekian detik kemudian Raina menghilang dari pandangannya membuat Sawn berpikir kalau itu hanya ilusinya saja.


"Tidak ada siapapun disana. Apa kau mau mempermainkanku." Ucap Sawn kesal. Robin mengarahkan pandangan matanya kesegala arah, sayangnya sosok Raina yang ia cari menghilang dalam keramaian tamu undangan.


Beberapa orang yang mendengar ucapan wanita itu tertawa meledek kearah Raina yang masih berdiri di tengah-tengah mereka.


"Siapa nama pengusaha itu? Aku benar-benar lupa... Kalo tidak salah namanya Cccc... Ahh iya namanya Chen." Ucap wanita bertubuh ramping itu lagi,


"Ada apa dengan wanita-wanita aneh ini, aku tidak tertarik dengan kehidupan mereka, mereka malah bersemangat mengungkapkan masa lalu yang dengan segala usaha aku mencoba untuk melupakannya." Lirih Raina sambil menahan Amarahnya.


"Pantas saja dia gagal menjadi nyonya Chen, Lihat penampilannya. Iiiihhhh... Ini menakutkan." Ucap wanita lain sambil menyibak Pasmina yang di gunakan Raina.


Raina masih berdiri mematung mendengar sampah yang di ucapkan para wanita yang menganggap diri mereka sebagai Super Model tanpa celah.


Paras cantik, pakaian mewah, tubuh indah, uang mengalir bagai air dan polularitas naik, tidak membuat mereka bersikap lunak. Hal mengerikan dari seseorang, dia menganggap dirinya lebih baik dari orang lain kemudian tanpa ia sadari sedikit demi sedikit ia berubah menjadi Monster.

__ADS_1


"Angel. Apa standar mu mulai turun, kenapa kau mengundang wanita terbelakang sepertinya. Dasar kucel."


Mendengar ucapan yang membuat telinganya panas Raina memejamkan mata. Darahnya mendidih, namun ia mencoba menahan amarah yang hampir meledak. Sulit sekali menahan amarah yang rasanya hampir meluluh lantakkan jiwanya.


Dari Abu Ad-Darda' Radhiyallahu 'anhu, ia berkata "Wahai Rasulullah tunjukan kepadaku suatu amalan yang dapat memasukkan dalam Surga." Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam lantas bersabda. "Janganlah engkau marah, maka bagimu Surga." (Hr.Thabrani).


"Tentu saja penampilannya akan seperti ini jika ia menghabiskan hidupnya di panti asuhan. Tidak tahu dia dan semua anak panti itu berasal dari orang tua sebejat apa sampai mereka...."


"Cukup. Sudah Cukup. Dari tadi aku hanya mendengar sampah saja, aku diam bukan berarti aku tidak bisa bicara buruk seperti kalian. Jika aku mau, aku juga bisa menampar orang yang berani bicara buruk tentang ku dan keluargaku, aku tidak melakukan itu karna aku menghormati kalian." Ucap Raina kesal, air matanya hampir saja menetes namun ia berusaha menahannya agar tidak terlihat lemah.


"Nona Angel, aku pikir anda memanggil dengan tujuan baik. Nyatanya anda tidak seperti yang saya bayangkan. Jika pak Sawn tahu apa yang sudah anda lakukan, aku yakin pak Sawn pasti akan meninggalkan anda." Ucap Raina meluapkan kekesalannya.


"Hai... Tutup mulutmu, berani sekali kau menyebut Sawn ku dengan mulut kotor mu. Seumur hidupku, aku tidak pernah melihat wanita murahan seperti mu, kau selalu berkeliaran seperti Parasit." Angel menatap Raina dengan tatapan dinginnya, ingin sekali ia meremas wanita yang berani menantangnya, sayangnya ia harus menahan diri untuk menjaga egonya.


"Wah. Anda sangat hebat. Aku tidak tahu kalau anda sehebat ini, kemarin anda bicara dengan lemah lembut, meminta ku datang keistanamu nyatanya hanya untuk melakukan terik menjijikan ini! Dan kalian...!" Raina menunjuk kebeberapa wanita yang dari tadi ikut andil menghinanya.


"Dan kalian.... Kalian pikir dengan menghina orang lain membuat kalian bahagia, Aku Raina Salsadila tidak merasa terhina dengan hinaan kalian, karna aku tidak seperti persangkaan kalian.


Tadi apa yang kau katakan tentangku, aku gagal menjadi nyonya Chen karna penampilanku? Justru karna penampilanku Yo Ming Chen mencintaiku." Ucap Raina membungkam mulut wanita yang berani meremehkannya.


Wanita itu hanya bisa berdiri mematung sambil meremas jemarinya. Pesta yang tadinya baik-baik saja berubah riuh.


"Kau bicara soal penampilan? Lihat dirimu sendiri, bahkan pakaian pembantuku jauh lebih modis di bandingkan dengan dirimu. Aku tidak berpikir wanita miskin sepertimu memiliki ego melebihi kemampuanmu. Aku peringatkan untuk yang terakhir kali, jangan pernah muncul di hadapanku atau di depan Sawn, kalau tidak kau akan tahu betapa menakutkannya diriku. Aku tidak pernah bermain-main dengan ucapanku apalagi mengenai pria yang sangat kucintai." Angel menunjuk Raina sembari meringis menahan amarahnya yang hampir meledak.


Kemarahan sebesar itu? Hilang sudah pesona Angel dimata Raina, semua mata tertuju pada perseteruan beberapa gadis cantik itu. Bahkan semua orang berkumpul menyaksikan adegan yang sedang berlangsung.


"Dasar wanita jall..." Ucapan Angel tertahan di tenggorokannya begitu melihat Raina menangkap tangannya yang hampir mengenai wajah Raina.


"Aku bukan wanita semudah itu. Jangankan satu tamparan, sehelai rambutku pun tidak akan bisa kau jangkau." Raina melempar tangan Angel sampai wanita itu hampir tersungkur.

__ADS_1


Bagi seorang Raina Harga dirinya adalah segala-galanya, di tempat yang seharusnya ia berdiri bangga di depan wanita yang sangat ia kagumi, ia justru mendapatkan penghinaan darinya. Hati Raina terasa hancur dan rasanya semakin sakit ketika yang menyakitinya orang yang dekat dengannya.


...***...


__ADS_2