Mencintai Bodyguard Saleha

Mencintai Bodyguard Saleha
Pertolongan Kedua


__ADS_3

"Apa kau yakin akan mengundang Prof.Zain kerumahmu?" Ucap Arnela memecah keheningan, wajah cantiknya berubah tegang sambil membayangkan wajah tampan Profesor bermata biru itu.


"Tentu saja. Mama selalu memegang janjinya. Jika mama bilang beliau akan mengundangnya, maka itulah yang akan terjadi." Balas Yuna sambil memperlihatkan wajah tidak sukanya.


"Profesor.Zain De Lucca itu sangat tampan, dia juga bersikap baik dengan membantu kita keluar dari masalah besar. Tampanya kita tidak akan bisa menyelamatkan Nela dari ibu tirinya. Terus sekarang, yang membuatmu sekesal itu apa?" Vivi mencoba mencari akar dari kekesalan Yuna. Entahlah, gadis manja itu sendiri tidak tahu apa yang membuatnya kesal pada Profesor tampan itu, menurutnya tidak ada alasan untuknya menyukai Profesor yang menjadi incaran setiap gadis di kampusnya.


"Apa aku perlu alasan untuk membencinya? Setiap kali melihat wajahnya membuat amarahku meluap. Mata birunya seolah mengatakan 'Hay aku tampan, kan? Aku pasti akan menaklukanmu' membayangkan ucapan itu membuatku tidak ingin berada di dekatnya. Mama menambah masalahku dengan mengundangnya kerumah kami. Dan aku sangat bodoh karena tidak bisa menolak keinginan mama."


"Kau tahu kan, batas antara cinta dan benci itu sangat tipis? Kau tidak boleh terlalu membenci Prof.Zain karena jika bencimu berubah menjadi cinta, aku orang pertama yang akan bersenandung karena bahagia." Ucap Vivi memperingatkan.


Pletakkkk!


Sebuah sentilan kecil mendarat tepat di puncak kepala Vivi, guyonan yang di lontarkan Vivi benar-benar membuat suasana hati Yuna berubah buruk.


"Apa kau tidak waras? Jika aku bilang tidak suka, maka tetap tidak suka." Ucap Yuna dengan tatapan tajam.


"Kalian berdua, tetap disini. Aku akan kelantai Empat menemui Profesor mesum itu." Ucap Yuna sambil menenteng tasnya.


Hhhmmmmm!


Vivi menghela nafas panjang setelah Yuna tak terlihat lagi oleh netranya.


"Ada apa dengan mu? Suara desahan nafasmu membuatku merinding! Tinggalkan Yuna sendiri, jangan mengganggunya." Ucap Arnela memperingatkan. Vivi yang masih sibuk dengan ponsel barunya sama sekali tidak menghiraukan kicauan Arnela yang terus menerus menepuk pundaknya.


Sementara itu di tempat berbeda, Yuna masih berdiri mematung di depan kantor Profesor.Zain De Lucca, sepuluh menit berlalu ia hanya berdiri di depan pintu tanpa berani mengetuknya.


Sesekali Yuna menoleh ke-kanan dan ke-kiri, berharap tidak ada yang melihat tingkah konyolnya di depan kantor Profesor yang sedang naik daun itu. Bosan dengan sikapnya yang tidak berani menghadapi Profesor.Zain secara langsung membuat Yuna bersiap untuk pergi.


Drettt.Dretttttt!


Apa kau sedang memata-mataiku?


Yuna mengerutkan dahi tak percaya, ia bahkan tidak tahu orang yang mengiriminya pesan. Lalu bagaimana mungkin orang tidak sopan itu berani menuduhnya mata-mata.


Kau tidak perlu bersikap manis seperti itu! Aku tahu aku tampan! Dan kau bukan tipe ku!😁


Gleegggg! Yuna menelan salivanya, menghela nafas berat, ia tak percaya mendapat pesan dari orang narsis di pagi harinya, dan itu berhasil membuatnya semakin kesal.


Apa kau akan tetap diam disana? Jika orang lain melihatmu berdiri di depan kantorku, bisa-bisa orang akan beranggapan aku mencampakanmu. Masuklah! Aku menunggumu di dalam.


"Huahh! Orang payah ini terlalu banyak


mengatakan omong-kosong. Dari mana dia tahu aku ada di depan kantornya? Dan dari mana dia tahu nomor ponsel ku? Profesor mesum ini, aku tidak akan memaafkannya jika ia sampai berbuat tidak sopan." Ucap Yuna pelan sambil membuka gagang pintu yang ada di genggamannya.

__ADS_1


"Kau tidak perlu menatapku seperti itu, aku tahu aku sangat tampan." Ucap Prof.Zain lagi mengulang kalimatnya begitu Yuna berdiri di depannya.


"Anda terlalu percaya diri. Aku benci orang yang berlebihan." Balas Yuna sambil pura-pura tersenyum ramah.


"Karena kau datang kekantorku, aku yakin kau pasti memiliki hal penting untuk di katakan. Katakan, apa tujuanmu menemuiku?" Prof.Zain mendesak Yuna sambil menatap gadis anggun yang masih tak bergeming itu.


Yuna meletakkan Amplop putih di atas meja kerja Prof.Zain tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Sungguh, bayangan Prof.Zain yang sedang berduaan dengan seorang gadis di ruang tertutup di clab beberapa waktu lalu masih terasa segar dalam ingatan Yuna, dan hal itu membuat gadis anggun itu malas berada di dekat Profesor.Zain, apalagi hanya untuk sekedar bicara dengan pria tampan itu, rasanya sangat menjijikkan.


"Apa kamu tuli? Aku sedang bicara denganmu? Apa begini caramu menghormati Profesormu?" Profesor.Zain mencecar Yuna dengan segala tanyanya.


Hhhmmmm!


Yuna menghela nafas panjang, habis sudah kesabaran dan sikap cuek yang coba ia tunjukan, lelaki tampan di depannya ini benar-benar memancing emosinya.


"Aku mencoba bersikap baik, tapi sayangnya tidak bisa. Aku tidak bisa menemukan hal baik dari dalam diri bapak, karena itu aku pura-pura tidak melihat dan mendengar bapak. Amplop itu...!" Yuna menunjuk pada Amplop yang di letakkannya di depan Profesor.Zain.


"Itu bentuk penghormatan Mama dan Papa ku! Mereka mengundang bapak untuk makan malam di rumah kami. Jangan salah sangka, bapak itu terlalu pede, dan itu tidak baik bagi anda." Ucap Yuna menegaskan.


"Satu lagi! Bapak itu bukan tipe ku, jadi jangan pernah kegeeran. Percaya diri berlebihan itu tidak baik, bisa-bisa gula darah bapak naik." Ucap Yuna tegas. Kali ini ia menyebikkan bibir tipisnya, memberikan isyarat kalau ia tidak takut terlihat jelek di hadapan lelaki yang menjadi idola semua gadis kampus akhir-akhir ini. Karena memang ia tidak tertarik pada lelaki pemilik iris biru itu.


"Dia sangat manis. Hanya dia wanita yang tidak terpengaruh pada ketampananku." Ucap Profesor.Zain sembari memandangi tubuh Yuna yang sudah menghilang di balik daun pintu.


Profesor.Zain membuka amplop yang Yuna berikan padanya.


Profesor.Zain tersenyum penuh kemenangan. Mendapat undangan makan malam dari keluarga Dinata rasanya seolah ia mendapatkan semua lotre di dunia. Ia tidak menyangka bisa masuk kediaman Dinata tanpa perlu bekerja keras. Lagi-lagi Profesor.Zain tersenyum tanpa beban. Jika saja ada yang melihat tingkah konyolnya, semua orang pasti akan berpikir dirinya sudah tidak waras.


...***...


"Nona, apa saya boleh bertanya?" Sopir taksi yang Yuna tumpangi bertanya sambil mengendarai mobilnya.


"Tanyakan saja, saya tidak akan menggigit." Balas Yuna dengan suara lirih. Seharian ini ia sangat lelah, tulang-tulangnya terasa rapuh.


"Apa nona mengenal pemilik mobil di belakang kita? Sepertinya mereka mengikuti kita sejak nona masuk kedalam Taksi saya." Ucap sopir separuh baya itu mengagetkan Yuna.


Yuna yang tadinya terpejam sangat terkejut dan langsung menoleh kebelakang.


"Saya tidak mengenal mereka! Yang harus bapak lakukan, bapak harus mempercepat laju mobil bapak." Ucap Yuna penuh semangat.


Belum sempat sopir taksi itu mengikuti instruksi dari Yuna mobil mereka malah di pepet dari belakang membuat sopir taksi itu terpaksa mengerem secara mendadak, karena terkejut kepala Yuna terbentur di sandaran kursi.


Aauuhhhh! Yuna meringis sembari mengusap kepalanya yang terasa nyeri.


"Keluar. Cepat, keluar." Sepasang lelaki berbadan tegap mengetuk-getuk pintu mobil, sesekali mereka memukul taksi yang di tumpangi Yuna dengan pentungan yang ada di tangannya.

__ADS_1


"Keluar. Cepat. Atau kami akan menghancurkan taksi ini."


Secara suka rela Yuna langsung keluar, tatapan tajam matanya menjelaskan ia ingin melahap mentah-mentah pria kurang ajar yang berani mengganggu ketenangannya.


"Pak tua, jika kamu tidak ingin taksimu ini berubah menjadi debu, sekarang juga tinggalkan kami. Pergi, cepat." Bentak pria kasar yang berdiri tak jauh dari tempat Yuna berdiri. Mereka bahkan mendorong sopir separuh baya itu sampai tersungkur di jalanan beraspal.


"Cantik? Aku mencarimu kemana-mana tapi kau malah berada disini. Apa kau tidak merindukanku? Abang hampir saja melupakanmu, penampilanmu di clab waktu itu membuat abang tidak bisa tidur. Ayo kita bersenang-senang!" Ucap lelaki bertubuh ramping itu. Ia tersenyum lebar menampakkan gigi ratanya.


Yuna masih berdiri mematung berusaha mencerna kejadian di depannya.


Clab malam? Yuna yakin dua pria di depannya adalah lelaki tidak waras yang bertarung dengannya malam itu. Benar saja, dua lelaki menyusul keluar dari dalam mobil, dan salah satunya adalah pria yang sempat memelintir lengan Yuna.


"Apa kalian tidak tahu malu? Lelaki berbadan tegap seperti kalian memburu gadis kecil? Benar-benar tidak berguna." Ucap Yuna sambil mengepalkan tangannya.


"Apa orang tuamu tidak pernah mengajarimu sopan-santun? Kenapa gadis sepertimu selalu saja menyebalkan begitu kau membuka mulutmu. Aku tidak tahan lagi!" Ucap lelaki jangkung itu sambil berjalan kearah Yuna sembari menganyunkan tangannya hendak menampar wajah cantik itu.


Dengan cepat Yuna menangkis tangan pria jangkung itu, dan balas memberikan tamparan keras sampai membuat tangan Yuna terasa perih luar biasa.


Plakkkkk!


"Kamu ingin menamparku? Ciiihhhh." Yuna meludah kesembarang arah mengekspresikan kekesalannya.


"Kamu ingin mendapat rasa rohmat? Rasa hormat itu tidak gratis. Begitu kamu menunjuk orang dengan satu jarimu, maka orang akan balas menunjukmu dengan dua jari mereka. Penjahat minta di hormati? Dasar tidak berguna!" Ucap Yuna sambil menatap keempat pria yang berdiri di depannya bergiliran.


Pertengkaran tidak bisa di hindari, empat pria dengan wajah bengis berusaha melumpuhkan Yuna dengan pukulan, tendangan, pelintiran. Sesekali Yuna meringis menahan sakit, lawan yang tidak berimbang membuatnya berkali-kali terkena pukulan dan tendangan di bagian depan dan belakang tubuhnya.


Hampir saja Yuna tersungkur, untungnya sang pemilik iris biru itu menangkap lengan Yuna.


Entah sejak kapan sang pemilik iris biru itu menyaksikan perlawan Yuna, namun seperti biasa ia hanya menjadi penonton setia. Begitu gadis anggun yang berjibaku di depannya terlihat kewalahan melawan lawannya barulah ia turun dari dalam mobilnya sembari menyingsingkan lengan bajunya.


"Ooo.... Jadi begini cara pria Tiongkok bersikap Ramah pada wanita? Membiarkan wanita di depannya babak belur baru ia memberikan pertolongan!" Protes Yuna pada pria tampan pemilik iris biru yang masih menopang tubuh rampingnya yang hampir jatuh.


Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari pemilik iris biru itu selain senyum menawan yang memperlihatkan gigi putihnya


"Bapak tidak perlu tersenyum selebar itu! Bapak terlihat seperti playboy bodoh yang sedang mempromosikan pemutih gigi." Ucap Yuna dengan mata membulat.


"Hahaha.... Kau sangat lucu." Balas Profesor.Zain tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah sempurna Yuna Dinata.


"Kau tahu, kan? Ini bukan pertolongan pertamaku. Pastikan kau membelikan makanan enak untuk pertolongan kedua ku ini!" Ucap Profesor.Zain lagi sembari memencet hidung bangir Yuna dinata.


Aku dikelilingi manusia dan merasa sendirian. Aku mengaku butuh sedikit kehidupan normal, dan sekarang setelah mendapatkannya, sepertinya aku tidak tahu apa yang harus dilakukan. Gumam Profesor.Zain De Lucca tanpa menghiraukan wajah kesal dan tatapan tajam gadis anggun di depannya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2