
Sapuan warna coklat kekuningan mendominasi rangkaian batu bata yang tersusun rapi membentuk dinding-dinding kukuh rumah panti yang di kepalai bu Rahayu. Dua jendela kecil terpasang rapi di samping pintu masuk.
Bu Rahayu masih menatap teguh ke empat tamu yang berhasil mengejutkannya. Bibirnya masih tertutup rapat, ia benar-benar tidak tahu harus berkata apa.
"Silahkan diminum tehnya!" Ucap bu Romlah memecah keheningan.
"Terima kasih." Balas bu Alya sambil tersenyum ramah.
"Sepertinya kedatangan kami mengejutkan bu Rahayu, kami benar-benar minta maaf. Seharusnya kami memberi kabar terlebih dahulu, tapi tampaknya putra kami tidak bisa menunggu terlalu lama." Ucap pak Andi dengan tawa kecil yang menghiasi wajahnya. Ia menyodorkan secangkir teh untuk bu Rahayu.
"Mbak yu..." Bu Romlah menyenggol tubuh bu Rahayu yang duduk di sebelahnya untuk menyadarkannya dari keterkejutannya.
"Ahhh iyaaa. Maaffff kan sayaaaa." Ucap bu Rahayu gugup, pelan ia mengambil teh yang di sodorkan pak Andi dengan tangan kanannya.
"Saya tidak tahu akan mendapat tamu penting malam ini, putri kami tidak pernah mengatakan apa pun tentang ini, meskipun demikian saya sangat bersyukur atas kedatangan anda kerumah sederhana kami." Ucap bu Rahayu lagi.
"Apa kami bisa bertemu dengan Raina?" Pak Andi meminta secara sopan, ia berharap tujuan kedatangannya tidak sia-sia.
"Tentu saja." Balas bu Rahayu ramah.
"Kebetulan, Ustadz yang biasa ngajar anak-anak ngaji sedang libur, katanya istrinya sedang melahirkan. Untungnya Raina ada di rumah, jadi sekarang dia yang ngajar adik-adiknya. Orang seperti kami tidak bisa mewariskan harta berlimpah. Yang kami bisa lakukan hanya mendidik mereka menjadi manusia yang berakhlak baik." Sambung bu Rahayu sambil memperbaiki posisi duduknya. Maklum saja, berhari-hari menghabiskan waktunya di tempat tidur membuat sekujur tubuhnya terasa kaku.
"Rom, panggil Raina!"
"Baik mbak yu." Balas bu Romlah sembari beranjak menuju musolla yang terletak di samping kamar Raina.
__ADS_1
"Putri ku adalah putri yang baik, tidak ada hal berharga yang bisa ku banggakan dalam kehidupan ini selain dirinya dan adik-adiknya. Kami memang tinggal di panti, tapi aku sebagai ibunya tidak akan membiarkan anak-anak ku menderita." Bu Rahayu memulai percakapan seriusnya sambil memandang ke empat orang yang masih asing baginya secara bergantian.
"Saya memang bukan ibu kandung Raina, namun saya selalu menginginkan yang terbaik untuknya. Nyawa saya ada dalam kebahagiaan anak-anak saya.
Kami tidak tahu pendapat anda tentang putri kami! Namun bagi kami putri kami jauh lebih berharga dari Berlian manapun. Mungkin anda berpikir saya hanya mengucapkan omong-kosong saja, tapi saya yakin orang tua mana pun pasti akan membanggakan anak-anak mereka. Saya sudah mengatakan segalanya tentang putri saya, apa pun keputusan anda akan kami terima. Namun keputusan mutlak ada ditangan Raina!" Ucap bu Rahayu menjelaskan.
Dua menit kemudian bu Romlah tiba di ruang tengah sembari merangkul tubuh Raina.
Netra Raina mengunci pada satu wajah, wajah yang sangat tidak asing baginya. Justru ia benar-benar terkejut saat ini, ia tidak pernah membayangkan keluarga Dinata akan duduk di rumah sederhananya.
Untuk sesaat netra dua anak manusia yang saling mengagumi bertemu dalam belaian cinta yang penuh dengan untaian Tasbih pada yang kuasa atas terciptanya mereka.
"Assalamu'alaikum." Raina menyapa semua orang dengan doa terbaik yang di anjurkan Islam. Semua mata tertuju padanya sambil menjawab salam dengan ucapan yang sama yakni saling mendoakan dalam keselamatan.
"Ibu memanggil ku?"
Raina hanya bisa mangut, dia duduk di samping bu Rahayu sambil memperbaiki mukena nya yang tersangkut di atas paha bu Rahayu.
"Maaf, Raina baru dari Musolla ngajar adik-adik ngaji, jadi belum sempat ganti baju." Ucap Raina tulus.
"Kenapa semua orang berkumpul disini? Apa ada hal yang penting?" Raina kembali membuka suara.
"Sebelumnya kita sering bertemu dalam suasana yang berbeda, dan malam ini kita juga bertemu dalam urusan yang berbeda. Tadi kami sudah menyapaikan tujuan kedatangan kami pada ibu mu, dan ibu mu menyerahkan keputusan mutlak nya padamu."
"Keputusan? Keputusan apa?" Raina bertanya karena ia belum tahu arah pembicaraan orang-orang di sekelilingnya.
__ADS_1
"Aku dan keluarga ku datang untuk melamar mu. Bukankah sudah ku katakan, aku akan membawa mu pulang, bukan sebagai Bodyguard saleha ku, namun sebagai istri saliha ku." Sambung Sawn sembari menatap Raina dengan tatapan penuh cinta. Ingin rasanya ia memeluk wanita yang sangat di rindukannya itu walau hanya sekali saja, sayangnya keinginannya itu masih terhalang oleh kata 'Belum Halal' dan itu membuat Sawn terasa seperti hilang akal. Setiap kali ia memikirkan Raina jantungnya terasa seperti akan meledak, cinta, kasih sayang, rindu semuanya bercampur menjadi satu.
"Seperti yang saya katakan sebelumnya, keputusan mutlak ada di tangan Raina. Saya akan mendukung semua keputusan putri saya tanpa harus memaksanya." Bu Rahayu kembali membuka suara.
"Kami mengerti maksut bu Rahayu. Bagaimana kalau kita berikan waktu untuk Sawn dan Raina bicara dari hati ke hati. Setelah itu kita akan putuskan segalanya." Sambung bu Hanum.
Semua orang setuju dengan pendapat bu Hanum, semenit kemudian Sawn dan Raina sudah berada di lantai dua rumah panti.
Lantai dua?
Teras lantai dua biasanya di gunakan sebagai area anak-anak bermain. Sebuah ayunan dan beberapa permainan terdapat di lantai dua.
Sekarang Sawn dan Raina duduk di bangku yang tak jauh dari ayunan. Mereka duduk saling berhadapan, lampu yang ada di teras lantai dua menerangi wajah mereka sampai Raina sekalipun tidak akan bisa bersembunyi dari perasaannya sendiri.
Cukup lama mereka berdua terdiam, menikmati hembusan angin malam yang membelai wajah mereka yang bersemu malu.
Kata-kata mereka terkatup di bibir.
Sesekali Sawn melirik wajah ayu Raina, wajah itu merunduk seperti biasa. Sawn tersenyum, sedetik kemudian ia pun mengalihkan pandangannya.
"Semua hal sudah ku katakan, termasuk seberapa dalam perasaan ku padamu!" Sawn membuka suara di antara senyapnya udara.
"Entah apa yang kita bicarakan, kita telah bertemu agar bisa memutuskan tentang masa depan kita, tapi sebelum bicarakan tentang masa lalu kita bagaimana bisa berpikir akan masa depan kita." Sawn menghentikan ucapannya, netranya memburu netra Raina. Untuk sesaat mereka kembali saling beradu pandang.
"Aku kuliah di MIT (Massachusetts Institute Of Technology). Di kampus aku menyukai seorang gadis dia kawan sekelasku. Dia duduk didepan ku, aku sering berusaha bicara dengannya tapi tak berani. Syukurlah, kemudian baru ku tahu dia sudah punya dua pacar. Aku pernah merokok dengan kawan-kawan, tapi ketika aku tertangkap mama, aku berjanji takkan merokok lagi. Itu tak ku katakan pada Papa tapi rasanya aku harus mengatakannya padamu." Tutup Sawn.
__ADS_1
Rembulan malam ini menjadi saksi ungkapan perasaan tersembunyi Raina, dadanya berdebar semakin kencang, ingin rasanya ia bicara dari hati ke hati namun ia tidak bisa melakukannya. Jika Tuhan sudah berkehendak bahkan semesta pun akan tunduk di bawah kehendak dua insan yang saling menyayangi.
...***...