
Sawn dan Raina tiba di kediaman mereka kala senja tiba. Tak sedetik pun Sawn melepas senyum bahagia dari wajah tampannya. Mendengar kabar kehamilan Raina membuatnya sangat bahagia. Dan kebahagiaan ini tidak akan lengkap sebelum ia membagikan kabar bahagia ini secepatnya.
Sedetikpun Sawn tak ingin lengah, ia bahkan menggendong Raina dari lantai bawah karena tidak ingin istri Salehanya menaiki anak tangga.
Bi Sumi, Ega, Melati, mang Cecep, mang Ujang dan mang Anwar menatap tuannya dengan tatapan heran. Mereka bersyukur, mereka ikut bahagia melihat senyum bahagia tuannya, tuan yang selalu bersikap baik pada mereka walaupun terkadang ada orang yang berpikir tuannya adalah tuan yang kejam.
Tidak perlu menjelaskan dirimu pada orang lain, yang menyayangimu akan bahagia karena kebaikanmu dan yang membencimu tidak perduli semua itu. Lakukan yang terbaik dalam setiap keadaan tanpa perlu mengharapkan pujian, dan itulah yang selalu dilakukan Sawn dalam setiap waktu yang ia habiskan. Melakukan kebaikan semampunya tanpa menghiraukan cibiran dari orang yang membencinya.
"Tuan dan non Raina terlihat bahagia!" Bi Sumi membuka suara diantara senyapnya udara.
"Iya mbok. Mbok benar. Baru kali ini saya melihat wajah bahagia tuan. Non Raina memberikan warna dalam kehidupan tuan." Sambung mang Anwar.
Lima tahun yang lalu seorang pengemis mengetuk pintu mobil Sawn Praja Dinata, meminta sedekah hanya untuk sesuap nasi. Dan dihari berikutnya pengemis itu datang lagi, dengan keluhan berbeda. Ia meminta sang empunya mobil yang diketuknya membantu pengobatan istrinya yang mengalami serangan jantung. Pakaian lusuh dan bau tak sedap yang menguar dari tubuh pengemis itu membuat Sawn merasa tidak nyaman berdiri di dekatnya, namun dengan sikap saling menghormati Sawn memilih tak menutup hidungnya atau bicara kasar.
"Anda masih punya tangan dan kaki, seharusnya anda tidak perlu meminta-minta seperti itu. Sesungguhnya mencari kayu bakar lalu menjualnya jauh lebih baik untuk anda dari pada meminta-minta. Saya bukan orang yang mudah memberikan bantuan pada orang asing seperti anda, jika anda mau anda bisa bekerja dirumah saya. Saya akan berikan gaji di muka sehingga anda bisa membiayai istri anda dirumah sakit." Ucap Sawn lima tahun yang lalu, ucapan yang masih membekas di hati mang Anwar. Walaupun istri mang Anwar sudah tiada, setidaknya tuannya itu sudah memberikan kemudahan untuknya, dikala semua orang menjauhinya hanya tuannyalah yang ada dan memberikan dukungan untuknya.
Tak pernah terlewatkan bagi mang Anwar untuk selalu mendoakan kebaikan tuannya, semua pintanya pada yang kuasa telah terkabul melihat wajah berseri-seri tuannya menaiki anak tangga sembari menggendong Bidadari Surganya.
...***...
Sementara itu di kamarnya, setelah menyelesaikan Salat Isya dan Witir secara berjama'ah Sawn dan Raina bersiap untuk tidur.
"Mulai sekarang kau harus berhati-hati! Besok aku akan meminta Nova menyiapkan perawat untukmu, kemanapun kau pergi kau harus bersamanya." Ucap Sawn pelan sambil menyelimuti tubuh Raina.
"Apa aku boleh bertanya?"
"Kenapa harus bertanya!" Balas Sawn sambil memandang Raina dengan tatapan kasih sayang. Raina bangun kemudian duduk tanpa memperdulikan Sawn yang terus saja memintanya untuk segera tidur.
"Kenapa kau tidak memberitahukan Mama dan Papa tentang kehamilanku? Mereka juga sedang menantikan kabar bahagia ini."
"Bukannya aku tidak ingin memberitahukan Mama dan Papa! Hanya saja, aku ingin memberikan kabar bahagia ini di saat yang tepat. Kita bagikan kabar bahagia ini pada saat pesta pernikahan berlangsung, ini akan menjadi kado terindah yang akan mereka terima seumur hidupnya."
Tanpa komentar, Raina hanya bisa mangut mendengar ucapan Sawn Praja Dinata.
"Cepat tidur! Aku tidak ingin menjadi suami yang jahat karena membuat istrinya melewati kebiasaan baiknya. Kau akan mengeluh sepanjang hari jika kau sampai melewati Shalat malammu." Ucap Sawn sambil tersenyum.
__ADS_1
Klik!
Setelah itu Sawn mematikan lampu. Dan membiarkan Raina tidur dalam dekapan hangatnya.
...***...
Yuna baru saja keluar dari ruang Dekan, sebelum berangkat kekampus papanya meminta agar ia memberikan undangan untuk pesta ulang tahun pernikahan kedua orang tuanya. Maklum saja, Dekan Fakultas Yuna adalah sahabat baik Pak Andi sejak duduk di bangku Universitas.
"Yun... Kenapa mama dan papa mu tidak merayakan pesta mereka di hotel saja. Bukankah itu lebih baik?"
"Tidak. Itu tidak baik, Vi." Balas Yuna santai.
"Kenapa tidak baik? Bukankah di Hotel akan jauh lebih mudah, Om dan Tante bisa bersantai sebelum acara di mulai!" Balas Arnela sambil menatap wajah Yuna.
Mereka tiga sekawan selalu bersama-sama kemanapun mereka pergi, hanya orang beruntung yang diberkahi dengan sahabat baik.
Bahasa persahabatan bukanlah kata-kata semata, tapi bahasa persahabatan adalah penuh makna. Banyak orang yang akan keluar masuk di dalam hidupmu, tapi hanya sahabat sejatilah yang akan meninggalkan jejak di hatimu.
"Mama tidak suka hidup Glamor. Dulu, setiap kali mengadakan ulang tahun pernikahan, beliau hanya mengumpulkan Yatim Piatu untuk meminta doa selamat, sejak kak Sawn lulus Kuliah dan kembali ke-Indonesia, pesta pernikahan Mama dan Papa mulai di adakan secara besar-besaran. Mama bilang, dari pada mengadakan pesta di Hotel lebih baik tidak usah sekalian, karena acaranya hanya di hadiri orang terdekat saja." Jawab Yuna seadanya.
Dret.Dret.Dret.
Kau ada di kampus?
Bisa kita bicara sebentar?
Hanya sebentar!
"Ada apa?" Vivi dan Arnela bertanya bersamaan. Melihat ekspresi wajah Yuna membuat dua gadis anggun itu saling tatap tak mengerti.
"Ti-tidak ada!" Balas Yuna sedikit gugup.
"Apa kalian lapar?" Yuna kembali membuka suara.
"Tentu saja." Kali ini Arnela yang menjawab Yuna dengan raut wajah putus asa.
__ADS_1
"Kalian bisa menungguku di Kantin, aku akan segera kembali." Ucap Yuna sambil berjalan meninggalkan dua sahabat yang menatapnya dengan tatapan heran.
Aku ada di kampus? Aku pun penasaran, orang aneh mana yang berani menggangguku! Tulis Yuna sambil terseyum.
Aku menunggumu di kantorku!
Zain De Lucca.
Yuna melotot, ia benar-benar terkejut. Jika bisa, ia ingin tiada saja sebelum mendapat pesan tanpa nama itu. Berkali-kali ia membaca pesan terakhir yang ia terima, berharap nama yang ada akan berubah bersama helaan nafas kasarnya.
Kenapa kau tidak bergerak dari tempat dudukmu?
Iya... Aku tahu aku sangat tampan. Kau beruntung mendapatkanku sebagai calon suami masa depanmu.🤣
Aku menantikanmu!
Apa pria ini memata-mataiku? Kenapa dia tahu aku sedang duduk? Yuna bergumam sendiri, ia beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju kantor Prof. Zain yang terletak di lantai dua.
Pintu kantor Prof. Zain terbuka lebar. Ia sengaja melakukan itu, setidaknya sampai gadis anggun itu muncul di depannya.
Berkali-kali Prof. Zain menatap kearah pintu, berharap gadis pujaan hatinya akan segera tiba, sembari menunggu gadis dinginnya, ia kembali fokus pada pekerjaan yang tersusun rapi di atas meja.
Yuna yang baru saja tiba dan berdiri di depan pintu untuk sepersekian detik menatap pria tampan yang duduk tak jauh dari tempatnya berdiri, yang di tatapnya terlalu fokus sampai tidak menyadari kehadirannya.
Lagi-lagi Yuna mengagumi maha karya indah sang pencipta, ia menguliti setiap inci wajah rupawan itu. Tidak ada hal yang terlewat dari pandangannya.
Dag.Dig.Dug.
Dada Yuna berdebar sangat kencang, seolah jantungnya akan melompat keluar. Memang sedikit berlebihan, namun itulah perasaan yang ia alami saat ini.
"Jangan menatapku seperti itu, nanti kau bisa jatuh cinta padaku! Aku tidak akan bertanggung jawab jika nantinya kau menangis karena aku menolakmu." Guyon Prof. Zain sambil memamerkan senyum manisnya, ia berjalan kearah sofa kemudian mempersilahkan Yuna duduk di depannya. Prof. Zain membiarkan pintu kantornya terbuka untuk menghindari fitnah selama Yuna bersamanya.
Prof. Zain duduk di depan gadis yang mencuri ketenangan setiap malamnya dengan perasaan campur aduk, sedih, senang, deg-degan, gelisah, semua perasaan itu memenuhi rongga dadanya. Bicara secara langsung sungguh berbeda di bandingkan saat ia memainkan jari-jari lentiknya di atas ponsel.
__ADS_1
Yuna pun tidak tahu harus sedih atau senang. Duduk berdua bersama pria tampan idola semua gadis di kampus membuatnya semakin gelisah.
...***...