Mencintai Bodyguard Saleha

Mencintai Bodyguard Saleha
Meminta Persetujuan


__ADS_3

"Kau jatuh cinta pada nona sendirian?" Robin bertanya karena masih tidak percaya dengan apa yang di dengarnya barusan.


Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibir Sawn selain anggukan kecil yang mewakili segala rasa yang ada.


"Wahh... Aku tidak percaya ini!" Robin bangun dari posisi duduknya sambil mengipas wajah dengan tangan kanannya.


"Apa kau di tolak?" Robin bertanya karena penasaran.


"Bagaimana kau bisa tahu?" Sawn membalas pertanyaan dengan pertanyaan. Justru sekarang ia yang di penuhi rasa penasaran. Bagaimana bisa Robin tahu dirinya di tolak sebelum ia menceritakan kisahnya.


"Aku bisa menebaknya dari wajahmu!" Robin memutari wajah Sawn dengan jari telunjuknya. Sedetik kemudian Sawn penepis tangan Robin dari depan wajahnya.


"Omong kosong." Ucap Sawn kesal.


"Kau tahu aku tidak sedang bicara omong kosong. Lagi pula, untuk wanita sekelas 'Nona Sendirian' kau tidak akan mudah merayunya dengan segepok uang karena dia tidak akan memandangmu, justru dia akan semakin membencimu." Ucap Robin sembari menghempaskan tubuhnya di sofa samping Sawn.


"Kau benar, Raina tidak akan melirik ku hanya karena aku lelaki tampan dengan segudang kemewahan. Aku pernah mendengar dari adik lelakinya kalau Raina memimpikan pendamping hidup yang bisa menggenggam erat tangannya sampai ke Surga. Dan aku tidak yakin soal itu, hafalan surah Alfatihah ku saja masih berantakan." Ucap Sawn kecewa pada dirinya sendiri.


"Aku masih penasaran, kenapa kau selalu memangil Raina dengan panggilan 'Nona Sendirian' Jujur aku selalu kesal ketika kau memanggilnya seperti itu." Ucap Sawn lagi berterus terang dengan apa yang dirasakannya.


"Itu hanya panggilan sayang ku untuknya. Pertama kali aku bertemu dengannya, dia hanya seorang gadis anggun di tengah empat pria, aku tidak tahu namanya karena Itu aku memanggilnya 'Nona Sendirian' apa kau butuh penjelasan lain?" Robin bertanya sambil mengepalkan tangannya.


"Jika 'Nona Sendirian' adalah panggilan sayangmu untuknya, jangan pernah ulangi ucapan konyol itu. Aku tidak suka orang lain memanggil Raina ku dengan panggilan sayang lagi." Kali ini Sawn memperingatkan sahabatnya itu sambil mengepalkan tangannya.

__ADS_1


Robin hanya bisa tersenyum tulus, ia tahu kali ini sahabatnya itu serius dengan apa yang di rasakannya. Tapi, masalahnya apa orang tuanya akan merestui hubungan yang belum memiliki nama?


Sejujurnya Robin masih merinding melihat penolakan keras yang di lakukan bu Hanum pada hubungan Sawn dan Angel. Jika itu terjadi pada wanita lemah-lembut sekelas Raina, Robin yakin wanita yang sudah ia anggap sahabat terbaiknya itu tidak akan bisa bernafas dengan tenang di atas dunia yang penuh dengan kejutan ini.


Hhmmm! Robin menghela nafas berat. Serasa ada batu besar yang mengganjal di lubuk hati terdalamnya, sangat menyakitkan jika ia sampai melihat air mata lagi.


Berbeda dengan kasus Angel. Wanita itu benar-benar tidak pantas bersama sahabatnya. Jika itu Raina? Ia yakin wanita solehah itu akan terpuruk ke dalam dasar jurang, setidaknya itu yang di rasakan Robin setelah mendengar perasaan tulus Sawn untuk Raina.


"Kau tahu? Selain kau tidak ada orang lain yang dekat dengan ku. Kau adalah sahabat sekaligus saudara bagiku. Jika kau bahagia, maka aku orang pertama yang akan bersorak gembira. Aku mendukungmu bersama gadis sebaik 'Nona Sendirian' tapi aku tidak yakin dengan keputusan tante Hanum dan om Andi. Masih terukir dengan jelas di memoriku bagaimana tante Hanum mengusir Angel dengan kata-kata menusuknya." Robin mencoba mengingatkan Sawn terhadap masa lalu yang coba ia lupakan.


"Kau benar. Tidak akan mudah meminta persetujuan mama. Jika mama tidak setuju maka aku orang yang paling menyedihkan di dunia ini." Ucap Sawn sambil menangkupkan wajah dengan kedua tangannya.


"Hal pertama yang harus kau lakukan adalah meyakinkan tante Hanum. Sisanya, kita berdua akan menyusun rencana dengan matang agar 'Nona Sendirian' tidak menolak mu."


Mendengar Robin memanggil Raina dengan sebutan 'Nona Sendian' lagi membuat Sawn terlihat kesal. Ia menatap wajah sahabatnya itu dengan tatapan tajam.


Setidaknya Robin bisa membaca pikiran sahabatnya itu. 'Dia wanita ku, jangan berani menunjukan ketertarikan mu. Jika tidak aku pasti akan menghajarmu' begitulah Cinta, selalu ada ruang untuk kecemburuan dalam sebuah hubungan, jika tidak ada perasaan cemburu maka hubungan itu ibarat makanan tanpa garam. Yang buruk itu ketika seseorang cemburu sampai membuatnya buta kemudian melakukan keburukan. Cinta tidak akan membiarkan orang yang di cintainya terluka, hanya orang jahat yang melakukan kejahatan atas nama cinta.


"Apa kau mau pulang? Kau bisa ikut bersama ku." Sawn mencoba menyembunyikan kegugupannya, sejujurnya ia benar-benar takut mamanya akan menolak gadis impiannya.


"Kau tidak perlu gugup. Tante Hanum tidak sekejam itu." Ucap Robin menenangkan.


Sawn melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, hari semakin sore. Dan sudah waktunya ia pulang untuk menjelaskan semua rasa yang ada. Entah itu penolakan? Atau justru persetujuan! Semuanya sudah di atur Tuhan.

__ADS_1


...***...


Ting tong... Ting tong...


Berkali kali Sawn menekan bel rumah besarnya namun pembantu separuh baya yang bekerja puluhan tahun di rumah mamanya itu tidak juga membuka pintu.


Dulu, jika Sawn tidak di bukakan pintu dengan cepat, Sawn akan mulai kesal kemudian menendang pintu dengan segenap kekuatannya. Sekarang tidak lagi, semenjak bertemu dengan Raina seolah angin segar kembali membelai kehidupan penuh amarahnya.


"Maaf tuan muda, tadi Mbok sedang Sholat." Ucap wanita sepuh itu, menyesal. Usianya sudah tidak muda lagi namun ia tidak ingin membebani siapa pun dalam kehidupannya. Wanita sepuh itu tahu betul tangan di atas jauh lebih baik dari pada tangan di bawah.


Justru wanita sepuh itu selalu mengeluh tentang orang yang di berikan Tuhan segala kekuatan untuk mencari Rizki yang halal justru mereka memilih menjadi peminta-minta tanpa mau bekerja keras.


"Tidak apa-apa mbok! Mama dimana?" Sawn bertanya sambil berjalan di belakang wanita sepuh itu.


"Nyonya dan tuan masih di kamarnya. Sebentar lagi mereka pasti akan turun untuk makan malam." Balas wanita sepuh itu lagi.


"O iya mbok Dami, dimana Yuna? Kenapa anak nakal itu belum juga terlihat. Biasanya dia orang pertama yang akan menyambut kedatangan ku." Ucap Sawn lagi pada wanita sepuh yang ia panggil Mbok Dami.


"Nona muda belum pulang. Katanya dia harus kekampus dan akan pulang terlambat." Ucap mbok Dami sambil memandang wajah terkejut Sawn mengetahui adik perempuannya belum juga pulang.


"Apa tuan muda mau koffe?"


"Tidak. Aku mau air putih saja." Ucap Sawn sembari berjalan menuju ruang tengah, sementara mbok Dami berjalan menuju dapur.

__ADS_1


Dada Sawn berdetak lebih kencang, ia benar-benar takut membayangkan wajah kecewa mama dan papanya. Sawn tidak pernah membayangkan, meminta persetujuan dari orang tuanya akan lebih menakutkan ketimbang perusahaannya kalah dalam Tender Besar, meskipun demikian ia harus memberanikan diri untuk mendengar jawaban. Entah itu jawaban menyenangkan atau menyedihkan semuanya membutuhkan Rasa syukur yang mendalam. Karena sejatinya hanya laki-laki sejati yang sanggup berkorban demi wanita yang di sayanginya.


...***...


__ADS_2