
"Apa aku bermimpi? Jika ini mimpi aku tidak ingin bangun, mimpi ini terlalu indah." Lirih Sawn pelan. Begitu membuka mata ia di kejutkan dengan hadirnya Raina di kamarnya.
Sawn tersenyum sembari memandangi wajah Raina yang terlelap di atas sofa. Pelan Sawn mencoba menempelkan tangan di dahinya.
"Aaa... Ternyata aku sedang demam, karna itu aku melihat Raina di kamarku. Sungguh mustahil." Sawn mencoba meyakinkan dirinya tanpa melirik kearah Raina yang masih terlelap.
"Apa aku sebodoh itu sampai mengira Raina berada di ruangan yang sama dengan ku? Atau aku terlalu menyukainya sampai-sampai aku tidak bisa untuk tidak memikirkannya? Bodoh. Dasar bodoh!" Umpat Sawn pada dirinya sendiri. Ia membalikkan tubuhnya menghadap Raina. Gadis itu masih terbui mimpi indahnya, seandainya saja Raina tahu saat ini Sawn sedang memandangi wajah terlelapnya dengan tatapan cinta, sudah di pastikan ia pasti akan menghindari tatapan itu sebisanya.
"Aku tahu ini hanya mimpi karna itu aku akan melihatmu dari sini saja, aku tidak ingin kau menghilang seperti asap." Lirih Sawn pelan, ia terus saja memandangi wajah terlelap Raina sampai ia tidak sadar kapan ia mulai terlelap lagi.
...***...
"Bu. Saya akan berangkat kekantor, saya sudah menyiapkan bubur untuk pak Sawn." Ucap Raina sembari memasukan ponsel dan beberapa barang berharganya ke dalam tas yang biasa ia gunakan.
"Tuan sedang sakit, apa non Raina yakin mau kekantor?" Ucap bi Sumi dengan wajah Penasaran.
"Ia, bu. Saya harus memberi tahu mas Robin kalau pak Sawn sedang sakit. Dengan begitu mas Robin bisa menghendel semua pekerjaan pak Sawn." Jawab Raina dengan santai.
"Kenapa non Raina tidak menelpon pak Robin saja, dengan begitu non Raina tidak perlu keluar rumah." Ucap bi Sumi berusaha mencegah Raina pergi, ia tahu begitu Sawn bangun majikannya pasti akan mencari Raina sama seperti tadi malam.
"Hari ini saya harus pulang kerumah. Bukankah ibu sudah tahu kalau pak Sawn mengizinkan saya pulang sekali seminggu, saya sangat merindukan ibu saya." Sejujurnya Raina sedang berusaha menghindar dari Sawn, ia tidak ingin kejadian semalam terulang kembali.
"Baiklah jika itu sudah menjadi keputusan non Raina, bibi tidak bisa melarang. Tapi non, bagaimana jika nanti tuan bertanya tentang non Raina, bibi harus jawab apa?"
"Pak Sawn tidak akan mencari saya. Saat ini pak Sawn tidak butuh pengawal, beliau butuh doktet. Saya baru saja menghubungi dokternya dan...."
Ting Tong...!
Raina menghentikan ucapannya begitu mendengar bel berbunyi.
"Saya rasa itu dokter keluarga pak Sawn."
"Dokter keluarga tuan Sawn?" Bi Sumi mengulangi ucapan Raina. Berharap apa yang ia dengar tidak benar.
"Tadi pagi saya meminta nomer dokter Alan dari Yuna."
"Apa? Non Yuna?" Bi Sumi menghela nafas ketakutan. Ia khawatir mamanya Sawn akan memarahinya karna tidak melaporkan kondisi Sawn seperti kebiasaannya.
"Ibu kenapa, apa ada masalah?"
"Titi...tidaaak." Jawab bi Sumi gugup.
Raina yang melihat bi Sumi gugup jadi ikut-ikutan gugup. Tidak biasanya pembantu separuh banya itu ketakutan, dan hal itu terasa ganjil dalam penglihatan Raina.
"Nyonya Hanum pasti akan datang!" Ucap bi Sumi pelan, wajahnya masih terlihat tegang.
__ADS_1
"Tidak apa-apa. Mamanya pak Sawn sangat baik, beliau tidak akan marah." Ucap Raina sembari menenangkan bi Sumi dengan cara menepuk pelan bahunya.
"Mbok Sawn dimana?" Bu Hanum tiba-tiba datang mengejutkan Raina dan bi Sumi.
"Nnyonyaa..." Bi Sumi masi gugup.
"Raina, kau ada disini?" Ucap bu Hanum penasaran.
Raina mengangguk sembari menangkupkan kedua tangannya di depan dada, memberi salam pada bu Hanum yang memandang sinis padanya. Melihat pandangan sinis bu Hanum membuat Raina merasa tidak enak.
...***...
"Alan, bagaimana keadaan Sawn?"
"Sawn baik-baik saja tante, dia hanya butuh istirahat." Ucap dokter Alan sambil meletakkan tangan kanannya di dahi Sawn.
"Sepertinya Sawn kelelahan tante, karna stress membuat kondisinya semakin parah."
"Stres! Apa maksutmu?" Bu Hanum menggaruk kepalanya yang tidak gatal, membuat Pasmina yang ia gunakan terlihat berantakan.
"Tante tidak perlu khawatir, Sawn hanya butuh istirahat saja." Dokter Alan tersenyum sambil beranjak meninggalkan bu Hanum sendirian.
"Ma, apa yang mama lakukan di rumah Sawn sepagi ini?" Tanya Sawn begitu ia membuka mata. Ia merasakan pusing luar biasa sampai tidak bisa mengangkat kepalanya.
"Sudah sayang, kamu istirahat saja." Bu Hanum berusaha mencegah Sawn bangun dari posisi tidurnya.
"Apa kau menyukai gadis itu?" Ledek bu Hanum lagi, mendengar ucapan mamanya Sawn hanya bisa tersenyum kecil.
"Mama tahu kau tidak akan mengatakan apapun, karna itu mama yang akan mengatakannya. Mama menyukai pilihanmu!"
Mendengar ucapan mamanya Sawn semakin bersemangat. Ia tidak menyangka mamanya akan secepat itu menerima Raina, tidak seperti Angel, mamanya berusaha menolak gadis itu dengan segala cara.
Sawn tiba-tiba menggeser tubuhnya dan merebahkan kepalanya di pangkuan mamanya yang saat itu duduk di samping kanannya.
Bu Hanum heran, tidak biasanya putranya yang terkesan dingin bersikap manja seperti itu, seingat bu Hanum terakhir kali Sawn merebahkan kepala di pangkuannya ketika putranya itu masih sekolah dasar.
"Ada apa ini?" Ucap bu Hanum sembari mencubit lengan Sawn.
"Aau... Sakit ma."
"Benarkah? Maafkan mama!" Bu Hanum menjewer kedua telinganya.
"Sawn hanya bercanda. Untuk apa mama seserius itu?" Sawn menarik kedua tangan mamanya yang saat ini masih menempel di kedua telinganya.
"Apa bi Sumi yang memberi tahu mama kalau aku sakit?"
__ADS_1
"Tidak!"
"Lalu siapa?" Balas Sawn penasaran.
"Raina!" Jawab bu Hanum santai.
"Apa? Raina. Sejak kapan mama akrab dengan gadis itu?" Sawn mencoba bangun dari pangkuan mamanya, namun bu Hanum menarik lengannya.
"Sejak putra mama yang bodoh ini berusaha mengancam gadis polos itu."
"Jadi mama mengetahui segalanya?"
"Tentu saja, aku ini mamamu!" Bu Hanum memasang wajah jutek sambil mencubit hidung Sawn.
"Aau, ma. sakit." Ucap Sawn sambil mengusap hidungnya yang terasa sakit.
"Gadis polos itu menemui mama sambil menangis. Dia menceritakan bagaimana kau dengan berani mengancamnya. Di depannya mama bertingkah seperti singa yang akan menerkam mu. Dan di belakangnya? Mama malah menjodohkanmu. Tidak tahu kau akan menyukainya atau tidak." Bu Hanum menghentikan Ucapannya kala mengingat pesan singkat yang Robin kirimkan padanya.
Rasanya nafas bu Hanum terhenti sesaat karna takut membayangkan putranya bersanding Dengan Angel.
Angel! Dia gadis yang cantik. Cantik saja tidak akan cukup menjadi bekal membangun rumah tangga.
Angel! dia gadis yang cerdas. Cerdas saja tidak cukup menjadi bekal mendidik anak-anak.
Kecantikan dan kecerdasan akan sempurna jika di barengi dengan kekuatan Iman dalam mengarungi samudra kehidupan.
Angel, gadis itu bahkan secara gamblang pernah mengungkapkan di depan bu Hanum, bahwa setelah menikah dia tidak ingin memiliki anak.
"Ma, mama kenapa?"
"Mama tidak apa-apa, mama hanya teringat pesan singkat yang mama terima tadi malam."
"Pesan singkat, pesan singkat apa yang mama maksut?" Ucap Sawn Heran. Dan benar saja, bu Hanum terlihat sengat khawatir.
"Nak, setiap orang tua selalu menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya. Terkadang ada orang tua yang bersikap tegas di depan anak-anaknya, tapi belakangnya orang tua itu bisa saja menangis melihat anaknya terluka. Dulu mama dan papa pernah menolak Angel, sekarang pun sama..."
Mendengar ucapan mamanya Sawn langsung bangun dari pangkuan mamanya, raut wajah yang sama, kesal namun tidak bu hanum perlihatkan.
Kenapa mama selalu sedih jika itu berkenaan dengan Angel, apa Angel pernah melakukan hal yang tidak ku ketahui dan itu membuat mama kesal? Lirih Sawn dalam hatinya.
"Orang yang cantik tidak selamanya orang baik, tapi orang yang baik selalu cantik. Pikirkan keputusan yang akan kau buat, dan dengan siapa kau ingin menghabiskan masa tuamu. Jika kau menemukan pasangan yang baik menjadi pendampingmu maka kau akan bahagia, tapi jika kau memilih pasangan yang salah maka kau tidak akan pernah menjadi Shalih. Mama berharap kau akan menemukan pendamping yang tangannya bisa kau genggam sampai kesurga. Karna pasangan yang kita buat bukan hanya pasangan di dunia tapi sampai Akhirat." Ucap bu Hanum sembari menyentuh wajah Sawn.
Biasanya mama jarang bicara tentang kehidupan peribadi ku, tapi kali ini beliau bicara panjang lebar. Lirih Sawn dalam hatinya, ia tersenyum sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Betapa konyolnya tingkah Sawn di depan mamanya, meskipun begitu bu Hanum tahu kalau putranya sedang bimbang antara memilih cinta masa lalunya atau mengikuti nasihat darinya.
Biarkan waktu yang menjawab segalanya, takdir yang baik akan selalu mengikuti orang yang baik.
__ADS_1
...***...