Mencintai Bodyguard Saleha

Mencintai Bodyguard Saleha
Aku Mencintaimu


__ADS_3

Hari ini hari yang cukup berat bagi Raina Salsadila, malam semakin larut namun resah dan gelisah masih memenuhi rongga dadanya. Seharian ini tidak ada senyum ceria seindah purnama dan tidak ada bahagia yang menyapa lembut lubuk hati terdalamnya. Seolah stok deritanya takkan berkurang.


Sesekali Raina menepuk-nepuk dadanya, berharap luka hari ini pergi bersama helaan nafas panjangnya. Ia tidak terlalu merasakan kesedihan kala ibunya melayangkan tamparan diwajah ayunya, yang membuatnya terluka sangat dalam kala mengetahui Sawn pulang dengan setengah sadar. Bagi orang lain mungkin itu hal biasa, namun tidak bagi Raina.


"Sayanggg... Buka pintunyaaa!" Sawn mengetuk pintu kamar Raina dengan badan menggigil.


Tok.Tok.Tok


Sawn mengetuk pintu kamar lagi dan lagi dengan sisa tenaga yang ia punya, sepuluh menit pertamanya berlalu begitu saja. Raina tetap kekeuh pada pendiriannya. Ia terlalu marah melihat kondisi buruk Sawn yang berdiri di hadapannya dengan aroma minuman haram itu.


"Aku janjii tidak akan mengulanginya lagi. Tollonggg maafffkan aku." Ucap Sawn pelan dengan suara nyaris tak terdengar.


Sementara itu di balik daun pintu, Raina tak kuasa menahan kesedihannya. Rasanya ia ingin memeluk tubuh suaminya sambil membisikkan kabar bahagianya. Dengan situasi yang ada rasanya kaki dan tangannya bagai terbelenggu, ia tak bisa melangkah maju ataupun mundur. Semuanya terasa sia-sia saja.


Allah... Aku lemah. Tolong ampuni aku dan mudahkan segala urusanku! Pinta Raina dalam ketidak berdayaannya.


Setengah jam berlalu sejak ia mengurung diri di kamar lamanya, dan setengah jam berlalu pula bagi Sawn duduk di depan pintu kamarnya.


Pria kekar yang berusaha mendapatkan maaf tak terdengar lagi suaranya. Raina membuka gagang pintu dan mendapati Sawn tak sadarkan diri. Pelan, ia berusaha mengangkat tubuh kekar itu dan menuntunnya menuju kamar mandi.


Memandikan Sawn kemudian mengganti pakaian suaminya. Membaringkan tubuh kekar itu di ranjang dengan penuh kehati-hatian.


"Ada apa denganmu? Kenapa kau bisa sekacau ini? Aku tidak pernah membayangkan ini akan terjadi! Aku marah padamu, sangat marah." Ucap Raina sambil membelai lembut puncak kepala suaminya.


Raina meraih tangan Swan dengan jemarinya kemudian meletakkan di perut ratanya.


"Disini ada malaikat kecil kita. Semoga dia menjadi anak sebaik dirimu, dan setegar diriku." Ucap Raina lagi, ia berbaring di samping Sawn dan meletakkan kepalanya di lengan kekar suaminya.


Raina tertidur dengan senyuman yang masih mengembang di wajah ayunya. Kemarahan yang tadinya membuncah seolah menghilang bersama helaan nafaa kasarnya.

__ADS_1


...***...


Prakkkk!


Sawn keluar dari kamar dengan bantingan pintu cukup keras. Bi Sumi, Melati dan Ega tak bisa menahan diri untuk tidak terkejut. Dan untuk pertama kalinya ketiga wanita itu melihat tuan sempurnanya terlihat berantakan.


"Tuan! Apa tuan butuh sesuatu?" Bi Sumi mencoba mencairkan suasana yang terasa sedikit menegangkan.


Sawn kesal pada dirinya sendiri. Kejadian saat Raina mendorong tubuhnya dan meninggalkannya di kamar mereka seolah berputar di memori otaknya.


"Dimana istriku?" Sawn bertanya sambil menatap tajam kearah tiga wanita beda generasi itu.


"Aku bertanya dimana istriku?" Sawn bertanya lagi, kali ini dengan suara keras, bentakannya berhasil membuat Ega dan Melati ketakutan.


"Tu-tuan ... Non Raina ..." Bi Sumi terlihat gugup, meskipun begitu ia tetap berjalan kearah Sawn sambil merunduk.


"Non Raina pergi kerumah besar! Semalam nyonya Hanum meminta non Raina untuk berkunjung pagi ini, beliau bilang ada hal penting." Tutup bi Sumi sambil menatap wajah tuannya yang terlihat tidak marah lagi.


...***...


Sejak pagi bu Hanum dan pak Andi meluangkan waktu mereka di dapur, hari ini perayaan ulang tahun pernikahan mereka yang ketiga puluh lima. Setiap tahunnya pak Andi akan berusaha menyenangkan bu Hanum dengan memasak makanan lezat.


Yuna tersenyum sembari memeluk tubuh mamanya dari belakang. Bukan hanya sekali, namun ini sudah percobaan keempat pak Andi. Menyiapkan menu permintaan bu Hanum, hasilnya selalu gagal dan di akhiri oleh tawa bu Hanum yang melihat wajah suaminya di penuhi peluh.


"Papa, papa. Kita menikah selama tiga puluh lima tahun namun kemampuan papa tidak ada peningkatan apa pun." Guyon bu Hanum yang melihat suaminya gagal melakukan tantangan memasak.


"Ma .... Mama tidak boleh meledek papa seperti itu, sekarang papa sudah punya menantu yang handal, menantunya ini akan membantunya. Iya, kan pa?" Raina melingkarkan tangannya di lengan pak Andi yang kemudian disambut oleh senyuman bahagia pria separuh baya itu.


Untuk sesaat pikiran Raina teralihkan pada Sawn, saat ini ia sangat merindukan suaminya.

__ADS_1


Ia meninggalkan rumah setelah melayangkan kecupan hangat di puncak kepala suaminya.


Tanpa Raina sadari Sawn sudah berdiri sejak tadi memperhatikan tingkah manjanya pada papa mertuanya.


Sawn tersenyum bahagia melihat kedekatan Raina dengan kedua orang tuanya. Bahkan Yuna, anak manja itu terus saja menggoda Raina agar tidak membantu pak Andi, jika pak Andi gagal dalam tantangan kali ini, sudah di putuskan Yuna yang akan mengambil hadiah utamanya, berlibur ke Eropa bersama dua sahabat baiknya.



"Mbok ... Katakan pada Raina, aku mau minum! Suruh dia menemuiku di kamar!" Perintah Sawn pada mbok Dami. Setelah itu ia beranjak menuju lantai dua.


Dalam hati dan pikirannya, Sawn tidak tahu harus berkata apa. Memikirkan kemarahan Raina membuatnya benar-benar terasa hampa.


Tok.Tok.Tok.


Raina memasuki kamar sambil membawa segelas air di tangan kanannya, Sawn menunggu kedatangannya dengan rasa khawatir yang masih memenuhi rongga dadanya.


"Katakan! Apa yang membuat pria tampan ini sangat khawatir? Apa istri jahatnya tidak memberinya sarapan?" Guyon Raina sambil menepuk lengan Sawn pelan. Sementara bibir tipisnya masih memamerkan senyuman menawan sejak ia menginjakkan kaki di kamar tempatnya berdiri.


Sawn meraih lengan Raina dan mengunci tubuh wanita tercantik di dunia itu dalam pelukan hangatnya. Erat, sangat erat sampai Raina merasa sulit bernafas.


"Kau bukan istri yang jahat. Akulah suami yang jahat! Bahkan setelah peringatan berkali-kali, aku masih saja lengah. Dan tanpa sengaja aku meminum minuman itu." Sesal Sawn. Ia melepas pelukannya, wajah tampan itu merunduk.


"Kau tahukan, aku bukan seorang pendendam! Tidak ada kebencian dalam cintaku, aku bisa marah berkali-kali padamu, meskipun begitu aku tidak akan pernah bisa membencimu. Semalam, itu hanya masa lalu. Mulai sekarang kau harus berhati-hati!" Ucap Raina sambil memeluk tubuh kekar suaminya.


"Aku sedikit bernafas lega setelah menemukan tatapanmu. Kedekatanmu menyatu dalam hembusan nafasku! Matamu yang bersinar, kata-katamu yang indah. Semuanya menyejukkan hati dan pikiranku. Aku bisa seratus kali gila untukmu. Hidupku berawal darimu dan akan berakhir padamu." Ucap Sawn lagi, entah dari mana kedamaian itu datang. Semua resah dan rasa takutnya menghilang bersama pelukan hangat yang di berikan bidadari surganya.


"Apa gunanya menyiksa seseorang yang sebelumnya telah merindukanmu! Aku merindukanmu sebanyak tarikan dan hembusan nafasku. Sama sepertimu, hidupku berawal darimu dan berakhir padamu!" Balas Raina sambil melepas pelukannya. Matanya berkaca-kaca. Menatap wajah tampan suaminya menenangkan jiwa resahnya.


"Aku mencintaimu!" Sawn menangkup wajah Raina dengan kedua tangannya, ia mulai melayangkan kecupan di puncak kepala Raina, beralih menuju pipi kanan dan kirinya. Hampir saja bibir lembutnya menyentuh bibir Ranum milik Raina, aksi romantisnya terhenti oleh ketukan keras yang bersumber dari pintu, sedetik kemudian kepala Yuna menyembul dari balik daun pintu sambil memamerkan wajah herannya, ia heran melihat wajah kakaknya memerah seperti tomat matang, seolah wajah itu tertangkap sedang melakukan kesalahan.

__ADS_1


...***...


__ADS_2