Mencintai Bodyguard Saleha

Mencintai Bodyguard Saleha
Arti Sebuah Nama


__ADS_3

Brukkkk!


Yuna menghempaskan tubuh lelahnya di tempat tidur berukuran besar. Maklum saja, berjam-jam berdiri dan duduk di pelaminan membuat sekujur tubuhnya terasa sakit semua. Akhirnya semua rangkaian melelahkan itu berakhir dengan manis, menyisakan rasa syukur atas karunia mengagumkan yang di berikan Tuhan karena telah menyatukan dua hati dalam naungan Rahmatnya.


"Honey. Apa kau lelah?" Prof. Zain bertanya sambil berbaring di samping Yuna.


"Jangan tanya lagi, tanpa mengatakan apa pun Prof. Zain pasti tahu kalau aku sangat lelah." Balas Yuna dengan suara pelan, suaranya nyaris tak terdengar.


Prof. Zain? Panggilan macam apa itu? Prof. Zain bergumam sendiri sambil meyipitkan mata. Untuk sesaat ia menatap wajah Yuna, sayangnya gadis cantik itu sudah terlelap dengan make up tebal yang masih menempel di wajah nyaris sempurnanya.


"Aku tidak tahu kalau kau mudah sekali terlelap. Wajah tidurmu terlihat sangat mempesona. Aku pria beruntung karena bisa mempersunting Bidadari seindah dirimu. Aku janji akan selalu menemanimu seumur hidupku." Ujar Prof. Zain sambil merapikan rambut Yuna yang terlihat menutupi setengah wajahnya.


Cukup lama Prof. Zain mengamati setiap inchi wajah Yuna, tidak ada hal yang membuatnya kecewa. Semakin Prof. Zain menatapnya, semakin ia jatuh cinta pada pesona gadis Indonesia yang sanggup membuat jantungnya berdebar tak karuan.


"Sekarang kau milikku. Kau tanggung jawabku!Bahagiaku ada dalam bahagiamu. Aku tidak memintamu menjadi istri sempurna, aku hanya ingin melihatmu melakukan apa pun yang bisa membuatmu bahagia." Ucap Prof. Zain pelan, wajah tampannya mengukir senyuman.


Sedetik kemudian ia beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum melaksanakan salat isya, ia akan membiarkan Yuna tertidur sebentar setelah itu ia akan membangunkan istrinya untuk melaksakan shalat isya. Kenapa tidak berjamaah saja, bukankah itu lebih baik? Yaaa... Itu memang benar. Hanya saja, menatap wajah lelah Yuna membuat Prof. Zain mengurungkan niatnya.


...***...


Sementara itu di tempat berbeda, Sawn dan Raina baru saja kembali kekamarnya. Di dapatinya Bi Sumi dan Ega sedang berusaha keras membuat baby Hasan untuk diam. Sayangnya, usaha mereka hanya sia-sia saja. Baby Hasan tidak mau diam.


"Assalamu'alaikum." Sawn dan Raina mengucapkan salam, yang kemudian di balas Bi Sumi, Melati dan Ega berbarengan.


"Wa'alaikumsalam."


"Tuan sudah kembali?" Sambung Bi Sumi lagi sambil menatap wajah lelah tuannya.


"Yaaa... Acaranya sudah selesai. Ada apa dengan putraku? Apa dia sakit?" Sawn balas bertanya karena ia merasa khawatir.


"Tuan kecil baik-baik saja.Tuan kecil baru bangun, sepertinya dia merasa lapar."


Dengan sigap Raina langsung mengambil Baby Hasan dari gendongan Bi Sumi. Tak butuh waktu lama, anak manis itu langsung menghentikan tangisnya setelah berada dalam dekapan Raina. Sungguh, itu benar-benar pemandangan yang sangat luar biasa bagi Sawn Praja Dinata. Ia tidak pernah membayangkan hari seindah ini akan hadir dalam kehidupannya.


Sangat melelahkan terbangun di tengah malam untuk menemani Baby Hasan. Sesungguhnya, di sanalah terletak kebahagiaan menjadi orang tua. Mendengar tangis dan tawa Malaikat kecilnya di dalam rumah akan menghilangkan setiap duka yang ada!

__ADS_1


"Kalian boleh pulang! Di depan ada pak Agil dan pak Yanto yang akan mengantar kalian. Kami akan pulang besok pagi." Ucap Sawn pada ketiga asisten rumah tangganya.


Tidak mungkin membawa baby Hasan berkendara di malam hari, akan lebih baik menginap di Hotel tanpa perlu merepotkan Raina yang terlihat kelelahan, setidaknya alasan itu yang Sawn pikirkan sampai ia memutuskan menginap di hotel tempat resepsi Prof. Zain dan Yuna.


"Baik, tuan." Balas Bi sumi sambil memegang lengan Melati yang terlihat akan terjatuh karena tidak bisa menahan kantuknya.


Setelah berpamitan, ketiga Art beda usia itu langsung meninggalkan kamar Sawn dan Raina. Kini kamar mereka kembali ramai oleh suara tangis baby Hasan. Segala cara Raina lakukan demi menenangkan baby Hasan. Syukurlah, tidak sulit menenangkan bocah manis itu.


"Jagoan Abi apa kabar? Apa Hasan merindukan Abi? Anak laki-laki tidak boleh cengeng!" Ujar Sawn tanpa melepas senyuman dari wajah tampannya. Jemarinya menyentuh wajah baby Hasan.


"Hasan tidak cengeng, Abi! Hasan hanya lapar!" Balas Raina sambil mencubit hidung Sawn pelan.


"Apa jagoan Abi merasa kenyang? Jika sudah, jagoan Abi harus tidur. Anak baik tidak akan membiarkan Umminya begadang sepanjang malam." Sambung Sawn lagi, Baby Hasan yang ia ajak bicara sudah bisa tersenyum, bahkan kaki anak menggemaskan itu tak bisa diam.


"Melihat senyum Hasan membuat rasa lelah Ummi menguap keangkasa. Ummi rasa setiap wanita pasti merasakan kebahagiaan yang sama seperti yang Ummi rasakan saat ini.


Sayangnya, tidak semua wanita seberuntung Ummi, mendapatkan suami sempurna seperti Abi adalah karunia luar biasa yang Tuhan berikan untuk Ummi.


Ummi berharap setiap wanita bisa mensyukuri karunia kehidupan yang Tuhan berikan padanya. Hanya dengan bersyukur kita bisa bahagia." Ucap Raina sambil menidurkan Baby Hasan yang baru saja terlelap.


"O iya... Apa Ummi boleh bertanya?" Sambung Raina lagi. Ia menatap wajah tampan suaminya, Wajah yang selalu ia hindari sebelum adanya ikatan halal diantara mereka.


"Tanyakan apa pun yang Ummi inginkan." Sambung Sawn lagi, ia duduk sambil melipat kedua lengannya di depan dada.


"Sebenarnya, dari awal Ummi ingin bertanya, kenapa Abi memilih 'Hasan' sebagai nama putra kita? Bukankah masih banyak nama lain yang lebih modern dari itu? Atau kalau Abi mau Abi bisa memberi nama Aktor kesukaan Abi sebagai nama putra kita." Ucap Raina pelan, sebenarnya ia bisa menebak jawaban apa yang akan diberikan suami tercintanya, hanya saja ia ingin mendengarnya secara langsung. Hasan, Raina sangat menyukai nama itu, ia berharap kehendaknya tidak melukai hati suaminya.


Hhhhuuuuhhh!


Sawn membuang nafas kasar dari bibirnya, akhirnya ia bisa mendengar pertanyaan yang ingin ia dengar selama tiga pekan terakhir.


"Hasan Dinata! Menurut Abi itu nama yang pas untuk jagoan kita.


Abi tahu Ummi adalah istri penurut, istri yang tidak akan pernah bisa membantah ucapan suaminya. Dan Abi bersyukur bisa mendapatkan Ummi sebagai pendamping hidup Abi di Dunia dan Insya Allah sampai kesurga." Ucap Sawn memberikan penjelasan panjang kali lebarnya.


"Ummi ingat? Dulu Ummi pernah cerita tentang cucu Rasulullah sambil berlinang air mata. Maksud Abi, Hasan Bin Ali cucu Rasulullah dari putri beliau yang bernama Fatimah Azzahra." Sawn bertanya sambil menatap wajah ayu Raina. Tanpa berucap sepatah kata pun Raina langsung menganggukan kepala.

__ADS_1


Sedetik kemudian Sawn dan Raina sama-sama diam sambil saling menatap mata. Mereka tersenyum, mata mereka menjelaskan betapa mereka berdua saling mengagumi tanpa perlu mengurai kata-kata.


"Yaaa... Ummi ingat! Tapi, bagaimana Abi bisa tahu kalau Ummi pernah mengatakan itu. Bukankah saat itu Abi tidak di rumah?" Raina bertanya sambil memperlihatkan wajah herannya.


Sawn menarik Raina dan merebahkan kepalanya di atas paha istrinya itu.


"Tidak ada hal yang tidak bisa Abi ketahui jika itu menyangkut tentang Ummi! Setiap tarikan dan hembusan nafas Ummi pun bisa Abi ketahui tanpa sepengetahuan Ummi." Balas Sawn dengan suara pelan.


"Gombal!"


"Tidak! Abi tidak gombal! Setiap kata yang keluar dari bibir Abi bernilai kebenaran. Abi tidak suka berbohong dan Abi benci pembohong." Balas Sawn lagi, ia tersenyum sambil menatap wajah datar Raina.


"Baiklah, Ummi terima alasan itu. Sekarang katakan, kenapa nama jagoan kita Hasan?" Raina kembali mengulangi pertanyaan yang sama, kali ini dengan serius.


Sawn tampak berpikir sebentar, ia menatap wajah penasaran Raina sambil mengukir senyuman.


"Ummi tahu? Sejak Ummi datang dalam hidup Abi, hidup Abi mulai memiliki berwarna. Abi jadi banyak belajar agar Ummi tidak malu berdiri di samping Abi.


Abi selalu berusaha menjadi suami sebaik yang Abi bisa. Bahkan, Abi selalu berusaha pulang tepat waktu. Dan saat itu Abi melihat Ummi bicara dengan jagoan kita sambil mengusap perut buncit Ummi. Ummi menceritakan perjuangan Al-Hasan Bin Ali dengan derai air mata. Dan saat itu Abi berjanji akan memberikan jagoan kita nama yang sama, yakni Hasan." Mendengar penuturan Suaminya Raina hanya bisa mengangguk pelan.


"Beberapa orang mengatakan, apa lah arti sebuah nama! Tapi bagi Abi, nama itu bermakna do'a.


Do'a terbaik setiap orang tua untuk kebaikan anak-anaknya. Abi ingin putra kita tampil bersahaja, tenang, dan berprilaku memikat. Selalu berpikir jernih setiap menghadapi masalah yang paling rumit sekalipun. Tak mudah terpengaruh dengan provokasi apapun yang terjadi di sekitarnya. Dia sanggup mempertaruhkan segalanya, bahkan nyawanya demi kebenaran, selalu menjaga persatuan, dan berkepribadian luhur. Itulah alasan logis di balik nama jagoan kita, Hasan yang berarti Baik."


Mendengar penuturan suaminya Raina hanya bisa meneteskan air mata.


"Abi sangat bersyukur pada yang Kuasa atas kelahiran putra kita. Kelahirannya tidak hanya membanggakan kedua orang tuanya, tapi benar-benar membawa kehangatan dan kebahagiaan tak terkira bagi Oma dan Opanya. Sesuai dengan namanya, Hasan yang berarti baik, Abi berharapa putra kita akan selalu menebar kebaikan dimanapun dia berada." Tutup Sawn sambil memejamkan mata di atas paha Raina.


Raina yang tahu Sawn mulai terlelap langsung menarik bantal, dan meletakkan kepala Sawn diatasnya.


"Abi terlihat manis jika sedang tertidur! Tetaplah bahagia, karena bahagiaku ada dalam bahagiamu." Ucap Raina pelan tanpa melepas senyuman dari wajah ayunya. Sedetik kemudian ia melayangkan ciuman hangatnya tepat di atas bibir suaminya.


Jatuh cinta itu hal biasa dan sudah menjadi kodrat setiap manusia, yang tidak biasa itu ketika seseorang mengedepankan nafsunya dan menganggap setiap keburukan yang dilakukannya atas nama cinta.


Cinta bisa mengubah hati yang gelap gulita penuh dengan cahaya, namun bila cinta mengubah manusia menjadi Iblis maka itu bukan cinta melainkan ***** yang membawa menuju jurang kehancuran.

__ADS_1


Apalah arti sebuah nama? Nama ibarat do'a yang di dalamnya tertuang bayak cinta dari orang tua yang mengharap buah hati mereka menjadi cahaya bagi semesta.


...***...


__ADS_2