
Orang yang cantik tidak selamanya orang baik, tapi orang yang baik selalu cantik.
Sawn menghela nafas sembari mengingat setiap nasihat yang di sampaikan mamanya sejam yang lalu. Sejujurnya ia tidak begitu mengerti dengan ucapan mama nya, tapi ia berusaha menyakinkan hatinya kalo Angel orang berhati baik dan cantik.
"Aku orang yang beruntung, kekasih yang sangat ku rindukan bangkit dari kematian dan sekarang ia berdiri di depanku. Seharusnya aku bahagia untuk itu, tapi.... Kenapa aku merasa seperti ada yang janggal."
Sawn kesal pada dirinya sendiri, tapi ia tidak tahu apa yang membuatnya kesal.
"Jika aku kembali pada Angel, bagaimana dengan Raina? Hatiku bahkan sempat goyah karna Raina. Apa aku akan semudah itu melupakannya?"
Aahhh! Sawn mengacak-acak rambutnya.
"Bagaimana hati ku bisa mencintai Angel, dan di saat bersamaan aku tidak ingin kehilangan Raina...?"
Tok.Tok.Tok
"Masu..." Sawn menghentikan ucapanya begitu melihat wajah Robin muncul dari balik pintu.
"Kenapa? Apa kau mengharapkan orang lain?" Robin meledek sahabatnya yang masih terbaring lemah sembari melempar tubuhnya di ranjang empuk milik Sawn.
"Kenapa kau datang kemari? Melihat wajahmu membuat kepalaku semakin sakit. Apa kau datang membawa penyakit bersamamu? Pergilah. Aku ingin istirahat!" Sawn menampakkan wajah juteknya.
"Apa kau pikir aku bodoh! Katakan, apa yang membuat mu bingung?"
"Apa itu terlihat jelas?" Sawn bertanya sambil mendekatkan wajahnya pada wajah Robin.
"Tentu saja. Aku tidak pernah melihatmu seperti ini sebelumnya. Dan ini..." Robin menunjuk pada wajah Sawn, jika orang lain melihatnya, mereka pasti dikira sedang berciuman.
"Dan ini... bukan gaya mu." Celetuk Robin sambil menjauhkan wajahnya dari wajah Sawn.
"Aku rasa kau benar, ini bukan gayaku. Mau bagaimana lagi, hatiku benar-benar tidak mau mengerti. Dan saat ini aku dalam dilema besar."
Bukannya memberikan solusi Robin malam melempar undangan.
"Pesta di kediaman Angel, apa kau bertemu dengannya?" Sawn bangkit dari posisi terlentang dan duduk menghadap Robin yang dari tadi membelakanginya.
"Aku tidak menemuinya, dia sendiri yang datang kekantor dan membuat keributan. Tak bisakah kau membuat Angel bersikap lunak?"
"Angel wanita yang cerdas, aku yakin kau membuatnya kesal." Ucap Sawn dengan tatapan tajam.
"Bagaimana aku akan membuatnya kesal, jika dia sendiri sudah memiliki keperibadian mengesalkan." Jawab Robin putus asa.
Pletakkk!
Sebuah bantal mendarat tepat di kepala Robin, melihat wajah kesal Robin membuat Sawn tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
Bi Sumi masih berdiri di luar kamar Sawn sembari membawa koffe dan kue, entah kenapa pembantu separuh baya itu memutuskan turun tanpa memberikan koffe yang ia bawa. Matanya mulai meneteskan bulir-bulir hangat yang membasahi wajah keriputnya.
"Kenapa ibu membawa koffe itu turun tanpa memberikannya pada tuan muda?" Tanya Ujang suami bi Sumi.
"Entahlah, pak."
"Kenapa ibu menangis? Apa ada masalah, katakan pada bapak?" Melihat istrinya menangis membuat pak Ujang ketakutan.
"Ibu mendengar tuan sedang tertawa, dan hal itu membuat ibu mengurungkan niat memasuki kamarnya. Ibu takut kehadiran ibu akan menghentikan tawa bahagianya." Ucap bi Sumi sambil menghapus air mata dengan punggung tangannya.
"Ibu benar, tuan pasti sudah lupa kapan terakhir kali ia tertawa seperti itu." Ucap pak Ujang sambil memandangi wajah wanita yang sudah ia nikahi lebih dari empat puluh tahun itu.
"Bi Sumi, koffe nya mana?" Robin berteriak dari lantai atas.
"Tunggu sebentar tuan." Ucap bi Sumi sambil membuat koffe baru.
"Bagaimana perasaanmu terhadap Angel? Apakah perasaan cintamu masih sebesar dulu?" Robin mencoba mencari tahu.
"Ntahlah, Bin. Aku sendiri tidak tahu itu." Jawab Sawn seadanya.
"Dasar bodoh. Itu artinya perasaan mu tidak sebesar dulu. Katakan padaku, siapa gadis aneh yang berhasil membuatmu goyah?" Lagi-lagi Robin menunjukan wajah penasarannya, dan itu terlihat lucu menurut Sawn.
"Kau ingin tahu? Kemari!" Sawn menggerakkan jari telunjuknya meminta Robin mendekatkan wajahnya.
"Maaf tuan bibi mengganggu." Ucap bi Sumi sambil meletakkan nampan berisi koffe dan beberapa jenis kue di piring.
"Tidak apa-apa bi. Bibi boleh pergi."
Bi Sumi tersenyum bahagia, dan membiarkan kedua pemuda tampan itu larut dalam canda dan tawa mereka.
...***...
"Apa kau yakin pengawal perempuan itu akan datang bersama Sawn malam ini?"
"Tentu saja dia akan datang, tapi tidak bersama Sawn ku! Akan ku pastikan dia mendapat apa yang harus dia dapatkan." Ucap Angel dengan senyum sinisnya.
"Apa yang membuatmu sangat membenci wanita itu? Bukankah dia biasa saja, tidak ada hal menarik dari dirinya yang akan membuatmu merasa tersaingi." Ucap wanita yang berdiri di samping Angel.
"Wanita kucel itu sudah terlalu lama berkeliaran di depan Sawn ku. Dan sekarang waktunya aku menunjukan kekuatanku."
"Yah... Dalam hal ini aku tidak bisa meremeh kan mu." Ucap wanita yang berdiri di samping Angel dengan sedikit mengerutkan keningnya.
Sejak Angel kembali, wanita itu selalu bersikap dingin. Entah rencana apa yang telah ia susun di otak kecilnya. Meskipun begitu ia berharap ketika rencananya berlangsung Sawn tidak akan mengetahuinya.
"Angel, bagaimana jika wanita itu tidak datang, apa yang akan kau lakukan?"
__ADS_1
"Rima, aku ini pemain lama. Jika dia tidak datang maka aku akan mamaksanya." Ucap Angel kesal.
"Baiklah. Aku akan menunggu kejutan darimu."
"Tentu saja. Hari ini akan menjadi kejutan, karna hari ini adalah hari ku." Angel nyengir sembari menyisir rambut dengan jemarinya.
"Aku sarankan sebaiknya kau mengurungkan semua rencana mu itu, bagaimana jika Sawn tahu lalu meninggalkanmu."
"Hai... Tutup mulut mu. Dan jangan ulangi lagi ucapanmu itu." Angel meringis menahan kesal mendengar sahabatnya sendiri menentang rencananya.
...***...
Pendar cahaya memenuhi Rumah mewah berlantai dua itu, semua teman-teman masa lalunya bahkan hadir dan memenuhi undangan spesial dari Angel Sasmita.
Wartawan Imfotaiment berdiri di luar rumah karna tak satupun dari mereka di izinkan masuk ke tempat acara untuk menjaga kenyaman para tamu undangan.
"Waw... Itu Angel. Lama menghilang tidak membuat pesonanya sirna. Dia semakin cantik." Tidak mengherankan pujian itu di lontarkan melihat penampilan Angel bak peri dalam dongeng.
"Dimana wanita itu, apa kau berhasil menemuinya?" Tanya Angel pada sahabat wanitanya. Tentu saja wanita yang ia tanya mengangguk. Sebelum datang kepesta wanita itu berkunjung ke panti menemui bu Rahayu. Melibatkan wanita separuh baya itu adalah rencana besar Angel Sasmita.
Sawn tiba di pesta bersama Robin, mereka berdua terlihat memukau dengan penampilan luar biasa. Sawn mengenakan kemeja putih dan jas biru, rambut hitamnya ia biarkan sedikit berantakan, meskipun begitu sedikitpun tidak mengurangi ketampanannya.
"Aku akan menemui gadis itu." Ucap Robin sambil menyenggol tubuh Sawn yang berdiri tepat di samping kirinya.
Sawn mengarahkan pandangan matanya menuju arah telunjuk Robin. Wanita bergaun putih itu nampak tidak asing di netranya. Begitu mata mereka bertemu senyum ramah langsung terpancar dari wajah wanita itu. Betapa kesalnya Sawn melihat adegan di depannya.
Wanita yang sangat ia cintai melebihi dirinya sendiri datang kepesta dengan pakaian kurang bahan, dan yang lebih membuat Sawn kesal tiga peria muda seolah berputar mengikuti irama wanita itu.
"Gadis nakal! Apa yang kau lakukan disini, apa kau tidak malu melihat penampilanmu?" Sawn menarik wanita bergaun putih itu.
"Kakak, apa yang kakak lakukan? Lepaskan tanganku."
"Itu yang ingin kakak katakan. Apa yang kamu lakukan disini dengan pakaian seperti ini? Jika mama sampai melihat mu tamatlah riwayatmu." Ucap Sawn kesal.
"Waw... Yuna! Kau terlihat berbeda. Kau seperti peri." Robin memberikan dua jempol melihat penampilan memukau Yuna.
"Dasar mata keranjang. Aku tahu laki-laki seperti mu penggila wanita bertubuh sexi. Jangan harap aku akan membiarkanmu melirik tubuh adikku." Sawn menepuk pundak Robin, kemudian melepas jasnya dan melempar jas itu pada tubuh Yuna yang hanya di balut kain seadanya.
Melihat tingkah protektif Sawn membuat Robin tertawa terbahak-bahak. Ia menghentikan tawanya begitu melihat sosok yang seharusnya tidak berdiri di pesta itu. Pelan Robin menarik lengan Sawn dan meminta sahabatnya itu melihat ke arah pintu masuk.
Betapa terkejutnya Sawn begitu netranya memandang ke arah pintu masuk, wanita dengan penampilan biasa saja hadir di tengah bisingnya dunia orang kaya.
Pesta ini? Siapa yang mengundangnya? Lirih Sawn pelan tanpa melepas pandangannya dari sosok yang ingin ia lihat sejak tadi pagi.
...***...
__ADS_1