Mencintai Bodyguard Saleha

Mencintai Bodyguard Saleha
Menyebalkan


__ADS_3

Plakkkkk!


Tamparan keras terus menerus mendarat di pipi bagian kiri dan kanan lima pria jangkung di ruang VVIV sebuah clab malam.


Kelima pria itu hanya bisa diam, wajah garang yang mereka tunjukan sebelumnya kini terlihat menyedihkan. Bahkan sudut bibirnya mulai mengeluarkan darah segar, beberapa kali tamparan dan di akhiri dengan tinju di bagian rahangnya membuat wajah garang itu terlihat tak bertenaga.


Hobi memukuli orang bukan berarti mereka tidak merasakan sakit ketika mereka sendiri yang merasakan pukulan itu dari orang yang lebih kuat darinya seperti bos mafianya. Hanya saja mereka tidak memiliki nyali untuk melawan, karena itulah mereka memilih untuk tetap diam walaupun merasakan sakit sampai hampir tiada.


"Aku sudah bilang kalian harus membawa dua Iblis itu hidup atau mati! Kalian malah kabur seperti pengecut tanpa membawa mereka." Bos besar clab malam itu mulai berulah dengan sikap di luar batas.


"Kalian pergi berkelompok hanya untuk menghadapi dua wanita lemah, kalian kalah oleh mereka? Kenapa kalian tidak tiada saja! Memiliki anak buah tidak berguna seperti kalian adalah kutukan bagiku, pergi! Pergi...!" Teriakan dan ucapan kasar dari paruh baya pemilik kelab malam itu terasa bergema di telinga kelima pria yang berhasil kabur sebelumnya.


Kelima pria itu duduk di trotoar depan kelab malam, tatapan mata mereka seolah ingin memakan mangsanya hidup-hidup. Baru kali ini mereka mendapat penghinaan sebesar itu dari bos besarnya, dan hal itu menghancurkan harga dirinya sebagai seorang pengawal pribadi kepercayaan tuannya.


"Aku tidak pernah merasakan penghinaan sebesar ini! Gara-gara kedua wanita itu bos berani memukuli kita. Aku merasa tulang rusuk ku patah.


Ayo... Kita harus menemukan kedua wanita itu dan membawanya kehadapan bos." Ucap pria dengan kepala pelontos yang menjadi ketuanya. Matanya memerah, jantungnya berdegup sangat kencang, sementara amarahnya semakin memuncak.


Demi ibuku yang sudah lama tiada, aku bersumpah kali ini kalian tidak akan selamat. Entah kalian mati di tanganku atau di tangan orang lain, itu tidak masalah bagiku! Gumam pria dengan kepala pelontos itu.


Sepuluh orang yang sebelumnya menyerang Raina dan Yuna berada dalam tahanan, dan sekarang kelima orang itu menjadi buronan.


"Kita menjadi buronan! Kita hidup atau mati sudah tidak berpengaruh lagi. Sekarang, ayo pergi dan dapatkan kedua Singa yang sudah terluka itu." Ucap pria dengan kepala pelontos itu lagi. Kali ini ia di penuhi semangat, amarah, juga dendam, dendam membara yang bahkan sanggup menghancurkan lawannya hanya dalam sekali sentakan.


Sementara itu di tempat berbeda, Bu Rahayu, Bu Romlah dan beberapa anak Panti datang berkunjung untuk menemui Raina. Dua hari berlalu namun Raina masih juga belum sadarkan diri, hal itu semakin membuat Sawn prustasi.


"Nak... Apa kau marah pada ibu? Bangunlah, kami sangat merindukanmu! Kau tahu kan hidup Ibu tanpamu bagaikan hidup tanpa tujuan." Bu Rahayu berucap sembari menggenggam jemari Raina, betapa hancurnya perasaan bu Rahayu kala menyentuh jemari putri tersayangnya yang tergores di beberapa bagian.


"Apa kau sangat marah karena ibu menamparmu? Jika itu alasannya, ibu sanggup menerima perlakuan yang lebih buruk dari apa yang pernah ibu lakukan padamu.


Ibu mohon, jangan hukum ibu dengan hukuman seberat ini! Tidak bisa melihat wajah tersenyummu adalah hukuman terberat bagi ibu!


Melihatmu seperti ini membuat jantung ibu seolah akan melompat keluar. Kenapa ibu tidak tiada saja sebelum melihat kejadian seburuk ini! Hiks.Hiks.Hiks." Bu Rahayu terisak sambil menatap putri cantiknya yang tak berdaya. Mendengar ucapan kakaknya bu Romlah hanya bisa mengusap pundaknya dengan maksud menguatkan.

__ADS_1


"Mbak yu... Ini sudah malam! Anak-anak merasa mengantuk. Dan sudah waktunya kita pulang. Menantu akan mengabari kita tentang keadaan Raina. Mbak yu tidak perlu khawatir!Romlah yakin semuanya akan baik-baik saja." Ucap bu Romlah sembari tersenyum ke arah Bu Rahayu yang terlihat putus asa.


Untungnya anggota keluarga bisa mengunjungi Raina kapanpun mereka ingin, kecuali di atas jam sembilan malam. Tadinya dokter James tidak mengizinkan itu dengan alasan mengganggu pasien, namun Sawn meyakinkan dokter James, Raina akan merasa nyaman dengan kehadiran keluarga disisinya.


"Satu lagi sayang...! Bukankah selama ini kau menginginkan budemu ini untuk segera menikah? Bude sudah putuskan, Bude akan menikah! Dengan orang yang kau kenal dan orang yang sangat kau percayai, dengan Mas Agil!" Ucap bu Romlah tanpa melepas pandangannya dari wajah Raina.


Sawn, Bu Rahayu dan beberapa anak panti yang datang mengunjungi Raina menatap Bu Romlah dengan tatapan tak percaya. Bagaimana bisa Bu Romlah mengambil keputusan sebesar itu tanpa ada yang tahu hubungannya dengan Agil yang sebenarnya adalah rekan Raina selama menjadi Bodyguard.


Meskipun demikian Bu Rahayu sangat setuju dengan keputusan adiknya itu. Berbeda lagi dengan Sawn, wajah pria tampan itu terlihat terkejut. Bagaimana tidak, mulai sekarang Bodyguard yang selama ini ia perlakukan semena-mena akan menjadi pamannya.


Ini tidak mungkin! Gumam Sawn sembari menatap wajah bu Romlah yang saat ini masih mengukir senyuman.


...***...


Waktu menunjukan pukul 14.09 ketika Angel Sasmita menyelesaikan proses syuting-nya, ia berjalan dengan kepercayaan diri penuh, sesekali ia tersenyum pada beberapa Kru pria yang menegurnya dengan sikap ramah. Maklum saja, untuk seorang Angel Sasmita yang bekerja sebagai publik figur, pencitraan lebih utama untuknya dari pada memaki beberapa golongan yang hanya berpura-pura tersenyum di depannya.



"Nona Angel, setelah ini kita harus bertemu dengan perusahaan pembuat Iklan. Sejak sejam yang lalu mereka terus saja menelpon dan meminta kita untuk segera datang." Ucap asisten pribadi Angel.


"Ada apa denganmu? Apa aku harus turun tangan untuk hal sepele seperti ini? Untuk apa aku membayarmu jika aku harus turun tangan terhadap semua hal? Kau benar-benar menyebalkan." Gerutu Angel di dalam mobilnya.


"Ma-maaffff nona! Kalau begitu, saya akan berangkat menuju perusahaan pak Sawn sendiri saja. Saya bisa turun di depan dan naik taksi dari sana!"


"Apa kata mu? Pe-perusahaan si-siapa tadi?"


"Tuan Sawn Praja Dinata!" Balas asisten Angel sambil merunduk.


"Kenapa kau tidak mengatakan itu sebelumnya? Dasar payah!" Gerutu Angel lagi, kali ini ia menyebikkan bibirnya.


Angel mengambil cermin dari dalam tasnya, setelah merasa penampilan dan juga wajahnya terlihat sempurna ia tersenyum penuh kemenangan.


Satu jam kemudian Angel sudah sampai di depan perusahaan yang menjadi tujuannya. Di Lobi semua mata memandang takjub padanya. Wajah cantik dengan bentuk tubuh sempurna, wanita manapun akan merasa iri padanya.

__ADS_1


"Selamat siang Nona Angel, mari ikuti saya! Saya akan menunjukan apa saja yang boleh dan tidak boleh anda lakukan.


Selama kontrak kerja berlangsung, anda di minta untuk tetap profesional karena pekerjaan yang anda lakukan bernilai Jutaan Dolar, saya harap anda bisa memenuhi standar yang di butuhkan perusahaan kami." Ucap Rita sambil berjalan pelan.


Tadinya Rita cukup terkejut dengan kehadiran Angel di depannya, untungnya ia segera menguasai diri. Sebenarnya di dalam hatinya, Rita ingin menjambak rambut Rubah cantik yang ada di depannya. Ada kekesalan yang memenuhi rongga dadanya, namun sebisanya ia tetap tersenyum di depan Angel Sasmita, senyum yang coba ia paksakan.


"Rit... Apa Nona Aira sudah datang? Minta dia menungguku di ruang rapat, aku akan menemuinya setelah mendapat tanda tangan dari pak Sawn." Ucap Robin tanpa melihat siapa yang datang begitu pintu kantornya dibuka dari luar.


"Aku tidak suka menunggu!" Ujar Suara yang datang tanpa di undang.


Glekkkkkkk!


Robin menelan saliva begitu melihat sosok angker yang berdiri di depannya.


"Kau? Apa yang kau lakukan disini?" Robin menatap Angel dengan tatapan tajam, sementara yang ia tatap hanya tersenyum tanpa menghiraukan kekesalannya.


"Model yang kau minta tidak memiliki kualitas apa pun, pihak kantor mengirimku kesini sebagai gantinya. Seharusnya kau bahagia bisa bekerja sama denganku!" Balas Angel menyombongkan diri.


Ciiihhhhh!


Lagi-lagi Robin menatap lawan bicaranya dengan tatapan tajam. Bahka ia sampai mengipas wajah dengan tangan kanannya, mendengar ucapan Angel membuat hatinya terasa panas.


"Aku malas berdebat denganmu! Aku akan menunggumu di ruang rapat saja!" Ucap Angel mengalah, nada suaranya terdengar kesal.


Sudah Lima menit Angel menanti di ruang rapat sembari memperbaiki Make up-nya yang terlihat sedikit luntur di bagian mata. Jujur, dalam hatinya Angel mengharapkan orang lain yang akan menemuinya dan bukannya si Robin payah yang selalu menjadi musuhnya di semua tempat.


Setelah merasa nyaman dengan Make up barunya Angel meminta asistennya mencari tahu kenapa belum ada yang datang menemuinya, padahal ia menunggu cukup lama.


Lima menit cukup lama untuk seorang Angel sasmita, karena itulah ia terlihat mulai geram. Baru saja Angal bangun dari tempat duduknya, ia di kejutkan oleh sosok rupawan yang kini berdiri mematung di depan pintu masuk ruang rapat, sosok yang sangat dirindukan Angel sampai merasa akan tiada. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibir Angel Sasmita, yang ada hanya senyuman menawan saja. Senyuman yang menggambarkan betapa bahagia dirinya.


Ada apa dengan orang-orang payah yang bekerja di kantor ini? Kenapa dia membiarkan rubah ini berdiri di depanku! Gerutu seseorang yang saat ini masih menatap Angel dari depan pintu dengan tatapan kesal.


Orang yang Angel tatap terlihat tidak bersahabat, tidak ada sikap ramah atau pun keinginan untuk membalas senyuman, yang di tunjukannya hanya kekesalan saja, kekesalan yang sudah lama terpendam dan ingin segera dia lampiaskan.

__ADS_1


Menyebalkan! Gerutu orang yang berdiri di depan pintu itu lagi. Sedetik kemudian ia masuk kedalam ruang rapat tanpa menutup pintu untuk menghindari Fitnah.


...***...


__ADS_2