
Setelah pertemuan singkatnya dengan Yuna di parkiran, Prof. Zain langsung melangkahkan kakinya menuju kelas yang ada di lantai dua. Sudut bibirnya sedikit terangkat, ia berusaha menahan senyumnya, sayangnya itu terlalu sulit baginya. Ketika hatinya bersenandung ria, bagaimana mungkin ia bisa menahan bibirnya untuk tidak tersenyum bahagia. Orang bijak pernah mengatakan, ada dua hal yang tidak bisa di sembunyikan yakni Cinta dan Batuk. Entah itu benar atau tidak, nyatanya Prof. Zain tidak bisa menyembunyikan perasaannya.
Prof. Zain merasa sangat bodoh, ia mencoba menahan gejolak yang ada di hatinya dengan melayangkan tatapan tajam pada sosok anggun yang selalu bersikap dingin padanya. Berharap tatapan setajam belati itu mewakili hatinya yang sedang berusaha menyembunyikan perasaan aneh yang masih tersembunyi di balik sikap dingin masing-masing.
"Selamat sore!" Sapa Prof. Zain begitu ia sampai di kelas yang mahasiswanya seribut pasar ikan.
"Sore Prof. Ganteng." Sapa mahasiswa wanita yang tak melepaskan pandangannya dari wajah rupawan Prof. Zain De Lucca.
"Kebetulan pak Aslan sedang mengalami masalah mendesak, beliau tidak bisa hadir dan meminta saya untuk menggantikannya. Saya berharap kalian tidak tergangu dengan hadirnya saya di tengah-tengah kalian." Ucap Prof. Zain sembari memandangi satu persatu wajah yang sudah tidak asing lagi baginya.
Dasar pemalas, kemana gadis aneh itu pergi? Apa ini saat yang tepat untuk bolos kuliah? Gumam Prof. Zain sembari memandangi kursi kosong yang biasa di duduki Yuna Dinata.
"Prof. Zain tahu gak? Aku seperti mentega dan Prof. Zain seperti wajan panas. Soalnya pas lihat wajah Prof. Zain aku melelehhhh." Si centil Anggi melayangkan gombalannya yang kemudian di sambut riuh oleh teman-teman sekelas yang mulai menyorakinya.
"Ada tiga hal di dunia ini yang tidak bisa ku hitung, jumlah bintang di langit, ikan di laut, dan cintaku padamu." Sambung Anggi lagi, kali ini sudut bibir Prof. Zain sedikit terangkat, ia berusaha menahan senyumnya yang hampir terlepas. Inilah ujian menjadi Profesor tampan, di gombali mahasiswa sendiri terasa sedikit aneh dan menggelikan.
"Profesor tahu gak? Profesor itu seperti lem, buat aku susah berpindah kelain hati." Anggi mengapit wajahnya dengan kedua tangannya, ia tersenyum lebar sembari sesekali mengedipkan mata berusaha menggoda Prof. Zain dengan segala pesonanya.
Suit. Suit. Suit.
Kelas semakin riuh, untuk sesaat Profesor. Zain ikut larut dalam candaan khas mahasiswa yang ia sendiri sering melakukannya.
"Sudah cukup bercandanya!" Profesor. Zain membuka suara sembari menyilangkan kedua lengannya di depan dada.
"Pak Aslan meminta kalian mengumpulkan tugas yang beliau berikan minggu lalu. Tidak ada alasan bagi kalian untuk tidak mengumpulkannya! Saya sudah bilang, saya benci orang yang bodoh, dan saya lebih benci pada mahasiswa yang pemalas." Sambung Profesor. Zain sembari menatap bangku kosong milik Yuna Dinata yang tak jauh dari tempatnya berdiri.
__ADS_1
Dasar gadis aneh. Hanya untuk menghindariku ia bahkan sampai bolos kelas, lihat saja nanti aku pasti akan menghukumnya. Gerutu Prof. Zain. Semenit kemudian ia mulai memberi penjelasan pada materi kuliah sore ini.
...***...
Sementara itu di tempat berbeda, Vivi dan Arnela sedang asyik duduk di sofa salon sambil membaca majalah Fashion.
Yuna yang duduk di sebelah Arnela tidak tertarik dengan tumpukan majalah baru di depannya, ia lebih memilih untuk memainkan ponselnya, bermain game menjadi andalan Yuna untuk melepas kesuntukan.
"Kak Vi, kau ada disini? Waw... Kak Yuna dan kak Arnela juga ikut? Ini kejutan. Aku akan membuat kalian terlihat seperti peri." Ujar Moza tanpa melepas senyuman dari bibir merah meronanya.
"Aku tidak tertarik dengan perawatan apa pun! Kau bisa melakukan apa pun pada Vivi dan Nela, namun tidak dengan ku." Yuna menunjukan sikap bosannya, ia berdiri dari posisi duduknya sambil menenteng tas hitam yang biasa ia gunakan.
Baru saja Yuna melangkahkan kaki hendak menuju kamar kecil, tiba-tiba seseorang menarik lengannya dan menggenggamnya erat sampai Yuna bisa merasakan nyeri di pergelangan tangannya.
Arnela, Vivi dan semua yang melihat kejadian di depannya bertanya-tanya, ada apa sebenarnya sampai membuat wanita anggun itu bersikap kasar pada Yuna.
Ssss! Ahhhh! Ini sakit sekali! Gumam Yuna sembari mengusap pipi kananya.
"Apa kau tidak waras?"
"Itu hanya teguran ringan karena kamu sudah berani mengganggu kehidupan damai ku."
"Kamu bicara seperti itu padaku? Kehidupan damai mana yang kamu maksut? Dalam kehidupanku, aku tidak pernah melihat wanita gila selain dirimu. Pantas saja kak Sawn berpaling, dasar Rubah kasar!" Ucap Yuna lagi sambil menahan keinginan kuatnya untuk menghajar Angel yang saat ini berdiri dengan angkuh tanpa rasa menyesal karena sudah menampar wanita yang hampir menjadi calon iparnya.
Mendengar ucapan kasar Yuna membuah darah Angel kembali mendidih, seketika penolakan Profesor. Zain kembali berputar di memori otaknya. Angel tidak bisa menyangkal lagi, gara-gara Yuna pria yang sudah menjadi sandaran hidupnya mulai berubah haluan, tidak ada lagi kata-kata manis atau sentuhan hangat seperti dulu, dan hal itu semakin membuat Angel murka pada wanita muda yang ia harapkan menjadi adik ipar masa depannya.
__ADS_1
Angel kembali mengangkat tangannya ingin menampar wajah Yuna. Untungnya dengan sigap Yuna menahan lengan Angel sampai tidak mengenai wajahnya. Malang tidak bisa di hindari, Yuna bisa menahan tangan kanan Angel, namun ia tidak menyangka Angel melayangkan tamparan di pipi kirinya. Tamparan kali ini tidak seperih tamparan yang mengenai pipi kanannya.
"Tamparan itu sebagai balasan karena kamu sudah kurang ajar padaku. Kamu berani mempertanyakan cintaku pada Sawn?" Tatapan tajam Angel seolah mengisyaratkan, siapapun yang berani menghalangi jalannya ia tidak akan segan-segan untuk menyingkirkanya.
Bukan Yuna namanya jika sampai takut pada ancaman kecil seorang Angel Sasmita.
Plakkkk!
Dengan kasar Yuna balas menampar Angel. Vivi, Arnela dan semua orang yang menyaksikan pertikaian dua gadis anggun itu hanya bisa memandang dengan tatapan heran.
Belum sempat Angel membuka mulutnya hendak mencaci Yuna. Gadis anggun itu kembali melayangkan tamparan keras, kali ini di wajah kiri Angel Sasmita.
Yuna bisa mendengar dengan jelas, Angel meringis menahan perih di wajah kiri dan kanannya. Entah kenapa melihat Angel kesakitan membuat Yuna merasa sangat bahagia, desahan kasar yang lolos dari bibir Angel terdengar lebih indah dari lagu cinta manapun.
"Tamparan itu sebagai balasan karena kamu sudah bersikap lancang padaku. Kamu tahu? Saat ini aku ingin memakimu dengan kata-kata yang lebih kotor dari selokan sekalipun. Sayangnya aku tidak bisa melakukan itu karena kakak ipar Raina selalu mengatakan, cara menghadapi orang kasar seperti mu hanya dengan bersikap sabar." Ucap Yuna sambil berjalan mudur hendak meninggalkan Angel.
Lagi-lagi Angel Sasmita dengan sikap arogannya tidak membiarkan Yuna pergi dengan mudah. Ia mendorong Yuna sampai hampir terjatuh, untungnya Vivi dan Arnela dengan sigap menahan Yuna sampai tubuh ramping itu tidak membentur dinding.
Ada kata pepatah, hidup harus terus berlanjut, tak perduli seberapa menyakitkan, atau seberapa membahagiakan, biarkan waktu yang menjadi obat.
Ajaibnya waktu, masa lalu yang menyakitkan lambat laun boleh berubah menjelma menjadi nostalgia romantik yang tidak ingin di lupakan.
Jangan ikat dirimu dengan amarah yang meyesatkan, karena semuanya hanya akan menjadi masa lalu yang akan kau kenang dalam waktu yang panjang, bersabarlah dalam setiap keadaan. Karena pahala kesabaranmu jauh lebih indah ketimbang kemarahan yang bersumber dari hawa nafsu yang menyesatkan.
Sanggupkan Yuna terus bersabar meladeni Angel Sasmita yang mulai bersikap bar-bar? Atau justru sebaliknya, Yuna akan bersikap kasar melupakan setiap ajaran yang di perintahkan Tuhan?
__ADS_1
Ketika matamu telah di butakan dari pemahaman untuk membedakan antara kebaikan dan keburukan, maka saat itu juga kamu sedang berada dalam kegelapan.
...***...