
Ini sudah malam. Aku yakin semua orang sudah pulang. Aku akan menunggu-mu di kafe terdekat.
Sawn tersenyum sambil membaca pesan singkat di ponselnya. Ia segera beranjak dari tempat duduknya sembari menyambar jas yang ia sampirkan di sandaran kursinya.
Sementara itu, tidak jauh dari gedung berlantai 25 yang di kepalai Sawn Praja Dinata, Raina menunggu di kafe sambil menyeruput jus wortel dan cake strawberry yang ia pesan sepuluh menit yang lalu.
Sosok yang di nantikannya tiba sambil memamerkan senyum terbaiknya. Raina segera mengalihkan pandangannya karna ia takut terjerat pesona pemuda di hadapannya.
Jatuh cinta...?
Tidak ada yang bisa melarangmu mencintai seseorang yang sudah di pilih hatimu. Tapi kamu masih punya pilihan, mencintainya tampa ikatan? Atau memilih untuk mencintainya dalam diam seperti yang di contohkan Sayyidah Fatimah Azzahra dan Ali bin Abi Thalib.
Dan Raina, Ia lebih memilih mengalihkan pandangan. Tidak ingin terlibat terlalu jauh pada perasaan semu yang akan menggelincirkan.
Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara *********** dan janganlah nampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. (QS
An-Nur:31).
Sawn duduk tepat di depan Raina. Raina bisa mencium dengan jelas aroma wewangian yang menguar dari tubuh Sawn dengan segala kesempurnaannya.
"Katakan, apa yang ingin kamu bicaraan..?" Sawn memulai pembicaraan sambil memandang lawan bicaranya. Sementara yang ia pandangi terus saja merunduk sambil mengatur nafas.
"Saya bersedia tinggal di rumah anda!" Ucap Raina lantang. Kali ini ia memandangi wajah Sawn. Nampak keterkejutan dari wajah itu.
"Tapi.... Ada syaratnya." Ucap Raina lagi. Sawn memicingkan matanya.
"Syarat apa maksutmu...?"
"Saya bersedia tinggal bersama bapak, asal bapak memenuhi syarat yang saya ajukan." Ucap Raina tegas. Sawn nampak berpikir sebentar.
"Katakan, apa saja syarat yang ingin kamu ajukan?"
"Saya mau tinggal di tempat bapak asal dirumah itu ada wanita, dan tentunya harus lebih dari satu orang."
"Baiklah. Itu mudah." Ucap Sawn sambil menyeruput koffe hangatnya. Tentu saja itu mudah karena ia memiliki tiga pembantu wanita.
"Selama saya tinggal di tempat bapak, kita tidak akan terlibat aktivitas apapun yang menyebabkan kita melakukan kontak pisik."
Sawn menatap Raina dengan tatapan heran. Ia tersenyum sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Aku tidak tertarik padamu, haruskah aku melompat pada orang yang aku sendiri tidak tertarik padanya...?" Sawn berusaha mengatur nafasnya, berusaha bersikap tenang agar Raina tidak mengetahui bahwa ia sedang tidak baik-baik saja.
Sementara Raina, ia hanya bisa menelan salivanya. Ia tahu Sawn tidak mungkin tertarik padanya karna itu ia lebih memilih mengabaikan setiap ucapan yang di ungkapkan lelaki luar biasa di depannya.
"Jika kita di haruskan pergi keluar kota, aku tidak akan ikut denganmu kecuali ada wanita yang ikut dalam rombongan mu."
Sawn tersenyum sambil menahan kegeramannya. Pernyataan Raina kali ini benar-benar mebuatnya kesal.
__ADS_1
"Jadi maksutmu, kamu tidak akan pergi kemanapun denganku jika tidak ada wanita bersama denganmu, begitu...?"
Raina mengangguk. Tidak ada senyuman di wajahnya selain penegasan dari setiap sikap yang ia tunjukan.
"Itu konyol." Lirih Sawn sambil membuang wajah. Raina melotot, ia tersenyum sinis sambil memandang lelaki yang berhasil membuatnya kesal.
"Konyol? Anda bilang itu konyol, bahkan menurut saya anda jauh lebih konyol. Saya benar-benar bodoh. Seharusnya saya tidak perlu terlibat dengan orang seperti anda.
Perasaan?Cinta? kebaikan? Semua itu hanya omong kosong dihadapan orang seperti anda." Lagi-lagi Raina tersenyum sinis.
Sawn hanya bisa mendengar ocehan gadis didepannya tanpa bisa berucap sepatah katapun.
Nak. Jangan pernah paksakan kehendakmu pada wanita. Siapa pun yang akan di takdirkan untukmu, jaga perasaannya, dan jaga kehormatannya. Hanya laki-laki terhormat yang bisa mengormati wanita. Ucapan mamanya berhasil membuat Sawn merasa tenteram.
"Baiklah. Aku terima setiap syarat yang kamu ajukan. Aku juga punya syarat untukmu." Ucap Sawn sambil memandangi wajah Raina. Ia melihat kesedihan di mata gadis itu, bahkan mata itu terlihat masih bengkak.
"Kamu akan tinggal di rumahku selama setahun penuh, selama itu juga kamu harus melakukan setiap hal yang kuperintahkan termasuk mengikuti acara keluargaku."
"Apa? Itu berlebihan. Kenapa saya harus mengikuti perintah bapak? Dan kenapa pula saya harus mengikuti acara keluarga bapak? Saya hanya seorang Bodyguard, kewajiban saya hanya melindungi bapak." Ucap Raina kesal.
Apa yang di ucapkan Raina berhasil membuat Sawn diam seribu bahasa.
Mereka berdua saling memandang tanpa berucap sepatah katapun. Waktu terus bergulir, Raina sendiri tidak menyadari kalau ia sangat terlambat dan ada orang yang menghawatirkan dirinya.
...***...
"Memangnya mbak yu gak capek dari tadi mondar-mandir terus?" Bu Romlah menggelengkan kepala sambil menarik bu Rahayu dan mendudukkannya di sofa.
"Assalamu'alaikum." Ucap Raina sambil menyodorkan tangannya dan mencium punggug tangan bu Rahayu dan bu Romlah.
"Wa'alaikumsalam Warahmatullah." Jawab bu Rahayu dan bu Romlah bersamaan.
"Sayang, ibumu ini sangat keterlaluan. Sejak sore ia meluapkan kekesalan dan kehawatiran-nya pada bude. Untunglah kamu sudah pulang jadi bude bisa istirahat." Ucap bu Romlah sambil beranjak meninggalkan ibu dan anak itu.
"Tunggu bude, ada yang ingin ku sampaikan." Ucap Raina sambil menggenggam pergelangan tangan bu Romlah. Bu Romlah menghentikan langkah kakinya sambil memandangi wajah bu Rahayu yang bediri tepat di depannya.
"Ada apa denganmu...?" Ucap bu Romlah terkejut.
"Tolong jangan pergi, ada yang ingin ku katakan pada ibu dan bude." Ucap Raina sambil menangkupkan kedua tangan di depan dadanya.
"Baiklah. Bude tidak akan pergi, apa ini masalah penting?" Ucap bu Romlah dengan tatapan penasaran. Raina hanya bisa mengangguk sambil mempersilahkan kedua wanita yang sangat di sayanginya itu duduk di sofa.
Setelah kedua wanita yang sangat di sayanginya itu duduk berdampingan, Raina duduk bersimpuh di lantai, air matanya mulai menetes dari sudut matanya. Melihat
anak kesayangan mereka menangis pilu, bu Rahayu dan bu Romlah terkejut.
"Ada apa ini, apa ada yang mengganggu mu? Katakan pada ibu, ibu tidak akan mengampuninya." Ucap bu Rahayu kesal.
__ADS_1
"Tidak ada yang mengganggu ku, bu. Raina hanya ingin mengatakan, bahwa selama setahun kedepan, Raina akan tinggal di rumah atasan Raina." Ucap Raina sambil merunduk.
"Apa?" Ucap bu Rahayu dan bu Romlah secara bersamaan. Terukir kekesalan di wajah dua wanita yang sangat disayangi Raina itu.
"Beliau memintaku tinggal di rumahnya. Ibu jangan khawatir, di rumah itu masih ada tiga wanita lain yang bekerja. Raina tidak sendirian." Ucap Raina dengan suara lemah-lembut.
"Kamu yakin bisa menjaga diri?" Tanya bu Rahayu sambil memandangi wajah menangis Raina.
Mendengar pertanyaan ibunya, Raina hanya bisa mengangguk pelan.
"Baiklah. Kamu boleh pergi." Ucap bu Rahayu dengan suara serak. Sebenarnya ia tidak rela melepas putrinya. Hanya saja setiap ibu memiliki hati yang sama, seorang ibu tidak akan mengikat kaki anak-anaknya selama mereka bisa bahagia.
"Kapan kau akan berangkat kerumah itu?" Tanya bu Romlah mewakili kakaknya.
"Besok!"
"Besok?" Tanya bu Rahayu kaget. Ia berusaha mengatur perasaannya.
Raina mengetahui dengan jelas, bahwa kedua wanita di depannya itu tidak rela membiarkannya pergi, Raina merangkul kedua wanita itu dengan derai air mata yang tidak dapat ia tahan.
...***...
Waktu sudah menunjukan pukul 8.30 ketika bi Sumi memasuki kamar Sawn sambil membawakannya segelas Koffe pahit dan sepiring cake yang baru di buat pagi tadi.
Tok..tok...tok.
Bi Sumi mengetuk pintu kamar Sawn sambil menenteng Koffe di tangan kirinya.
"Masuk." Perintah Sawn dari dalam kamarnya. Hanya bi Sumi yang di perkenankan Sawn untuk memasuki kamarnya, maklum saja dua pembantu wanita yang merangkap sebagai keluarga bi Sumi seusia dengan Yuna adiknya, Sawn tidak ingin area pribadinya di masuki oleh siapapun kecuali orang yang ia benar-benar merasa dekat dengannya.
"Assalamu'alaikum, dan selamat pagi tuan." Sapa bi Sumi sembari meletakkan nampan Koffe diatas nakas yang tidak terlalu jauh dari tempat Sawn berdiri. Sawn baru saja menyelesaikan aktivitas olah raganya ketika bi Sumi memasuki kamarnya.
"Wa'alaikumsalam, bik. O Iya, hari ini dia akan datang, tolong perlakukan dia dengan baik selama dia tinggal disini." Ucap Sawn sambil memandangi wajah pembantu separuh bayanya itu.
"Tuan muda tidak perlu khawatir, kami semua pasti akan bersikap baik padanya. Dan kami sudah menyiapkan segala yang di perlukan nona muda sesuai permintaan tuan." Ucap bi Sumi sambil mengumbar senyum dari bibirnya.
"O iya, tuan tidak pergi kekantor?"
"Hari minggu."
"Oh... maaf."
"Siapkan sarapan, dia akan segera datang." Ucap Sawn sambil membersihkan wajahnya yang berkeringat dengan handuk.
Ting...tong.
Mendengar suara bel berbunyi, Sawn dan bi Sumi saling mengumbar senyum. Sawn yakin itu adalah orang yang sangat ia nantikan kehadirannya sejak tadi. Melihat bi Sumi keluar dari kamarnya, ingin rasanya Sawn lari dan memeluk tubuh wanita yang sangat di rindukannya itu. Sayangnya, itu hanya angan-angan kosong yang tidak akan pernah bisa terwujut dalam dunia nyata.
__ADS_1
Tinggal satu atap saja sudah cukup baginya, asal ia bisa setiap hari melihat wajah yang sama, wajah yang selalu di rindukannya.
...***...